
Beberapa bulan berlalu Babby tidak ada menunjukkan apa apa perubahan pada dirinya. Babby semangkin teruk dengan mentalnya. Yang membuat Barra semangkin terpukul melihat keadaan istrinya,, dia hanya bisa mendekati Babby jika Babby sedang tertidur.
Anak Barra yang di beri nama Adam Aarav (nama yang di pilih Oleh Babby) sudah pintar berjalan. Tapi Barra belum pernah menemukan anaknya itu pada Babby.
Seorang wanita paruh baya bersama suami dan mertua Barra (Rahardian ) mendatangi Mension Barra yang sedang menyuapi anaknya (Adam) makan siang. Barra memang membesarkan anaknya sendiri walau pun ada mamanya yang bisa dia Harapkan. Tapi Barra tetap kekeh untuk mengurus anaknya dengan sendiri
" Assalamualaikum " salam Rahardian bersama kedua suami istri yang dia bawah.
Barra mengalihkan pandangan pada mereka bertiga. Barra melihat Seorang wanita paruh baya dengan pakaian syair nya. Dan juga seorang laki laki paruh baya yang terlihat seperti kyai.
"Waalaikumsalam Ayah... Masuk lah Ayah." kata Barra menyuruh Rahardian masuk bersama tamunya.Barra juga menyalami Ayah dari istrinya dan kedua orang yang bersama Rahardian.
__ADS_1
"Wahhh cucu kakek sudah gedek." kata Rahardian menggendong Adam yang berusia satu tahun lebih.
Mereka duduk berkumpul di ruang keluarga Mension Marion.
"Kenal kan nak Barra ini saudara dari arwah ibu khumairah, Ustazah Amira dan ini suaminya kyai Bagas. Dan ini suami khumairah Barra " kata Rahardian memperkenalkan adik dari arwah ibu khumairah dan pamannya. Dan juga memperkenalkan Barra pada Ustazah Amira dan kyai Bagas
Barra mengangguk lalu Tersenyum tipis pada Amira Dan Bagas.
" Eh ada tamu. " kata Ghia saat melihat besannya dengan sepasang suami istri. Rahardian pun memperkenalkan mereka berdua pada Marion dan Ghia. setelah itu mereka semua duduk di sofa..
"Begini nak Barra... sebenarnya tujuan Ayah datang kemari itu ada tujuan lain selain menjeguk cucu Ayah" kata Rahardian mulai membuka suara.
__ADS_1
" katakan saja Ayah ada apa..." tanya Barra penasaran. Yang lain juga hanya diam dan nyimak.
"Begini tuan Barra... Saya dan istri saya datang kemari ingin meminta izin untuk membawa khumairah bersama kami tinggal di pasantren buat sementara waktu. Di sana saya dan istri saya akan mencoba merawat khumairah... karena jika dia terus di rumah sakit. Kami khawatir jika Nanti mentalnya semangkin parah dan tidak bisa lagi di sembuhkan." kyai Bagas yang langsung menyampai kan niatnya pada Barra dengan Kedatangan nya.
Barra terdiam dengan wajah sedihnya. memang benar apa yang di katakan oleh kyai Bagas. istrinya tidak ada Harapan untuk sembuh di rumah sakit. Tapi dalam masa yang sama Barra juga berfikir apa dia bisa berpisah dengan Babby.
Marion menepuk bahu anaknya yang sangat memprihatin kan selama istrinya kecelakaan.
"Papa tahu perasaan mu nak... Tapi benar apa yang di katakan kyai Bagas.. mungkin jika dia di sana ada Harapan untuk khumairah kembali membaik Barra... memang akan sulit jika berjauhan dengan Orang yang sangat berharga dalam kehidupan kita. Tapi kau juga Harus memikirkan tentang kesembuhan istri mu Barra... kasihan dia nak... Sudah satu tahun lebih istri mu menderita di rumah sakit... Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan nya. Semoga saja di sana ada keajaiban yang bisa membuatnya sembuh." kata Marion memberi pengertian pada Barra.
Ya tuhan... Ternyata kekhawatiran ku selama ini benar-benar terjadi. Dia benar-benar akan meninggal kan ku.batin Barra tanpa sadar menjatuh kan air matanya.
__ADS_1
Ghia dan Ustazah Amira juga ikut menjatuhkan airmata nya melihat Barra yang benar-benar terpukul. Barra bahkan sudah sangat kurus karena terus memikirkan istrinya.