
Setelah mendengar kisah dari pak Arya, amarah Chris sedikit berkurang sehingga membuat dia sedikit tenang. Alexa yang sudah datang mengetuk pintu dan dibukakan oleh pak Arya dan mempersilakan masuk. Chris langsung membentangkan tangannya agar Alexa masuk ke dalam pelukannya. Pak Arya yang melihat itu hanya tersenyum karena melihat para muda mudi itu membuatnya mengingat masa mudanya.
“Ehem,” pak Arya berdehem untuk mengingatkan kedua muda mudi itu agar sadar berada di mana.
“Maaf, Pak,” Chris hanya menyengir. Alexa hanya tertunduk malu dengan muka memerah.
“Nanti ya, aku ceritakan di apartemen,” ucap Chris kepada Alexa. “Terima kasih sudah ke sini.”
“Iya,” sahut Alexa.
“Pak, maaf. Apakah bisa Bapak memberitahu pak Hector bahwa Bapak baru menemukan saya dan masih proses tes darah. Karena saya masih belum sanggup untuk bertemu dengan beliau. Saya ingin mempersiapkan diri. Jika boleh menunggu hingga sepulang saya dari panti asuhan sekitar dua minggu lagi.”
“Baiklah, tidak apa-apa. Saya paham kondisimu, Chris.” Pak Arya memeluknya untuk menunjukkan dukungan.
“Terima kasih, Pak.” Chris menjabat tangan pak Arya kemudian mengajak pergi Alexa dari sana untuk kembali ke apartemen.
Chris sudah mulai tenang karena kedatangan Alexa sehingga dia bisa mengemudikan mobil. Karena Alexa masih sakit kakinya sehingga dia duduk di kursi belakang sedangkan Chris di kursi pengemudi.
“Seperti sopir saja jika begini posisinya. Hahaha…,” canda Chris agar ada obrolan karena dia kesepian duduk sendiri di depan. Jika begini sama saja dia naik mobil sendiri.
“Ih, iseng amat sih. Aku memang belum bisa duduk di depan,” protes Alexa mengerucutkan bibirnya.
Chris melihat Alexa dari spion tengah dan sudut bibirnya terangkat karena memang dia ingin melihat Alexa cemberut, “Maaf ya. Mau mampir beli makan atau kita masak di rumah?”
“Aku ingin beli martabak manis deh sama ayam goreng.”
“Oke, meluncur.” Chris meluncurkan mobilnya ke arah tempat yang menjual martabak dan ayam goreng.
Di dalam mereka tetap mengobrol dan bercanda tentang kegiatan seharian ini, tetapi Chris tidak bercerita masalah cincin. Dia masih menyimpan cincin itu di tasnya dan meletakkan tasnya di kursi depan. Untungnya Alexa batal duduk depan sehingga dia masih aman untuk tidak ketahuan.
__ADS_1
Setelah yang Alexa mau dibelikan semua oleh Chris, dia mengemudikan mobil ke apartemen untuk menyantap semua yang dibeli.
***
Tiga hari berlalu dengan cepat, malam ini mereka sibuk mengemas pakaian yang akan dibawa ke Yogyakarta selama dua minggu. Alexa sudah terbiasa menggunakan kruk sehingga sekarang sudah leluasa bila berjalan. Kakinya terhitung cepat untuk penyembuhan orang yang berumur 30 tahun ke atas.
Chris saat ini membantu mengemas pakaian Alexa karena dia sudah selesai dengan membawa satu koper. Jerry yang saat itu mampir untuk menemani mereka hingga malam karena akan berpisah selama dua minggu. Tentunya dia datang tidak dengan tangan kosong dan itu merupakan permintaaan dari Alexa. Kali ini dia membawa martabak telur, roti bakar, dan es kopi untuk mereka bertiga.
Bianca sedang tidak bisa ikut berkumpul karena beban pekerjaan yang sedang bertambah apalagi dengan Alexa yang mengajukan cuti lagi. Jadi, kali ini hanya mereka bertiga saja yang berkumpul dan menemani Bianca melalui telepon.
Esok paginya mereka sudah bersiap berangkat ke bandara pukul 9.00 pagi karena jadwal keberangkatan pada pukul 11.30 siang. Sengaja memilih waktu tersebut agar tidak terlalu buru-buru saat pagi. Alexa tidak memberi kabar pada ibu panti asuhan karena mereka ingin memberi kejutan. Jerry juga menawarkan diri untuk mengantar mereka ke bandara daripada mereka menggunakan taxi.
Sesampainya di bandara, mereka langsung menuju gate tempat mereka naik pesawat sesuai tiket mereka. Dikarenakan kondisi kaki Alexa yang masih belum bisa berjalan jauh sehingga saat ini Alexa memilih untuk duduk di kursi roda dulu. Jerry mengantarkan sampai di pintu masuk keberangkatan dan melihat mereka menghilang di balik pintu masuk. Jerry kemudian mengemudikan mobilnya ke kantor setelah keluar dari bandara.
Chris dan Alexa sudah berada di dalam pesawat dan duduk di kelas bisnis sesuai yang dipesan. Mereka berdoa dalam hati sebelum lepas landas agar sampai di Yogyakarta dengan selamat. Setelah sekitar hampir dua jam di udara, mereka sampai di Yogyakarta dan keluar dari bandara. Dari sana mereka naik taksi menuju panti asuhan daripada menyewa mobil.
Karena Chris tidak mengingat kenangan apapun akan Yogyakarta menyebabkan dirinya memilih untuk tidak menyewa mobil. Daripada tersesat saat di jalan lebih baik pilih aman.
“Iya, lumayan capek. Nanti langsung istirahat aja ya.”
“Oke.”
Mereka melakukan perjalanan dalam diam, Alexa karena lelah berjalan, sedangkan Chris berpikir bagaimana akan bersikap terhadap ibu panti karena dia belum bisa mengingat. Tak lama kemudian, mobil yang mereka naiki memasuki sebuah pekarangan rumah dan kemudian berhenti di depan rumah panti. Ibu panti, Wina, menuju keluar rumah karena merasa tidak ada janji temu dengan donatur.
Begitu melihat Alexa keluar, Ibu Wina langsung menghampiri dan memeluknya karena sangat jarang Alexa pulang sejak lama merantau. Chris keluar dari pintu satunya dan membuka pintu bagasi untuk mengeluarkan koper-koper yang dibawa mereka. Ibu Wina melihat Chris dengan tatapan bingung, merasa familiar, tetapi belum bisa mengingat siapa.
“Lexa, kamu kenapa sampe seperti itu?” Ibu Wina melihat Alexa berdiri dengan menggunakan kruk.
“Hehe, maaf, Bu. Nanti cerita ya.” Alexa hanya menyengir.
__ADS_1
“Lalu itu siapa, Lex?” tanya ibu Wina sambil menunjuk Chris.
“Kita ke dalam dulu, nanti ceritanya jadi satu, Bu. Itu ada juga membawakan adik-adik hadiah.”
Ibu Wina memanggil Dion dan Winky untuk membantu membawakan semua hadiah untuk adik-adiknya. Mereka mempersilakan Chris dan Alexa masuk dan duduk di ruang tamu. Ibu Wina juga menyuruh Dion untuk meminta tolong kepada Sari untuk membuatkan minuman dingin untuk mereka.
Ibu Wina menghampiri keduanya dan ikut duduk untuk menagih cerita dari Alexa karena melihat dia dengan keadaan seperti itu.
“Ayo, cerita dulu. Ibu gak akan biarin kamu ke kamar tidur dulu.” Ibu Wina memaksa Alexa untuk segera bercerita.
“Iya, Bu. Tapi kita haus dan koper kita mau ditaruh mana dulu? Atau dia harus ke hotel aja jika kamar di panti penuh?” tanya Alexa mengalihkan topik sebentar.
“Nanti nak ….” Ibu Wina sengaja untuk menunggu jawaban dari pria yang bersama Alexa karena sedari tadi dia hanya diam saja.
Alexa menyenggol Chris agar menjawab pertanyaan ibu Wina.
“Chris, Bu,” jawab Chris pelan.
“Nak Chris, siapanya Alexa?” tanya ibu Wina lagi.
“Teman kerja, Bu,” jawab Chris kaku karena gugup.
Melihat itu, ibu Wina hanya tersenyum dan membiarkan Chris menghilangkan kegugupannya. Ibu Wina meninggalkan mereka berdua untuk memeriksa minuman yang dibuat Sari.
“Gimana, sih? Kok jawabnya pendek-pendek gitu!” protes Alexa setelah ibu Wina pergi.
“Ya, gimana. Aku bingung mau menjawab apa. Aku benar-benar tidak mengingat apapun, Lex. Bagaimana jika bu Wina mengetahui kebenaran ini. Itu akan membuatnya sedih,” gumam Chris.
Tetapi gumaman tersebut terdengar oleh bu Wina yang ternyata kembali dengan membawa minuman.
__ADS_1
“Kebenaran apa, Nak Chris?” cecar bu Wina.