
Pagi itu kami bangun pagi-pagi sekali.
Setelah subuh bang man dan bang Odin mempersiap kan semua keperluan untuk berangkat menuju tempat perdesaan tempat kerja bang man dan bang Odin.
Di belakang terlihat kak Ina dan istri bang Odin sedang mempersiapkan bungkusan dua kartus, entah lah..
Apa yang mereka bungkus, seperti bungkusan paket.
" Kak Ina...apa ini"? tanya ku dengan penasaran.
" O...ini satu kardus buat kak Muly, satu lagi buat si Odin " sambil menggeser kan kardus yang besar.
Aku tidak jadi bertanya lagi, biar penasaran ku nanti aja ku buktikan waktu sampai ketujuan.
Diluar terlihat bang man sedang mempersiapkan semua barang dan di ikat di belakang motor tua.
" Bang ....kita pergi naik motor ini" tanyaku.
" Iya...! jawab bang man.
" Kenapa?"
" Dek Muly malu"?
" e..Ng..enggak sih bang! cuma Muly heran aja ini motor kuat ngak sih untuk kita pergi"?
" Jangan - jangan nanti mongok lagi di jalan".
"Dek Muly tenang aja...ini motor punya Ina, biar pun kelihatan buntut, tapi tarikan mesin nya kalah dengan yang baru" jelas bang man.
" Seperti siapa dong"? pasti seperti orang yang bawa kan" Odin pun ikut-ikutan ngeledekin bang man.
" Itu jelas.." tegas bang man.
" Ya..duda - duda keladi, makin tua makin menjadi" tambah lagi bang Odin ngeledekin sambil melirik ke arah bang man.
" Dasar kamu Odin", nanti kalau kamu jadi duda baru tau kamu.
Pagi sudah mulai terang, aku berboncengan dengan bang man, Odin dengan istri nya.
Setelah berpamitan kepada kak Ina, motor pun berjalan menuju perdesaan.
Di sepanjang perjalanan aku melihat mentari mulai muncul dari upuk timur, cayahanya menyinari perjalanan kami. hampir satu jam aku terdiam.
" Bang ...desanya jauh ya"? tanya penasaran ku kepada suami.
" Jauh dek..! jawab bang man sambil mengambil kedua tangan ku, dan melingkari pinggangnya.
" Dek Muly...peluk Abang ya, jalanan berbatu, jangan sampai dek Muly jatuh nanti".
yes...!
permintaan yang bangus! ucapku dalam hati, kenapa ngak dari tadi ya, soalnya aku malu-malu.
Dengan sangat erat ku peluk suamiku dengan kedua tanganku sambil aku merebahkan tubuhku di punggung suamiku.
Ya Allah.....aku baru merasa nikmatnya kalau bersuami, apalagi perginya begini.
"Ehemmm.... ehemmm..!
" Mesra ni ye..."! ujar Odin sambil ngegas motor nya melewati motor kami.
Aku terkejut dan tersenyum malu, tapi ngak peduli yang penting suami sendiri.
"Masih jauh bang"?
"Sebentar lagi dek"!.
Aku memejamkan mata lagi dipunggung suamiku.
1..2..3..4..5 sampai 100, hitunganku dalam hati menghilangkan jenuh.
" Masih jauh bang"? tanyaku lagi.
" Sebentar lagi dek"!
Aku mulai menghitung lagi 1,2,3,4,5,6,7.…......100
__ADS_1
Tiba-tiba......
krett...bang man ngerem mendadak, aku membuka mata.
"Udah sampai bang"?
" Iya..udah sampai"!
"Alhamdulillah... akhirnya sampai juga".
" Sudah sampai dirumahnya Odin"!
Hah...!
" Jadi ini rumah bang Odin"? tegasku lagi.
"Ya dek , rumah kita kedepan lagi sekitar 2 km lagi" jawab bang man.
Terlihat dari luar rumah bang Odin bagus juga, setengah permanen dengan luar cat nya warna putih dan terlihat ********** cat berwarna pink.
"Bang... mampir dulu"! ucap bang Odin.
"Ngak papa, lain kali aja ya, kamu jadi ke kebun din? biar saya tungguin dirumah nanti"! ujar bang man.
"Jadi bang"!.
" Mampir lah dulu kak" suara istri bang Odin sambil keluar dari rumah.
"Bang kek mana ni? istri bang Odin suruh kita mampir dulu".
"Alahhh"!
"Bilang aja, lain kali".
"Besok - besok aja ya kak, soalnya Muly harus beres - beres dulu" jelasku kepada kak sari.
"Ya udah! main- main kerumah nanti ya kak, biar kakak ngak sendiri dirumah".
Aku mengangguk pelan sambil melirik ke arah suamiku, dan motor kami pun melaju lagi.
Perjalan 2 km lagi membuat mataku melek, ini daerah mana ya? pedesaanya sangat jauh dari jalan raya, tidak padat penduduk tetapi rumah - rumah warga disini pada bagus - bagus semua, sebenarnya pekerjaan mereka disini apa ya?.aku penasaran sendiri di dalam hati.
SMPN 1 Peureulak,desa pasir putih.
Wah.....
Baru dengar nama desa nya jauh sekali dari jalan raya, kalau aku tersesat disini pasti ngak tau pulangnya naik apa.
Tiba-tiba motor nya berhenti.
" Lhoh kok berhenti bang"?
" Sudah sampai"!
" Yuk turun "!
Aku turun dari motor dan berjalan dibelakang bang man menuju rumah setengah permanen berwarna putih dengan pagar dari bambu yang di cat warna putih juga. sepertinya rumah ini baru di renovasi nampak catnya masih baru.
" Halo..halo.." tangan bang man melambai di mataku,
"jangan bengong ! bantuin angkat barang ini dek kedalam" sambil membukakan pintu rumah.
"Ya bang..."!
Aku mengangkat kardus yang ada di depan motor, aduh ...berat juga ini, sebenarnya isinya apa kok berat begini, tapi aku sanggup mengangkat nya dan membawa masuk kedalam.
" Assalamualaikum...." ucapku.
Nampak didalam rumah nya bagus, ada dua kamar, lalu aku menuju ke belakang, dapur nya luas tapi sumurnya sedikit jauh diluar, aku ngak kenapa sih sudah biasa nimba air sendiri.
" Dek.." Abang ke kebun sawit, adek sendiri dirumah dulu ngak papa Khan"?
" Ya bang ..."
" Kalau adek capek istirahat dulu aja, ngak usah beres -beres rumah ya, biar nanti Abang yang beresin semua" .
" Oya..satu lagi, adek jangan keluar rumah tanpa izin Abang ya, kita masih baru disini".
__ADS_1
"Jangan khawatir bang, adek nurut sama Abang".
" Abang pergi dulu, kalau ada apa-apa nelpon atau SMS Abang aja ya".
"Ya ...bang " sambil aku salaman.
Selepas bang man pergi kekebun ,aku mengunci pintu dari dalam takut nanti ada orang asing yang belum aku kenal datang kesini.
"aaahhh....aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang ada di dalam kamar, lelah sekali tubuh ku, sambil aku meraba ponsel dalam tas kecilku.
Aduhhh....
Ternyata udah mau siang, aku bangun dan menuju ke dapur, masak apa ya?
Teringat dengan kardus pemberian kak Ina tadi, biar aku buka aja.
"Kak Ina....apa pantas ya! aku panggil nya dengan sebutan kakak, tapi dia kan adik bang man.
Terus ...
Aku panggil dengan sebutan adik ipar gitu? tapi dia lebih tua umurnya dengan aku, terus panggil apa donggg?
aaaaa...
Aku bingungg...
ya ..udah lah, gimana enaknya aku aja
Tip...tip...tip...suara potongan tali pengikat kardus.
Kardus nya terbuka...
"Ya Allah.....kak Ina! baik bangett!".
Terlihat didalam kartus isinya bahan-bahan dapur semua, termasuk ikan tongkol, udang hasil panen kemaren.
Sepertinya aku kehabisan kata-kata deh, melihat kebaikan kak Ina terhadapku.
Aku membersihkan ikan dan udang untuk dimasakin.
" Hari ini aku makan enak sama suamiku"! ucapku dalam hati.
"Bagaimana orang tuaku dan adik - adikku disana ya"? terlintas dalam hatiku.
mereka masak apa hari ini.
Biasanya jam segini aku dan Sarah sibuk petik kangkung atau daun singkong yang ada di belakang rumah untuk di masak, ikan nya telur atau ikan asin, dengan lauk seadanya kami sudah lahab makan nya.
Ya Allah...
Aku rindu mereka semua, semoga mereka baik - baik saja disana.
Tidak terasa air mata kesedihanku mulai membasahi pipiku, aku mengusap dengan lengan bajuku.
...----------------...
Jam 1 siang aku sudah siap semuanya, beres-beres rumah, masak-masak dan sekarang tinggal tunggu suami ku pulang kerja baru aku makan,.
eeemmm sempurna hari ini jadi ibu rumah tangga.
Sambil nunggu suami pulang, aku shalat zhuhur dulu.
Habis shalat zhuhur belum pulang juga.
gimana ni.....?
Aku lapar banget....
Aku ngintip keluar dari jendela, ternyata tidak ada tanda-tanda kepulangan suamiku.
Ya udah ....
Aku putuskan untuk makan sendiri aja, mungkin suamiku tidak bisa pulang.
Siang itu aku makan dengan lahap sekali, jarang -jarang aku makan enak.
Selepas makan siang, aku rebahan cantik di dalam kamar sambil mainin hp, ternyata disini jaringan nya putus - putus.
__ADS_1
Mau chat siapa ya..???
Bersambung!!