Di Balik Sang Ceo

Di Balik Sang Ceo
DBSC 35


__ADS_3

Oops, batin Chris karena ketahuan bu Wina masalah pembicaraan mereka. Mau tidak mau membuatnya untuk jujur kepada bu Wina sekarang, tidak menunggu esok hari. Alexa yang mengamati raut wajah Chris pun mencoba membantu untuk mengalihkan topik.


“Tidak ada apa-apa, Bu. Kami akan menjelaskan semuanya setelah makan siang. Gimana, Bu, boleh?” Alexa menawarkan agar bu Wina tidak mencecar mereka sekarang. Chris membutuhkan dukungannya.


“Baiklah, Ibu tidak memaksa. Ya sudah, kalian makan saja dulu, ya.” Ibu Wina mengantarkan mereka ke meja makan dan meninggalkan mereka sebentar karena dia ada tamu yang datang setelah dipanggil oleh Dion.


Mereka menyantap hidangan sederhana yang ada di atas meja makan. Chris juga menikmati rasa masakan yang disediakan oleh orang yang pernah dia anggap ibu meski sekarang dia lupa akan rasa itu. Dia menjadi lebih santai dan tidak tegang lagi untuk jujur kepada bu Wina.


Tak lama, bu Wina kembali ke ruang makan karena tamunya ternyata adalah tetangga sebelah yang baru saja pindah dan memberikan sepiring kue sebagai perkenalan. Bu Wina melihat tamu dari jauh sudah selesai makan itu menawarkan agar mereka beristirahat terlebih dahulu. Beliau memberikan waktu bagi mereka sebelum bu Wina meminta penjelasan atas semuanya.


Karena ini panti asuhan yang tidak mempunyai banyak kamar sehingga Chris tidur dengan di kamar anak laki-laki dan Alexa tidur di kamar anak perempuan. Chris membiarkan Alexa untuk istirahat setelah perjalanan ini sedangkan dia keluar dari panti untuk berkeliling melihat pekarangan luar dan menikmati suasana Yogyakarta, siapa tahu dia akan bisa mengingat di sekitar sini.


Tidak lama dia berkeliling, dia melihat bu Wina sedang duduk di gazebo di belakang rumah, sedang memetik kacang panjang untuk masak nanti sore. Tidak sengaja bu Wina melihat Chris ketika dia akan pergi tetapi gagal karena bu Wina sudah terlanjur memanggilnya.


“Nak Chris, sini.” Bu Wina melambaikan tangannya untuk menyuruhnya mendekat.


Chris yang canggung pun tetap mendekat dan duduk di tepi gazebo karena masih agak sungkan.


“Iya, Bu.”


“Boleh Ibu bertanya, apa hubungan kamu dengan Alexa? Dia sudah Ibu anggap seperti anak Perempuan sulung,” tanya bu Wina pelan.


“Saya kenal dengan Alexa melalui teman saya karena Perusahaan saya saat itu sedang bermasalah dan dengan bantuan Alexa, kami bisa melewatinya,” jawab Chris dengan sopan.


“Lalu kenapa Alexa kecelakaan?”

__ADS_1


“Bagaimana Ibu tahu jika saya mengetahui kecelakaan Alexa?” chris balik bertanya.


“Ya, Ibu simpulkan sendiri, kamu begitu perhatian terhadap anak Ibu. Mungkin juga ada maksud lain,” bu Wina hanya tersenyum kecil.


“Jadi, begini ceritanya, Bu ….” Chris menceritakan semua tentang dari pencarian bukti hingga kecelakaan Alexa dan terakhir dia meminta maaf ke bu Wina karena tidak bisa menjaga Alexa di sana.


“Jadi, begitu, lalu sekarang tujuanmu ke sini apa selain menemani Alexa?” bu Wina tidak bisa menghilangkan rasa penasaran atas tujuan lain kedatangan Chris.


“Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada Ibu karena baru sekarang saya datang ke sini setelah sekian lama menghilang,” kata Chris membuat bingung bu Wina semakin bingung,


Padahal dia hanya membahas tentang tujuan Chris datang tetapi sekarang ada hal lain yang sedang dibicarakan Chris.


“Apa maksud kamu, Nak?” tanya bu Wina penasaran.


Bu Wina melepaskan pelukan dan karena menangis terlalu keras tadi membuat badannya sedikit oleng sehingga Chris merangkul untuk menyangga saat berjalan dan mengajak duduk di gazebo yang ada di sana. Chris menceritakan dari awal tentang kehidupannya setelah kecelakaan bahwa dia amnesia kemudian ketika bertemu dengan Alexa. Dia juga berkata bahwa Alexa baru jujur setelah kecelakaan terjadi sehingga kabar tentang panti diketahui baru-baru ini.


Dia juga meminta maaf kepada bu Wina karena sudah lama tidak memberikan kabar setelah merantau. Ibu Wina semakin keras menangisnya karena kasihan membayangkan Chris di tempat Rantau sendirian tanpa kerabat atau kenalan.


“Bu, sudah jangan menangis terus. Saya jadi merasa bersalah,” pinta Chris memelas.


“Maaf, ya. Ibu dulu berharap tidak ada yang terjadi apa-apa kepadamu meski tidak ada kabar. Sekarang kamu sudah hebat membuat Ibu bangga,” puji bu Wina tulus.


“Jadi, sekarang apakah saya boleh bertanya tentang saya kecil, Bu? Saya penasaran dengan kedua orang tua saya.” Chris meminta penjelasan setelah bu Wina sudah tidak terisak lagi.


“Ayo, ikut Ibu.” Ibu Wina berdiri dan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Chris.

__ADS_1


Bu Wina meminta Chris, “Kamu tunggu di ruang tengah, ya. Ibu akan ambilkan yang kamu minta.”


Chris menuju ruang tengah dan melihat Alexa baru keluar dari kamar sehingga dia juga mengajak Alexa duduk di sana dan menunggu ibu. Tak lama, bu Wina membawa sebuah kotak kayu tua berukuran sedang berwarna coklat dan memberikannya kepada Chris.


“Itu adalah beberapa benda yang dititipkan oleh ayahmu saat kamu diserahkan kepada Ibu,” bu Wina mengenang masa lalu. “Saat itu ayahmu tidak tega untuk meninggalkanmu di sini tetapi ayahmu bercerita bahwa nyawamu terancam. Daripada kamu nantinya dibunuh, lebih baik kamu dititipkan ke panti dan ayahmu berjanji akan mengambilmu ketika kamu berusia 5 atau 7 tahun saat itu. Akan tetapi, ketika kamu berusia itu, ayahmu tidak pernah datang lagi ataupun memberi kabar.”


Chris dan Alexa pun mendengarkan cerita dengan seksama tanpa menyela sama sekali. Sembari dia membuka kotak.


“Namun, beberapa hari ayahmu datang kembali dan bertanya tentang kamu. Ibu jawab jika kamu terakhir memberi kabar ketika merantau ke Jakarta setelah itu tidak ada kabar.” Bu Wina melanjutkan ceritanya.


“Boleh saya tahu nama ayah saya, Bu?” tanya Chris untuk memastikan saja meski dia sudah tes darah.


“Iya, Tuan Hector James. Apa kamu tahu tentang dia?”


“Kemarin teman saya, pak Arya, yang kebetulan ternyata teman pak Hector, melihat kemiripan pada saya dan dimintanya saya untuk tes darah.” Chris berhenti sejenak, “dan setelah saya berpikir dan meminta pendapat Alexa dan Jerry, akhirnya saya menyetujui permintaan itu dan benar hasilnya saya putra pak Hector.”


“Lalu, apa kamu mau menemuinya?”


“Saya sudah meminta tolong kepada pak Arya untuk memberi kabar pada pak Hector jika telah menemukan saya, tetapi setelah saya pulang dari sini,” jelas Chris.


“Oh iya, sekarang cobalah lihat isi kotak itu. Sepertinya terdapat foto ibumu, maafkan Ibu karena melihat dulu sebelum kamu.”


“Tidak apa-apa, Bu. Terima kasih telah menyimpan semua ini.” Chris mengucapkan kata-kata itu dengan tulus.


Chris mengeluarkan semua isi kotak ke meja di depannya dan mulai satu persatu, beberapa lembar foto ayah dan ibunya. Kemudian satu yang menarik perhatiannya, yaitu sebuah kalung dengan bandul sebuah locket berwarna kuning kusam.

__ADS_1


__ADS_2