Diary Kehidupanku

Diary Kehidupanku
15. Kejadian Aneh


__ADS_3

Sehabis shalat Maghrib aku dan suamiku berangkat pulang.


sepanjang perjalanan kami pulang terlihat jalanan sangat gelap, tidak ada sorotan lampu jalan.


coba bayangkan kalu ini di film horor, auuu seereem.


Tapi tidak dengan aku, berusaha tenang, tenang! dan tenang.


Mulut ku koman kamin membaca ayat-ayat pendek yang bisa aku hafal.


" Bang .....bulu kuduk adek seperti nya merinding"!. ucapku kepada suamiku.


"Ya..abang ngerasa juga begitu"


" Adek ngak boleh takut, ada abang". jawab suamiku sambil memegang tangan ku dan memperat pegangan dipinggangnya.


Ya benar bang man bilang aku ngak boleh takut, bismillah... bismillah" bibir ku terasa gemetaran tangan ku dingin.


Sesampainya dirumah badan ku rasanya sangat berat sekali, untuk melangkah pun aku tidak bisa, aku coba tarik kaki kanan ku tapi...


"Brukkk" suara tubuhku jatuh ke tanah.


"Dek...dek...dek Muly kenapa"? tanya suamiku dengan sangat panik.


Dengan cepat bang man membuka pintu rumah dan mengangkat tubuh ku yang jatuh ke tanah tak sadarkan diri.


" Bagaimana ini...apa yang harus aku lakukan, ya minta bantuan, tapi siapa"? Gumam bang man di dalam hati.


" Assalamualaikum... Odin kamu ada dimana" tanya bang man kepada Odin di telepon.


" Aku lagi di warung tempat biasa bang! jawab si Odin.


" Kamu bisa ke rumah sebentar, aku butuh bantuan kamu"!


" Ya bang bisa"!


" Cepat ya ! jangan lama-lama ".


Tiba-tiba aku sadar dan tubuhku sudah di atas ranjang.


"Auuuu....auuuu.....sakit" aku berteriak sangat keras sambil memegang perutku.


Sepertinya ada orang yang menendang perutku rasanya sangat sakit sekali.

__ADS_1


"Hentikan...hentikan..sakit..sakit bang...."


"Odin pun datang dan langsung memegang tangan ku, dingin kaki dan tangan seperti es.


"Bang man .. sepertinya kak Muly ada yang gangguin ni, emangnya tadi abang dari mana"? tanya Odin


" Kami baru pulang dari acara tujuh bulanan dek Muly yang diadakan di kampung bapak, tadi pas waktu dijalan dek Muly sempat kasih tau abang juga bahwa dia merinding , abang pikir itu cuma pengaruh angin angin malam, sampai dirumah dek Muly jatuh" jelas bang man kepada si Odin.


" Kak.. kakak sadar"? tanya Odin.


" Ya aku sadar, tapi perut ku seperti ada orang yang menginjak - nginjak" jelasku.


" Ya Allah bang....aku terkencing " ucapku sambil memegang pantat ku.


" Bang....darah...". ucapku sambil melihat tangan ku yang berlumuran darah.


Darah segar keluar seperti air pancuran, aku sangat panik bang man dan Odin juga panik.


" Odin tolong bantu jemput buk bidan yang ada di puskesmas itu, cepattt" dek Muly pendarahan.


Tampa berpikir panjang lagi Odin langsung ngegas motor nya menjemput buk bidan di puskesmas terdekat.


Aku sangat panik tubuh ku penuh dengan lumuran darah, perutku masih sangat sakit apakah aku akan melahirkan prematur? tangan dan kakiku masih terasa dingin, sempat terlintas di benakku mungkin ini ajal akan menjemputku.


" Ya buk ...tapi perut ku sakit sekali buk, apa mungkin saya akan melahirkan"?.


"Pak .! coba kita gantiin pakaian ibuk yang banyak darah dulu, habis ini biar saya periksa dulu".


Dengan cepat suamiku di bantu oleh ibuk bidan mengganti pakaian dan kain yang penuh darah segar.


Setelah semua digantikan darah masih saja keluar.


" Pak .. setelah saya periksa ibuk belum ada tanda lahiran, bisa saya minta segelas air putih"?


"Ya ..bisa buk, sebentar saya ambilin".


Buk bidan mengambil segelas air putih dari tangan suami ku dan membaca sesuatu seperti nya kalau dilihat dari gerakan mulut buk bidan bacaan ayat kursi, huuuff ... air nya ditiup tiga kali, dengan dua butir obat dari tangan nya, aku disuruh minum dengan air putih sampai habis.


" " Ibu .. minum dulu obat ini ya! dan air putih nya di habisin ya"! Ucapnya dengan suara yang lemah lembut


Aku mengangguk dan mengambil obat serta air putih yang sudah ditiup ayat Al Qur'an.


Sekilas dari pandangan mataku sepertinya ibu bidan ini sangat mengerti dengan ilmu agama, benar saja terlihat dari dia berpakaian baju jubah dengan jelbab yang sangat besar seperti mukena, kedua tangan dan kaki nya memakai sarung.

__ADS_1


" Pak..!kita tungguin dulu reaksi obatnya kira-kira satu jam ya!, kalau pendarahan nya masih keluar dengan terpaksa kita harus bawa ibu kerumah sakit".


" Ibu tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa sama kandungan ibu". ucap buk bidan sambil mengelus-elus pundak ku.


Dengan berangsur - angsur perut ku tidak terasa sakit lagi dan darah yang tadi keluar seperti air pancur pun sudah berhenti.


" Alhamdulillah pak! pendarahan nya sudah berhenti".


" Oh ya pak, buk, kalau bisa jangan pulang malam - malam ya? apalagi ibu lagi hamil, di kampung ini tidak baik orang hamil ke luar malam, mungkin di luar sana ada makhluk lain yang tidak terlihat suka ngikutin ibu, ini bukan saya nakut - nakutin ibuk ya".


"lhoh...buk bidan kok bisa tau kami pulang malam"? ucapku penasaran.


" Kasus seperti ini bukan ibuk saja yang mengalaminya, sudah sering saya tangganinya, malah ada yang lebih parah lagi dari ibuk". jelasnya sambil tersenyum.


" Kalau begitu saya minta izin dulu, besok kalau perut ibu masih terasa kram bisa bapak bawa ibu ke puskesmas lagi". ucapnya pada suamiku.


" Baik Bu"!.


" oh ya! siapa yang menganterin saya"? tanya buk bidan.


" Biar saya saja buk". jawab Odin yang dari tadi berdiri bengong di sudut ranjang ku.


" Bang man..! saya anterin buk bidan dulu ya, tapi saya ngak kesini lagi langsung pulang kerumah ya, ingat bang! apa yang dibilang buk bidan tadi".


" Iya...saya ingat, makasih banyak ya Odin sudah bantuin saya" ucap bang man kepada Odin.


" Ok bang! beres itu...."!


" Kalau Abang butuh bantuan lagi Odin siap bang". sambil mengajungkan jempol.


Setelah bang man menganterin Odin dan buk bidan sampai pintu, bang man pun mengunci pintu dan memeriksa semua jendela.


" Dek..! maafin abang ya, ini kesalahan abang yang minta kita buru - buru pulang, coba seandainya kalau kita nginap dulu di rumah dek Ina mungkin tidak akan terjadi seperti ini" ucap bang man dengan memegang kedua tangan ku sambil menciumi nya.


" Udah lah bang ..ngak ada yang disalahkan ini semua sudah terjadi, dengan kejadian ini mungkin ke depannya kita sudah lebih hati - hati lagi, agar kejadian aneh seperti ini tidak akan terulang lagi". jelas ku kepada suamiku.


" Adek lapar? biar Abang buat makan untuk adek".


" Boleh bang"!


Memang aku merasa lapar karna biasanya jam sebelas malam begini aku selalu di bangunin oleh suami hanya untuk menyantap mie goreng yang di beli dari warung.


" Malam ini kita makan roti dan teh manis aja ya"!. ucap suamiku yang datang dari dapur sambil membawa dua gelas teh manis dan roti yang tadi siang ibu bungkusin.

__ADS_1


keesokan harinya...


__ADS_2