
Pagi-pagi aku berencana untuk pulang ketempat suami, walaupun suami tidak menjemput, akan tetapi bapak dan ibu sangat khawatir dan melarang ku untuk pulang sendirian, bapak meminta untuk mengirim pesan kepada suamiku agar suami ku yg menjemput sendiri kerumah. Bapak ada niat juga ingin bertemu langsung dengan suamiku karena ada hal yang mereka ingin bicarakan dengan suamiku. Mungkin ini penting menyangkut dengan acara tujuh bulanan kehamilanku.
Permintaan bapak sangat aku indahkan, aku mengirimkan SMS kepada suamiku.
"Assalamualaikum..bang ..hari ini Muly rencana mau pulang, tapi bapak ingin sekali ketemu langsung dengan Abang, kata bapak ada hal yang bersifat penting mau di bicarakan dengan Abang, apa Abang ada waktu untuk kesini?. Muly mohon bang..🙏🙏. Wassalam
Dengan sangat hati-hati aku meminta lewat SMS supaya jangan salah faham.
setelah selesai aku tulis langsung saja aku kirim dan aku menunggu beberapa saat, ya sms berhasil terkirim, tinggal tunggu balasan.
Ting .....balasan sms masuk.
" Ya " jawab singkat dari bang man. oke tidak mengapa yang terpenting sudah setuju.
Keesokan harinya suami ku menempati janjinya untuk datang menjemput ku dan bertemu dengan bapak.
Terlihat bapak dan suamiku duduk di atas balai yang ada di depan rumah saling berhadapan sambil sesekali bang man mengangguk - nganggukan kepalanya sepertinya mengiyakan semua perkataan bapak.
" Bang ... minum dulu" ucap ku sambil menghidangkan segelas teh manis.
" Ya...makasih , Dek kita pulang siang ini ya, adek siap-siap terus bentar lagi kita berangkat.
Siang itu aku dan suamiku berangkat pulang kerumah yang jauh dari orang tua. perjalanan yang membutuhkan waktu beberapa jam itu membuat aku sangat lelah.
Untuk menghilangkan lelah kami beristirahat sebentar di SPBU Pertamina, sebelum berangkat tidak lupa suamiku mengisi bensin motor yang harus antri dengan beberapa motor lain.
Tiba-tiba.......!
"Ayah....ayah! bunda itu ayah". Suara anak kecil bersama ibunya dari antrian motor paling terakhir.
Aku menoleh ke belakang melihat anak kecil itu menunjuk - nunjuk tangan nya dan memanggil " Ayah" kepada suamiku. tetapi suamiku sepertinya tidak menghiraukan panggilan itu, apa dia tidak mendengarkan.
" Bang....kenapa anak itu memanggil abang dengan sebutan ayah, apa itu anak abang ya" tanyaku.
" Mungkin salah orang, abang ngak kenal dengan anak itu". Jawab bang man dengan buru - buru menghidupkan motor nya.
"Tapi abang pernah cerita bahwa abang pernah kawin dan mempunyai anak, mungkin tadi itu benar anaknya Abang" tegas ku.
" Kamu jangan ngacau ya, itu masa lalu ku jangan kau ungkit - ungkit lagi, ni abang ingatin sekali lagi ya jangan pernah kamu mencampuri masa lalu abang, jalani aja masa kita berdua" jawaban yang tegas dari suamiku.
__ADS_1
Sudah lah aku ngak mau ribut di atas motor, kalau pun ada anak dari masa lalu nya sudah jadi tanggung jawab suamiku, ngapain aku susah-susah memikirkan nya.
Setibanya di rumah hari mulai gelap, setelah mandi aku langsung shalat Maghrib dan ganti baju dengan pakai daster baru yang dibelikan ibu ku.
" Baju baru ? tanya bang man. "Uang dari mana adek beli baju, jangan - jangan adek nyuri uang abang ya"? dengan nada agak tinggi.
" Muly ngak beli bang di kasih sama ibu". jelasku dengan ketakutan.
" OOO....adek ngadu sama ibu ya kalau selama ini abang ngak pernah abang beliin baju buat adek". "Ngak bang..adek ngak pernah ceritain tentang rumah tangga kita, Abang jangan salah faham dulu, baju ini cuma sekedar hadiah buat kehamilan aku". jawabku sambil menangis.
Sumpah! aku ngak pernah melihat bang man semarah ini matanya melotot tangannya berkacak pinggang, seperti kesurupan aja
" Ingat ya! abang paling ngak suka melihat orang mengadu". dum...suara pintu yang ditutup sangat keras.
" Ya Allah suamiku sudah berubah sekarang sudah jadi pemarah dan salah faham" ucap ku dalam hati
Malam itu aku sendirian dirumah, untung saja ibu tadi siang sempat membungkus makanan untuk ku, jadi malam ini aku tidak kelaparan.
Sudah larut malam tapi suamiku tidak juga pulang, hingga aku tertidur lelap.
...----------------...
Keesokan paginya aku terbangun kesiangan, " ternyata bang man suamiku tidak pulang dari tadi malam, apakah dia marah? terus tidur dimana tadi malam".
" Apa mungkin suamiku sekarang sudah pergi ke kebun? ya sudah lah nanti sore aku hubungi lagi".
Hari ini aku sendiri yang membereskan rumah menimba air, nyapu, nyuci pakaian kotor yang selama aku tidak rumah ku sepertinya tidak pernah nyuci sehingga menumpuk seperti ini. Biasanya pekerjaan seperti ini tidak boleh aku lakukan aku diratukan tapi tidak dengan hari ini aku seperti pembantu.
" Aaaahhhhh,, capek sekali hari ini sambil rebahan di atas kasur dan menatap langit-langit rumah, bagaimana nasib ku kedepan ya? aku teringat lagi dengan anak kecil yang kemarin aku penasaran aja, siapa anak itu kok bisa - bisanya dia panggil ayah kepada suamiku, ini pasti anaknya bang man, bang man Khan pernah kawin sebelum jadi duda" gumam ku dalam hati dengan penuh penasaran.
Menjelang sore terdengar suara motor dari luar rumah sepertinya ada tamu, bergegas aku bangkit dan membukakan pintu.
Eh ternyata!
Bang man sudah pulang dengan motor baru, punya siapa motor itu ya ? aku bertanya dalam hatiku.
" Sudah pulang bang" tanyaku sambil memegang tangan nya bersalaman.
Bang man tidak menjawab, ia menyerahkan barang belanjaan nya kepada ku dan masuk kedalam kamar mengambil handuk dan bergegas mandi.
__ADS_1
Aku terdiam melihat sikapnya yang dingin apa susahnya sih dia menjawab "ya" doang, bearti bang man benar - benar masih marah pada ku.
Aku bawa barang belanjaan kedapur dan aku buka bungkusan nya, Wow.... belanjaan nya banyak sekali, seperti biasa tidak lupa dengan nasi goreng ayam panggang dan yang bikin aku terharu masih sempat dia membelikan rujak untuk ku, ini yang aku ngidam dari kemaren kok bisa tahu ya padahal aku ngak berani bilang kalau aku lagi ngidam rujak.
"Dek ..siapin abang makan ya". Ucap bang man yang habis mandi.
" Ya bang "!
Aku membuka bungkusan nasi goreng dan membakan ke ruang tengah.
"ini bang"! ucapku sambil duduk di samping bang man
" Bang ..! maafin Muly ya," ucapku sambil memang tangan bang man.
" Kenapa ?Adek tau ngak salah nya dimana" ?
" Ya ..adek terlalu ikut campur masa lalu abang, adek ngak boleh ngadu ke orang lain tentang rumah tangga kita" jelas ku kepada suamiku, padahal aku tidak pernah cerita ke siapa pun tentang rumah tangga ku termasuk kepada bapak dan ibuku, tapi apa boleh buat terpaksa aku yang harus mengalah demi keharmonisan rumah tangga ku.
" Abang maafin adek, jangan di ulangi lain kali ya".
Aku mengangguk tersenyum sambil memeluk mesra suamiku.
" Oh ya bang ..itu motor baru punya siapa" .
" Ya punya abang lah, abang ngak pede lagi naik motor buntut si Ina, abang beli motor itu uang pinjaman dari bos dikebun, tiap bulan gaji abang nanti di potong 30 persen, jadi kita harus hemat - hemat ya dek".
" Ya udah ngak papa bang". jawab ku. karna aku ngak mau ribut lagi terpaksa aku mengalah aja, toh selama ini semua kebutuhan rumah tanggaku suami yang beliin aku ngak pernah di kasih sepeser pun pegangan uang belanja.
Oh ya aku baru ingat uang kak Ina kasih kemaren ngak aku pakek, aku taruh dimana ya, waktu kemaren aku selipin di tas kecilku.
" Bang ..bentar ya aku kekamar dulu", ucap ku sambil melepaskan pelukan dan bangun masuk ke dalam kamar langsung aku geledah tas kecilku, wahh ternyata masih ada uang nya, ini uang harus aku sembunyikan kalau tidak bisa runyam nanti. dikira aku mencuri uang bang man lagi. Dengan cepat aku sembunyikan uang itu di balik lipatan baju.
" ya .. sepertinya ini aman"
" Ada apa dek"? suara bang man dari luar
" Ngak bang! adek cari hp ngak tahu dimana adek taruh tadi" jawabku sedikit berbohong demi kebaikan.
" Tadi hp adek seperti nya di atas meja dapur deh, coba adek liat"
__ADS_1
" oh ya bang"! cepat - cepat aku ke dapur, " makasih ya bang".
Bersambung...