Diary Kehidupanku

Diary Kehidupanku
18. Kebaikan kak Ina


__ADS_3

Kehamilan ku sudah memasuki tiga puluh empat minggu, kelahiran anak pertama ku ini berarti tidak lama lagi aku akan melahirkan, aku berencana lahiran di kampung orang tua ku, karena tidak mungkin sekali aku bisa mengurus persalinan sendiri apalagi ada ke khawatiran terhadap suami ku yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah ketimbang bersama dengan ku.


"Bang ! adek tidak lama lagi mau lahiran, boleh ngak lahiran anak pertama kita di kampung bapak sana?".


" Kalau abang sih boleh saja, tapi adek tahu sendiri kan, abang di sini harus kerja, jadi tidak bisa menemani adek di sana".


" Ngak papa bang! disana adek tidak sendirian ada ibu, dek Fatma, dek idah yang bisa untuk nemani Muly habis lahiran, yang penting sekarang abang izinin dulu,".


" Ya abang izinin, besok biar abang anterin sampai rumah bapak tapi abang ngak bisa nginap ya, nanti abang balek terus".


" Ya bang ! makasih banyak ya" ucapku sambil memeluk suamiku.


Aku senang dan bahagia mendengar bang man izinin aku lahiran di kampung orang tua ku, mungkin ibu dan bapak akan senang juga kalau tahu besok aku pulang.


"Oh ya... nomor hp Sarah kemaren udah tersimpan, lebih baik aku nelpon Sarah dulu deh, kasih tau kalau besok aku pulang", ucapku dalam hati.


Aku coba menelepon nomor Sarah tapi sayang nomor nya tidak aktif lagi, mungkin saja nomor hp nya sudah di ganti.


Malam itu aku siapin semua keperluan yang harus aku bawa besok termasuk pegangan uang dua ratus ribu yang kak Ina kasih waktu itu masih aku simpan tidak lupa aku selipkan juga di dalam lipatan baju di dalam tas.


...----------------...


" Dek.... bangun! sudah subuh, habis shalat subuh kita berangkat".


" Hah...ngak salah adek dengar nya bang?, pagi-pagi buta kita pulang kampung"?.


" Kita pulang pakek kereta motor saja dek, kita jalan pelan saja ngak usah buru-buru, maka kita harus siap - siap sekarang nanti keburu siang, dan satu lagi nanti kita singgah dirumah dek Ina sebentar".


" Ya udah adek shalat dulu".


" Semua barang yang adek bawa udah beres dek"? tanya suamiku.


" Udah bang! semuanya udah adek masukin ke dalam tas, habis shalat subuh kita bisa berangkat terus". jawabku sambil aku pakai phasmina.


Di luar masih sangat gelap, terlihat rumah - rumah di sepanjang jalan masih sepi, belum ada aktivitas apa pun, cuma yang terdengar suara sahutan Kokok ayam dari rumah ke rumah.


Hampir satu jam perjalanan barulah sampai ke kediaman kak Ina, hari sudah mulai terang sinar matahari sudah mulai muncul di ufuk timur.


" Assalamualaikum "!.


" Waalaikum salam ". terdengar suara dari dalam.


" Eh..bang, kak Muly silahkan masuk". ucap kak Ina


Ternyata kak Ina sudah menyiapkan sarapan pagi buat kami berdua, kak Ina sangat ramah dan sangat peduli orang nya.


" Kak Ina kok repot - repot nyiapin sarapan pagi buat kita".


" Enggak kok! biasa aja, ini kemarin panen ikan di empang, kebetulan bang man tadi malam ada kirim sms katanya mau nganterin kak Muly lahiran ke kampung ibu, ya udah saya suruh singgah dulu di rumah soalnya ada sedikit oleh - oleh buat orang tua kak Muly". jelas kak Ina.


" Ya Allah kak Ina makasih banyak ya". ucapku dengan sangat senang.


Dari pertama aku di bawa ke rumah kak Ina , perlakuan kak Ina selalu baik dan penuh perhatian terhadap ku.

__ADS_1


" Suamimu mana Ina"?, tanya bang man.


" Tadi katanya mau ke empang, mau lihat apa besok sudah bisa panen udang "?.


"Wah sudah panen lagi, kamu simpan dua kilo udang nya ya, nanti saya ambil". ucap bang man.


" Katanya abang mau nganterin kak Muly, emang nya ngak nungguin lahiran "?


" Cuma nganterin aja, nanti abang langsung pulang, lagian lahiran nya bukan hari ini, nanti kalau udah ada tanda-tanda mau lahiran dek Muly hubungi abang, ya kan dek"!, ucap bang man sambil mengiyakan perkataan nya kepada ku.


" Oh ..ya bang! nanti kalau mau lahiran Muly nelpon bang man".


" OOO begitu,". jawab kak Ina


Selepas makan kak Ina mengeluarkan 5 kilo ikan dari kulkas dan memasukkan ke dalam fiber dan di bungkus dengan rapi seperti bungkusan paket.


" Nah ini udah siap bang, bisa kan di taruh di depan kereta".


" Kalau begini Ina bungkus , ya pasti bisa lah".


" Bang ...ini ada sedikit uang juga dari Ina buat isi bensin abang nanti di jalan ya".


" Nah..! gitu dong adek pengertian buat abang nya kalau habis panen".


" Alahhh....emang kapan Ina ngak pengertian buat abang"?. ucap kak Ina dengan kesel.


"Ya..ya..abang cuma bercanda kok".


" Kami pamitan dulu ya, takut nanti ke panasan di jalan" ucap bang man sambil mengangkat fiber ikan dan membawanya keluar.


" Ya bang! hati - hati di jalan ya". jawab kak Ina sambil memegang tangan ku supaya jangan keluar dulu.


" Kak Muly...ini sedikit uang buat kakak, tolong jangan kasih tahu bang man ya, kakak simpan aja nanti kedepan kakak pasti perlu uang banyak".


" Ya Allah kak Ina, makasih banyak ". ucapku sambil memeluk kak Ina.


" Ya kak Muly, kakak hati - hati di jalan ya, kalau ngak sanggup duduk lagi bilang sama bang man, biar istirahat dulu jangan di paksain ini perjalanan nya jauh".


" Cepat dek...apa ngak jadi berangkat ini"?. suara panggilan bang man dari luar.


" Ya ...bang!".


" Kak Ina saya berangkat dulu ya".


" Ya kak..semoga nanti lahirannya lancar ya".


Sepanjang perjalanan aku masih kepikiran dengan semua perkataan kak Ina, seperti nya ada hal yang sangat pribadi tentang suamiku sehingga aku tidak tahu, mungkin pada suatu saat nanti aku akan berusaha untuk mencari kebenaran nya.


...----------------...


Hari mulai siang tatkala kami sampai dirumah ibu dan bapak.


Dengan susah payah aku turun dari motor, seperti nya aku mengalami kram kaki.

__ADS_1


" Aduh..duhh bang! kaki Muly kram".


" Sini abang bantu jalan, pelan - pelan ya".


Dengan bantuan bang man aku bisa duduk di kursi depan teras rumah, bang man membantu pijitin kaki ku sampai akhirnya terasa agak enakkan.


" Bang .. sepi kali rumah ibu apa ngak ada orang ya"? tanyaku kepada bang man.


" Coba adek beri salam dulu siapa tahu mereka ada di dalam".


" Assalamualaikum..... assalamualaikum!".


" Waalaikum salam..". terdengar sahutan salam dari dalam rumah.


" Kak Muly..." ucap dek Idah sambil membukakan pintu.


" Udah lama kakak sampai"?.


" Ngak ..baru saja kok, tolong dek ambilin fiber itu bawa ke dapur ya".


" Apa ini kak "? tanya dek idah sambil mengangkat fiber dari motor di bawa ke dapur.


" Ikan dari kak Ina, kemaren kak Ina panen dari Empang, dek ..kok sepi rumah yang lain kemana"?.


" Seperti biasa kak bapak ojek, ibu kerja, adek yang lain belum pulang sekolah, dek bungsu tidur di kamar, kak Fatma ikut ibu". Jelas dek idah.


" Sarah mana dek".


" Kak Sarah ikut suaminya kak".


" Kemaren ada kak Muly hubungi nomor hp Sarah ngak aktif apa Sarah sudah ganti nomor hp yang lain ya"?.


" Kak Sarah udah ganti hp nya kak, mungkin saja nomor nya juga di ganti, kemaren kak Fatma ada simpan nomor hp baru kak Sarah ".


" Dek ..abang balek dulu ya".


" Abang ngak nungguin bapak pulang dulu, atau abang makan siang dulu bareng kita semua bang"?.


" Ngak usah, nanti abang bisa makan di jalan aja".


" Ini uang lima ratus ribu buat adek disini, di cukup - cukupin ya".


Uang segitu cuma cukup buat lahiran aja, bukan untuk belanja keperluan bayi dan keperluan yang lain, ya udah dari pada tidak ada sama sekali lebih baik aku ambil uang yan di kasih sama suami ku, teringat nya aku dari pertama aku menikah dengan bang man, ini pertama kali bang man kasih pegangan uang untuk ku.


" Abang hati - hati di jalan ya". ucapku sambil salaman.


Selepas bang man pulang aku bergegas masuk kedalam dan mengambil tas ku dan berniat mau huka amplop yang kak Ina kasih tadi, aku buka amplop terlihat ada lima lembar uang berwarna merah.


" Ya Allah kak Ina betul - betul sangat baik orang nya, semoga dimudahkan rezeki nya". ucapku dalam hati.


Bersambung!!


Terimakasih atas dukungan dari orang-orang yang baik.

__ADS_1


__ADS_2