
Pintu rumah terbuka lebar sepertinya ada orang di dalam nya.
" Bang seperti nya ada tamu di rumah kita ya". tanya ku penasaran sekali, karna selama ini tidak ada tamu mana pun yang datang kerumah
" Ya"!. jawab bang man dengan sangat singkat dan sinis.
" Siapa bang? kenapa abang tidak bilang kepada adek dari tadi, bahwa dirumah ada tamu".
Bang man tidak menghiraukan dengan ucapan ku lagi, bang man langsung masuk ke dalam rumah dengan membawa semua barang belanjaan, dari belakang aku berjalan meyusul bang man masuk ke dalam, belum sampai aku melangkah kaki ku di depan pintu terdengar dari dalam rumah suara anak memanggil ayah dan berhamburan memeluk bang man.
" Ayah pulang! ..kak ayah pulang".
" Ayah,,,"? tanya ku dalam hati.
Aku sangat kanget melihat pemandangan yang tidak pernah aku duga, kaki ku kaku seperti nya tidak sanggup lagi kaki ku untuk melangkah masuk ke dalam, melihat dua orang anak yang satu anak laki-laki berusia lima tahun dan satu nya lagi anak perempuan berusia dua belas tahun.
" Bang ...anak siapa ini"? tanya ku dengan suara yang menahan ke kegelisahan dan kekecewaan.
" Ini anak abang dek....!, yuk Nayla, Angga salam sama bunda dulu nak"!. Ucap bang man sambil melepaskan pelukan nya dan menoleh pada ku.
Hah....bunda! bearti itu benar-benar anak nya bang man.
Bagaikan petir yang menyambar di sore hari, begitu hatiku rasanya seperti di cabik - cabik hangus terbakar, sesak nafasku tak sanggup menahan linangan air mata ku ini.
Dengan sangat patuh ke dua kakak beradik itu menghampiri ku, mengambil tangan ku dan menyalaminya.
" Bunda... maafin Angga ya, gara - gara Angga bunda jadi menangis".
" Ya bunda...ini bukan salah ayah, ini salah Nayla dan dek Angga yang ingin tinggal sama ayah, bunda jangan marah sama ayah ya". ucap Nayla dengan meminta pengertian dari ku.
Ya Allah....kenapa jadi begini? aku tidak menyangka tiba-tiba aku menjadi seorang ibu tiri bagi anak ini, apa aku sanggup menjadi seorang ibu tiri yang baik, definisi ibu tiri itu kan ibu yang jahat, ya Allah berilah aku kesabaran.
Melihat aku yang masih berdiri mematung di depan pintu dengan air mata terus bercucuran membasahi pipi ku hingga jatuh ke pipi Amira yang ada di dalam gendongan ku, bang man mengambil alih menggendong Amira dan membawa nya masuk ke kamar.
__ADS_1
" Angga sama kakak Nayla suka ngak dedek bayi nya".
"Suka yah"!. jawab Angga
"Kalau begitu Angga temani dedek bayi di kamar yuk,. ayah mau ngobrol dulu bentar sama bunda".
Mereka sangat nurut kepada ayah nya, aku sampai terdiam tidak ada lagi kata - kata yang keluar dari mulut ku seperti nya mulut ku terkunci rapat, aku harus bilang apa lagi, ini kenyataan yang harus aku jalani.
" Dek... maafin abang ya ! abang mengaku salah karena tidak jujur kepada adek". Ucap bang man yang berlutut dihadapan ku .
Sebenarnya aku tidak tega melihat suamiku begini, tapi hatiku sakit aku di bohongin dengan perkataan manisnya, bilang duda tampa anak.
" Dek abang ini seorang duda tampa anak, abang ceraikan istri untuk mencari istri yang bisa memberikan keturunan bagi abang". kata - kata itu masih aku ingat dengan jelas di benak ku.
" Sudah lah bang! tidak usah berlutut di hadapan ku, adek mau abang itu berkata jujur".
" Ya dek..sekarang abang akan jujur". jelas bang man sambil bangun dan duduk di sampingku, tangan nya masih memegang erat tanganku.
" Benar dek, anak kemaren yang memanggil abang dengan sebutan ayah itu adalah Angga anak dari pada istri abang yang kedua, Nayla kakak nya Angga, memang dek istri pertama abang tidak ada keturunan maka dari itu kami berpisah".
" Ibu nya Angga sering kali sakit, tapi bukan sakit secara medis seperti sakit duniawi, sering kesurupan, sering pingsan, abang tidak sanggup hidup bersama nya lagi".
" Adek masih ingat waktu adek sakit kemaren, paginya itu ibunya Angga yang nelpon abang, dia memintaku datang ke rumah nya, dan menitipkan anak - anak sementara waktu tinggal bersama ku, katanya dia mau berobat dulu".
" Abang tega menyembunyikan semua ini, kenapa abang tidak terus terang aja kepada adek dari kemaren itu, kalau abang jujur pada saat itu mungkin saat itu adek tak akan merajuk bang, dan sekarang ini mungkin adek akan berlapang dada menerima Nayla dan Angga".
" Jadi sekarang adek belum bisa menjadi bunda bagi Nayla dan Angga?, adek sekarang sudah jadi seorang ibu lhoh, coba buka sedikit hati nurani seorang ibu, apa tega adek melihat mereka tampa ibu?".
Sebenarnya aku tidak tega melihat anak seusia mereka tidak ada yang mengurus nya, padahal ayah nya masih ada.
" Ya udah bang! Muly akan berusaha menjadi bunda bagi mereka, tapi abang tidak ada lagi yang ditutup tutupi pada adek kan".
" Abang janji tidak akan ada lagi yang di tutup tutupi pada adek, kali ini adek harus percaya pada abang ya".
__ADS_1
Jujur saja mata ku bisa melihat ketulusan dan kejujuran yang keluar dari mulut suamiku, tapi sungguh hatiku berkata lain seperti nya aku masih merasa ada yang ditutup tutupi dari ku.
Haaaahhh! aku menghela nafas panjang, ya sudah lah, mungkin saja seiring berjalannya waktu, nanti pasti akan terungkap juga.
Tiba-tiba terdengar suara tangisan dedek Amira dari dalam kamar.
" Bunda...dedek bayi nya sudah bangun". ucap Angga yang keluar dari kamar dan menghampiri ku
" Oh ya! dedek nya nangis ya"?. Ucapku sambil aku bangun masuk kekamar
" Bunda....sepertinya dedek bayi nya lapar". kata Nayla.
" Kok Nayla tahu, dedek Amira lapar".
" Iya bunda, dulu waktu adek Angga masih kecil sering nangis juga, kata ibu adek Angga bukan kangen sama ayah, tapi adek Angga lapar".
Ya Allah.... mereka sangat polos sekali dan sangat lincah bicara nya.
" Dedek Amira nya tidak nangis lagi kan, dedek nya udah minum ASI, dia sudah kenyang, coba Angga lihat dedek nya udah bobok lagi".
" Oooo dedek bayi Bunda namanya Amira ya"?
" Iya Angga"!.
" Bunda..apa boleh Angga cium dedek Amira sekali aja".
" Tentu boleh dong, tapi jangan kencang - kencang cium nya ya, nanti dedek Amira terbangun".
" Ya bunda".
Baru hari ini mereka mengenal ku, tapi mereka menganggap ku seperti ibu nya sendiri, sangat akrab dan sopan lagi dalam berbahasa nya.
Semoga aku bisa jadi ibu tiri yang baik bagi mereka.
__ADS_1
Tunggu kelanjutannya ya ...!
Terimakasih atas dukungannya yang dari kawan - kawan yang setia mengikuti karyaku, dukungan mu sangat berarti bagi ku.