
" Apa kata mu?, istri ke enam?" ujar bapak dengan suara penuh emosi.
" Ya, pak!, Muly juga kaget pak, Muly baru tahu ini semua dari kak Ina, itupun karna ada ibu-ibu yang datang ke rumah bentak-bentak Muly, bahkan Muly juga di katakan nya sebagai pelakor" jelas ku sambil mengusap linangan air mata.
" Tapi, kamu pernah bilang, bahwa Usman itu duda!, bearti mereka semua itu sudah menjadi mantan istrinya, dari mana salahnya?" tegas ibu.
" Buk, bang man tidak pernah menceraikan istri-istrinya, tapi istrinya yang menggugat bang man, karena mereka itu tidak sanggup bertahan lagi, bang tidak pernah memberikan nafkah buat anak-anaknya".
Bapak diam seribu bahasa menahan amarah, tampak dari raut mukanya.
" Apa ini akan berlaku untuk kamu Muly?" tanya ibu sangat prihatin melihat ku yang menangis.
Aku menceritakan semuanya, dari perubahan sikap bang man, pernah membawa anak-anak nya dari istri nya tinggal bersamaku dan pernah kedatangan anak bang man dari istrinya yang kedua membawa undangan pernikahan, hingga kedatangan nenek Nayla yang mengecam aku sebagai pelakor, sekarang tidak ada lagi yang aku tutup-tutupi tentang rumah tanggaku, pikiranku sudah plong.
" Jadi, Usman itu sekarang dimana?" tanya bapak singkat yang dari tadi mendengar kisah ku.
" Muly nggak tahu pak!, Muly pergi dari rumah, Bu...apa yang harus aku lakukan sekarang?."
" Menurut ibu, kamu harus sabar, mungkin saja kamu ini istri yang terakhir Usman, kamu harus ingat Amira, dia masih sangat kecil." saran dari ibu.
" Ah, kamu nggak usah balik lagi kesana!" ucap bapak yang berbeda pendapat dengan ibu.
" Pak..., bapak tidak boleh begitu, masalah itu harus di selesaikan, barangkali Usman itu berubah pak!"
" Ngak, bapak ngak yakin dia tidak bisa berubah, yah..kamu tidak usah balik sana ya, dengar kan bapak mu ini " ucap bapak sambil beranjak dari duduknya dan masuk ke dalam kamar, meninggalkan kami berdua dengan ibu.
Melihat bapak sudah masuk kamar, ibu mendekatkan duduknya dengan ku.
" Kamu tidak usah dengarkan bapak ya, jangan buru-buru ambil keputusan" ucap ibu juga.
" ya sudah, kamu istirahat sana, nanti terbangun Amira.
Beberapa hari kemudian....
Tiba-tiba Amira menangis, aku bangun dari tidur, dan mengambil Amira mau menyusui, waktu aku pegang Amira, tubuhnya sangat panas.
Ya Allah....tubuh Amira panas sekali, bagaimana ini?, aku harus membangunkan ibu.
"Fatma...,bangun dek! tolong panggil ibu bentar" ujar ku sambil membangun Fatma yang tidur satu kamar dengan ku.
" Kenapa kak?"
" Amira sakit dek, panggil ibu bentar ya."
__ADS_1
Dengan sigap fatma buru-buru keluar kamar memanggil ibu. Tidak lama kemudian bapak dan ibu pun barengan masuk ke kekamar.
" Ya Allah.. kenapa Amira?" tanya Ibu yang panik melihat Amira menangis.
" Badan Amira panas sekali pak!"
" Iya buk, bagaimana ini?" tanyaku sangat panik, yang tidak pernah Amira badannya sepanas ini."
" Fatma, tolong ke dapur ambilin bawang merah dan minyak, kamu taruh dalam piring ya" pinta ibu kepada Fatma.
" Muly, bawa Amira ke ruang tengah aja, jangan di kamar pengap ini" ucap bapak.
" Iya pak!"
Ibu membuat obat tradisional kami dari kecil untuk pertolongan pertama demam.
Bawang merah di campur minyak di balur ke tubuh Amira.
" Pak, tolong petik daun melati yang muda di luar, Fatma..
temanin pegang senter ya!" pinta ibu.
" iya Bu, " jawab Fatma yang bergegas keluar petik daun melati.
Daun melati di campur air di remas-remas lalu disaring dan kasih sedikit gula, lalu di kasih minum Amira dua sendok makan.
Setelah di kasih obat tradisional oleh ibu Amira sudah tertidur lagi, aku dan ibu malam itu tidur di ruang tengah menemani ku.
Aku tidak bisa tidur nyenyak, karna khawatir Amira terbangun nangis lagi.
Pagi hari....
Aku berniat bawa Amira ke puskesmas karna badannya masih demam. Karna Amira masih bobok aku siap-siap dulu mandi dan cuci baju.
Setelah aku jemur kain, tiba-tiba aku pusing dan jatuh. Fatma yang melihat aku segera keluar dan menolong ku.
" Kak Muly, Kakak kenapa?" tanya Fatma yang memapah ku masuk kedalam.
" Kakak nggak tahu dek, tiba-tiba kepala kakak pusing, mungkin kakak lelah saja."
" Muly, sekalian aja nanti periksa ke puskesmas" ujar bapak yang sudah siap.
" Fatma tidak usah ikut ibu ya, di rumah aja nemani kakak mu, biar ibu sendiri aja kerja"
__ADS_1
" Ibu nggak papa sendirian?"
" Nggak papa, besok kalau Amira sudah sembuh, kamu bisa ikut ibu lagi."
Setelah bapak mengantar ibu ke tempat kerja, lalu bapak mengantar aku dan Amira ke Puskesmas.
Sesampainya di puskesmas Amira di periksa dan di kasih obat penurun panas.
" Buk, ini sepertinya ibunya juga harus di periksa, tadi sempat pusing dan jatuh" ujar bapak kepada buk bidan.
" Oya, kalau begitu silahkan ibu berbaring dulu, biar saya periksa".
" Pak tolong gendong Amira bentar ya."
Setelah di periksa oleh ibu bidan hasilnya sangat mengejutkan ku.
" Selamat ya! ibu lagi hamil?" ucap buk bidan.
" Ah, apa buk?, saya hamil?."
" Sepertinya nggak mungkin, anak saya masih enam bulan".
" Ibu ada program KB?" tanya buk bidan.
" Tidak Bu, tapi sudah dua bulan ini saya tidak ada halangan"
" Nah, itu berarti ibu sudah hamil selama dua bulan ini, agar lebih akurat lagi ibu, kita tes urine dulu ya, tolong ibu tampung urine ke dalam botol ini" ucap buk bidan sambil ngasih tempat tampung urine.
Aku ke kamar mandi untuk menampung urine, lalu buk bidan memasukan test pack ke dalam urine tersebut, beberapa menit kemudian dua garis merah pun muncul yang membuat aku sangat terkejut.
" Ya Allah... bagaimana ini?, aku hamil sedangkan anakku masih sangat kecil, apa ini jawaban mu dari masalah yang aku alami sekarang" gumam ku dalam hati.
Aku keluar dari ruangan dengan sangat lesu sekali, sehingga timbul pertanyaan dari bapak.
" Bagaimana hasinya?, apa kata buk bidan" tanya bapak penasaran.
"Pak..., aku hamil lagi?" ucap ku harap-harap bapak tidak emosi.
Bapak melihat sekeliling ruangan, dan menghela nafas panjang.
" Ni, gendong Amira! kita pulang sekarang."
Aku mengambil Amira dari gendongan bapak dan bergegas menuju ke rumah, hati ku sangat kacau dan menyimpan kesedihan yang tidak bisa aku ucapkan dengan kata-kata lagi, aku serba salah mau program KB, tapi tidak di izinkan sama suamiku, mau sendiri ke bidan tapi aku tidak pernah di kasih pegangan uang.
__ADS_1
Bersambung...
Hai teman-teman jangan lupa dukung terus karya ku ya, dengan meninggalkan jejak dengan cara vote dan like serta komen.