Dihamilin Setan!?

Dihamilin Setan!?
Knowhere Illusion


__ADS_3

Berjam - jam mereka berkumpul dan mengobrol di ruang tengah, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul setengah lima sore, setelah terakhir kali mereka hanya dirundungi kesunyian karena sama - sama sibuk dengan pasangannya masing - masing.


"Gab..." panggil Ve pada Gaby yang kini tengah menyandarkan kepalanya pada pundak Nabil.


"Humm?" Jawab Gaby dengan posisi yang masih sama.


"Pulang yuk, belum ganti seragam ini kita dari tadi..." Ajak Ve yang sontak kali ini membuat posisi Gaby berubah dengan menegakan badannya dan maelihta pakaian yang memang masih memakai seragam sekolahnya.


"Yaudah, yuk..." Balas Gaby dengan membereskan barang bawaannya dan memasukan semuanya pada tas.


"Loe nggak bawa celana jeans atau apa gitu yang bisa dipake buat boncengan?" tanya Nabil menatap Gaby yang memakai Bawahan rok panjangnya.


"Nggak, tadikan aku duduknya nyamping..." balas Gaby.


"Loe juga nyamping?" tanya Nabil yang kali ini menatap Ve, sedangkan Ve hanya menatapnya bertanya, ada maslah apa emang.


"Gue nggak bisa baoncengin orang kalo duduknya nyamping. Bentar, kayaknya gue punya Jeans panjang." Ujar Nabil yang kemudian beralu ke lantai dua rumahnya.


"Si Nabil, kalo di fikir - fikir gila juga yah... Rumah gedong gede gini, yang nempatin seorang doang, kagak serem emang kalo malem?" Gumam Key yang masih meneliti setiap sudut rumah yang sangat mewah dan besar, cukup untuk menggambarkan seberapa kaya nya keluarga Nabil.


"Emang dia loe, dikit - dikit takut setan, dikit - dikit nyeremin, dikit - dikit inilah, itulah..." Tutur Ve yang lengsung memberikan tasnya pada Key.


"Yee... takut setan itu manusiawi, Ve..." Elak Key yang sebenarnya malu, cuma mau gimana lagi, orang takut? kan.


"Nih..." Nabil yang baru saja turun dan membawa dua celana Jeans dan langsung di sodorkan pada Ve dan Gaby.


"Pake juga gue?" Tnay Ve dengan menatap Key bertanya.


"Iyalah, kalo loe nggak pake ini mana bisa pelukan loe." Bukan Key, melainkan Nabil yang menjwabnya dan sontak membuat Gaby berfikir keras dan menyipitkan matanya menatap Nabil.


"Jadi sebenernya itu alasan kamu? bukan kerna nggak bisa boncengin orang yang duduknya minggir?" Tanya Gaby dengan mata yang masih mengintimidasi Nabil.


"Yaa... nggak juga, gue emang beneran nggak bisa, agak ngeri aja gitu bawa motornya..." Sanggah Nabil yang hanya di jawab Gaby dengan mengerilingkan matanya.


"Yaudah ini aku pake celananya dimana?" Tanya Gaby dengan raut wajah malasnya.


"Disini aja..."


"Setuju!" Belum selesai Nabil mengucpkan kalimatnya, Key sudah memotongnya dengan wajah sumringah, Ve yang ada di sebelahnya langsung menjewer telinga key.


"Cabul!" Ketus Ve dengan menghentakan lengannya yang menjewer telinga Key dengan cukup kasar.


"Kasar banget dah..." Ringis Key dengan mengusap - usap telingannya yang memerah.


"Nabil!" Sentak Gaby yang sedari tadi mentertawakan Key yang di siksa pacarnya sendiri.


"Itu... tuh disana kamar tamu, kalian pake disana aja, kita nunggu disini." ujar Nabil dengan menunjuk sebuah kamar tamu. sontak Ve dan Gaby pun masuk ke kamar yang Nabil tunjukan.


"***** loe yak?" tanya Nabil dengan menaik - turunkan alisnya menatap Key yang masih meratapi daun telinga malanganya, yang masih sangat memerah.


"Rumah sepi ini Bil, kita berempat doang, kagak ada fikiran apa gitu loe dari tadi di glayutin mulu ama Bebep loe?" tanya Key dengan kembali mendaratkan Bokongnya di sofa belakangnya.


"Gatau kenapa, gue terlalu sayang sama dia, gue cuma mau jaga dia, dari siapapun, termasuk daari diri gue sendiri Key..." Tutur Nabil lirih.


"Perasaan loe tulus bener, Bil? Ya gue sih dukung loe, cuma saran gue, Cara loe jaga dia jangan lo kekang apapun kemauan dia, pasir aja semakin loe pegang erat, dia malah semakin abis makin ilang." tutur Key yang kembali berdiri saat melihat pintu yang sebelumnya di masuki Gaby dan Ve kini terbukakembali.


"Mudah - mudahan ye, sifat posesif gue nggak ada buat Dia..." Ujar Nabil yang langsung mengambil alih tas Gaby.


"Buat siapa?" tanya Gaby yang hanya mendengar kalimat 'buat dia'.


"Siapa apanya?" Tany Ve yang malah tak mendengar apapun dari sebelumnya sehingga mengira Gaby bertanya padanya.


"Apaan sih?" Tanya Gaby yang menatap Ve dengan heran.


"Kesambet loe pada sama penunggu 'ntu kamar? kluar - kluar malah ributin hal yang nggak jelas."


"Yee... aku nanya sama kamu, tadi kamu lagi ngomongin apaan sama Key? buat dia, buat siapa maksudnya?" ujar Gaby menjelaskan dengan mengekor di belkang Nabil yang tengah mengunci pintu.


"Buat loe, lah... siapa lagi?" Jawab Nabil yang kini tengah menyiapkan Motornya.


"Apaan emang?" tanya Gaby kembali yang entah mengapa, kali ini Nabil merasa Gaby begitu ribet, sampe hal nggak guna seperti ini terus ditanyakan pada Nabil.


"Apaan apanya lagi, sayang?"

__ADS_1


blush...


Gaby yang disapa seperti itu, entah mengapa pipinya terasa panas tiba - tiba, kupu - kupu berterbangan dalam perutnya, mungkinkah Gaby benar - benar jatuh cinta pada si troublemaker Sekolahannya.


"Heh! Malah bengong... buruan, keburu ujan ini!"


"Ish... kok bisa aku jatuh cinta sama orang kayak..."


"Apa!?" Tanya Nabill yang sedikit samar mendengar kalimat yang Gaby gumamkan. "Loe ngomong apa?"


"Apaan? aku nggak ngomong apa - apa." Elak Gaby dengan menaiki motor Nabill dan langsung memeluknya dari belakang.


Nabill sedikit tersentak dengan apa yang Gaby lakukan yang entah dengan sadar atau tidaknya yang jelas Nabill merasa hatinya sedikit menghangat. Dengan senyum yang mengembang, Nabill menjalankan motornya dan menyusul Key yang sudah sedari tadi meninggalkan Nabill dan Gaby.


Sesampainya di rumah Gaby, Nabill dan Gaby langsung berlari karena hujan mulai turun sedikit demi sedikit.


"******... masa kecil kurang ketawa..." ledek Key yang langsung di tatap tajam Nabill, sedangkan Gaby hanya acuh dan dengan cepat mengambil handuk yang Ve sodorkan.


"Nih.." Ujar Ve dengan menyodorkan Nabill sebuah kaos polos yang entah milik siapa


"Thanks." Ujar Nabil dengan menerima kaos dari Ve, dan langsung membuka kaos yang sebelumnya ia pakai, melepaskannya didepan Ve dan Gaby tanpa bebean sedikitpun, sedangkan Ve dan Gaby buru - buru memalingkan wajahnya yang memerah setelah tak sengaja melihat Nabill dengan badan berototnya yang bisa dibilang sexy.


"Liat tempat kali..." Gumam Key yang melihat Ve memalingkan mukanya.


"Eh..." Kaget Nabill yang kini sudah kembali memaki lengkap pakaiannya. "Sorry..."


"Kagak... itu aja yang matanya jelalatan.." ujar Key dengan menatap Malas Ve yang kini menunjukan cengiran Bodohnya.


"Udah sih, gue tau perut loe lebih berotot dari Nabill..." Ujar Ve yang kini tengah membereskan handuk basah dan pakain Nabill dan Gaby sebelumnya.


"Loe berdua udah ngapain aja, emang?" tanya Nabill dengan spontan saat Ve mengatakan hal tersebut.


"Loe, apaan sih! fikiran loe mending loe bersihin dulu deh sebelum pacaran sama Gaby, gue jadi ngeri masrahin Gaby sepenuhnya sama loe!" Ujar Ve dengan menatap tajam Nabill. "Loe liat aja tangan Key udah kayak tales bogor gitu, apa nggak bisa loe perkirain gimana ototnya?"


"Yakali... loe udah simulasi bikin an awww..."


Sebelum Nabill menyelesaikan ucapannya, Gaby yang baru selesai mengganti pakainnya dengan kaos yang lebih santai langsung menginjak kaki Nabil dengan wajah tanpa dosa sedikitpun. "perasaan di sekolah, gue deh yang punya julukan suka ngebuli orang?! Kenapa di depan kalian gue jadi bahan bulian terus sih?"


"Lisan mu tuh, jaga!" Ujar Gaby dengan menatap tajam Nabill.


"Ribut, aja ributt! gue gasuka kalian damai!" Ujar Key yang langsung mendapat tatapan tajam Nabil dan Gaby.


"Sakit?" tanya Gaby dengan membantu mengusap kaki Nabil yang sebelumnya ia injak


"Udah nggak apa - apa."


"Hanjir lah... sweet banget sih kalian, gue jadi ngiri anjim..." Gumam Key yang langsung berdiri dan berlalu ke arah dapur untuk mengambil minum.


Tiba - tiba, Handphone Nabil berbunyi dan menampilkan panggilan dari nama 'Mamah' dilayarnya. Nabil mngernyit heran, namun kemudian wajahnya kembali seperti biasa dan mengangkat telpon tersebut.


"Hallo..." Sapa Nabil.


"..."


"Masih dirumah Gaby, ujan soalnya..."


"..."


"Iya udah, tadi bareng sama anak - anak yang lain."


"..."


"Hm"


"..."


"Iya, kumasalam..." tutp Nabill dan menyimpan kembali hanphone nya.


"Apa katanya?" tanya Gaby saat melihat raut wajah Nabill yang kini terlihat malas.


"Nggak apa - apa, gue disuruh cepet pulang." ujar nabil dengan malasnya dan kini menyenderkan punggunya.


"Momsky banget sih.." Ujar Key dengan entengnya.

__ADS_1


"Tau gue juga, katanya sayang, tapi ditinggal jauh mulu, gajelas emang nyokap." ujar Nabill dengan sedikit tertawa hambar.


"Mereka kerja kan buat kamu juga, Bil." Ujar Gaby.


"Entah lah, gue males. cabut ya, gue! udah reda ini ujannya. Key, balik bareng gak?" Pamit Nabil pada Gaby yang berakhir dengan mengajak Key.


"Yaudah, yok." Ujar Key yang keduanya langsung keluar diantar Gaby dan Ve.


"Key, bisa bicara bentar?" tanya Nabil saat keduanya sama - sama duduk di motor yang memang berdekatan.


"Yaudah, loe mau ngomongin apa?" tanya Key biasa saja.


"Cukup penting sih kayaknya, tapi nggak bisa di sini, gimana kalo di taman pertigaan arah rumah loe?" tawar nabil yang diangguki Key, entah sebenarnya Key malas dan ingin segera pulang untuk beristirahat, namun saat menatap Nabil, Key merasa ada sesuatu yang sangat penting dan sebenarnya dirinya juga ada sesuatu yang sangat penting yang ingin ia tanyakan pada Nabil, mungkin ini waktu yang tepat.


Skip


Tak berselang lama, Motor Key dan Nabil sampai di dekat taman yang yang sebelumnya Nabil maksud, namun sebelum sampai Nabil membelokan motornya ke arah sebuah alfamart.


"Katanya di taman?" tanya Key yang juga ikut menepi.


"Duluan, ada yang harus gue beli." Ujar Nabil dan hanya di angguki Key.


Key kembali melajukan motornya sedeikit kedepan dan mendekati sebuah bangku di bawah pohon. setelah turun dari motornya, Key membuka bagasinya dan membwa sebuah lap untuk mengeringkan bangku yang akan ia tempati yang ternyata basah karena hujan sebelumnya.


"Si Nabil mau ngomong apa ya? penting banget kayaknya? apa ini tentang permintaannya yang dulu yak, pas dia minta gue buat deketin Ve?"Batin Key saat tengah mengeringkan bangku yang basah untuk ia duduki.


tak berselang lama, Nabil datang dengan bingkisan yang ia bawa dari alfamart tadi tentunya.


"Cepet amat, rampok loe ya?" tanya Key ngasal. sedangkan Nabil hanya menyinggungkan senyumannya.


"Loe, percaya dunia Knowhere?" tanya Nabil tanpa basa - basi.


"Apaan?" tanya Key yang tak mengerti.


"Semacam dunia antara hidup dan mati ..." Ujar Nabil dengan membuka cemilan yang ia bawa.


"loe, ngajak gue ngomong serius gini cuma buat bahas ginian bil?" tanya Key dengan menatap Nabil tak percaya.


"Loe jawab aja, apa susahnya..."


"Nggak... gue cuma tau kalo Knowhere cuma ada di film Avenger!" Ujar Key dengan mengambil cemilan yang Nabil bawa.


"Knowhwere itu, katanya dunia dimana kita lagi dititik alam bawah sadar kita, dimana nggak semua orang bisa masuk dengan sembarangan, hanya orang - orang tertentu yang disa masuk di dunia ini. Lebih tepatnya seperti dunia ilusi yang tanpa sengaja kita ciptain" Tutur Nabil tanpa menatap Key sama sekali, seolah bertentangan dengan fikirannya, Key tiba - tiba yang awalnya acuh akan penuturan Nabil, tiba - tiba kini ia tertarik akan bahasan Nabil akan dunia Pararel yang ia maksud.


"Loe... siapa loe sebenernya, Bil? gue selalu ngerasa mengenal baik diri loe!" lanjut Key yang entah mengapa dirinya mengatakan hal itu.


"Gue..."


Nabil menggantungkan ucapannya.


"Adzrila putra." Ujar Adzril yang sebelumnya Key mengenal wajah itu dengan Nama Nabil.


"Itu Nama tengah loe, setan." Ujar Key yang masih kekeh jika Nama 'Nabil Adzrilia Putra' adalah satu orang yang sama.


"Loe sangat mengenal baik gue, Key! tapi loe sangat benci terhadap semua sikap gue." tutur Adzril.


"Apa alasan gue, benci sama loe? dan siapa Gue sebenarnya jikague sangat mengenal baik loe, pasti loe pun juga sama, loe sangat mengenal baik diri gue. apa loe tau insiden yang membuat gue berpisah dengan Ve untuk kurun waktu yang cukup..."


"Itu semua skenario dunia ilusi yang gue buat, Key!" potong Adzril yang membuat Key mematung.


"Apasih, loe ngaco Bil!" Bantah Key yng kini hatinya mulai tak karuan.


"Loe, nggak pernah bermusuhan sama Ve, tapi loe pernah bikin satu pertanyaan, gimana jadinya jika loe sama Ve ditengahi sama dendam yang nggak pernah loe bisa pecahkan sendiri, apa loe bisa tanganinya sendiri?" tutur Nabil kembali yang semakin membuat Key merasakan sesuatu pada dirinya, yang kini semakin membaut hatinya berdegup kencang.


"Apa sebenarnya yang loe omongin, Bil? siapa sebenernya loe? siapa Gue? dan siapa Nabil Adzrilia Putra? siapa kita sebenernya?" Tanya Key yang semakin was - was.


"Gue, musuh loe Key! gue orang yang ingin loe bunuh! gue Adzrilia Putra!" Ujar Adzril dengan memaksa Key untuk berdiri dan memegang erat bahu Key yang berakhir dengan teriakan di depan wajah Key.


Tiba - tiba sebuah sinar putih yang sangat menyilaukan membawa keduanya entah kemana, Key menutup matanya atas sinar yang entah darimana asalnya, memaksa masuk kedalam retina matanya.


Dengan perlahan, Key membuka matanya dan betapa terkejutnya Key saat melihat sekelilingnya.


"Gue inget, sekarang!" gumam Key dengan pandangan yang masih kosong.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2