Diary Kehidupanku

Diary Kehidupanku
36. Pendarahan


__ADS_3

Tidak terasa hari dan bulan begitu cepatnya berlalu, usia kandunganku sudah memasuki tiga puluh delapan minggu, ini merupakan kelahiran anak keduaku tinggal menghitung hari saja.


Tentang anakku, sekarang Amira sudah belajar untuk berjalan, dia begitu aktif membuat aku semakin lelah dan kewalahan mengurusnya sendirian.


Tentang suamiku, dia sangat jarang pulang dengan alasan sering muat sawit ke Medan, semenjak bang man di percaya oleh juragan sawit sebagai kernet bang man pun sudah jarang pulang, seminggu tiga empat kali atau dua kali pulang ke rumah.


Bukan bang man tidak tahu usia kandunganku, malah dia lebih giat cari uang yang katanya buat anak-anak nya nanti.


" Kalau bunda nanti mau melahirkan abang tidak pulang, bunda hubungi aja ke nomor ini ya" ucap bang man sebelum pergi ke Medan.


Aku mengambil kertas dari tangan bang man, pas aku buka ternyata kertas itu tertulis dua nomor hp.


" Ini nomor siapa bang?"


" Tidak usah banyak tanya, pokok nya nanti kalau bunda melahirkan mendadak, hubungi aja nomor itu, dia pasti bisa bantuin bunda."


" Iya!"


Aku melipat balik kertas tersebut dan menyimpan nya di balik casing hp.


...----------------...


Dua hari kemudian.......


Pagi ini, aktivitas aku seperti bisa, sebelum Amira bangun aku sudah menyiapkan sarapan pagi, semua piring dan pakaian kotor pun semuanya sudah aku cuci termasuk menyapu semua debu-debu di dalam dan diluar rumah.


Pagi ini pun cuaca begitu cerah, sangat mendukung untuk jemuran ku yang sangat banyak, maklum dua hari belakangan ini aku sibuk menyetrika perlengkapan bayi untuk persalinan ku nanti, jadi aku tidak sanggup mencuci lagi, akhirnya cucian menumpuk.

__ADS_1


" Amira..!, kamu sudah bangun nak?" ucapku melihat Amira sudah berdiri di pintu, dia sudah bisa turun sendiri dari tempat tidur.


Aku membawa Amira mandi, sekalian dengan ku, lalu aku menyuapi Amira makan sambil aku juga ikutan makan.


Begini lah nasibku kalau tinggal jauh dari orang tua dan suami jarang pulang, tidak ada yang bisa kita harapkan, semua harus sendiri, terkadang aku menangis sendiri, berat hidup yang harus aku lalui.


Tiba-tiba perutku sakit sekali, sepertinya aku harus segera ke kamar mandi, aku menggendong Amira dan membawanya masuk ke kamar mandi, aku takut meninggalkan Amira sendirian di dalam rumah sedangkan kamar mandi di luar rumah.


Pernah sekali aku buru-buru ke kamar mandi, pas aku balik aku dapati Amira lagi makan kecoa. Belajar dari pengalaman tersebut jadi, sekarang kemanapun aku pergi pasti aku bawa Amira.


Sepertinya aku diare, ini pasti penyebabnya tadi pagi makan nasi goreng.


Perutku masih mules, sudah dua kali bolak-balik ke kamar mandi tapi masih mules juga.


Apa aku mau melahirkan? tapi melahirkan Amira pinggangku yang sakit bukan perut yang mules.


Tiba-tiba perutku semakin mules, aku lepaskan Amira dalam gendonganku, aku coba untuk duduk di kursi.


Belum sempat aku duduki pantatku di kursi, tiba-tiba aku mengeluarkan air berwarna bening, ya sepertinya air ketuban.


Aku ambil air itu dengan tangan, ku cium tidak bau air kencing, ini sudah pasti air ketuban.


Aku jadi panik, aku hubungi nomor hp yang bang man berikan pun tidak ada yang angkat.


Bagaimana ini?


Aauuuu.....auuu..! perutku semakin mules, aku mau melahirkan.

__ADS_1


Auuuu ....auuu...., aku menjerit kesakitan, tidak ada satu orang pun yang mendengar karna rumahku jauh dari tetangga.


Tiba-tiba darah keluar, aku panik bagaimana kalau bayi nya keluar.


Melihat aku yang merintis kesakitan, Amira pun ikut menangis.


Auuu.....aku mengedan panjang dan tiba-tiba bayi mungil keluar dari rahimku.


" Tolong.....tolong...bantu aku." aku berteriak meminta bantuan.


Aku menyaksikan sendiri bayi keluar dengan tali pusar masih terhubung dengan ari-ari.


Darah semakin banyak mengalir, tubuhku semakin lemas aku dekap bayi yang menangis sangat kencang, Amira masih menangis di dekatku.


Tubuhku sudah basah dengan darah, aku terkulai lemas, mata ku berkunang-kunang, sempat terpikir olehku, mungkin ini sudah tiba saatnya ajal menjemput ku. Jauh dalam lubuk hatiku, masih sempat aku memohon kepada Allah untuk diberikan kesempatan hidup untuk bisa melihat dan mengurus anak-anak ku.


Suara hp berdering berkali-kali, tapi aku yang tergeletak tidak sanggup untuk bangun lagi.


Mataku semakin gelap, darah yang keluar masih terasa, suara tangisan dua anak-anak ku masih kuat terdengar di telinga ku.


Sayup-sayup aku dengar suara laki-laki dan perempuan dari luar.


" Cepat, panggil ambulans di puskesmas, ibu ini harus segera di bawa kerumah sakit, kalau tidak ibu ini tidak selamat, pendarahannya semakin banyak keluar."


" Ibuk...ibu...ibu..." suara panggilan itu semakin jauh..jauh..dan jauh.


Semakin lama aku semakin tidak mendengar apa-apa lagi, hingga aku terlelap seperti orang tertidur.

__ADS_1


Terima kasih banyak atas dukungannya teman-teman semua, jangan lupa like dan komentarnya, terimakasih banyak..


__ADS_2