Dihamilin Setan!?

Dihamilin Setan!?
Remember of Today (Naomi Side)


__ADS_3

Setelah merasa lelah dengan kegiatan yang Nabil dan Naomi lalui di kebun Teh, keduanya kini baru sama - sama membersihkan badanya yang tentu saja di dua kamar mandi yang berbeda, Nabil masih menyimpan barang - barangnya di kamar yang sebelumnya dipakai Nando dan juga Aldo, sedangkan Naomi pun sama, masih di kamar yang sedari awal dia sampai kesini sudah ia tempati bersama Cindy.


Naomi yang bingung ingin melakukan apa, akhirnya memutuskan untuk beranjak dari kasurnya menuju balkon kamar dengan sepasang earphone terpasang di kedua telinganya untuk menemaninya melihat langit yang sedikit gelap karena matahari telah tenggelam, namun masih menyisakan pantulan cahaya orange di setiap awan yang menghalanginya.


Saking fokusnya akan keindahan alam di depannya, atau mungkin terhanyut pada lagu yang tengah ia dengarkan, hingga Naomi tidak sama sekali menyadari, ternyata Nabil kini tengah berdiri dengan menopangkan tubuhnya pada dinding dengan tangan melipat didepan dada, dan senyuman manis merekah dibibirnya menatap punggung seorang Gadis yang selama ini sangat ia cintai, bahkan, Nabil mersa tengah dalam mimpi yang tengah melihat seseosok bidadari yang tengah melamun entah memikirkan hal apa hingga membuatnya tak menyadari jika dirinya tengah diiperhatikan dengan intens oleh seseorang dibelakangnya.


Nabil yang iseng pun mnedekati Naomi dengan perlahan dan langsung memeluk Naomi dari belakangnya dan menyimpan dagu Nabil di pundak Naomi yang sebelumnya sedikit tersentak saat tiba - tiba tangan Nabil memeluknya dariu belakang.


"Sayang..." Sapa Naomi dengan memegang tangan kekar Nabil yang melingkar di perutnya.


"Bidadari lagi ngapain ngelamun disini?" Tanya Nabil sedikit berbisik di telinga Naomi yang sudah Nabil lepaskan earphone yang terpasang sebelumnya.


"Jangan bilang, bidiadari lagi mikirin gimana caranya kembali ke khayangan." Lanjut Nabil membuat Naomi semakin tertawa geli mendengar ocehan Nabil yang seolah - olah Naomi memang seorang bidadari yang kini sedang tersesat di bumi.


"Ngapain harus balik ke khayangan, kalo aku sudah nemu rumah yang lebih nyaman dan selalau bisa buat aku bahagia." Timpal Naomi yang masih dengan posisi yang sama. Nabil yang mendengarnya pun tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. Sedangkan Naomi memasangkan earphone yang sebelumnya Nabil lepaskan, kini Naomi pasangkan earphone tersebut pada telinga Nabil, dan mengalun lah sebuah lagu yang tanpa Naomi tahu ternyata itu salah satu lagu favorite Nabil.


"Can I just stay here?


Spend the rest of my days here?


'Cause you make me feel like I've been locked out of heaven


For too long, for too long"


Lantunan indah suara Nabil tepat berbisik di telinga Naomi saat Nabil mengikuti lagu yang tengah sama - sama mereka dengarkan.


"Kenapa kamu dengerin lagu ini, sayang?" Tanya Nabil dengan masih di posisi yang sama.


"Nggak tau, tiba - tiba keputer aja aku lagi dengerin playlist random juga." Jawab Naomi yang masih setia menatap Langit yang semakin meredup dari sebelumnya.


"Sayang, kamu tau gak kenapa senja kali ini terlihat biasa aja?" Tanya Nabil yang kini menempelkan pipinya pada pipi Naomi.


"Aku tau..." Jawab Naomi dengan tersenyum dan mengalihkan tatapannya pada Nabil yang jaraknya sangat dekat dan intens. "Karena senja kali ini insecure sama senyuman bidadarinya NabiL."


"Kalo senja aja insecure sama kamu, dimana lagi aku bisa cari sesosok gadis yang lebih cantik dan lebih sempurna dari kamu, Mi? Bahkan aku berfikir bahwa Tuhan dengan bangganya saat ini sedang memamerkan ciptaan terbaiknya dihadapan aku sekarang ini melalui diri kamu, sayang." Tutur Nabil yang membuat pipi Naomi kini bersemu merah mendengarkan betapa manisnya kata - kata Nabil.


"Mi seandainya suatu saat kita dipaksa untuk melupakan satu sama lain, apa yang akan kamu lakuin?" Tanya Nabil dengan membalikan tubuh Naomi agar berhadapan dengannya, Naomi pun langsung menatap Nabil yang kini memajukan wajahnya dan menempelkan keningnya dan Naomi.


"Kamu maunya aku gimana?" Tanya Naomi yang menatap manik mata Nabil dengan mengalungkan lengannya di leher Nabil.


"Let see, how muach i love you in this time!" Bisik Nabil dengan begitu tulus dan langsung menempelkan kembali bibirnya dengan Naomi, namun kali ini dengan sedikit nafsu Nabil menggerakan bibirnya dan membawa Naomi untuk beranjak dari sana dan membawanya menuju tempat tidur Naomi.


***


"Kak Nando tau soal ini?" Tanya Sinka setelah Naomi menceritakan bagaiman dirinya sangat mencintai Nabil, hingga Naomi memeberikan hidupnya pada Nabil.


"Jangan sampai tahu, kalau Nando sampai tau, semuanya bakal lebih ribet lagi dariini, Sin!" Tanpa mengalihkan pandangannya dari bulan diatasnya, Naomi menggumam yang sangat jelas pasti Sinka mendengarnya.


"Kenapa Kak Nando jangan tau?" Sinka semakin heran menatap Naomi yang kini tersenyum menatap Sinka balik. Dan akhirnya Sinka menyadari satu hal, mana mungkin Naomi menceritakan hal ini pada Nando yang bukan siapa - siapa Naomi, Krena jelas ini sebenarnya sebuah rahasia yang harusnya hanya Naomi, Nabil dan Tuhan saja yang tahu. Bahkan, harusnya Sinka pun tidak perlu tahu mengenai hal ini, sekalipun Sinka sendiri Adik kandung Naomi.


"Lalu kakak mau gimana kedepannya, apa kakak akan terus berusaha buat dapetin kembali Nabil, sedangkan Nabil sendiri sudah menyterah lebih dahulu sebelum mencoba buat berjuang bareng kakak. Dengan Nabil membiarkan Kakak pergi gitu aja setelah Nabil ngehacurin hidup Kakak, itu sudah cukup buat jadi jawaban jika Nabil sudah menyerah di saat itu juga, Kak!" Sinka tau hal ini akan sangat menyakiti Naomi, namun Sinka juga sadar, jika dirinya pura - pura setuju akan keputusan Naomi yang ternyata akan tetap berjuang untuk Nabil, maka hal itu akan semakin membawa Naomi kedalam sebuah jurang ternyata didalamnya hanyalah ada kekosongan dan kehampaan tanpa ada setitik cahayapun untuk membantu menyinari senyuman Naomi.


"Kakak yakin satu hal, disaat waktunya tiba, Nabil tahu kemana di harus pulang, Sin!"


***


Minggu pagi yang sangat cerah, Nabil dan Veranda tengah duduk berhadapan dengan sebuah Tab ditengah - tengah mereka dan sama - sama mereka perhatikan. Ya, keduany tengah memainkan sebuah Game Arcade 1 vs 1, yang entah sejak kapan. Keduanya begitu fokus melihat layar Tab seolah jika keduanya sedikit saja berpaling dari layar itu, maka sudah pasti akan kalah.


"Yelah, Ve... curang banget sih, Loe! Punya gue kapan finishnya ini, loe injekin mulu..." Nabil menghela nafas lelahnya ketika lagi - lagi bidak miliknya mundur kembali ke tempat awal dan harus mendapatkan dadu dengan enam titik kembali agar Nabil bisa mengeluarkan bidak - bidak miliknya yang kini tak ada satupun bidaknya yang berada di luar untuk mencapai garis finish.


"Itu namanya skill dan trick, Bil..." Dengan tersenyum mengejek, Veranda menatap Nabil dengan wajah kusutnya. Nabil kemabali pasrah yang sudah pasti dirinya akan kalah lagi di putaran kali ini.


"Skal skil, lukata ini lagi main sulap pake trick segala macem!" Gumam Nabil yang sontak membuat Veranda tertawa karea Dadu yang keluar bukan angka enam. "Udahan ah, merasa dibodoh - bodohi gue maen begituan, apaan coba kagak jelas."

__ADS_1


Nabil berdiri dengan wajah kesalnya yang ketika dirinya berbalik ternyata Gaby tengah menyilangkan tangannya di depan dada, menatap Nabil dengan raut wajah yang bingung.


"Kamu kenapa?" Tanya Gaby yang sontak membuat Nabil menatap malas pada Gaby.


"Gapapa..." Singkat Nabil yang langsung berlalu dari hadapan Gaby yang semakin heran menatap Nabil yang terlihat Aneh dimatanya.


"Urusin sanah Gab, suami loe! Kalah maen game aja pundung." Suara Ve dengan masih sedikit tertawa membuat Gaby kini menatap Ve dengan wajahnya yang memerah karena terus - terusan dibuat tertawa oleh tingkah Nabil.


"Astaga... masih pagi, ada - ada aja kelakuannya." Dengan raut wajah lelah, Gaby pun mengikuti perintah Ve dan menyusul Nabil yang ternyata kini tengah menonton tivi ditemani Adzril.


"Nabil, Kak! Kalian pada sarapan dulu, gih!" Suara Gaby membuat kedua saudara kembar itu melirik pada siempunya suara yang kini berdiri dibelakang sofa yang Nabil dan Adzril duduki.


"Nanti aja, gue sama Adzril mau makan diluar." Ujar Nabil dengan menatapa Gaby dengan memutarkan kepalanya menatap ke atas.


"Adzril..." Kembali, sebuah suara membuat kedua saudara kembar menengok kearah pintu dan mendapati Veranda bersama seorang lelaki yang mungkin Nabil tidak mengenalnya, namun Adzril mengenal baik orang yang kini bersama Veranda.


"Loe lagi bikin ulah apa lagi, hm?" lanjut Ve menatap Adzril dengan kata - kata yang sangat mengintimidasi.


"Apaan sih, loe ngapain kesini Vin?" Kini Adzril beranjak dari duduknya dan mengajak Vino untuk duduk di sofa yang di khususkan untuk menerima tamu.


"Lah, Vino sendiri yang bilang ada urusan sama, Loe!" Ve masih kekeh ingin mengetahui apa yang tengah Adzril rencanakan, Karena Veranda sendiri tahu siapa Vino, dan apa yang sering Vino lakukan ketika memiliki kerjaan dari Adzril.


"Yaudah loe sini ikut duduk, biar tau Vino ada urusan apa sama Gue! Ribet banget emang singa kalo lagi zona merah." Ujar Adzril dengan bergumam diakhir kalimatnya, namun tetap saja Ve bisa mendengarnya hingga membuatnya menatap Adzril dengan tajam.


"Awet, yah Loe! Udah sampe mana nih?" Tanya Vino basa - basi, melihat kebersamaan Ve dan Adzril yang memang lebih kearah pasangan toxic, jarang sekali melihat keduanya sama - sama bersikap manis di depan publik.


"Bentar lagi juga kita nikah, Vin... tunggu aja undangannya." Ujar Adzril yang sontak membuat Ve memukul keras bagian lengan atas Adzril.


"Awww..."


Ngilu, itulah yang sekarang Adzril rasakan di bagian lengan yang bekas Ve sebelumnya pukul.


"Halah, lebay, gitu aja..." Nyinyir Ve dengan menatap malas pada Adzril.


"Gue sih berharap liat kalian tinju diatas Ring, Gitu... seru kali ya?" Vino sedikit tertawa menatap bagaimana interaksi kedua pasangan dihadapannya, yang memang tidak pernah berubah.


"Loe sebenernya kesini mau ngapain? Perasaan gue udah bayar semuanya deh sama loe, Vin." Adzril yang masih penasaran tujuan Vino pun saat itu membuat Vino tersadar.


"Oiya, gue kesini sih mau ketemu Pak Daren, Dzril...."


"Yah, Vin... ada apa lagi sih ini sama keluarga gue, baru juga gue bisa ketawa - tawa sama adek gue yang baru sadar." Wajah Adzril langsung berubah setelah mendengar Vino memiliki urusan dengan Ayahnya, yang sudah pasti Ayahnya tengah mencari sebuah informasi. Sedangkan Veranda kini hanya bisa mengelus pundak Adzril dan langsung beranjak untuk duduk bersama Nabil dan Gaby yang masih asik menonton tivi.


"Semakin banyak cobaan, tandanya Tuhan semakin sayang sam a Kalian, Dzril." Vino tersenyum menatap Adzril seolah membenarkan fikiran negativ Adzril saat ini.


"Kenapa lagi, Vin? Apa yang lagi papah cari tahu?" Adzril semakin merasa was - was apa lagi yang akan terjadi pada keluarganya.


"Sorry banget gue, Dzril... perjanjiannya gue sama bokap loe doang." Ujar Vino yang membuat Adzril semakin merasakan hal pahit akan segera terjadi.


"Yaudah, sini ikut gue..." Adzril beranjak mengantarkan Vino ke ruangan rahasia Daren.


"Kemana, Dzril?" Tanya Nabil saat melihat Adril membawa Vino menuju lantai dua.


"Keruangan papah..." Nabil hanya mengangguki tanpa bertanya lebih jauh lagi, karena Nabil masih merahasiakan tentang ingatannya pada keluarganya keculi Adzril.


"Siapa, itu?" Tanya Gaby yang sebelumnya menyadari orang yang Adzril bawa sedikit melirik pada Gaby dengan pandangan yang menurut Gaby tak biasa.


"Namanya Vino, temen Adzril dikampusnya." Ve menjawab sekaligus meyakinkan Nabil, agar Nabil tak berfikir negatif, yang padahal Nabil tahu siapa Vino.


"Ohhh..." Gaby seolah tak mau ambil pusing memikirkan siapa Vino.


Sedangkan setelah sampai didepan pintu ruangan pribadi ayahnya, Adzril masih menahan untuk membuka pintunya.


"Satu nama aja, Vin..." Pinta Adzril yang masih kekeh ingin mengetahui, siapa orang yang tengah Vino selididki kali ini.

__ADS_1


"Aduh, gue masih sayang nyawa gue, Dzril..." Tanpa memberitahu maksud perkataan Vino, jelas Adzril tahu apa yang Vino maksud. "Ini sedikit berat, Dzril!"


Kini Adzril semakin yakin, kali ini akan menyangkut semua keluarganya, bahkan mungkin termasuk pasangan Adzril dan Nabil, Gaby dan Veranda.


"Stay strong, Bro!" Vino menepuk pelan bahu Adzril, dan Adzrilpun membukakan pintu ruang pribadi Daren yang ternyata, Daren sendiri sudah menunggu kedatangan Vino disana.


"Kamu mau kemana?" Tanya Daren melihat Adzril yang hendak beranjak."Sini, biar kamu tahu, papah gak mau kamu curigain terus."


Dengan senang hati, Adzril pun langsung masuk dan duduk di hadapan Daren dengan tersenyum menatap Daren.


"Vin, gimana, apa kabar yang kamu dapat?" Tanya Daren langsung pada intinya.


"Pak Daren yakin ini mau saya gamblangin di depan Adzril?" Tanya Vino Balik, Adzril sekarang merasa semakin berdebar hebat dalam hatinya. Namun, dengan sangat yaki, Darin mengangguki pertanyaan Vino.


"Gabriella Chintya, Gadis yang lahir pada..."


"Tunggua! Maks..."


"Kamu mau tetap disini apa keluar?" Sebeleum Adzril menyelesaikan ucapannya, Daren lebih dulu memberi Adzril ultimatum yang langsung membuat Adzril bungkam saat itu juga.


"Gabriela Chintya, atau yang sekarang berganti nama dan akta menjadi Gaby Sinthya, Gadis yang lahir pada 14 Desember sekitar kurang lebih 17 tahun yang lalu, dari rahim seorang ibu bernama Zaskia Chintya Putri, yang kemudian meninggal dua tahun setelah Gaby lahir karena kecelakaan Mobil dengan kondisi rem blong dan menabrak trotoar jalan." Vino sengaja menjeda kalimat selanjutnya yang akan ia ucapkan, melihat bagaimana reaksi Daren saat menyebutkan nama asli mendiang wanita yang telah melahirkan gadis yang kini tinggal dirumahnya sebagai calon menanntunya, sedangkan Adzril kini merasa heran, menata[ Daren yenga sedikit terkejut di beberapa kalimat yang Vino ucapkan.


"Lanjutkan..." Titah Daren yang sebenarnya tahu ini akan berakhir dengan kemarahan Adzril.


"Tidak ada, Pak... saya tidak mungkin membuat keributan antara ayah dan anak. dan itu semua saya serahkan pada pak Daren." Vino tak mau ambil resiko, jika menjelaskan lebih detai lagi, kemungkan dihadapannya saat Adzril akan langsung berubah menjadi seekor singa ganas yang siap menerkam siapa saja yang ia lihat.


"Dih, kagak jelas! Eh, Vin! Gue yakin, papah nggak mungkin ngasih loe duit sedikit."


"Adzril... kamu, berfikir gak siapa Ayah Gaby? Kenapa Vino cuma nyebutin nama Ibunya Gaby?" Tanya Daren yang sekarang sudah pasrah, dan inilah sebenarnya sisi gelap dari seorang pria yang selama ini Nabil dan Adzril sangat hormati.


"Ya makanya, Terusin Vin... gue pengen tahu siapa bokap Gaby!" Adzril masih bingung, sedangkan Daren kini mulai merasa frustasi akan kenyataan seperti ini.


"Nabil dan Gaby nggak bisa menikah, Dzril!" Daren kembali membuat Adzril semakin bingung hingga semua kemungkinan - kemungkinan dalam fikiranya kini mulai beradu dan akhirnya, satu kemungkinan kuat hinggap di fikiran Adzril, satu alasan kuat yang tidak memperbolehkan Nabil dan Gaby menikah.


"Gaby, dan Nabil, adalah gambaran Zaskia dan Daren... keduanya mengalami satu hal buruk yang sama, Dzril. Hanya saja, Nabil lebih bijak untuk menerima Gaby disini." Satu kalimat penuh yang Vino ucapkan cukup untuk membuat sekor singa lapar terbangun dari tidur panjangnya, dan kini, siap menerkam siapapun yang ia lihat.


"Kenapa, Pah?" Suara dengan Nada dingin dan tajam keluar dari mulut Adzril dengan rahang yang mulai mengerang.


"Jika membunuh papah bisa menebus semua dosa papah pada mamah kamu dimasa lalu, silahkan, nak!" Daren kini mulai pasarah akan apa yang akan Adzril lakukan padanya saat ini.


"Sadar, Dzril... Bliau salah satu kebahagiaan loe selama ini, gue tau ini berat, tapi nggak ada yang bisa kita lakuin lagi saat ini." Vino yang sebenarnya merasa Gentar dengan tatapan tajam Adzril, tetap berusaha meredam amarah Adzril yang sebenarnya mustahil tanpa adanya Ve diantara mereka.


"Apa papah siap melihat mamah terluka?" Tanya Adzril masih dengan nada yang dingin dan tajam.


"Apa papah bisa mengubah masa lalu papah?" Tanya Dare balik yang sukses membuat Adzril kini sedikit bungkam.


"Apa papah bisa mengubah dimana sebelum Nabil koma, papah akan menjemput Nabil dari tempat rehabilitasnya, agar Nabil bisa langsung pulang dan bisa selalu kita jaga? Apa ada sesuatu yang bisa papah lakuin untuk mengubah segalanya?" Lanjut Daren yang semakin membuat Adzril bungkam, ya tentu saja Adzril kini berfikir, tak ada satupun kenyataan yang kini tengah menimpa keluarganya.


"Lalu sekarang bagaimana dengan Gaby, Pah? Apa papah akan membuang Gaby begitu saja sama seperti yang papah lakuin pada almarhum mamahnya Gaby?" Adzril yang kini sedikit tenang mulai berfikir jernih, karna yang berhadapannya Kini adalah orang kedua yang selalu bisa membantah argumen Adzril setelah Veranda.


"Papah tentu akan menanggung semua tentang Gaby dan bayi yang ada dalam kandungannya, sampai tumbuh dewasa, begitupun dengan Gaby yang akan papah rawat, tapi pertanyaannya apa mamah siap mengetahui hal ini, apa Nabil siap merasakan sesal yang mungkin sampai seumur hidupnya karena menghamili saudaranya sendiri?" Tanya Daren yang juga menjadi pertanyaan yang berputar dalam ingatannya kali ini.


"Vin, loe nikahin Gaby, Gih!" Dengan entengnya, di suasana tegang seperti ini, Adzril masih sempat - sempatnya mengucapkan kalimat gila yang tentu saja akan Vino tolak mentah - mentah.


"Siapa yang hamilin, siapa yang tanggung jawab, lagian kalian kenapa repot banget sih, emang kalian yakin itu bayinya Nabil? Kalian aja nggak tahu siapa Keynal, siapa keluarganya, dan apa aja yang udah Gaby laluin untuk bisa mengandung yang 'katanya' Anak Nabil." Ucapan Vino membuat Daren dan Adzril sama - sama menatap tajam pada Vino. apa maksudnya.


"Fikir pake logika, koma tiga bulan, dan selama tiga bulan ini Gaby kemana? kenapa Gaby tiba - tiba muncul dihadapan Kalian dengan menagtakan itu bayi Nabil, dengan segala cerita konyolnya tentang duni mimpi, dan Keynal, Kenapa cuma Nabil yang amnesia, sedangkan kedunya sama - sama di keroyok oleh orang yang sama. Apa kalian tahu, siapa Dokter yang selama ini merawat Keynal dan Nabil saat di rumah sakit ketika Koma? Apa nama Keynal dan Kinal kurang jelas menjadikan sebuah bukti antara hubungan ibu dan anak?"


Degh...


Adzril dan Daren sama sama saling menatap kaget mendengar semua penuturan Vino yang sukses membuat Daren dan Adzril berfikir ulang tentang semua kejadian sebelum Gaby datang ditengah - tengah keluarga mereka.


"Maksud kau, Gaby punya rencana untuk menghancurkan keluarga ini melalui siasat yang Key bentuk?" Tanya Daren yang membuat Vino tersenyum.

__ADS_1


"Gaby mungkin belum mengetahui tentang masa lalu om Daren, sebenarnya disini masalah utamanya sangat simple, hanya saja yang kalian lawan ini Keynal, bocah berumur tanggung yang merasa sakit hati karena wanita pujaannya malah jatuh cint sama Nabil. Dan apa kalian yakin, bahwa Nando lah yang membuat Nabil sekarat?"


TBC


__ADS_2