
" Kami berdua ini anak nya bapak Usman" Ucap salah satu gadis tersebut.
hah.....aku sangat-sangat terkejut mendengar jawaban dari gadis itu.
" Berarti bapak Usman masih memiliki istri selain ibunya Nayla"?.
" Nayla itu siapa ya buk"?.
" Anak dari bapak Usman juga".
" OOO.. kalau itu kami kurang tahu bu, yang kami tahu bapak itu banyak istri nya". Ucap gadis itu.
" Oh ya ibu sampai lupa mempersilahkan kalian masuk".
" Tidak papa buk, kami tidak lama kok, cuma mau menganterin undangan ini aja untuk bapak".
" Masuk aja dulu, ada yang ingin ibu tanya, sebentar aja kok" ujar ku dengan sedikit memaksa.
Aku baru tahu ternyata bang man suamiku memiliki anak gadis yang sudah dewasa dan mau menikah pula, akhirnya mereka mau juga menuruti permintaan ku.
Aku persilahkan mereka duduk di ruang tengah, aku suguhin air teh manis buat mereka berdua.
" ibu ngak usah repot-repot".
"Tidak kok, cuma air teh aja" ucapku sambil tersenyum.
"Nama adek siapa".
"Ada tu di kertas undangan ".
" Oh ya" jawab ku sambil membuka undangannya.
" Rahma Suci ...itu namanya ya"?.
" Ya buk, jadi saya harap nanti bapak bisa hadir ke acara pernikahan saya untuk jadi wali buat saya", ucap Rahma.
" Kalian tahu dari mana bapak kalian tinggal disini"?.
"Dari bibik Ina..! setelah ibuk kami bercerai dengan bapak kami sering bersilaturahmi ke tempat bibik Ina" jelas Rahma.
" Rahma ....boleh ibu tahu tentang keluarga kalian".
" Boleh buk, ibu mau tahu tentang apa"?.
__ADS_1
" Sejak kapan ibu kalian bercerai dengan bapak". ucapku
" Ibu kami istri kedua bapak, sejak kecil kami sering di tinggal pergi oleh bapak, saya anak kedua buk, abang saya merupakan anak pertama yang sekarang menjadi tulang punggung keluarga semenjak ibu memilih untuk bercerai, kami semua delapan bersaudara, ibu tidak tahan dengan sikap bapak yang tidak peduli dengan anak-anaknya, semenjak ibu tahu bapak kawin lagi ibu minta cerai". jelas Rahma dengan panjang lebar.
Ya Allah..ternyata masih banyak lagi kebohongan yang di tutup tutupi oleh suamiku, kenapa dia harus berbohong.
Kalau seandainya aku tahu dari awal bahwa bang man itu duda banyak istri, mungkin aku akan berpikir dua kali.
Rahma dan adik nya tidak menunggu bapak nya pulang dari kerja katanya mereka buru- buru ada yang harus dia datangi lagi.
Dengan hati yang sangat hancur aku melihat Rahma dan adiknya pulang, memang anak - anaknya bang man sangat banyak dan mereka sopan - sopan semua walau pun tidak dinafkahi oleh bapaknya.
" Bunda...yang datang tadi siapa ya bunda"? tanya Nayla yang tiba - tiba sudah berdiri di sampingku.
" kakak yang tadi ya?, oo itu kakak tiri Nayla juga".
" Nayla kok tidak tahu ya, ada kakak tiri"!.
" Tentu saja Nayla tidak tahu, karna ayah Nayla tidak memberi tahu Nayla, bunda aja tadi baru tahu ". jelas ku.
...****************...
Sore itu pada saat bang man pulang dari kerja, aku membiarkan bang man mandi dulu, selagi aku menunggu sela waktu yang pas untuk memberi tahu nya, tiba - tiba Nayla datang.
"Gawat ini, kenapa duluan Nayla yang kasih tahu kepada ayah nya ". ucapku dalam hati.
Mata bang man melotot ke arah ku sambil merangkul pindah Nayla.
" Barang kali bunda berbohong kepada Nayla".
" Tidak ayah, bunda tidak berbohong, ya kan bunda" ucap Nayla.
" Bukan Muly yang berbohong tapi kamu bang yang berbohong", ucapku dengan sangat kesal.
" Apa maksud nya kamu bilang begitu".
" Oo Abang ngak tahu ya maksud Muly".
Buru - buru aku masuk ke dalam kamar dan mengambil undangan pernikahan Rahma
yang tadi siang diantara kerumah.
Plak....suara undangan yang aku letakkan di atas meja dengan sangat kasar.
__ADS_1
" Ini apa bang? coba sekarang abang jelasin kepada Muly, siapa Rahma ini". ucapku dengan penuh kekesalan.
Padahal aku sudah tahu Rahma itu anaknya bang man, tapi aku ingin mendengar lagi dari mulut nya langsung tentang pengakuannya terhadap Rahma.
Bang man melihat kertas undangan dan pelan-pelan meraihnya terus membuka, lama sekali bang man membaca kertas undangan nya.
" Siapa itu bang ...!, coba abang katakan Rahma Suci itu apa betul anak kandungnya"?.
Bang man terdiam sepertinya tidak mau menjawab pertanyaan dari ku.
" Jawab bang..."!, suara ku membuat bang man terkejut.
" Ya..iya..! Rahma itu anak kandungku, memangnya kenapa kamu cemburu kalau Abang nanti menghadiri pernikahan Rahma"! ,ucap bang man dengan balik bertanya.
" Bukan itu maksudnya Muly bang, kebohongan mu yang tidak ada habis-habisnya, kenapa dari dulu abang tidak berterus-terang bahwa abang itu punya banyak istri dan banyak anak".
" Abang sudah bilang bahwa abang ini duda sudah punya istri, tapi kamu bilang mau menerima abang apa adanya, sekarang kamu harus buktikan itu",.
Pertengkaran aku dan bang man semakin menjadi-jadi, Nayla dan Angga merasa takut dan masuk kedalam kamar.
" Muly itu bisa menerima abang karna abang duda yang tidak memiliki keturunan, kenapa sekarang jadinya begini bang, berapa banyak anak yang kamu tinggalkan"?.
" Adek ngak perlu tahu, itu semua masa lalu abang".
" Masa lalu abang itu berhak Muly tahu, karna abang sudah lari dari tanggung jawab anak".
" Kalau adek banyak tingkahnya jangan harap nasib yang sama akan adek jalani".
" OOO...abang mengancam ya?, apa abang tidak takut api neraka".
" Muly tidak takut itu".
Mendengar ucapan ku, bang man meletakkan kertas undangan pernikahan Rahma itu diatas meja, dan mengambil kunci kereta lalu pergi begitu saja.
Mungkin kali ini kamu bang bisa lari dari kenyataan, tapi aku tidak bisa diam sampai disini saja, aku akan mencari lagi informasi tentang masa lalu mu nanti.
Aku teringat dengan perkataan kak Ina dulu.
" Ya ...aku akan cari tahu sama kak Ina, tapi bagaimana aku bisa pergi ke sana, perjalanannya jauh, aku harus menunggu waktu yang tepat", ucapku dalam hati.
Sudah hampir tengah malam aku menunggu bang man pulang, aku menghubungi nya pun tidak mau diangkat, aku jadi heran kenapa bang man yang jadi marah, seharusnya aku yang harus marah, bukan bang man.
Pagi pun tiba, tapi bang man tidak pulang juga, aku khawatir dengan ancaman bang man yang kemaren itu, apa benar-benar dia mau meninggalkan aku dan anak nya yang masih kecil.
__ADS_1
Terimakasih atas dukungannya semua, jangan lupa like dan komen nya dari kawan-kawan semua, salam hangat.