Dihamilin Setan!?

Dihamilin Setan!?
A choice.


__ADS_3

"NANDO!!!"


Tanpa mereka duga, ternyata orang yang sebelumnya menghentikan serangan Nando dan teman - temannya pada Nabil, ternya dia tak sendirian, bahkan Nabil sampai terkejut dan tak menyangka jika orang itu ternyata mungkin bukan orang lain, dan mungkin saja Nabil mengenal orang itu karena bisa dengan lancangnya membawa seseorang yang sangat berpengaruh pada Nabil. Siapa lagi jika bukan Naomi.


Ya, orang yang lagi - lagi menghentikan Nando adalah pawang dari dua orang yang ternyata kini tengah berseteru hebat.


"Naomi?" Gumam Nando yang kini bingung harus melakukan apa, gahkan rasa sakit yang melanda kepala belakangnya tak ia hiraukan sama sekali, karena Nando lebih takut Naomi membencinya.


"Udah, cukup! Semuanya udah selesai, Nan..." Naomi yang sedari tadi menangis setelah Nabil pergi berpamitan padanya, kini semakin menangis tak menyangka, bahwa orang yang selama ini selalu mendukung hubungannya dengan Nabil, namun ternyataitu semua hanya sebuah kebohongan belaka. "Udah Nan, hiks... Gue nggak mau lagi kehilangan siapapun, cukup Keynal yang hari ini pergi tanpa pamit sama kita..."


Tangis Naomi semakin pecah ketika mengingat apa yang sebelumnya ia dengarkan dari jarak yang cukup jauh, namun karena suara Nabil dan Nando yang sebelumnya sama - sama keras, membuat Naomi dan orang yang sedari tadi tersenyum penuh kemenangan karena dia berhasil menahan serangan Nando pada Nabil yang kini bingng harus melakukan apa, bahkan dirinya juga masih terpaku ditempatnya tanpa berniat menghampiri dan memeeluk Naomi untuk menenangkannya.


"Tapi dia mukul gue duluan, Mi..."


"UDAH!!! Gue nggak mau denger apapun lagi dari loe berdua!"


Nabil yang tersadar atas kalimat yang Naomi ucapkan, ternyata Naomi juga marah atas keputusan Nabil yang ingin menyelesaikan masalah ini dengan caranya. Tanpa rasa takut Nabil dan Nando kini sama - sama berjalan untuk mendekati Naomi, bahkan Nabil sengaja memberikan Knuckle nya pada orang disampingnya.


Saat keduanya tepat sama - sama di depan Naomi Nabil dan Nando saling melempar tatapan tajamnya, sedangkan Naomi hanya terdiam denngan menatap kecewa pada keduanya dengan airmata yang masih setia mengucur deras membasahi kedua pipinya.


"Kalaupun harus ada yang pergi diantara kita berempat, itu gue, bukan Key, ataupun kalian berdua..." Lirih Naomi yang sontak membuat dua lelaki yang sama - sama sangat tulus menyayangi dan mencintai Naomi, langsung mngalihkan tatapan keduanya kini pada Naomi dengan sama - sama terkejut, namun tak ada sepatah katapun terdengar dari keduanya.


Karena terlau lama membiarkan lukanya yang sedari tadi mengeluarkan darah, Nando kini merasakan pusing yang sangat hebat hingga membuat pandangannya semakin buram hhingga Nando merasa dunia disekeklilingnya terasa berputar sangat lambat, Nabil yang menyadari hal itupun langsung menahan tubuh. Nando agar tak jatuh begitu saja, namun keempat teman Nando yang melihat hal itu menjadi salah faham dan menngira Nabil akan melakukan hal buruk hingga membuat keempatnya langsung berlari dan mendorong Nabil agar menjauhkan tubuhnya dari Nando, sampai - sampai membuat Nabil terdorong keras dan jatuh kebelakang.


Orang tak dikenal yang sedari tadi bosan melihat drama romantis dan menjijikan baginnya, melihat Nabil diperlakukan seperti itu langsung membuatnya menghampiri Nabil dan siap menahan apabila salah satu dari mereka berempat tiba - tiba mnyerang dan melukai Nabil. Namun untunglah hal itu tak terjadi, namun...


"Loe mau mati kan?"


Jleb


Ekhhhh


Tanpa Nabil duga, ternyata seseorang yang dari awal membawa senjata tajam tiba - tiba menusuk tepat di perut Naomi yang kini langsung membuat Naomi terjatuh dan sebelum Nabil ataupun orang yang kini tengah membantu Nabil berdiri menyerangnya, orang yang menusuk Naomi langsung berlari kearah motornya dan langsung menjalankannya tanpa bisa dihentikan oleh teman Nabil, sedangkan Nabil tanpa banyak berfikir langsung mengangkat Naomi denngan ala bridal-style dan membawanya kedalam Mobilnya dan membaringkannya tepat dibangku barisan kedua mobillnya.


"Tahan, Mi..." Gumam Nabil yang kini sudah beradda diballik kemudi dan menjalankan Mobilnya dengan kecepatan diatas rata - rata.


Bertepatan dengan itu, terlihat mobill yang Adzril kendarai tepat berpapasan dengan mobil yang Nabil kendarai, namun hanya Adzril yang menyadarinya, dan langsung memutar arah untuk mengikuti mobil Nabil.


...****************...


"Kamu tenang sayang, mamah akan balas semua perbuatan mereka yang udah buat kamu seperti ini."


Didepan tubuh Keynal yang terlihat banyak sekali perban yang membaluti ssebagian besa kepalanya, dengan beberapa peralatan medis yang menempel hampir di setiap bagian tubuh depan Keynal, seorang wanita yang terlihat sudah cukup berumur, namun masih terlihat segar bahkan tak banyak kerutan diajahnya yang terlihat. Terlihat dirinya tengah menangis dan mengusap lembut penuh kassih sayang di lengan Keynal yanng terbbas dari peralatan medis. namun messkipun bersedih, terlihat tatapan sarat akan penuh dendam dan emosi terpancar jelas dari raut wajah serta tatapannya.


Sebut saja dirinya Dokter Kinal, wanita yang sangat Keynal sayangi dan hormati selama ini, sekaligus Dokter yang juga menjadi pemilik rumah sakit ini, Rumah sakit yang sebelumnya menjadi tempat Nabil menjalani pengobatan selama dirinya koma selama tiga bulan lamanya, setidaknya itulah yang keluarga Nabil tahu, yang padahl sebenarnya terjadi, ternyata Nabil bukan mengalami koma hingga membuatnya amnesia, melainkan Kinal melakukan malpraktek pada Nabil dengan membuatnya terus tertidur, dan setiap Kinal ber-alibi pada keluarga Nabil untuk melakukan pemeriksaan rutin, ternyata disaat itulah Kinal melakukan malprakteknya itu pada Nabil hingga baru setelah tiga bulan, hal itu baru bisa berhasil Kinal lakukan, namun ternyata hasilnya tak seperti yang Kinal dan Keynal inginkan, ternyata Nabil bisa mengingat kembali kenangannnya yang telah Kinal hapus hanya dalam kurun waktu dibawah dua bulan.


Ditengah lamunannya membayangkan tentang apa yang dirinya lakukkan pada Nabil, tiba - tiba suara smartphone milik Kinal berbunyi tanda panggilan masukk.


"Ya..." Sapa Kinal dengan menjauhi tempat dimana Keynal terbaring lemah.


"Hallo, Dok... Maaf kami tidak berhasil membunuh anak itu, tapi saya berhasil melukai gadis yang selama ini menjadi tujuan den Keynal melakukan semua rencana ini."


"Bagus, pokoknya saya mau, kamu celakai semua orang yang berhubungan baik dengan keluarga Daren, termasuk gadis berengsek yang berkhianat pada kita. Bahkan jika bisa, kamu bunuh mereka semua."


"Baik, Dok!"


Setelah memutuskan panggilannya secara sepihak, Kinal langsung pergi menuju tempat dimana menjadi ruang pribadinya.


...****************...


Sedangkan ditempat lain, terlihat Nabil baru saja tiba di halaman parkir sebuah rumah sakit besar, dengan langsung berteriak memanggil beberapa perawat yang langsung menghampiri Nabil dan membantunya mengeluarkan Naomi yang sedari tadi sudah tak sadarkan diri, bahkan darahnya yang sedari tadi keluar tak berhenti.

__ADS_1


"Maaf, mas... Tolong biarkan kami memeriksa pasien, mas tidak boleh masuk."


Saat sudah sampai di depan pintu ruangan UGD, seorang suster mmenahan Nabil yang ternyatta sedari tadi menangis.


"Tap..."


"Tolong, kami mohon pengertiannya, Mas..." Tegas perawat itu dengan menutup pintu dan membuat Nabil tak bisa melakukan apa - apa. Bertepatan dengan itu, Adzril dan Gaby yang memang sedari tdai mengekori mobil yang Nabil kendarai, kini tiba didepan Nabil dengan wajah yang begitu khawatir menatap Nabil, sedangakn Nabil yang menyadari keduanya, langsung menatapp tajam dan penuh sarat akan emosi pada Gaby yang kini juga menatap Nabil dengan sangat khawatir.


Adzril yang menyadari kemarahan nabil langsung menarik Gaby untuk berlindung di bellakang badan Adzril.


"Dia hanya korban, Bil! Gaby nggak ada niat jahat sama kita dari awal." Tegas adzril yang tiidak sama sekali Nabil perdulikan, yang ada dalam fikirannya kini hanya Gaby penyebab Naomi saat ini harus berada di ruang yang seharusnya menjadi tempatnya dan Nando saat ini.


"Kak..." Gaby tiba - tiba menggeser sedikit badan Adzril agar bisa langsung berhadapan dengan Nabil, karena Gaby tahu, Nabil tidak akan pernah berani menyakitinya. "Nggapapa... Nabil, kalo emang kamu mau aku ikut juga masuk kedalam, silahkan, kalo emang dengan adanya aku didalam bisa buat kita mundur di waktu sebelum aku ketemu sama kamu."


Nabill yang tak bisa lagi menahan emosinya yang sudah tak terbendung lagi, dimana semuanya tak bisa lagi Nabil ungkapkan, tak bisa Nabil eksprissakan dengan semua tenangganya yang tiba - tiba menghilang melihat tatapan tulus Gaby, Akhirnya semuanya hanya membuat Nabil mengeluarkan airmatanya dan tiba - tiba memeluk Gaby begitu erat.


"Kenapa... Hks.... Kenapa Naomi yang sekarang ada disana, Gab... hikks, Kenapa?" Lirih Nabil dengan suara yang terbata karena tangisannya dan rasa sakit dihatinya yang sangat membuatnya kian melemah. Gaby hanya biisa membalas pelukan Nabll dan mengusap lembut punggungnya untuk terus menguatkan Nabil, Adzril yang ada disamping keduanya pun ikiut mengusap lembut bahu Nabil agar terus kuat menghadapi semua cobaan ini untuk kedepannya.


"Adzril..." Sesosok suara yang sangat ketiganya kenal, menyapa indra pendenggaran mereka bertiga dan sukses membuat ketiganya menatap sumber suara dan mendapati Daren, ve dan satu orang yang tak Nabill kenali, tidak Nabil mengenalnya, ya dia yang harusnya sangat membenci Nabil, satu - satunya orang yang harusnya sangat ingin Nabl mati ditangannya, dialah Vino, seorang siswa yang pernah Nabil permalukan dihadapan banyak siswa, dan dengan tanpa berdosanya menarik gadis yang harusnya saat itu sudah menjadi milik Vino, Namun karena ulah Nabil yang sok menjadi pahlawan, Vino tak bisa memiliki gadis itu, bahkan untuk selamnya, Vino tak bisa melihat lagi gadis itu, gadis yang juga menjadi cinta pertama Nabil.


Nabil bahkan kini baru menyadari, bahwa orang yang menolongnya tadi juga ternyata Vino, bahkan hal itulah yang kini memenuhi fikirannya, sebenarnya siapa Vino, dan mengapa Vino sangat melindungi Nabil. Bahkan karena hal itulah Nabil yang sedari tadi menangis menyesali, kini malah berhenti dan lebih penasaran tentang siapa Vino sebenarnya.


"Papah? Pah, gimana keadaan mamah?" Adzril yang teringat tujuannya sebelumnya mencari Nabil untuk apa, kini merasa kembali tak tenang.


"Nggapapa, mamah tadi cuma syok, nggak ada hal serius yang harus kita takuti dari mamah, kalian disini ngapain? Siapa yang ada didalam?" Balas Daren yangkini duduk di sebuah kursi yang sedari tadi kosong tak ada yang menempati diikuti semua orang yang ada disana, Nabil dan adzrli duduk tepat menghadap Daren sedangkan Gaby dan Ve duduk berurutan dari sisi kanan Daren, dan Vino tentu saja duduk disamping adzril yang menjadi penengah antara Nabil dan Vino.


"Bro, tahnks ya... tadi udah nolongin gue, tapi satu yang jadi pertanyaan gue, kenapa loe harus bawa Naomi?" Nabil yang sedari tadi memperhatikan gerak - gerik Vino akhirnya membuka suara, bahkan Nabil sedari tadi memendam sedikit amarah karena kecewa pada Vino. Daren yang tak mendapatkan jawaban apapun kini mengerti ketika Nabil menyebut nama yang sebenarnya tak asing ditelinga Daren.


"Karena yang gue tahu, cuma Naomi yang bisa buat kaliian damai..."


"TOLOL! APA LO LIAT..."


Lagi, sebuah panggilan suara yang belum siiap Nabil dengar dan temui saat ini, terpaksa harus membuat Nabil meredam amarahnya pada Vino yang sebelumnya akan meledak dan mencaci Vino karena kecerobohannya.


"Bunda, Sinka..." Lirih Nabil dengan berdiri dan menghampiri keduanya yang datang dangan wajah penuh ke khawatiran dan emosi.


plak


Sinka dengan kerasnya menampar Nabil yang juga sudah mengira hal ini pasti terjadi, sedangkan wanita pruhbaya yang selama ini Nabil panggil dengan sebutan Bunda hanya bisa menangis dengan raut khawatir.


"Bunda..."


"Gimana keadaan Naomi, Biil?" Potong Bunda Naomi yang membuat mulut Nabil terasa kelu, bahkan Nabil kini bingung, harus menjawab apa.


"Bunda.... bunda tenang dulu, kita du..."


"'Naomi baik - baik aja kan, Bil?" Kembali, Bunda Naomi memaksa Nabil untuk mengatakan kejujuannya.


"Bun, ma... maaf, Nabil nggak bisa jaga Naomi dengan baik..."


Pecahlah sudah tangisan dari wanita yang sedari tadi mencoba berfikir positif, namun jawaban dari Nabil membuatnya tak bisa lagi menahan kuasanya untuk tidak menangis histeris dan langsung memeluk putri bungsunya yang kini massih menatap kecewa dan benci pada Nabil dengan matanya yang sangat tajam, bahkan bibirnya terlihat tak bisa bereaksi apa - apa lagi, hanya matanya yang terus mengeluarkan air.


"Udah gue bilang dari awal, kalo loe nggak bisa, nggak usah lagi deketin kakak Gue!" Tutur Sinka denggan suara yang sangat dingin dan tajam, dan baru kali ini Nabil melihat sosok lain dari seorang gadis yang dulu pernah sangat menccintai Nabil.


"Maafin gue, Sin..." Hanya itulah kata yang bisa keluar dari mulut Nabil yang kini mencoba untuk membawa Bunda Naomi agar dudul di kursi yang masih kosong.


Semua keluarga Nabil yang melihat betapa dekatnya Nabil dengan keluarga Sinka, baru menyadari, ternyata mereka yang menyebutnya keluarga Nabil, ternyata sangat jauh dengan Nabil yang baru mengetahui sosok yang tidak mereka kenal, namun sangat Nabil hormati.


Bahkan daren hanya bisa melihat sedih ketika Nabil berhasil membujuk bunda Naomi agar duduk di kursi sebelah Vino. Sudah sejauh apakah hubungan antara Nabil dengan Naomi? Dan sebaik apakah keluarga Naomi pada Nabil, bahkan Daren juga mengetahui, jika keluarga Naomi lah yang menerima Nabil disaat Nabil tidak berani pulang saat baru keluar dari tempat rehabilitasnya, sebaik dan setulus itukah keluarga Naomi?.


Cklek

__ADS_1


Saat tengah asik bergelut dengan fikirannya, Daren dan orang - orang yanga ada disana terkejut ketiika pintu yang sedari tadi mereka tunggu untuk terbuka, dan kini akhirnya terbuka.


"Keluarga pasien?" Tanya Sang Dokter dengan menatap Daren yang Dokter itu kira Ayah dari Naomi karena lebih dulu maju dibandingkan Bunda Naomi dan Sinka yang Nabil bantu karena sedikit seempoyongan, agar bisa berdiri dan berjalan mendekati sang Dokter.


"Saya, Dok! Saya Ibunya." Ujar Bunda dan langsung membuat sang Dokter langsung menatap sang Dokter dengan harap - harap cemas.


"Begini Bu, pasien yang sedang kita tangani mengalami luka tusuk yang cukkup dalam, tapi untungnya tidak melukai bagian - bagian vital dari organ bagian dalam. dan kabar buruknya, karena bekas luka tusukan pasien cukup besar, membuat pasien mengeluarkan banyak darah dan saat ini pasien membutuhkan Donor darah." Bagaikan sebuah mimpi buruk, hal yang tak pernah Bunda Naomi inginkan pada akhirnya harus terjadi, pasalnya meskipun Naomi anak kandungnya, namun Naomi mmiliki golongan darah yang sama dengan Ayahnya. seedangkan Bunda Naomi hanya memiliki glongan darah yang sama denngan Sinka.


"Glongan darah Kakak sama dengan Ayah, aku sama Bunda nggak sama dengan golongan darah Kakak." Tutur Sinka dengan raut wajah pasrahnya.


"Emang golongan darah Naomi apa?" Tanya Adzril yang berfikir mungkin salah satu diantara mereka ada yang sama dengan Naomi.


"Golongan darah loe, Gue sama papah beda Dzril, Golongan Darah Naomi O, golongan darah paling langka, iyakan, Dok?" Nabil yang sudah mengetahui fakta tentang Naomi juga sama hanya bisa pasrah.


"Golongan darah gue, O... Dok, apa bisa saya menjadi pendonor untuk pasien?" Ujar Gaby tiba - tiba membuat semua mata langsung menatapnya.


"Maaf, tapi anda sedang mengandung, jadi tidak bisa untuk menjadi pendonor, karena resiko nya sangat besar, bukan cuma buat Anda dan bayi anda, tetapi juga pasien tidak bisa menerima pendodnor dari seseorang yang tengah mengandung." Tuttur sang Dokter yang kembali membuuat semua orang tertunnduk lemas.


"Ve?" Gumam Adzril yang teringat golongan darah Ve yang seingatnya mempunyai golongan Darah O.


"Iye... gue tau!" Balas Ve yang kini langsung mendekati dokter dengan wajah datarnya, sebenarnya Veranda masih sangat kessal ketika mengingat bagaimana perkataan Sinka saat pertama kali keduanya berkenalan, namun Ve juga masih mempunyai hati Nurani, terlebih mengingat bagaimana Nabil sangat mencintai Naomi.


"Ehhh, tunggu Dok!" Cegah Adzrl dengan menggenggam pergelangan tangan Ve. Karena sebenarnya, Adzril tidak bermaksud untuk menyuruh Ve mendonorkan Darahnya, dia hanya memanggilnya, namun ternyata Ve salah faham. "Tapi, pacar saya lagi haid, apa boleh?"


""Kalau boleh tau, sekarang udah hari ke berapa?" Tanya Dokter denggan menatap Ve.


"Hari ke tujuh.... mungkin?" Jawab Ve dengan ragu.


"Harusnya hari ke enam, Dok." Balas Adzril dengan yakin, sontak semua mata menatap Aneh pada Adzril, terlebih Daren yang langsung menatap tajam Adzril yang kini malah salah tingkah. "Ehe... saya tahu karena saya yang membelikannya pemba..."


"Dah, diem!" Potong Ve yang juga sedikit malu melihat kelakuan Adzril yang selalu diluar nalar ketika saat - saat genting seperti ini.


"Kita perikas terlebih dahulu, boleh?" Tanya sang dokter yang hanya dibalas anggukan meyakinkan dari Ve yang ingin segera meninggalkan mereka karena tak kuasa menahan malu atas perlakuan Adzril.


'Nak..." Bunda kembali menghentikan langkah Veranda dengan menggenggam tangan kanan Ve dengan kedua tangannya dan menatap Ve dengan sangat terharu.


"Terima kasih."


Veranda yang diperlakukan seperti itu hanya bisa membalas dengan tersenyum dan menumpukan tangan kirinya diatas tangan Bunda, alu dengan pperlahan melepaskannya dan ikut masuk kedalam ruangan yang didalamnya massih ada Naomi yang masih terbaring lemah dengan beberapa alat medis yang tepasang.


"Anjirr... berantem aja jago, bucinnya kagak ketuulungan..." Gumam Vino yang sukses membua Adzrl langung menatap tajam pada Vino.


"Maaf, bunda..." Saat membantu Bunda Naomi untuk kembali duduk, Nabil teringat jika dirinya belum mengenalkan siapa Daren sedari tadi pada Bunda. "Bunda, ini papah Nabil... maaf kalo harus mengenalkan dan mempertemukan bunda dengan papah dalam keadaan seperti ini."


"Daren yang namanya di sebut langsung mengangguk dengan kedua telapak tangan ia templkan di depan dadanya, tanda memberi salam pada Bunda Naomi.


"Mbak bisa panggil saya Daren." Sapa Daren yang mendapat balasan tersenyum dari bunda Naomi.


"Ya, dunia yang memang ternyata sangat sempit, yah." Balas Bunda Naomi yang membuat Daren mengerutkan dahinya, begitupun Sinka dan Nabil, Bunda Naomi berkata seperti itu, berarti Bunda Naomi sudah mengenal atau pernah mengenal Daren jauh sebellum hari ini.


"Maksud bunda?" Tanya Nabil penasaran.


"Mungkin papahmu lupa, tapi Kita pernah satu kampus dulu, ya memang bunda dan papah mu tidak banyak berinteraksi, tapi satu garis besar yang harus papahmu ingat, siapa yang membantu papahmu bisa mengenal Erna saat itu." Tutur Bunda Naomi yang langsung membuat daren mengusap kedua wajahnya ketika mengetahui siapa Bunda Naomi. Dan ternyata kebaikan Bunda Naomi pada Nabil pun mungkin berdasar dari masa lalu Bunda Naomi dan papahnya.


"Bagaimana tuan Daren? Apa anda mengingat saya?" tanya bunda Naomi yang sepertinya mempunyai satu hal penting yang bisa menjungkir balikan kehormatannya didepan kdua pura kembarnya yang saat ini masih penasaran tentang kisah masa muda Ayahnya. "Dan asalkan anda tahu, tuan Daren... Semua yang saya lakukan pada putra anda, itu semua bukan hanya karena putri saya yang sangat mencintai putra anda, tapi semuanya buah dari semua yang kita lakukan semassa kuliah dulu."


Daren yang mendengar hal itu semakin malu dan tak berani menatap bunda Naomi yang Daren ketahui bernama Salsabila, atau Daren dulu sering memanggilnya Kak Bila, beda dari teman - temannya yang lain, yang memanggilnya dengan panggilan Salsa.


"Hey, ngomong lah, tuan..."


tbc

__ADS_1


__ADS_2