
pagi itu anisa bersiap berangkat ke kampus tidak sengaja anisa mendengar percakapan ibu mertua di balik telpon.
"apa? tidak .... tidak mungkin rayhan pergi begitu cepat bukannya kemarin kamu bilang jika kakakmu sudah lebih baik
.....................
" kamu pasti bohong! "
........ ...........
"jangan coba-coba kamu melepaskan alat ditubuhnya
...............
" aku yakin rayhan masih bisa tertolong
telepon terputus.
tut
tut
anisa yang memegang buku tiba-tiba buku yang di pegangannya jatuh terhambur di lantai.
" apa maksud semua ini? lirihnya
ibu mertua berbalik dan mendapati anisa berdiri tidak berkutik.
"anisa?
ibu mertua menghampiri anisa
__ADS_1
" apa maksud semua ini mah? bibir anisa bergetar. mengapa mama menyembunyikan semua ini dariku! "
ibu mertua tidak tahu harus berkata apa dan memulai dari mana. yang dilakukannya hanya menangis
melihat serli yang baru tiba. anisa dengan segera menghampiri serli yang tampak ketakutan melihat raut muka anisa pertama kalinya.
"dan lho sahabatku juga tahu hal ini hah!
kenapa! " geram anisa dengan deraian air mata
"kenapa?
bentak nya lagi dengan suara memenuhi ruangan
"anisa gue bisa jelaskan semuanya tapi, tenang dulu.
sementara ibu mertua hanya bisa menangis menyesali.
serli pun mendekat dan memeluk sahabatnya itu. dan menceritakan semua faktanya dan alasan mengapa rizki dan keluarga tidak memberitahukan anisa.
...****************...
sementara di lain tempat rayhan menutup mata dengan rapat tak ada kehidupan
alat-alat masih setia melekat di tubuhnya.
rizki berdiri dengan tatapan kosong melihat wajah sang kakak yang kini terbaring tak bergerak sama sekali denyut jantung di monitor sudah tidak ada
Hening
dalam kondisi seperti ini apa yang kamu bisa lakukan?
__ADS_1
menangis, marah, kecewa, silahkan
takdir hidup seseorang sudah ada yang atur.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
وَمَا كَا نَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ كِتٰبًا مُّؤَجَّلًا ۗ وَ مَنْ يُّرِدْ ثَوَا بَ الدُّنْيَا نُؤْتِهٖ مِنْهَا ۚ وَمَنْ يُّرِدْ ثَوَا بَ الْاٰ خِرَةِ نُؤْتِهٖ مِنْهَا ۗ وَسَنَجْزِى الشّٰكِرِيْنَ
wa maa kaana linafsin ang tamuuta illaa bi-iznillaahi kitaabam mu-ajjalaa, wa may yurid sawaabad-dun-yaa nu-tihii min-haa, wa may yurid sawaabal-aakhiroti nu-tihii min-haa, wa sanajzisy-syaakiriin
"Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."
(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 145)
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِا لشَّرِّ وَا لْخَيْرِ فِتْنَةً ۗ وَاِ لَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
kullu nafsing zaaa-iqotul-mauut, wa nabluukum bisy-syarri wal-khoiri fitnah, wa ilainaa turja'uun
"Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami."
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)
rizki hanya bisa pasrah kepada yang kuasa. pak sulaiman mendekat dan menepuk bahu anaknya itu berkata
"sudah cukup usaha dan pengorbanan mu jika memang ini sudah jadi jalan takdir yang digariskan buat kita terimalah dengan lapang dada.
rizki masih terlihat begitu menyesali semua ucapannya beberapa hari yang lalu. ia mengucapkan bukan sungguhan ia hanya meluangkan emosinya.
" ya rab kau lebih tahu atas apa yang ku ucapkan beberapa hari yang lalu. kau yang lebih tahu hati hamba-Mu.
__ADS_1