
Tiga bulan sudah berlalu paska aku melahirkan Lutfia, kehidupan rumah tanggaku semakin hari semakin renggang, hubungan suami ku dengan Santi semakin dekat bahkan telah beredar isu bahwa mereka berpacaran, tapi isu itu di bantah oleh bang man terhadapku dengan kekerasan.
Hari-hari aku selalu dalam kesedihan dan kebohongan rumah tangga, aku seringkali di ancam kata-kata " talak" kalau aku berani pergi dari rumah.
Aku tidak tahan lagi, terpikir olehku untuk membongkar kebohongan bang man.
Sore itu, setelah bang man terlihat sangat rapi dan wangi aku mencoba bertanya lagi tentang isu perselingkuhannya.
" Bang, kamu mau kemana rapi sekali?" tanyaku sambil mencium bajunya yang wangi parfum.
" Itu bukan urusan bunda!, aku mau kemana kek, yang penting bunda dan anak-anak ada makan, aku capek kerja" jawab bang man kesal.
" Kerja sama Santi?"
Mendengar ucapan ku, bang man sangat marah. Dia menghampiri ku dan, plak.....!, tangan bang man mendarat di pipi ku lagi, bukan kali ini saja sering kali kalau bang man kesal dan marah pipiku ini selalu jadi korbannya.
" Berapa kali lagi Abang bilang, jangan bawa-bawa nama Santi, Bunda cemburu ya, kalau ternyata Santi itu lebih cantik dari Bunda!"
" Kamu bisa saja mengelak Bang, tapi semua orang sudah tahu kalau Abang itu pacaran sama Santi" ucapku.
" Orang mana hah?, apa Bunda punya bukti?"
" Aku tidak punya bukti Bang, tapi feeling ku berkata benar, dari gelagat Abang selama ini" tegasku.
Setiap kali kami ribut, ujung-ujungnya Bang Man selalu pergi tidak pulang.
Keesokan harinya, aku berniat untuk mencari Bang Man. Setelah aku siap semua pekerjaan rumah, aku menggendong Lutfia sedangkan Amira aku gandeng tangannya.
__ADS_1
Aku berjalan mengikuti kata hatiku, ke warung Kak Minah di simpang empat yang sering Bang Man santai dan ngopi-ngopi di sana.
Sekitar dua puluh menit aku berjalan kaki keringatku mulai bercucuran. Amira yang aku gandeng sesekali minta untuk di gendong. Akhirnya warung kak Minah pun sudah dekat, terlihat dari jauh, warung kak Minah sangat ramai. Aku semakin yakin kalau suamiku berada di sana, terlihat dari sudut warung ada pasangan lagi duduk bermesraan sambil berpegangan tangan. Nampak dari belakang laki-laki itu seperti postur tubuh Bang Man.
" Bang!." Pria itu menoleh ke belakang. " Oo..ini yang membuat selama ini abang betah disini ya?" Ucapku dengan nada ngegas. Semua orang menoleh kebelakang, Bang Man sangat terkejut melihat aku sudah tiba-tiba di belakangnya. Santi yang melihat aku datang pun langsung bangun dan pergi menghindar dari keributan.
" Kamu ngapain kesini?" tanya Bang Man sangat marah.
" Kenapa?, Abang takut ya. Kalau selama ini Abang berbohong padaku, rupanya kamu bang berselingkuh di belakangku." Ucapku dengan memukul-mukul Bang Man.
Semua orang di sana menyaksikan keributan kami.
" Man, bawa pulang tu istrinya jangan bikin keributan di sini, malu di lihat orang." Ucap Kak Minah. " Eh, Kak Minah!, mana Santi aku akan buat perhitungan dengannya." Tegasku sangat marah. Entah setan apa yang telah merasuki tubuhku sehingga aku seberani ini membentak orang, mungkin ini akibat dari terlalu lama aku menahan sabar.
" Kamu ngaca dulu deh, Santi itu anak saya, dia itu lebih cantik dari kamu. Lagian suamimu itu yang tergila-gila dengan anak, saya." Ucap Kak Minah mengejutkan ku.
Suasana semakin gaduh Lutfia dalam gendongan ku pun menangis. Melihat itu semua Odin yang sedang berada disitu pun mengantarkan aku ke rumah.
Aku tidak sanggup untuk menangis lagi, mungkin karena air mata ku sudah terkuras habis, kali ini aku sudah nekat apa pun yang terjadi hari ini aku siap menanggungnya.
Tiba-tiba Bang Man pulang dan langsung melabrak aku.
" Kamu kenapa kesana?, apa kamu itu nggak punya otak bikin keributan di warung orang."
" Oooo....aku yang kau salahkan ya Bang, memang kamu itu tidak tahu diri Bang, sudah tua makin saja ingin cari bunga muda lagi" ucapan ku membuat bang man semakin marah.
Plak.....Plakkk ..! dua tamparan mendarat di pipiku, kali ini tamparan sangat kuat membuat kepala ku pening.
__ADS_1
Auuu....aku menjerit kesakitan, tangan ku memegang pipiku dan meraba gigi depanku, aku baru sadar satu gigi depanku copot akibat hantaman tamparan tangan Bang Man
Aku mencoba merangkak mencari gigiku yang copot, Amira dan Lutfia pun menangis melihat kami yang bertengkar.
Tangan ku meraba-raba di lantai , akhirnya gigi pun aku dapat, dengan cepat aku pasang kembali gigiku berharap akan melekat kembali, aku tekan dengan tanganku.
" Kalau kamu tidak suka dengan Santi, kamu pergi dari sini" ucapan bang man sangat mengejutkan aku.
Dumm!! suara pintu yang di tendang Bang Man. Buru-Buru Bang Man meraih kunci motor dan bergegas pergi lagi.
Hari itu setelah kejadian, aku bersama anak-anak ku pergi dari bang man dan pulang ke rumah orang tuaku.
Awalnya mereka marah dengan ke pulangnya aku, tapi setelah aku menceritakan semua kejadian yang menimpaku atas kdrt yang di lakukan suamiku, maka mereka pun akhirnya luluh juga.
Sudah lebih dari empat bulan aku dan anak-anak ku tidak di berikan nafkah, maka aku pun menggugat cerai Bang Man.
pada usia perkawinanku yang ke tiga tahun. Usia perkawinan ku tidaklah dibilang lama, tapi aku telah menjadi janda dengan menghidupi dua orang anak perempuanku.
Mulyanti.......
Hidup mu sekarang sama seperti istri-istrinya Usman yang lain, apa itu karma kalau kita menikah dengan suami orang, maka nanti kita akan merasakan juga suami kita menikahi orang lain.
Inilah Diary Kehidupanku, berawal kebahagiaan berakhir dengan kesengsaraan. Hidupku masih panjang lagi, aku harus banting tulang kesana-kemari mencari rezeki buat menghidupi dua buah hatiku dari cinta pertamaku pilihan hatiku sendiri. Tidak menutup kemungkinan diriku untuk mencari pendamping lagi, aku yakin nanti pada masanya tiba pasti ada laki-laki yang bisa menjadi pendamping hidupku lagi. Biarlah sekarang aku menikmati masa-masa jandaku dulu yang bebas tanpa ikatan suami sambil aku membenahi diri ini yang semakin lama semakin bertambah bengkak tubuhku. Mungkin ini pengaruh dari hati yang terbebas dari tersakiti ibarat burung yang di kunci dari sangkarnya dan pergi bebas dari tuannya. Hidupku sekarang sudah jauh dari tersakiti, tinggal tunggu pengganti lagi.
Terima kasih kepada teman-teman yang telah hadir mendukung Diary Kehidupanku.
Salam semuanya. Karya ini akan terus berlanjut hingga Mulyanti tersakiti yang kedua kalinya.
__ADS_1