Diary Kehidupanku

Diary Kehidupanku
39. Mengisi Kekosongan


__ADS_3

Tidak terasa sudah hampir dua tahun ini aku menjalani hidup sebagai janda, suka dan duka aku jalani dengan lapang dada. Apalagi kalau aku dekat dengan laki orang, janda di cap sebagai perusak rumah tangga orang. Kali ini aku tidak peduli lagi mau dicap atau di cemoohan orang kalau pun ada nanti duda atau suami orang yang mau menikahi diriku, aku mau saja yang penting aku dapat suami, biar nanti Bang Usman tahu, aku masih bisa mendapatkan laki-laki setelah dia mengkhianati aku.


" Mba!." Aku dikejutkan dengan kedatangan Fatma di sampingku. " Kok Kakak kaget?, jangan-jangan Kak Muly lagi ngelamun seseorang ya." Fatma yang datang langsung usil. " Ih, kamu Fatma apaan sih! orang lagi mikirin kerja kok. Lagian kamu ngapain masih disini, nggak kerja kamu." Ujarku sambil bangun dari baringan dan bersandar di balai kecil yang di buatkan oleh Adikku. " Kak Muly sendiri bagaimana?, apa Kakak nggak kerja juga."


" Kakak lagi malas nih Fatma, Kamu duluan aja ya." Ujarku kepada Fatma. " Nggak ah, kalau Kakak libur aku libur juga." Kamu jangan kek gitu dong, kalau Kamu libur juga bisa-bisa besok menyetrikanya menumpuk banyak." Jelasku kepada Fatma.


Semenjak Bapak terkena stroke pekerjaan Ibu sebagai tukang cuci dan menyetrika aku dan Fatma yang menggantikan semuanya. Amira dan Lutfia aku titipkan kepada Ibu yang tinggal di rumah mengurus Bapak sakit. Semua keperluan dapur dan biaya obat Bapak Aku dan Sarah patungan. Aku sangat bersyukur bisa membantu keperluan orang tua walaupun dengan pas-pasan, lagi pula adik laki-lakiku semuanya sudah bisa mandiri terkecuali Sibungsu.


" Kalau begitu Kakak nggak jadi libur."


" Beneran Kak?" Tanya Fatma. " Iya, yuk buruan kita kerja nanti bisa kesiangan."


Aku bergegas untuk pergi kerja, dengan bermodal kereta Bapak Aku dan Fatma bisa mencari uang, bahkan pulang kerja kami bisa mencari uang tambahan dengan menitipkan keripik pisang yang Ibu goreng di beberapa warung terdekat. Sekarang apa pun yang menghasilkan uang semua aku lakukan termasuk jasa semprot hama yang biasanya dilakukan oleh Bapak namun kini aku yang melakukannya sendiri. Tiap hari aku harus mengumpulkan receh untuk menafkahi orang tuaku dan keluarga kecilku.


" Udah siap, yuk kita berangkat. Kakak aja yang bawa motor ya." Ujar Fatma yang dari tadi menunggu ku.b Kami sudah siap untuk berangkat kerja, namun terdengar dari dalam suara panggilan. " Bunda, Bunda." Amira yang dari tadi di dalam rumah berlarian menghampiriku yang disusul oleh Lutfia dari belakang.

__ADS_1


" Bunda mau kerja?, nanti pulang bawa jajan ya." Pinta Amira yang rutin tiap aku mau berangkat kerja. " Pasti dong, Bunda beli jajan tapi Kakak Amira jagain Adik Lutfia ya!. Ingat jangan repotin Nenek ya."


" Ya, Bunda." Ibu yang melihat langsung memanggil mereka. " Amira..., Lutfia sini jangan gangguin Bunda nanti Bundanya telat pergi kerja." Ujar Ibu. " Tuh, Nenek manggil bawa Lutfia masuk kedalam." Aku menciumi mereka berdua, lalu Amira dan Lutfia pun masuk ke dalam.


Tentang Amira!.


Amira sekarang sudah beranjak lima tahun, kemungkinan tahun depan Amira sudah mulai masuk sekolah TK. Dari sekarang aku harus benar-benar mempersiapkan kebutuhan nanti Amira pas masuk sekolah. Amira dan Lutfia bukanlah anak yatim, mereka masih mempunyai ayah, tapi mereka berdua seperti layaknya anak yatim, tidak ada sepeser pun nafkah dari Ayahnya. Semenjak aku bercerai, Bang Man tidak pernah menanyakan kabar anak-anaknya, jangankan untuk datang kesini, aku telpon pun tidak pernah Bang Man angkat malah baru-baru ini nomor hpnya sudah tidak aktif lagi. Aku dengar dari Kak Ina, Bang Man sudah menikah lagi dengan Santi.


Dalam perjalan menuju kerja aku mengajak Fatma ngobrol tentang kerja tambahan untuk mengisi waktu kosong.


" Gimana kalau Kak Muly ngojek aja?"


"Ngojek?, nggak mungkin deh, mana sempat kita kerja aja dari jam sembilan sampai siang, sorenya nitip keripik Ibu ke warung" Jelasku. " Bukan ngojek kek gitu Kak, tapi ini ngojek bulanan cuma antar jemput aja, pagi diantar siang di jemput." Jelas Fatma. " Emang aja ngojek kek gitu?" tanyaku penasaran. " Ada dong, kalau Kakak mau nanti biar Fatma aja yang cariin." Aku setuju aja dengan ide Fatma.


Hari ini ada tiga rumah yang harus kami setrika pakaian yang sudah kami cuci dua hari lalu. Begitulah setiap harinya, kalau hari ini nyuci besoknya setrika.

__ADS_1


Hari ini cuaca begitu panas, sekujur tubuhku di basahi keringat, sesampainya aku pulang dari kerja aku disambut gembira oleh anak-anakku yang dari tadi menunggu bawaan jajan.


Baru saja kereta memasuki halaman rumah, berhamburan anak-anakku keluar. " Bunda pulang, Bunda pulang." Teriakan si bungsu 'Lutfia' kegirangan. Satu kantong kresek jajanan yang aku beli langsung diserbu.


" Bagi-Bagi ya Amira." " Ya, Bunda." Ibu yang melihat kegaduhan mereka langsung keluar. " Banyak kamu beliin jajannya. Semua Kamu kasih?, kamu hemat-hemat dong." Ujar Ibu mengingatkan aku. " Nggak papa Bu sekali-kali, lagian hari ini aku gajian. Bu ini uang untuk ibu." Ujarku sambil memberikan Satu juta rupiah untuk Ibu.


" Apa ini nggak kebanyakan Muly?, untukmu dan Fatma--."


" Ada kok, ini untuk ibu buat tambahan belanja dan berobat Bapak. Fatma udah aku kasih juga" Ujarku. " Kami dapat bonus Buk, kata buk Sari kerjaan kami itu rapi dan bersih. Makanya di tambah bonus, coba sering-sering kek gini bisa kebeli hp Fatma."


" Eh, jangan kalian lupakan bagian ku ya." Terdengar ucapan Idah dari dapur yang lagi asik goreng keripik. " Iya Kak, bagian bakso aja ya." Ucap Fatma. " Enak aja kalian, sini-sini bagianku. Aku yang lebih capek di rumah, kalian pulang semua sudah beres." Cetus Idah kesal.


" Udah-Udah jangan pada ribut, nanti Ibu bagi, cepetan Idah beresin keripiknya biar nanti sore diantar sama Kakakmu" ujar Ibu. " Iya Bu." Tanpa bantahan Idah melanjutkan gorengannya.


Hari ini aku bersyukur atas rezeki yang telah Allah berikan padaku, semoga besok dan lusa bisa bertambah lagi.

__ADS_1


Terimakasih banyak yang sudah hadir di Diary Kehidupanku. Jangan lupa like dan komennya.


__ADS_2