
Khairunnisa, kerap di sapa Anisa. Dia adalah seorang gadis desa dari keluarga sederhana yang memiliki semangat tinggi dalam meraih cita-citanya. Dia juga termasuk wanita mandiri. Dari kecil sudah terbiasa ditinggal oleh kedua orang tuanya.
Pekerjaan orang tuanya sebagai petani biasa. Selama Anisa menempuh pendidikan di Sekolah Menengah pertama (SMP) dirinya diamanahkan tinggal di rumah keluarga, di sebuah kampung yang cukup ramai. Jarak antara desa dengan kampung tersebut sekitar 3 km.
Jalannya yang berbatu belum terjamah oleh pemerintah, sehingga menuju dari desa ke kampung membutuhkan waktu yang cukup lama.
Hanya sekali atau dua kali dalam sebulan, orang tua Anisa kembali dari kebun untuk melihat keadaan putrinya. Terkadang Anisa kehabisan uang jajan. Namun, apa daya, Anisa wanita yang kurang beruntung hanya bisa bersabar.
Hal itu tidaklah menjadikan dia wanita yang mudah berputus asa, di saat libur tiba, tepat hari minggu dia menitip pesan kepada orang satu desa yang kebetulan turun ke kampung, meminta agar saudara laki-lakinya datang menjemput, karena di desa tersebut jaringan telepon masih minim alias masih mecari jaringan ketika di butuhkan.
"Nasib, sabar Anisa indah pada waktunya." Anisa hanya bisa bergumam, kakak yang ditunggu datang menjemput tidak kunjung tiba.
"Di mana dirimu kak. Apa kamu sibuk?" Anisa hanya bisa murung di dalam kamar.
...****************...
Hingga suatu Hari, pengumuman kelulusan pun keluar.
"Alhamdulillah. Yes, aku lulus." betapa bahagianya Anisa hari itu.
Anisa dan teman-temannya saling corat-coret hingga baju putih mereka terlihat berwarna-warni. Tidak lupa mereka berfoto bersama untuk mengenang di hari nanti.
"Anisa, Kamu nanti lanjut di mana?" tanya Humaira dan Dion teman Anisa.
"Belum tahu," ujar Anisa.
"lanjut bareng di SMA BAKTI, Yuk. Kita barengan lagi di sana," tawar Dion dengan gaya lemah gemulainya.
"Dion, doakan, Ya. Semoga saja kita barengan lagi."
"Ih, Nisa. Pastikan saja. Biar kita naik mobil bareng ke sana untuk ambil formulir. Iya gak, Humairah." Dion memukul pundak Humairah yang entah siapa di lihat olehnya.
"Apa sih, Dion? main pukul saja," kata Humairah.
"Lagi lihat apa sih. serius amat?" tanya Anisa mengikuti pandangan Humairah yang ternyata melihat Rama yang sedang asyik berbincang dengan teman-temannya.
"Kenapa tadi, Dion?"
Dion ngambek dan kembali Dion menjelaskan pendapatnya setelah di bujuk oleh Humairah.
"Apa yang di katakan Dion itu benar, Anisa."
"Aku belum bisa me beri keputusan. kamu tahu sendiri kondisi keluargaku dan bagaimana kerasnya emak. Semoga saja aku bisa membujuk emak," ujar Anisa pada Dion dan Humairah.
***
Tiba masanya, Anisa kembali ke desa tempat dimana Anisa dilahirkan dengan ke enam saudara-saudarinya.
Anisa yang rencananya akan melanjutkan studinya di SMA memutuskan untuk menyampaikan niatnya pada orang tua.
Hingga hari tiba, Anisa pun ingin mengungkapkan keinginannya. Melihat ibunya yang baru tiba dari kebun, Anisa mengurungkan niatnya untuk sementara dan mencari waktu yang tepat.
'Semoga emak berubah pikiran,' batin Anisa tersenyum melihat Ibu Romlah mengeluarkan barang bawaannya dari kebun. Ada begitu banyak sayur segar.
__ADS_1
Anisa melenggang masuk dapur mencuci piring dan bersih-bersih niat mengambil hati emaknya. Ibu Romlah terkesan melihat putrinya begitu rajin.
esok harinya Anisa berfikir untuk menemui emaknya yang melihat Ibu Romlah tengah duduk di depan mesin jahit yang sudah usang. Namun masih berfungsi dengan baik.
"Ah, aku kerja dulu deh, memasak, cuci piring dan menyapu, mungkin dengan ini hati emak akan luluh dan berubah pikiran, Semoga saja," gumamnya penuh harap
Mengingat dulu, jauh hari sebelumnya dia pernah izin untuk lanjut, akan tetapi keinginannya di tolak oleh sang Ibu.
Malam tiba, usai makan malam Anisa duduk di samping emaknya.
"Emak?" panggil Anisa.
"Kenapa Anisa," ujar ibu paruh baya itu dengan serius memisahkan coklat kering yang dianggap tidak baik dengan coklat yang layak utuk di ambil dan akan di jual.
"Emak, Anisa mau lanjut sekolah SMA." Anisa memberanikan diri mengungkapkan keinginannya.
Ibu Romlah terdiam dan menghentikan tangannya bekerja. Laku, menoleh kearah Anisa. Anisa menatap ibunya.
"Emak, Anisa boleh ya, lanjut SMA?" ulang Anisa penuh harap.
"Apa? Tidak!" tolakan keras dari seorang ibu yang membuat Anisa begitu kecewa.
"Tapi, Ibu. Anisa mau lanjut lagi," dia mengungkapkan keinginannya, rasa kecewa yang begitu mendalam dirasakan kini.
"Pokoknya, emak tidak mau kamu lanjutkan sekolahmu!" tolak keras dari Ibu Romlah dengan tegas.
"kamu itu perempuan, tempatmu di dapur saja!" bentak emak Anisa dengan pandangannya.
"Tapi emak, Anisa mau lanjut, masa emak tidak mengerti dengan Anisa."
Anisa menangis dengan sejadi-jadinya sebagai ungkapan kekecewaan Anisa atas penolakan Emaknya. Dalam doanya, Anisa berharap agar hati emaknya yang melahirkannya itu di bukakan.
Anisa terus melihat jari jemari ibu paruh baya itu memilih dan memilah hasil panen coklat yang sudah kering. Anisa pun membayangkan apa jadinya jika hanya memiliki ijasah SMP.
'Oh tidak mungkin,' batin Anisa.
"Aku juga mau seperti orang-orang diluar sana yang memiliki kehidupan yang cerah, emak," lirihnya.
Emak Anisa menoleh dan menatap tajam putrinya. Kembali berkata,
"Banyak juga kok yang sarjana pulang ke kampungnya berkebun, Anisa. Bahkan ada yang pulang sebagai petani biasa. Bagaimana itu? Bahkan ada yang tidak sampai selesai kuliahnya. Ada juga katanya sekolah, Eh tidak sampai sekolah. mereka hanya kelayapan di luar sana. Kamu juga mau seperti itu? Iya, mau begitu? bikin habis uang saja!" ibu paruh baya itu tidak menghiraukan tangis putrinya.
"Tidak usah melihat orang luar. kakak kamu, Firman. Kuliah hanya semester tiga dan berhenti."
"Kak Firman berhenti karena Enak juga. Saat kak Firman minta uang semester, emak yang memintanya kembali," protes Anisa dengan keberanian.
"Kamu sudah pintar protes emak, begitu?"
"Faktanya memang begitu kan, Emak? Dan Kak Najwa, masih mau lanjut, tetapi sudah di jodohkan dengan Kak Fajar hingga mereka menikah," ujar Anisa.
"Tapi kakak kanu bahagia," kata Ibu Romlah tidak mau kalah debat.
'Mana Ibu tahu mereka bahagia atau tidak.' batin Anisa tang tidak berani lagi berdebat dengan emaknya. Air mata Anisa lolos begitu saja.
__ADS_1
"Besok lusa kamu ikut emak ke kebun!" Ujar ibu paruh baya itu lagi melihat putrinya menangis.
"Tapi emak ...." Dengan suaranya yang agak lembut dia kembali berucap, "Anisa mau lanjut. Biar cuma sampai tamatan SMA, Emak. Semua teman-teman anisa lanjut, Emak. Cuma anisa yang tidak lanjut," Anisa terus merengek pada ibu paruh baya itu.
"Anisa, dengar ya! Emak tidak mau tahu hal itu. Pokoknya besok lusa ikut emak ke kebun. Bapakmu sudah menunggu kita di sana." Ibu Romlah tidak peduli dengan rengekan putrinya. Ibu Romlah tetap dalam pendirian dan pandangannya.
"Emak, kenapa, sih. Emak tidak mengerti?" Anisa tetap kukuh.
"Anisa, bukan emak yang tidak mengerti. Tapi, lihatlah fakta yang ada. Dan emak tidak mau, kamu seperti itu. Kamu juga harusnya mengerti keadaan dan kondisi."
"Kondisi apa, Emak. bukankah rezeki Allah yang atur."
"Kamu ya. sudah pintar ceramain Ibu." Ibu Romlah melihat Anisa.
Ibu Romlah tetap saja pada pendirian dan prinsipnya. Seakan hatinya tidak mudah diruntuhkan oleh godaan apapun. Bagi ibu paruh baya itu, "sudah bisa membaca itu sudah sangat cukup" Tidak pernah terlintas olehnya bahwa sekedar membaca belumlah cukup mewakili untuk kehidupan masa depan.
"Emak, Tidakkah emak memikirkan masa depanku?" tanya Anisa lagi.
Kembali Ibu Romlah menatap putrinya. "Justru emak memikirkan masa depanmu. Tinggal di rumah sambil belajar memasak, biar kelak kamu dapat jodoh tidak mengecewakan suamimu dan juga tidak bikin malu di hadapan Ibu mertuamu. Paham kamu!"
Anisa semakin terisak mendengar kata jodoh. Membayangkan saja Anisa belum sanggup di umurnya yang masih sangat muda.
"Anisa, dengar baik-baik. Sekali Ibu katakan tidak, ya tidak."
Sontak hati dan perasaan Anisa hancur dan begitu kecewa. Ibu yang melahirkannya benar-benar telah mengubur mimpinya.
Anisa hanya bisa menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Memberikan pengertian untuk saat ini kepada ibunya, hanyalah sia-sia. pikir Anisa.
Anisa beranjak dari tempatnya menuju ke kamarnya dan meratapi nasibnya. Anisa memikirkan nasibnya yang belum beruntung.
Anisa terus berfikir apa yang harus dilakukan olehnya agar dia bisa mendapatkan restu dari orang tuanya.
Hatinya yang dirundung kesedihan memilih untuk menghadapkan hatinya pada pemilik yang membolak-balikan hati. Anisa melangkah mengambil air wudhu, membasuh seluruh wajahnya, seakan air wudhu itu menenangkan jiwa, hingga Anisa memasang mukena yang sebagi penutup tubuh menghadap pada sang pemilik hati untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang hamba.
keyakinan yang begitu kuat bahwa masi ada Tuhannya yang akan memberikan petunjuk masalah yang dihadapinya sekarang. Allah lebih tahu yang terbaik untuknya.
Sebenarnya orang tuanya adalah orang yang cukup mampu dalam membiayai sekolah anaknya. Namun, karena faktor pemikiran orang tua yang labil adalah merupakan sebuah kendala terbesar dalam hidup sosok Anisa sebagai perempuan yang memiliki tekad serta semangat tinggi.
Mencoba mendamaikan dalam zikir, memuja dan muji asamnya. Bulir air mata tiada henti berharap belas kasih. Mengenang kembali kata demi kata yang terlontar. seketika, air mata lolos begitu saja.
"Ya Allah, tidakkah bisa hati emak terketuk sedikit. Mengapa aku harus mengalami hal yang sama?"
Anisa sambil menengadahkan wajahnya dengan penuh kesungguhan. Dia mengangkat tangan dengan bibirnya berujar,
"Ya Rabb, andai takdirku kau menuntunku masih berlanjut kejenjang berikutnya, setidaknya beri aku jalan untuk bisa meraihnya, andai takdirku sampai di sini, setidaknya beri aku kesabaran serta keikhlasan untuk tidak kecewa. Rabbi, aku percaya padamu. Setiap kesulitan pasti ada jalan yang siapkan."
Anisa kembali menangis tanpa suara. Isak tangis yang keluar seakan begitu pilu bagi yang mendengarnya.
𝙉𝙊𝙏𝙀: 𝙨𝙚𝙗𝙖𝙜𝙖𝙞 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙖 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙟𝙪𝙜𝙖 𝙝𝙖𝙧𝙪𝙨 𝙢𝙚𝙢𝙖𝙝𝙖𝙢𝙞 𝘼𝙣𝙖𝙠-𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙠𝙞𝙩𝙖. 𝙟𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙢𝙚𝙣𝙪𝙧𝙪𝙩𝙞 𝙖𝙥𝙖 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙠𝙞𝙩𝙖 𝙞𝙣𝙜𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙡𝙪𝙢 𝙩𝙚𝙣𝙩𝙪 𝙗𝙖𝙞𝙠 𝙗𝙪𝙖𝙩 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙠𝙞𝙩𝙖. 𝙨𝙖𝙡𝙞𝙣𝙜 𝙩𝙚𝙧𝙗𝙪𝙠𝙖 𝙖𝙣𝙩𝙖𝙧𝙖 𝙖𝙣𝙖𝙠 𝙙𝙖𝙣 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙩𝙪𝙖 𝙞𝙩𝙪 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙗𝙖𝙞𝙠.
𝙩𝙞𝙣𝙜𝙜𝙖𝙡𝙠𝙖𝙣 𝙡𝙞𝙠𝙚 𝙖𝙣𝙙 𝙠𝙤𝙢𝙚𝙣 𝙙𝙞 𝙠𝙤𝙡𝙤𝙢 𝙠𝙤𝙢𝙚𝙣𝙩𝙖𝙧 𝙮𝙖𝙖𝙖 𝙢𝙤𝙝𝙤𝙣 𝙙𝙪𝙠𝙪𝙣𝙜𝙖𝙣𝙣𝙮𝙖......
𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙞𝙠𝙚 𝙙𝙖𝙣 𝙢𝙚𝙢𝙗𝙚𝙧𝙞𝙠𝙖𝙣 𝙨𝙖𝙧𝙖𝙣 𝙏𝙚𝙧𝙞𝙢𝙖 𝙠𝙖𝙨𝙞𝙝 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏
__ADS_1