
"Alhamdulillah Muly, ibu senang kamu sudah pulang dan mau lahiran disini, jadi ibu tidak khawatir lagi memikirkan bagaimana ibu pergi ke tempat Muly nanti ninggalin adek - adek kamu di sini". Ucap ibu sambil merangkul badan ku dan memeluk nya dengan kasih sayang.
" Kamu sehat kan Muly, kandungan mu bagaimana, apa kamu udah cek kandungan ke bidan, bayi nya sehat kah"?.
" Bulan ini belum buk, Muly pikir ngak usah lah kita cek lagi, toh kandungan Muly ngak ada keluhan".
" Ngak bisa begitu dog Muly, kita harus cek tiap bulan apalagi ini sudah dekat lahiran, ngak papa besok kita ke bidan di puskesmas ya, biar ibu yang anterin".
"Tapi ibu besok tidak masuk kerja"?.
" Ibu bisa libur besok".
" Biar Fatma aja yang gantiin ibu besok" ucap Fatma yang keluar dari dalam kamar dan duduk disebelah ku.
" Emang kamu bisa gantiin ibu? kerjaan nya kan banyak, nyuci, setrika baju, ngepel". tanyaku penasaran
" Bisa dong kak, Fatma sudah sering ikut ibu bantu - bantu jadi Fatma bisa ngerjain semua itu" jawab Fatma.
Sungguh kasihan nasib adik - adikku semenjak aku dan Sarah menikah Fatma dan Idah yang membantu keluarga, selayaknya gadis seumuran mereka masih duduk di bangku SMP untuk belajar, tapi mereka harus ikut mengurus adik-adiknya dan pekerjaan rumah.
" Suamimu bagaimana kabarnya Muly, apa dia masih ngurusin kebun sawit? yang katanya selalu sibuk tidak bisa ninggalin kerjaannya". Tanya bapak yang datang dari dapur dan duduk disamping ibu.
Aku terdiam dengan pertanyaan bapak yang sangat menyayat hati ku.
" Pak...bapak kok gitu pertanyaan nya, kasian Muly dong pak"!. Ucap ibu kepada bapak.
" Emang salahnya dimana? coba ibu lihat semenjak Usman bawa anak kita, tidak pernah dia nginap disini, katanya sibuk, banyak kerjaan, apa rumah kita ini ada hawa panas makanya dia ngak betah"?.
" Udah...udah pak! bapak jangan emosi nanti darah tinggi nya kumat".ucap ibu sambil menenangkan bapak.
" Walaupun begitu sikap nya Usman dia itu menantu bapak suami dari pada pilihan anak kita pak, kita sebagai orang tua mendoakan yang terbaik aja, semoga Muly bahagia pak, lagian sebentar lagi kita akan menimang cucu".
Sekarang yang mereka lihat aku ini bahagia, mereka tidak tahu sebenarnya hatiku ini sangat lah tertekan hidup bersama suami ku, tapi ini semua harus aku jalani karna semua nya sudah jadi keputusan aku di awal pernikahan.
----------------
" Bayi nya sehat buk, posisi nya juga bagus, insyaallah jenis kelaminnya cewek". Ucap buk bidan yang sedang memutar - mutar alat USG di perut ku.
" Buk..kalau boleh tahu kira - kira kapan ya prediksi melahirkan". tanya ibu ku
" Kalau menurut hasil pemeriksaan dalam minggu ini melahirkan".
__ADS_1
" kalau begitu kami harus siap siaga buk".
" Itu pasti, apalagi suami nya ya, oh ya suami anak ibu tidak ikut"?. tanya buk bidan yang dari tadi tidak kelihatan laki - laki pendampingku, cuma ditemani oleh ibuku.
" Tidak buk bidan, suami anak saya ini orang jauh, mungkin besok sudah pulang". jawab ibuku.
" Oo.. maaf kan saya, saya tidak tahu" .
" Ngak papa buk". jawab ku sambil tersenyum.
Siang itu aku sangat kepikiran dengan hasil tadi, kalau dalam minggu ini aku melahirkan berarti aku harus ada persiapan keperluan bayi, aku baru ingat uang bang man kasih dan kak Ina kasih sepertinya cukup untuk beli perlengkapan bayi.
" Buk ini ada uang untuk ibu beli perlengkapan bayi, ibu aja yang belanja nanti ya"!.
" Berapa ini Muly"?
" Satu juta Bu, apa cukup untuk biaya persalinan nanti Bu"?.
" Kita cukup - cukupin aja ya, perlengkapan bayi ibu beli beberapa potong aja ya, untuk cadangan aja, selebihnya ada tu baju dan kain popok punya adek mu kemaren masih bagus - bagus nanti biar ibu cuci ulang ya".
" Kalau untuk persalinan biasanya berapa bu"?.
" Kamu tidak usah risau kalau pun nanti uang nya tidak cukup, biar ibu yang tambahin".
Ada rasa bahagia dan ada rasa takut yang menghantuiku mendekati hari - hari dimana aku akan jadi seorang ibu.
Rasa bahagia ini akan aku bagikan bersama dengan suamiku. aku berencana untuk menghubungi hp bang man, akan tetapi hp nya sibuk, aku hubungi setelah lima belas menit kemudian sama juga masih sibuk.
" Ya Allah...kenapa bang man sulit sekali dihubungi, sepertinya dia lagi nelponan orang, tapi sama siapa sampai segitunya dia nelpon, apa sama wanita lain ya". Ucapku dalam hati.
Dua hari kemudian tubuh ku terasa pegal-pegal, kaki ku terasa kram, aku malu rasanya cerita tentang hal ini kepada ibu.
Malam itu aku sering terbangun buang air kecil, lima belas menit sekali aku ke kamar mandi, pinggangku sekali - kali rasa sakit, aku coba pijit - pijit sendiri rasanya sudah baikan.
" Kak kenapa"?. Tanya Fatma terbangun mendengar suara pintu.
" Ngak kok Fatma kakak cuma dari kamar mandi buang air kecil aja".
Aku ngak sanggup lagi bolak balik ke kamar mandi, hingga akhirnya aku pipis ke dalam baskom tampa ketahuan adek ku.
Pagi hari aku cepat - cepat beresin baskom tadi malam supaya tidak ketahuan sama ibu.
__ADS_1
" Muly ...ibu dan Fatma berangkat dulu ya, kalau ada apa-apa nanti Muly hubungi ibu aja ke nomor ini ya"!. Ucap ibu sambil menyodorkan selembar kertas putih berisi nomor hp.
" ini nomor siapa buk ".
" Ini nomor hp pemilik rumah tempat ibu kerja, ibu minta kemaren buat jaga-jaga kalau Muly melahirkan tiba - tiba nanti".
Pinggang ku masih terasa sakit, aku mondar mandir bolak balik ke kamar mandi, apa aku mau melahirkan? oh tidak mungkin sebab perutku baik - baik saja tidak terasa sakit.
Aku coba beristirahat sebentar siapa tahu pas bangun nanti sudah baikan.
" Kakak mu mana Idah"?. tanya ibu pas pulang dari kerja.
" Ada buk di kamar lagi istirahat". jawab Idah.
Mendengar suara ibu aku terbangun dan duduk di ranjang pas aku mau bangun berdiri.
criitttttt. .....
aku terkencing dalam celana.
" Buk...buk..."!
Mendengar suara panggilan ku cepat - cepat ibu masuk ke kamar.
" Ada apa Muly"?
" Muly ngompol buk".
" Ya Allah kok bisa Muly, tunggu dulu ibu gantiin baju nya ya".
Ibu membawa baju ganti dan kain buat ganti, dan membersihkan kencingku.
" Tapi Muly ini bukan seperti kencing tidak ada bau kencing pun".
" Terus air apa buk Kalau bukan kencing".
" Jangan - jangan ini air ketuban, kamu mau melahirkan.
Aku kaget dan panik sekali, mana bang man belum aku hubungi.
" Jangan panik ya, ibu akan siapin perlengkapan bayi dulu ya, kita tunggu bapak pulang habis itu kita ke puskesmas, kalau bisa hubungi suami mu bilang kamu mau melahirkan, suruh dia pulang sekarang".
__ADS_1
Bersambung!
Mohon dukungan nya bagi pembaca setia, syukran semuanya...