Dihamilin Setan!?

Dihamilin Setan!?
Devil in I


__ADS_3

Kamar gelap yang sangat minim akan cahaya terlihat begitu menyeramkan bagi siapa saja yang memasukinya, ditambah dominasi warna merah gelap menjadi latar belakang dinding kamar tersebut menambah kesan horor yang cukup lekat. seorang pemuda tengah duduk dihadapan laptop kesayangannya.


Tak berapa lama, seorang pria yang sangat mirip dengannya masuk dan menghampir pemuda sebelumnya.


"Kak..." sapa pemuda yang baru masuk.


"Hmm..." jawab pemuda yang berada di depan lapotop tanpa melihat pemuda yang kini sudah dudk santai di atas tempat tidurnya.


"Lo Lagi ngapain?" tanya pemuda yang kini merebahkan badannya diatas kasur.


"Ngapain lagi?!" balas pemuda yang di depan laptop.


"kak... boleh nggak sih, kalo gue jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada orang yang sama?" tanya pemuda yang ternyata kembaran nya.


"Gak ada hal yang nggak boleh buat loe!" Tegas sang kakak dengan yakin.


"beneran?" tanya sang adik dengan mata yang berbinar.


Sang kakak hanya diam konsentrasi pada layar laptop yang tengah menampilkan sebuah gambar bermotif.


"Kalo gitu, boleh nggak sih, kalo suatu saat gue pergi, loe jaga..."


Brak


"Denger gue!" bentak sang kakak dengan sebelumnya menggebrak meja cukup keras. setelah berbalik badan menghadap adiknya, Pemuda itu langsung mencekram kerahnya dengn tatapan tajam namun mengisyaratkan dirinya sangat tidak ingin berjauhan dengan sang adik.


"Loe, nggak akan, dan sangat nggak akan pernah pergi ke mana - mana... loe sama gue, lahir di hari yang sama, dari rahim yang sama, dan besar dari ASI yang sama... kalo loe pergi... berarti kita harus pergi sama - sama!" tutur sang kakak dengan menatap tajam adiknya, sorot matanya menandaka antar sangat marah, benci dan sedih bercampur jadi satu.


"Kak..."


"Dengerin!" potong sang kakak.


"Lo, nggak akan kemana - mana!" lanjutnya.


"Kalo loe pergi, jiwa gue juga pergi... loe satu - satunya jiwa, juga alasan buat gue tetep hidup dan berjuang. cuma loe, satu satunya alasan buat gue tetap ada di sini!" tutur sang kakak dengan memeluk erat sang adik. namun sang adik mencoba merenggangkan pelukannya.


"Kak! Liat gue... Gue nggak akan kemana mana, gue nggak akan mati, gue akan terus hidup..." tutur sang adik menggantung.


"Disini... didalam diri loe, dalam raga loe, gua akan selalu hidup disitu." lanjut sang Adik dengan menunjuk bagian dada sang kakak. "Raga bisa pisahin gue sama loe, tapi jiwa kita nggak akan bisa pernah berpisah, karena loe adalah diri gue yang paling kuat, dan gue adalah diri loe yang paling lemah!"


"Loe salah, gue itu sisi setannya diri loe!" ujar sang Kaka dengan memeluk kembali adiknya. "Nama loe nggak akan kotor kalo nggak ada nama gue ditengahnya gue!"


"Oiya, gue mau tanya sesuatu... tapi gue mohon loe jawab dengan jujur!" Ujar sang Adik dengan menatap serius kakaknya. dan sang kakak pun menjawab melalui kontak matanya bahwa dia akan sangat jujur menjawabnya.


"Kenap loe benci sama dia?" Tanya sang adik begitu serius dengan menunjukan sebuah foto yang ada dilayar hpnya.


"Meskipun gue nakal, tapi gue nggak suka manfaatin orang buat kepentingan gue sendiri, dan sifat itu melekat kuat pada diri dia, gue nggak suka orang kayak gitu. Gue tau dia orang yang nggak mudah di kalahin kalo soal bertarung, makanya saat itu gue nggak ngehajar dia. gue mau kasih dia tau, kalo dimanfaatin itu nggak enak, gue jadiin di buat jembatan cinta  loe sama gadis itu. Ya... walopun gue tau, kalo loe nggak pernah bisa manfaatin orang lain, tapi mau nggak mau, bentar lagi loe akan ngerasain kalo loe bisa deket sama gadis loe, ya karena loe deket sama si bangsat ini." Tutur sang kakak dengan melemparkan hp yang Nabil pegang sedari tadi.


~


Ditempat lain, terlihat Key yang sedang duduk bersandar di bawah pohon tepian sungai, tempat yang begitu menggambarkan ketenangan dan kedamaian. earphone yang dengan setia bertengger di kedua belah telinganya, dengan mata tertutup menikmati setiap hembusan angin tipis yang menyapa wajah tampannya. namun sayangnya, tek berselang lama sebuah tangan dengan lancangnya menyabut paksa earphon sebelah kiri Key dan sukses membuat Key terkejut dan menatap tajam pada siempunya tangan.


"Ck..." decak Key menatap malas namun juga perasaan kaget dan senang kini bersemayam di fikirannya.


"Ngapa loe?" tanya si pengganggu Key yang tak lain adalah Ve, entah malaikat mana yang kini menuntun Ve untuk menedekati Key.

__ADS_1


"Nggk ngapa - ngapain..." Balas Key dengan membenahi Earphone serta smartphone yang menemaninya sebelum Ve datang.


"Gue to the poin aja deh... gue mau loe jujur..." ujar Ve menggantung. "loe maih sayang nggak sama Gue?".


Tidak, bukan seperti itu, itu hanya halusinasi Key saja.


"Heh... bengong, kesambet nanti loe!" sentak Ve dengan wajah malasnya.


"Loe ngapain disini? Tumben banget!?" ujar key tanpa menatap Ve.


"sebenernya gue pen nanya... tapi loe jawab jujur ya." ujar Ve dengan menatap Key, sontak Key merasa dejavu akan kalimat Ve. "Dia beneran suka sama Gabriela, atau cuma sekedar buat cari sensasi aja?"


"Nabill, ya? gue gak tau sih, maksud dia deketin Gaby tuh tulus sayang sama Gaby, atau ada hal lain yang buat maksa dia harus pacaran sama Gaby." tutur Key dengan menatap jauh kedepan. "Jujur, dia itu punya kepribadian yang sulit di tebak orang biasa kayak gue, terkadang dia asik, penuh pengertian, ramah, peduli sama lingkungan sekitarnya juga. Tapi, di satu waktu dia juga kadang usil, gk punya rasa takut, dan nggak pernah peduliin apa - apa kecuali kesenangannya."


"Alterego?" gumam Ve.


"Ya, kalo istilah dokter mungkin bakal bilang gitu. tapi sejauh yang gue liat, dari sorot matanya yang sayu, dia beneran ngarep banget sih sama Gaby, ya tapi itu cuma sudut pandang gue doang." tutur Key dengan sesekali menatap Ve untuk meyakinkan semua perkataannya. "Jujur, gue nggak begitu kenal sama dia, gue nggak tau dia siapa, gue juga nggak tau siapa nyokap sama bokapnya... karna yang sering masuk keluar ruang BP, katanya itu tantenya dia, bukan nyokapnya. tau lah masalah bener nggaknya. gue nggak peduli, gada untungnya juga."


"Gue pernah bilang sama Loe, kalo dia nganggep gue deket sama dia itu cuman karena kebetulan aja, saat dia ngerusuh, gue juga ngerusuh, dia gk pernah nganggep gue sahabatnya, bahkan temannya. dia itu kayak loe, Ve... kayak nggak mau terikat hubungan apa - apa sama orang lain. entah apa sebabny gue nggak tau." lanjut Key yang mengambil dua botol minum dari tas yang ada di sampingnya lalu memberikan satu botol pada Ve tanpa sepatah kata pun.


"Kenapa harus gue yang loe samain? emang loe bisa ngebuka hati loe buat orang lain, kecuali buat gue?" tanya Ve yang sukses membuat Key mengeluarkan semua air yang telah masuk kedalam mulutnya.


"Maksud loe apa?" tanya Key dengan raut yang masih sangat terkejut.


"Gausah gue perjelas, gue tau loe ngerti setiap kaliamat yang gue ucpin, Nal!" lagi, ve mnggunakan kalimat yang semakin membuat Key semakin penasaran dan bahagia luar biasa. 'Nal' adalah sapaan Ve untuk Key dahulu ketika mereka masih bersahabat.


"Gue nggak akan minta maaf sama loe, atas kejadian yang dulu - dulu, karna loe juga sadar kalo semua kejadian yang mecah belah kita, itu semua karena keegoisan loe, keegoisan hati loe, yang nggak mau ngalah sama perasaan loe." Tutur Ve dengan menjeda kalimatnya untuk minum. "Gue tau, loe sayang sama Gue, dari tatapan loe, dari perhatian loe semuanya gue sadar Nal, dan andai loe tau... dulu gue sempet nyaman sama loe, tapi gue sadar, loe sama gue nggak akan bisa bersatu, gue nggak mau ngehancurin persahabatan gue, loe sama Naomi. asal Loe tau, tiap malam Naomi selalu bilang, Keynal inilah, keynal itulah... sampe gue capek dengernya dan mutusin buat ngasih tau loe, Kalo Naomi sayang sama loe lebih dari seorang sahabat." tutur Ve dengan pandangan yang begitu sayu, tak ada tatapan dingin, tatapan permusuhan saat menatap Key, inilah Verandanya yang dahulu Key kenal, inilah bidaidarinya yang sampai saat ini ia tunggu.


"Iya gue tau, gue sadar akan semua keegoisan gue, andai gue ngalah waktu itu dan iyain semua pertanyaan loe, munkin dia masih ada di sini, duduk di tengah - tengah kita, dan paling rame sendiri buat bahas hal yang nggak ada gunanya sama sekali." ujar Key dengan menyimpan botol minumannya lalu berdiri dan menyimpan tangannya di kedua saku celananya.


Key sedikit menepis lengan Ve yang kini kembali terduduk. namun Key kembali membelakangi Ve dan menatap hamparan Danau yang begitu indah.


"Ve! Gue nggak bisa bawa loe kembali di kejadian itu, itulah kesalahan terbesar gue, dan semuanya gue pasrahin gitu aja, karena gue nggak akan pernah bisa hapus kejadian itu dari pengalaman gue." tutur Key dengan membelakangi ve yang kini menatap Key dengan tatapannya yang selalu ia sembunyikan dari orang lain. 'Rindu' itulah tatapan yang kini terpncar dari sorot matanya dengan menatap Key yang kini berbalik dan berlutut di hadapan Ve.


"Gue mohon, Key..." lirih Ve dengan tatapan yang begitu memohon.


"Ve, Gue sayang sama Naomi."


Degh


Dan inilah yang seharusnya Ve rasain ketika malam yang sangat menyedihkan itu, perasaan hati yang hancur karena kehilangan cinta pertamanya.


"Makasih Key..." Ucap Ve yang kini disetiap ujung matanya mulai sembab seakan sebentar lagi akan turun badai yang bgeitu mengerikan, okeh itu terlalu berlebihan.


Tak ada yang tau, kecuali dirinya dan bayangannya di cermin kamar mandi, bahwa Ve sangat menyayangi Key, tapi di satu sisi, dirinya lebih menyayangi Naomi sebagai sahabatnya yang dari pertama masuk sekolah saat itu. Bahkan hingga saat ini, Ve masih menyimpan rapih perasaan itu dalam hatinya.


"Gue sayang sama Naomi, sebagai sahabat terbik yang pernah gue kenal, dan gue juga Cinta sama loe, Dari dulu, sampe sekarang gue tetep Cinta sama loe, meski loe udah buat sekat yang begitu jelas terlihat. Gue, akan selalu sayang sama Naomi... dan gue akan selalu cinta sama elo, Ve... loe cinta pertama gue, gue selalu jatuh cinta sama loe."


"Nal... gue nggak akan pernah maafin loe, sampe kapan pun!"ujar Ve dengan airmata yang kini sudah deras turun dari kedua pupil matanya.


"Nal..." gumam ve menggantung dengan menatap Key dengan tatapannya yang penuh kerinduan dan penyesalan serta airmata kebencian yang kini mulai mencair. "Gue juga jatuh cinta sama loe, tapi gue juga benci keegoisan loe, loe tau gue marah dan selamanya gue akan sangat marah sama loe! tapi, gue lebih takut, jika tuhan akan misahin lagi gue sama loe, gue takut kejadian beberapa tahun lalu kembali terulang, gue takut, gue takut loe jauh dari Gue" tutur Ve dengan begitu pilu dengan mentap Key seolah mengadukan semua keresahan hatinya selama ini.


"Ve...Gue nggak akan pernah pergi kemana - mana, Ve. apa masih belum cukup bukti kalo gue ngorbanin cita - cita gue biar gue bisa selalu sama - sama sama loe." tutur Key dengan memegang dua tangan Ve dan menyimpannya di kedua lutut Ve.


"Nal..." Gumam Ve dengan membalas genggaman Key.

__ADS_1


"Kita bertiga udah buat janji, kalo kita harus bisa gapai cita - cita kita saat masuk SMA, gue sama loe yang udah janji bakal sekolah di surabaya buat belajar ilmu desain, yang bahkan gue tau, kalo loe ikut gue, biar bisa terus mantau Gue buat Naomi." Tutur Key dengan tatapan yang sangat meyakinkan. "Ve, loe tau?"


"Dari dulu, inilah hari yang gue nanti... hari dimana gue nemuin Veranda gue yang dulu." potong Key dengan membawa Ve kedalam pelukannya.


"Gue tau, semuanya kesalahan gue, tapi gue mohon, buka kembali hati loe buat Gue, Ve... karena hati gue nggak pernah bisa gue buka buat orang lain. dan gue mohon, loe mau berbagi semua kesedihan dan kesepian loe buat gue, kita jalanin kehidupan kita, yang semoga aja, dengan gini, Naomi bisa tersenyum dari sana." Tutur Key dengan melepas pelukannya.


"Naomi selalu datang dalam mimpi gue dengan wajahnya yang selalu murung, dia selalu bertanya sama gue, 'Dimana dia?' dan gue yakin, kalo orang yang dimaksud Naomi itu Loe, Ve. dia juga suka bilang, 'Jaga dia, lindungi dia... bahagiain dia.' " Tutur Key dengan kini duduk di bangku yang sama dengan Ve.


"Awalnya gue bingung, 'Dia' siapa? namun lama kelamaan gue faham siapa dia..." tutur Key.


"Dia juga suka dateng ke mimpi gue, dan dia selalu bilang dalam pelukan gue, dia benci sama gue, dia marah sama gue yang kayak gini. awalnya gue kira dia benci gue karena loe, namun semakin gue jauhin loe, Naomi semakin marah sama Gue. gue bingung harus ngapain. sedangkan ego gue terlalu gede buat buka maaf buat Loe." tutur Ve dengan kembali memeluk Key.


~


Keesokan paginya, Key dan Adzril terlihat tengah menunggu seseorang di depan pagar sebuah rumah yang sederhana. Key yang sedari tadi diam melihat sisi wajah Adzril yang terlihat sangat malas, kini mulai memberanikan diri untuk bertanya.


"Loe, demam?" tanya Key dengan hati - hati.


"Kagak..." balas Adzril sesingkat mungkin.


"Loe udah makan?" tanya Key kembali, namun Adzril tetap memfokuskan pandangannya pada smartphonenya.


"Bawel loe!" balas Adzril masih dengan nada Yang dingin.


"Yahh... Bill, salah waktu loe ngeluarin sisi negative loe, gue sama ve baru aja bikan" Gumam Keynal dalam hati.


Tak berselang lama, Gaby dan Ve keluar dari dalam kontrakan tersebut dengan raut wajah yang sangat bahagia.


Dengan malas, Adzril memberikan helmnya pada Gaby yang telah ia siapkan sebelumnya, namun yang membaut Gaby bingung, biasanya Adzril sering menggodanya terlebuh dahulu, Gaby meraa ada yang aneh dari setiap gerak gerik Adzril, Gaby melihat sisi Adzril saat mengungkapkan di dalam kelas, jika Gaby adalah pacarnya. Gaby sangat yakin jika inilah Adzril yang dulu memaksanya untuk menjadi pacarnya tanpa persetujuan.


"Kamu sakit?" tanya Gaby, namun Adzril hanya menggeleng dan menghidupkan motornya.


"Kenap dia?" bisik Ve pada Key saat Adzril sudah menjalankan motornya terlebih dahulu.


"Yainilah, sisi nggak asik nya Nabill... siap - siap aja kita liat wajah asinnya dia sepanjang hari." tutur Key yang hanya dibalas anggukan oleh Ve.


Sedangkan di motor Adzril dan Gaby...


"Kamu kalo ada apa - apa, bisa cerita ke aku..." tawar Gaby, namun lagi Adzril hanya diam dan membalasnya dengan anggukan.


sesampainya di parkiran sekolah, baru saja Adzril hendak turun dari motornya, tiba - tiba telponnya berbunyi tanda panggilan masuk.


"Hallo..."


"Ya selamat pagi..."


"Baik, saya ke sana segera!"


Dengan terburu buru, Nabill menjalankan motornya tanpa menghiraukan Gaby yang sedari tadi bertnya.


"Kenapa dia Gab?" Tanya Ve yang baru saja sampai dengan Key. namun bukannya Menjawab, Gaby malah merasakan hal yang nggak enak, Gaby mersa bahwa sedang terjadi sesuatu yang serius, namun hal apa. entahlah, fikirannya kini hanya di penuhi pertanyaan, 'Siapa Nabil sebenarnya, dan apa yang terjadi sama dia'


To be continue


Note: buat kalian yang baca certita ini, silahkan baca kembali deskripsinya ya... dan jangan terfokus di judul, karena mungkin cerita ini bakaln jauh dari ekspetasi kalian dengan judulnya.

__ADS_1


trimakasih


__ADS_2