
Hari ini aku beraktivitas seperti biasanya pagi bersama dengan Fatma kejar target nyuci dan menyetrika, siangnya aku bersiap-siap untuk berangkat ke rumah bang Faiz, hari ini merupakan hari pertamaku mengantarkan Fazil ke sekolah. Dengan memakai jaket berwarna hitam dan helm di kepala aku siap menjadi tukang ojek.
Titt ... titt ..., aku membunyikan klakson kereta sesampainya didepan rumah bang Faiz. Karna tidak ada yang keluar aku turun dari kereta dan melangkah mengetuk pintu.
"Permisi ..., Assalamualaikum," Baru saja tanganku bergerak ingin mengetuk pintu, tiba-tiba Sari istrinya bang Faiz membukakan pintu.
" Siapa,?" tanya Sari
" Saya, yang mengantarkan Fazil ke sekolah," ucapku yang melihat Sari sepertinya tidak senang.
" Saya siapa?, coba buka helmnya," Aku membuka helm dan tersenyum pada istri bang Faiz.
" Oo ..., tunggu bentar." Sari masuk kedalam kamar dan keluar bersama anaknya fizil.
" Kamu jangan ngebut-ngebut bawa motornya, jangan sampai terjadi apa-apa pada Fazil. Ingat, pulangnya jam lima sore jangan sampai telat jemputnya, awas kalau sampai telat," tegas Sari.Ya Allah ... nih orang cerewet sekali, padahal sudah di asih tahu tadi malam sama bang Faiz, batinku.
" Iya, Mbah saya sudah tahu kok. Yuk Faiz, kita berangkat sekarang," Aku mengantarkan Faiz sampai ke pintu gerbang sekolah. Sore sebelum Faiz pulang sekolah, aku sudah terlebih dulu menunggunya di pintu gerbang sekolah.
...----------------...
Tidak terasa aku sudah sampai satu bulan bekerja mengantarkan Fazil ke sekolah, lumayan gaji pertamaku sebagian aku pakai buat ganti hp baru, walau pun hpnya seken tapi masih bisa buat chatting dan Facebookan bagiku sudah merasa cukup.
Pada suatu hari aku menunggu Fazil pulang sekolah, tiba-tiba ponselku berdering sepertinya ada chat masuk. Aku merogoh ponsel dari kantor dan membuka layarnya, aku terkejut ternyata bang Faiz mengirimkan chat.
Bang Faiz: "Assalamualaikum, Muly dimana posisi sekarang?."
Muly: " Waalaikum salam, masih menunggu Fazil pulang sekolah Bang."
Bang Faiz: " Nanti habis dari jemput fazil, sekalian jemput Abang ya, di bengkel simpang empat kota."
Muly: " Iya, Bang Faiz."
Apa aku tidak salah baca tadi?, Bang Faiz minta aku menjemput nya, ya ampun ...! aku senang banget nih ...!" batinku.
Tidak lama kemudian aku mendengar bell pulang sekolah berbunyi, pintu gerbang pun di buka oleh satpam sekolah dan terlihat dari jauh Fazil berlarian menghampiriku.
" Ayo, Kak Muly kita pulang."
__ADS_1
" Tapi ..., ayahnya Fazil minta di jemput sama Kak Muly," jelasku.
" Ayah kenapa Kak?."
" Kak Muly juga ngak tahu."
" Ya, udah kita jemput Ayah dulu nanti sekalian pulang bareng Kak," ujar Fazil dengan kegirangan. Fazil anak yang baik dia sangat akrab denganku, bahkan dia selalu memintaku untuk makan bakso sebelum dia pulang sekolah. Sudah sepuluh menit aku berkeliling mencari bengkel simpang empat yang Bang Faiz tungguin.
Kring .... kring ... suara bunyi panggilan masuk. Aku berhenti di pinggir jalan.
" Muly, Kamu sudah lewat, Abang di belakang nih! putar balik ya."
" Ya, Bang." Ternyata bang Faiz tertinggal di belakang, aku memutar balik kereta.
" Tadi Abang bilang di simpang empat, ternyata lewat simpang empat," ujarku pada bang Faiz.
" Maaf, Abang keliru kasih tahu alamatnya."
" Yah, kita makan bakso dulu boleh, Abang pingin makan bakso," pinta Fazil merengek pada ayahnya yang secara kebetulan ada warung di sebelah bengkel.
" Ya sudah, kita makan bakso dulu, yuk Muly," ajak bang Faiz.
" Ah, ngak perlu khawatir," tegas bang Faiz sambil menarik tanganku masuk ke dalam warung, aku sangat terkejut dengan perlakuan bang Faiz terhadapku. Aku duduk di samping Fazil dengan sedikit malu. Setelah memesan bakso bang Faiz duduk di bangku tepat di hadapanku, seketika jantungku berdenyut kencang melihat sosok laki-laki idamanku duduk begitu dekat denganku. Mataku terbelalak melihat ketampanan bang Faiz, tapi bang Faiz tidak menyadari kalau aku sangat kagum pada dirinya, dia tersenyum manis padaku.
" Muly, Muly ... halo ...," Aku terkejut tangan bang Faiz melambai-lambai di mataku.
" I-Iya Bang."
" Muly mau minum apa?, tanya bang Faiz.
" Aku air putih saja Bang," jawabku. " Yakin?, ngak mau jus?" ujar bang Faiz.
" Oh,ya Bang keretanya kenapa," ujarku.
" Mogok, katanya ngak siap di perbaiki sore ini," jelas bang Faiz.
Setelah siap makan bakso, kami pun pulang. Kali ini aku duduk di belakang bang Faiz yang bawa motor, aku ngak pernah kebayang sebelumnya bisa satu motor dengan bang Faiz, tapi ini ngak bakalan jadi kenyataan karna bang Faiz sudah terlebih dulu jadi suami Sari.
__ADS_1
Sesampainya kami di rumah bang Faiz, hari sudah mau magrib. Begitu terdengar suara motor di depan rumah bang Faiz, tiba-tiba Sari muncul dari dalam dan langsung menghampiriku.
" Kurang ajar kamu," Tangan sari menjambak bajuku serta mendorongku, hampir saja aku jatuh. Tapi dengan sigap bang Faiz menyambar tubuhku.
" Ma, apa-apaan kamu ini dia nggak salah."
" Nggak salah?, ngak salah bagaimana Bang, dia bawa pulang Fazil hampir magrib dan bareng sama kamu lagi, kamu memang janda kegatelan," Sari ingin menjambak aku lagi, tapi bang Faiz memegang tubuh Sari dengan kuat sehingga dia meronta-ronta.
" Ma, dengarin penjelasan Abang dulu," Sari tak peduli rasa cemburunya membuat dia lupa diri. " Lepasin, lepasin Bang."
" Muly, cepetan kamu pulang biarin nanti Abang jelasin pada Sari," ujar bang Faiz.
Tidak banyak pikir aku segera tancap gas motor pulang kerumah. Setibanya dirumah anak-anakku sudah menunggu ku.
" Bunda pulang ..., Bunda ada bawa jajan?" tanya Amira.
" Bunda nggak sempat beli jajan, besok aja bunda beli jajan ya, Bunda janji ...!" Aku memberi pengertian buat Amira.
" Tumben, hari ini kamu magrib pulangnya. Biasanya jam lima sudah si rumah," ucap Ibu.
Ya, Bu tadi ada sedikit masalah."
" Masalah?, emang masalah apa?" Fatma yang keluar dari kamar langsung panik.
" Entar Kakak ceritakan ya, nih Kakak mau mandi dan shalat dulu,"
Setelah lepas shalat magrib, sambil makan malam aku menceritakan semua kejadian yang terjadi tadi sore.
" Benar-Benar istri Faiz itu cemburu buta," ucap Ibu habis mendengar masalahnya.
" Iya, seharusnya dia tanya dulu, kok bisa Kak Muly pulang telat bersama suaminya lagi," tegas Fatma.
" Tapi, Kak bagaimana besok? apa Kakak mau menganterin Fazil lagi?" Tiba-Tiba Bang Faiz meneleponku.
" Iya, Bang Faiz ada apa?"
" Muly, maaf istri Abang ya, kamu ngak usah khawatir Abang sudah jelasin semua sama Sari. Untuk besok seperti biasa ya, kamu antar jemput Faiz lagi, sekali lagi Bang Faiz minta maaf, jangan dimasukin ke dalam hati perkataan Sari tadi ya."
__ADS_1
" Iya, Bang Faiz."
Bersambung ...!