
Aku melangkah menuju ke tempat kak Ina, namun tiba-tiba aku terhenti, ada keraguan yang muncul di benakku, apakah ini benar yang aku lakukan?, mengadu masalah rumah tangga ke keluarga suamiku sendiri?, ah! aku tidak peduli."
Pada saat aku tiba di depan rumah kak Ina, terlihat suasana sepi mungkin kak Ina tidak ada di rumah, pikir ku.
" Assalamualaikum...!, kak Ina..!, kak Ina..!" tidak ada suara sahutan salam dari dalam, bearti sudah pasti kak Ina lagi tidak ada di rumah.
Aku berniat untuk pulang langsung ke rumah bapak, tiba-tiba Amira nangis kencang sekali membuat aku panik, tidak biasanya Amira nangis begini, mungkin dia sudah terlalu haus sekali, ya udah aku mutusin untuk nyusuin Amira dulu.
Aku duduk di atas kursi yang ada di teras kak Ina, lagi sedang asyik-asyiknya aku melamun merenungi nasib ku, tiba-tiba dari belakang di kejutkan oleh suara kak Ina.
" Kak Muly?, ujar kak Ina sangat kaget,yang pas membukakan pintu ada aku dan Amira.
" Eh, saya pikir nggak ada orang di rumah!" balas ku.
" Ada kok, tadi lagi shalat, kak Muly sendirian aja kesini?, bang man mana?." ujar kak Ina lagi makin penasaran.
Aku terdiam, tidak ada jawaban apa pun.
" Hisk...hisk...hisk!" aku menangis.
Melihat aku menangis kak Ina merasa tidak enak hati, ini pasti ada yang tidak beres pikirnya.
" Masuk dulu kak Muly, nanti kak Muly cerita di dalam saja."
" Oh ya, kak Muly udah shalat zhuhur?" tanya kak Ina.
" Belum kak!" balas ku.
" Ya udah, sini Amira saya gendong aja, kak Muly shalat dulu, biar bisa tenangkan diri."
" Ya, kak Ina ada betul juga, biar aku shalat dulu biar hati aku jadi lebih tenang" gumam ku dalam hati.
Setelah aku siap shalat zhuhur, kak Ina sudah menyiapkan makan siang.
" Eh, kak Muly! duduk kak, kita makan dulu."
" Amira nya ...?"
__ADS_1
" Oo, Amira lagi bobok tu dalam ayunan" ucap kak Ina sambil menunjukkan ayunan bekas anaknya.
Aku menghampiri Amira, ternyata benar dia tidur sangat lelap sekali, mungkin ini baru permulaan tidur dalam ayunan pakai listrik bisa goyang sendiri.
" Kak Muly.." panggil kak Ina lagi.
" Ya, aku makan!" jawab ku.
Kali ini selera makan ku menurun, kak Ina dari tadi melihat gelagat ku, sepertinya dia sudah tahu apa yang aku alami sekarang.
Setelah kami siap makan, kak Ina mengajak ku ke ruang tengah.
" Kak Muly, saya minta maaf sebelumnya, kalau boleh saya tahu kenapa kak Muly pergi sendirian tanpa di antara bang man?, apa kak Muly lagi ada masalah sama bang man?" kak Ina membuka pertanyaan awal.
" Iya, sepertinya aku nggak sanggup lagi hidup dalam kebohongan, penuh dengan drama tidak terpikirkan oleh ku akan seperti ini!, kak Ina apa betul aku ini seperti pelakor?" tanyaku kepada kak Ina.
" Siapa yang katakan demikian itu?"
" Ibu-ibu yang datang tadi kerumah, ngakunya dia neneknya Nayla dan Angga!"
"Apa maksud kak Ina?, bearti kak Ina tahu semuanya."
Kak Ina terdiam, dan melihat kepada ku dengan rasa bersalah.
" Ya, aku tahu semuanya, termasuk neneknya Nayla, tadi dia kesini minta alamat rumah bang Usman.
" Kak Ina, kalau kak Ina tahu tolong ceritakan semua tentang istri-istri bang man, selama ini bang man selalu menutup-nutupi tentang mantan istrinya, baru tadi aku tahu bahwa bang man banyak istrinya, malah nenek Nayla bilang bang man itu tukang kawin, bukan ibunya Nayla dan ibu Rahma saja istrinya, bahkan lebih dari itu!" jelas ku.
" Sebenarnya aku juga tidak tega, dari kemaren itu aku mau cerita tapi bang man selalu melarangnya, tapi kalau kak Muly ingin tahu, aku akan ceritakan dari awal bang man kawin" jelas kak Ina.
...----------------...
POV Usman
Usman adalah anak pertama dari dua bersaudara, keluarga Usman termasuk ke dalam keluarga kaya, banyak Empang dan sawah.
Setelah bapak Usman meninggal, Usman lah yang mendapat harta lebih banyak dari pada dua adik perempuan nya, setelah itu Usman menggantikan ayah nya sebagai tulang punggung keluarganya.
__ADS_1
Setelah setahun meninggal ayah nya, Usman menikahi seorang wanita yang bernama Hasyimah yang dikarunia seorang anak, dua tahun kemudian Usman meninggal kan anak dan istrinya dan kawin lagi dengan wanita kenalannya yang bernama Darmiati, istri kedua di karunia delapan anak, setelah menikah kedua kalinya maka ini Usman melarang nya untuk menikah lagi. Tapi setelah ibu nya Usman meninggal maka Usman menikah lagi dengan wanita bernama Sumiati yang dikaruniai seorang anak.
Setelah istri pertama menggugat cerai, maka Usman menikah lagi dengan wanita bernama Fitriani yang di karunia dua orang anak, setelah Fitriani tahu bahwa suaminya selingkuh, maka dia sering stres dan sakit-sakitan hingga akhirnya meninggalkan nya dan menikah dengan selingkuhannya yang bernama Rusmiah. Semenjak menikah dengan Rusmiah Usman bangkrut, sehingga Empang dan sawah nya di jual kepada adik perempuan nya untuk menutupi hutang-hutang nya.
Setelah istri Usman tahu dia tidak memiliki harta lagi maka Rusmiah pergi meninggalkan Usman.
Dua tahun menduda dengan menumpang hidup di rumah adiknya, maka adiknya meminta nya untuk menikah lagi, dan menanggung semua biaya pernikahan termasuk mahar kawin.
Tawaran pun diterima Usman, hingga Usman mengenal aplikasi Facebook, dari aplikasi tersebut Usman mengenal dengan seorang wanita yang bernama Mulyanti, perkawinan Usman dan Mulyanti terpaut usia sangat jauh, Mulyanti baru beranjak usia dua puluh tahun sedangkan Usman berusia 50 tahun, namun dengan rasa cinta mereka bisa mengalahkan semuanya.
...----------------...
" Kak...!, kak Muly...?" panggil kak Ina.
" Hiks...hiks..hiks.." aku menangis ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜.
" Kak Muly baik-baik saja kan?" tanya kak Ina lagi.
Aku mengangguk saja, segitu nya aku nggak sanggup mengeluarkan kata-kata lagi.
Melihat aku menangis, kak Ina mendekati ku dan memeluk erat aku dengan berbisik di telinga ku.
" Kak Muly, maafin bang Usman ya, selama ini tidak jujur kepada kak Muly, kak...tolong jangan kak Muly tinggalkan bang Usman, kasihan Amira masih sangat kecil untuk pisah dari ayahnya."
Mendengar perkataan kak Ina, aku berhenti menangis.
" Kak Ina, apa bang man bisa berubah?" tanya ku.
" Aku yakin, pasti bang man bisa berubah kak, nanti akan aku coba bilang baik-baik sama bang man, pokoknya kakak tenang aja dan bersabar."
" Tapi kak Ina, aku baru bisa tenang kalau sudah pulang ke tempat bapak dulu."
Mendengar perkataan ku kak Ina menghela nafas panjang.
" Haah..!, ya udah! nggak papa kak Muly pulang aja dulu ke tempat orang tuanya untuk menenangkan pikirannya, nanti biar saya yang kasih tahu sama bang man!."
Terima kasih atas dukungan teman-teman semua, jangan lupa tinggalkan jejak dengan cara vote karya saya dan like serta komen.
__ADS_1