
Disepanjang perjalanan aku tidak henti-hentinya mengusap air mata, masih terasa sesak di dalam dada teringat tangisan ibu dan adik - adikku tadi.
Berat sekali diri ini meninggalkan mereka, tubuhku kaku bagaikan boneka, kaku tidak berdaya, apa ini cobaan yang harus aku jalani, ya...ini takdir bagiku.
Setibanya aku dan bapak di terminal bus, terlihat bang man sedang menunggu kedatangan ku.
belum sempat aku turun dari motor bapak, tiba - tiba bang man sudah menghampiri kami, bang man tersenyum sambil menjabat tangan bapak dan bersalaman.
Terlihat pemandangan yang berbeda dengan raut wajah bapak, tidak ada balasan senyuman bapak untuk suami ku.
Sepertinya tatapan bapak tidak suka dengan suamiku, sebelum bapak bicara, terlebih dulu bang man yang mulai berbicara.
"Pak maafin saya...tidak sempat menjemput Muly kerumah soalnya saya buru - buru besok saya harus masuk kerja, cuma hari ini ada kesempatan saya menjemput Muly" tegas bang man kepada bapak.
"Setidaknya kamu menghargai bapak sebagai mertua mu, bukan begini caranya" ujar bapak dengan nada sedikit emosi.
" Kemaren kamu tau bagaimana datang ke rumah bapak meminta izin anak saya untuk kamu nikahi, kenapa sekarang dikala anak saya sudah menjadi istri kamu, dan kamu tidak menghargai kami ini sebagai orang tuanya".
Melihat bapak mulai memarahi bang man, aku menghampiri bapak dan menenangkannya.
"Pak....! sudah...sudah"..!
"Malu dilihatin orang banyak".
sambil aku menarik tangan bapak dan membawa duduk di kursi.
Tidak ada kata perlawanan bagi bang man, hanya terdiam dan menunduk.
" Oh..ya bang"!
" Jam berapa kita berangkat" tanyaku kepada bang Usman.
" Sekarang dek"! jawab bang man dengan melirik ke arah bapak.
"Sekarang" ? tanyaku lagi.
Sebelum aku berangkat, aku minta izin sekali lagi kepada bapak yang masih duduk di kursi sambil menatap ku, mungkin apa yang aku pikirkan sekarang itu sama seperti yang bapak pikirkan sekarang.
Aku menghampiri bapak yang sedang duduk dengan mata yang berkaca-kaca, aku bersimpuh dihadapan bapak sambil memegang kedua tangan bapak.
"Pak....Muly minta izin hari ini Muly ikut suami dan meninggalkan bapak, biar pun Muly belum terbiasa jauh dari bapak, tapi Muly akan berusaha untuk menjalani nya pak"!.
" Muly akan selalu merindukan bapak dan ibu disini"!
" Nanti kalau ada apa-apa jangan lupa kabarin Muly ya pak"!.
Tidak terasa air mataku jatuh berlinang, melihat aku menangis, bapak merangkul pundakku dan memeluk tubuhku.
" Ya Muly....kamu jangan lupa nasehat bapak ya, kalau ada orang yang menyakitimu jangan segan-segan bilang sama bapak"! sambil berbisik ditelinga aku dan mata bapak melihat ke arah bang man.
Ada apa ini..?
Apakah bapak punya filing yang tidak menyenangkan terhadap ku?
Entah lah.....
Semoga kedepan baik - baik saja. kaki ku melangkah menaiki bus yang mau berangkat.
Aku duduk di kursi yang berdekatan dengan kaca dan melihat keluar ternyata bapak masih belum pergi dari tempat ia berdiri.
Bus dengan pelan-pelan mulai berangkat dan aku melambaikan tangan ke arah bapak, dan dari jauh masih terlihat bapak masih berdiri melambaikan tangan kepada ku.
Ya Allah....aku sangat tidak tega...
__ADS_1
Sampai akhirnya bus keluar dari terminal dan menuju ke arah timur.
Hari mulai senja selepas bus berangkat dari terminal aku terdiam tidak ada kata-kata yang aku ucapkan, mataku masih sembab begitu juga dengan suamiku yang duduk disebelah ku, kami sama-sama terdiam, mungkin bang man membiarkan aku tenang dulu.
Tiba-tiba tangan bang man memegang tanganku dan merangkul pundakku sambil merebahkan kepalaku ke pundaknya.
" Kamu baik -baik saja"? tanya bang man.
Aku mengangguk pelan.
" Ya udah ....dek Muly tidur aja di pundak Abang ya"!
Tampa aku disuruh tidur pun, aku telah terlebih dulu memejamkan mataku.
...----------------...
Sayup-sayup aku mendengar suara memanggil ku.
"Dek....dek...dek...!.
" Bangun sudah sampai".
Aku terkejut, ternyata suamiku yang membangunkan ku.
Aku melihat keluar bus ternyata diluar sudah gelap, ini pertanda bahwa hari telah malam.
Berarti aku tertidur dua jam didalam bus?.
" Kita sudah sampai bang"? tanyaku sambil bangun dan turun dari bus.
" Iya..." Jawaban singkat suamiku.
" Kita dimana ini bang"? tanyaku yang masih penasaran, soalnya selama hidup aku belum pernah pergi dengan perjalanan yang jauh begini.
Aku nurut saja kemanapun suamiku pergi.
Tiba-tiba bang man membuka pintu pagar rumah minimalis, dan masuk.
" Bang ...kita kemana"?
" Ini rumah siapa" tanyaku yang masih segan masuk karna belum terbiasa dengan rumah yang bangus begini.
" Adek masuk aja" jawab bang man.
Sampai di pintu aku mendengar suara berisik dari dalam, seperti nya lagi ada acara.
"Assalamualaikum" ucap suamiku sambil mengetuk pintu.
Terdengar dari dalam jawaban salam sambil membukakan pintu.
" Eh..bang ..dah sampai silahkan masuk" Ucap perempuan yang sepertinya aku pernah melihatnya.
Ya....
Aku baru ingat, dia itu adik bang Usman.
Kami dipersilahkan duduk di kursi yang sangat empuk, wah....kursi apa ini belum pernah aku duduki kursi seumpuk ini, ucapku dalam hati.
Mataku menerawang seluruh ruangan yang mewah dan sangat bagus, seperti istana bagiku.
" Hai...kak" aku dikejutkan dengan orang- orang yang keluar dari ruangan dapur.
" Sudah lama" ?
__ADS_1
" Belum" jawabku yang masih malu.
" Dek ...ini rumah Liana, adek bang man", ucap bang man sambil memperkenalkan suami kak ina yang duduk di sampingnya.
Aku mengangguk saja.
"kalau rumah saya di belakang itu" ucap adek bang man yang bernama Elisa ( kak Eli).
Ternyata bang man mempunyai adek yang kaya - kaya, tapi kenapa bang man seperti orang sederhana saja. Aku jadi penasaran.
" Dek malam ini kita tidur disini ya, besok kita baru berangkat ke kebun" ucap bang man.
" Kita bakar - bakar ikan malam ini, kebetulan baru panen tadi siang" ucap kak Ina.
" Yuk...kak kita ke belakang sambil di raih tanganku dan aku dibawa kebelakang.
Wah.....
Ternyata dibelakang sudah ada bang Odin dan istrinya yang lagi kipas - kipasin ikan bakar.
Aku tercengang melihat teras belakang yang di gelar tikar dan dihidangkan ikan tongkol bakar yang besar beserta mie udang dan udang sambal.
Wah..wah..
Aku belum pernah makan makanan yang begini. kak Ina mempersilahkan aku duduk.
" Kak ....ayo makan, jangan malu-malu, anggap saja rumah sendiri, ikan ini dari tambak sendiri lho".
Tambak sendiri? pantesan rumahnya bagus ternyata mereka punya tambak ikan sendiri" ucapku dalam hati.
Malam itu kami makan malam bersama - sama, aku tidak berani makan banyak karna masih merasa malu-malu.
Sekilas teringat aku akan orang tuaku dan adikku.
Disini aku lagi makan enak bagaimana mereka disana ya.
" Ya Allah mudah-mudahan suatu hari nanti aku bisa membawakan mereka ikan dan udang yang begini" doa'ku dalam hati.
Setelah makan malam kami ngobrol-ngobrol di ruang tengah sambil duduk di depan televisi.
" Kak Ina....kakak tinggal berdua saja dengan suami" tanyaku kepada kak Ina, karna dari tadi aku tidak melihat ada anak - anaknya.
" Oo....ngak kok..kami punya dua anak mereka berdua lagi di ponpes" jawab kak Ina.
ternyata anak mereka sangat beruntung mempunyai orang tua yang berada, dan di kasih pendidikan yang bangus lagi.
Aku dan kak Ina malam itu ngobrol banyak, hingga aku memberanikan diri untuk bertanya tentang bang Usman.
" Kak ...kalau boleh tau mantan istrinya bang man orang mana ya"? tanyaku kepada kak Ina.
" Bang man itu.... istrinya..
" hah .hah... gosip, gosip terus"!
Belum sempat kak Ina menjawab pertanyaan ku, dengan cepat bang man memotong pembicaraan kami, seolah-olah dia tidak ingin membicarakan masa lalu nya.
" Perempuan kalau udah kumpul - kumpul pasti digosipin suami" ucap bang man.
Kak Ina tersenyum dan diam.
" Ya udah kakak istirahat aja dulu dikamar tamu ya.... besok kita ngobrol lagi" ucap kak Ina.
Sebelum aku tidur aku shalat dulu dan tidak lupa aku berdoa semoga keluarga ku baik-baik saja disana.
__ADS_1
Bersambung......