Diary Kehidupanku

Diary Kehidupanku
34. Tidak Diizinkan


__ADS_3

Semenjak dari telponan dengan Sarah, hatiku tidak bisa tenang memikirkan bapak, apalagi aku yang disalahkan atas sakitnya bapak, aku tidak sabar rasanya lama sekali menunggu sore hari tiba, dimana bang man pulang dari kerjanya.


Sekarang Amira sudah semakin aktif apalagi sudah mulai belajar berdiri, terkadang aku lelah sendirian mengurus Amira apabila aku sedang hamil tujuh bulan, beruntung sekali kehamilanku yang kedua ini diberikan kesehatan oleh Allah, sehingga aku bisa mengurus Amira sendirian.


Tiba-tiba terdengar suara kereta dari luar, itu pasti suara kereta bang man pulang, aku membukakan pintu dan melihat bang man suamiku membawakan belanjaannya, raut mukanya terlihat sangat capek dan lelah.


" Aku tidak mungkin mengatakannya sekarang, lebih baik aku harus menunggu waktu yang tepat, biarkan bang man istirahat dulu" gumam ku dalam hati.


" Tolong ambilkan handuk bentar, abang mau mandi" ucap bang man yang masih berdiri di depan pintu.


" Ya" jawab ku yang masuk kedalam mengambil handuk mandi.


" Bang!, ada hal penting yang bunda mau omongin."


" Ya, nanti aja!, aku mandi dulu, kotor kali badan ayah ni!" jawabnya sambil berlalu ke belakang.


Setelah selesai mandi aku melihat suamiku sudah fresh kembali, ini waktu yang tepat untuk aku omongin.


" Bang, bang..?,

__ADS_1


" Eum...ada apa?"


" Ta...tadi bunda nelpon, ternyata nomor panggilan kemaren itu nomornya Sarah" ujar ku dengan sedikit keraguan.


" Terus...,ada apa dia nelpon banyak sekali?"


" Kata Sarah bapak sakit stroke di sana", belum siap aku omongin sudah terlebih dulu bang man memotong pembicaraan.


" Nggak boleh!" ucap bang man singkat.


" Lhoh, apa maksud abang bunda nggak boleh pulang jenguk bapak yang sedang sakit gitu?"


" Ya, abang nggak bakalan izinin bunda pergi."


" Apa..?, apa bunda bilang, aku yang lebih berhak sekarang menentukan kehidupan bunda, bukan bapak mu, apa bunda tidak takut dosa pergi tanpa izin dari suamimu?"


Aku terdiam sejenak, memikirkan perkataan suamiku, memang pergi tanpa izin suami itu sangat berdosa.


Tapi ... bapak sakit itu salahku.

__ADS_1


" Nggak, pokok nya besok bunda pulang!" ucapku bersikeras dengan permintaan ku.


" Bunda nggak nyadar ya, coba bunda lihat perutnya sudah membesar, apa mau lahiran disana?, kali ini ayah tegaskan, bunda nggak boleh pulang dan lahiran kedua kali ini harus disini" tegas bang man


Mendengar perkataan bang man, aku semakin memanas.


" Ya, aku rencananya mau lahiran disana, apa bisa abang mengurus bunda di sini pada waktu persalinan nanti?, dan lagian Amira masih kecil, bagaimana nanti dengan pekerjaan dan kebiasaan nongkrong malam?" ucapku dengan sedikit menyindir.


" Setiap aku katakan, pasti sudah bisa aku lakukan, kalau bunda bersikeras mau pergi, ya sudah pergi aja tapi Amira tidak boleh bunda bawa" ujar bang man dengan ancamannya.


Seketika itu bang man, yang melihat Amira sedang asyik main dengan mainannya langsung menghampiri dan menggendongnya.


" Bang, mau bawa kemana Amira?, dia masih kecil, dia masih membutuhkan aku."


" Tidak, kalau bunda mau pergi silahkan, tapi Amira tetap disini" ucap bang man yang membawa pergi Amira dengan keretanya.


" Bang, bang..!, jangan bawa Amira, aku mohon....aku tidak sanggup tanpa Amira" teriak ku yang melihat bang man pergi begitu saja membawa Amira.


Hiks....hiks..hiks...aku menangis dengan tersedu-sedu, berteriak sendiri namun ternyata upaya ku sia-sia saja, toh suamiku membawa juga Amira pergi.

__ADS_1


Mau dibawa kemana Amira? ini sudah mau Maghrib.


Mohon dukungannya kepada teman-teman semua, jangan lupa tinggalkan jejak kalian, dengan cara like dan komen.


__ADS_2