
" Bagaimana tadi Muly?, apa kata buk bidan?, pasti kamu itu lelehan kan?" ujar ibu yang mendatangiku di kamar.
" Muly hamil Bu!"
" Hah!, kamu hamil lagi?" tanya ibu lagi dengan sedikit kaget.
Aku mengangguk dengan lesu dan berasa sedih sekali memandang Amira yang masih sangat kecil harus ada adiknya.
" Haaah!" ibu menghela nafas panjang.
" Kamu jangan sedih, anak itu anugerah dari Allah, kamu harus menerimanya dengan lapang dada, mungkin ini satu jawaban untuk kamu, agar kamu bisa memanfaatkan suamimu" jelas ibu.
" Tapi bu, apa bisa Muly ngurusin mereka nanti sendirian?, ibu kan tahu, ayah Amira itu pergi pagi pulangnya sore hari, kalau pun lagi tidak kerja, nggak pernah betah di rumah!"
" Kamu harus banyak bersabar Muly, itu sudah jadi kodratnya wanita, kita harus jalani dengan sabar."
" Bu, maafkan Muly ya!."
" Buat apa kamu minta maaf pada ibu."
" Ibu, ingat nggak?, waktu Muly sekolah dulu, Muly pernah marah pada ibu karna ibu itu banyak anak, setahun sekali sudah punya adik lagi, Muly ngomel-ngomel selalu, apa ini karma buat Muly Bu?"
" Ah, mana ada itu karma, kamu jangan ngaco deh!, memang begitu kalau kita tidak ikut program KB, udah-udah ya gan Bu nggak marah."
Keesokan harinya Amira sudah mulai baikan, demamnya sudah mulai turun, tapi aku nya yang ngerasa lemas dan lesu, aku tidak ingin membebani ibu, aku harus bisa ngurusin Amira sendiri kasian ibu capek-capek kerja.
" Amira sudah kamu kasih makan?, sini biar ibu aja yang siapin Amira" pinta ibu yang sudah siap pergi kerja.
" Nggak usah Bu, Muly bisa sendiri, bentar lagi Muly siapin Amira nya, ibu mau kerja?, nggak papa ibu pergi aja, nanti ada Muly minta bantuin Fatma aja!"
" Kamu yakin kan nggak pusing lagi, ya udah ibu pergi nanti kalau butuh bantuan tu, Fatma ada ya." ujar ibu sambil mengecup pipi cucunya, Amira.
" Iya, bu."
__ADS_1
...----------------...
Beberapa Minggu Kemudian....
Tidak terasa hari begitu cepat berlalu, pertumbuhan dan perkembangan Amira pun mulai ada kemajuan, gigi susunya mulai tumbuh, lutut nya sudah kuat untuk merangkak.
Sebagai cucu pertama nya bapak, Amira selalu di manjakan, sebelum bapak ngojek terlebih dulu bapak bawa Amira jalan-jalan naik kereta dulu, hingga jadi terbiasa dan tidak pernah absen.
Pagi itu sebelum bapak dan ibu berangkat kerja, tiba-tiba dari luar terdengar suara kereta yang tidak asing di telinga ku, aku beranjak dari tempat duduk ku dan berjalan membukakan pintu.
" Siapa?" tanya ibu yang melihat ku membuka pintu. Tapi aku tidak menjawab.
Ya ...sudah aku duga, itu suara kereta bang man ayah Amira.
" Siapa Muly" tanya ibu sekali lagi.
" Ayah Amira" jawab ku singkat.
" Usman....." gumam bapak.
Melihat kami yang sedang berdiri di pintu, bang man mendekati kami dan bersalaman dengan bapak dan ibu, belum sempat ibu mempersilahkan bang man, sudah terlebih dulu bang man berkata.
" Saya tidak bisa lama-lama bu, pak!, Amira mana?, saya mau menjemput Amira" ucap bang man.
" Bang, cuma Amira yang Abang jemput?" tanyaku.
" Kalau kamu masih merasa istri ku, ayo kita pulang sekarang!" tegas bang man.
" Hei, Usman! kamu tidak ada sopan santun nya ya, kamu nggak boleh bawa cucu ku, aku sanggup membiayai nya, Muly..kamu nggak boleh pergi."
" Pak.., Muly itu masih istri saya, dia berhak ikut saya."
" Sudah lah pak, Usman ada benarnya, ini demi Amira dan anak yang dikandung Muly pak" ucap ibu sambil melerai perseteruan.
__ADS_1
Aku terdiam, hati ku bingung.
" Usman, masuk dulu ya!"
" Ngak papa bu, saya tunggu disini aja, suruh Muly cepat beres-beres" ujar bang man.
Aku melihat bapak penuh dengan amarah, tapi aku harus pergi membawa Amira ke pada ayahnya, ibu membantu ku membereskan perlengkapan Amira.
" Pak..!, Muly minta maaf, harus ikut bang man pulang" ucapku sambil menyalami bapak. Bapak terdiam, mata nya berkaca-kaca, ibu memberi isyarat dengan mengedipkan mata, bahwa jangan hiraukan bapak.
" Kamu ingat..!" ucap bapak yang membuat langkah ku berhenti.
" Kamu memilih Usman lagi, apa pun resiko nya nanti, kamu harus tanggung sendiri jangan pernah lagi kamu menceritakan pada kami" ucap bapak dengan kesedihan.
Aku menangis mendengar perkataan bapak, tapi ini aku lakukan demi Amira.
Tit..tit..tit..! suara klakson kereta bang man.
" Sudah beres?" ucap bang man.
Aku mengangguk dan menaiki kereta motor, kereta pun melaju aku melihat ibu serta adik-adikku masih berdiri di depan pintu menyaksikan aku pergi bersama suami ku.
Aku mengusap air mata yang jatuh berlinang di pipi ku.
Di sepanjang perjalanan aku terdiam tidak ada kata-kata yang harus aku ucapkan, hanya lah melamun meratapi nasib kedepannya.
Pada ketika suami ku melakukan kesalahan yang sama dan bahkan berkali-kali, akan tetapi aku hanya lah seorang istri yang selalu memaafkannya, bukan aku takut akan kehilangannya atau pun sangat mencintainya, akan tetapi?, aku kuat bertahan karena hanya untuk seseorang yang paling berharga di kehidupan ku dan kehidupannya yaitu " anak".
Bersambung..
Tunggu kelanjutannya nya ya, jangan lupa dukungannya dari teman-teman dengan cara tinggalkan jejak kalian, dengan cara vote karya saya 🙏🙏
makasih semuanya.
__ADS_1