
Disebuah sekolah menengah tingkat Akhir, terlihat seorang siswa yang berpakaian sangat berantakan, baju yang lusuh dan tidak terlalu putih serta kancing atas yang sengaja tak ia pasangkan, mungkin dari penampilannya bisa kita katakan jika dirinya seorang trouble maker sekolah mereka.
Menjadi pusat perhatian, bukanlah hal asing bagi dirinya, meski mereka memandangnya bukan dengan tatapan kagum, atau terpesona akan wajah tampannya, namun bagi dirinya itu sudah menjadi kebanggan baginya. sebut saja namanya Adzril, Adzril Putra. baginya mungkin tiada hari tanpa keributan. Namun sebetulnya, dibalik sikapanya yang sangat menyebalkan itu, Adzril juga hanyalah sebatas manusia biasa, yang masih memiliki hati nurani, tidak semua orang yang ia usili, contohnya saat ini.
"Wets... mati nggak tuh anak orang?" spontan Adzril saat melihat seorang gadis yang terjatuh karena kesusahan membawa beberapa tumpuk buku paket pelajaran. dengan segera Adzril menghampirinya, dengan tanpa sepatah kata, Adzril membantu membereskan buku yang berserakan.
"Lain kali hati - hati kalo jalan, sist..." Pesan Adzril dengan sok akrabnya.
"Thanks, yak..." Bals gadis itu dengan tersenyum.
"Ada yang sakit gak?" tanya Adzril dengan menatap gadis itu, namun hanya di balas dengan gelengan olehnya. "Gue bantu, ya?"
"Bukannya masih jam pelajaran ya ini, koq loe udah diluar?" setelah menerima tawaran azril, gadis yang diketahui bernama Veranda itu bertanya pada Adzril ditengah perjalanan mereka.
"Males gue, pelajaran matematika. bikin pusing." balas Adzril dengan acuhnya. sedangkan Veranda sendiri hanya menggelengkan kepalnya tanda tak percaya akan ucapan Adzril yang begitu santainya.
"King bee, mah bebas ya?" ledek Veranda dengan wajah yang begitu mengesalkan bagi Adzril.
"Pala lu, King bee!" Bantah Adzril dengan tertawa. "Btw, loe anak baru di sekolahan ini?"
"Iya, baru." Ujar Veranda menggantung.
"Berapa lama, pindahan dari mana, rupanya kau?" tanya Adzril dengan logat yang ia buat layaknya logat Medan.
"Baru dua tahun lebih." Balas ve dengan raut konyolnya.
sontak, jawaban Veranda membuat Adzril menatapanya denga tatapan kesal.
__ADS_1
"Gue baru tau, ada orang yang se-wellcome dan se usil loe, sama gue di sekolah ini. gak mungkin loe nggak tau nama gue, kan?" tanya Adzril denga kini raut usilnya ia tunjukan pada Veranda.
"Cihhh... Baru jadi bintang trouble maker aja bangga... gue tau koq siapa loe." Balas Veranda dengan raut wajah tengilnya. "Kenapa gue gak takut sama loe, ya emang kita ada masalah apa? gue tau loe cuma buly orang - orang yang memang harusnya dikasih tau, lah gue ada masalah apa emang, sampe loe mau nyakitin gue?"
"Asli, baru kali ini ada yang ngerti bahasa gue berbicara bukan dari mulut." balas Adzril kagum
"Gue juga heran, kenapa yah kebanyakan anak - anak disini selalu mandang loe dari sisi buruknya, gue tau bahkan mereka juga banyak yang tau, nggak jarang loe berbuat baik sama orang, yang padahal orang itu nggak ada hubungan apa - apa sama, loe." Balas Veranda yang kini berjalan menuju kelas vVeranda yang tentunya sudah ada guru yang menunggu di dalam kelasnya.
"Gak tau, dan gue nggak pernah mau tau, dan juga nggak pernah gue fikirin." balasnya dengan acuh. "Lagian ngapain gue harus pusing mikirin hal yang nggak akan pernah ada untungnya buat gue."
"Emang kelewatan cuek, loe! Tapi bagus sih, loe nggak bakalan banyak masalah kalo fikiran loe selalu kayak gitu." Jawab Veranda.
"Nggak ada manusia yang nggak punya masalah, lagi." Balas Adzril dengan cepat. "Btw... loe..."
Ucap Adzril menggantung yang sukses membuat Veranda mberhenti, dan menatap kearahnya yang tentu membuat Adzril juga berhenti.
"Ngapain gue harus bikin beban fikiran tentang hal yang nggak akan ada untungnya buat gue?" Tanya Veranda saat melanjutkan langkahnya.
"Loe punya pacar, artinya loe jadi atau menjadikan diri loe untuk jadi mengatskan atau diataskan seseorang dari diantara temen - temen loe yang lain. Dan bagi gue, itu sebuah beban yang nggak akan ada untungnya bagi gue, kecuali..." lanjut Veranda yang dengan menggantungkan diakhir kalimatnya.
"Kecuali apaan?" tanya Adzril yang sedari tadi fokus akan perkataan yang menurutnya menarik.
"Ya... kecuali loe yang mau pacaran sama gue." lanjut Veranda yang kini berhenti dan memutar badannya untuk langsung berhadapan dengan Adzril. sontak Adzril pun menatap mata Veranda dangan terheran menatap mata Veranda yang seolah tanpa beban mengatakan hal itu.
"Artinya loe mau ngebebanin gue..." Balas Adzril yang membuat Veranda tersenyum dan mengambil alih sebagian buku yang sebelumnya di bawa Adzril.
"Ini kelas gue. Yaudah sana loe balik, kalo guru di kelas gue liat loe, ntar yang ada loe dipanggil dan disuruh keruang BK..."
__ADS_1
"Gue udah..."
"Iya gue tau loe udah sering keluar masuk sana, tapi kalo sekarang loe masuk sana, ini jadi kali pertamanya gue yang buat loe masuk sana, dan gue gak mau itu jadi alasan loe nyari masalah sama gue, atau gue nyari masalah sama loe." potong Veranda yang membuat Adzril terdiam mentap mata yang sedari tadi santai menatapnya, dibanding siswa yang lain, hanya mata ini yang Membuat Adzril nyaman berdebat dan berbincang dengannya.
"Gue nggak pernah salahin orang lain saat gue masuk ruangan BK, sekalipun itu karena gue ribut sama orang." Balas Adzril dengan sedikit tersenyum.
"Fikirin tawaran gue sebelumnya... gue udah kenal loe sebelum loe tau nama Gue." Ujar Veranda yang langsung meninggalkan Adzril yang kini terheran memikirkan kalimat tawaran Veranda mana yang di maksud.
"Udah buru pergi, ini pintu gue buka, badan lo nggak bakal ngilang kalo diliatin guru di kelas gue." titah Veranda yang membuat Adzril tersadar dan berlalu dari hadapan Veranda yang kini terlihat tersenyum menatap punggung adzril yang mulai menjauh.
Nabil memutuskan dirinya untuk pergi menuju warung yang ada diluar halaman sekolah. ternyata disana tidak ada orang, hanya yang punya warung.
"Bi, bikinin es yang kayak biasa ya..." pesan Adzril setelah duduk di dalam warung agar tak ada petugas sekolah yang melihatnya.
"Siap, Dzril!" Balas si penjaga warung.
Sambil menunggu Adzril mengambil hp yang ada di sakunya dan juga Rokok yang ia simpan disela atas di dagian sisi warung, yang sengaja ia gunakan untuk menyimpan rokoknya agar tak ia bawa masuk sekolah dan tidak ada orang yang mengambilnya begitu saja.
"Bolos lagi?" tanya si penjaga warung saat adzril menyalakan rokoknya.
"Males, Bi. matematika bikin kepala ngebul..." Ujar Adzril dengan tanpa beban.
"Sama lah sama ini, ini juga bikin ngebul kan, tapi kenapa matematika kamu jauhin, tapi ini kamu cari, padahal keduanya sama - sama bikin panas kan, bikin berasap." tanya Bibi si penjaga warung. sontak Adzrilpun melihat rokoknya yang sudah menyala dengan tertegun.
"Entahlah Bi..." Balas ADzril dengan pasrah dan menghisapkembali rokoknya.
"Cobalah hidup sehat, adzril... Kamu sudah dewasa, tentu kamu sudah tau mana yang harus kamu jauhi, dan mana yang harus kamu cari. yasudah, Bibi kebelakang lagi ya." Ujar Bibi si penjaga warung dengan meninggalkan ADzril yang kini memasangkan earphone di telingannya dan mendengarkan musik dengan merenungkan kalimat yang Veranda pertanyakan Tadi.
__ADS_1
TBC