
"Iya, tadi kelas terakhir gue gak ada guru masuk, pas beberapa menit sebelum bel pulang, gue pada udah keluar dari kelas." ujar Key dengan memberikan Helmnya pada Ve.
"Yaudah, Gue nunggu di gerbang, sekalian mau nyamperin Bu Erna!" Ujar Ve yang diangguki Key. Tentu saja hal itu membuat mata anak laki - laki yang sebelumnya ketakutan melihat Ve yang tiba - tiba datang dengan kata - kata yang menggertak.
"Ke... Key.... Dia kesambet ya?" tanya salah satu teman key yang sedari tadi ketakutan melihat Ve.
"Gue aduin, mampus loe! hahaha..." Ujar Key dengan diakhiri dengan tertawa karena melihat wajah ketakutan temannya "Pacar gue loe bilang kesambet!"
Tepat kali ini wajah cengo yang Key lihat dari teman - temannya.
Tak berselang beberapa menit berlalu, kini Ve, Key, Gaby dan Bu Erna telah sampai di depan sebuah rumah bergaya elit, tidak terlalu megah namun nampak nyaman untuk di tinggali.
"Kalian yakin ini rumahnya?" Tanya Bu Erna dengan ragu dan mengintari setiap penjuru teras depan rumah yang mereka yakini ditinggali oleh Nabil.
"Kalo dari posisi di Google maps, sih disini, Bu." Balas Gaby dengan mengecek kembali hpnya.
"Yaudah, biar nggak penasaran, biar Key yang mastiin, Bu." Usul Key yang langsung beranjak untuk memencet bel.
Sekali dua kali, tidak ada respon apa - apa dari balik pintu yang belnya Key tekan, hingga lama kelamaan, Key yang entah tiba - tiba jengkel, memencet Bel nya dengan penuh nafsu.
"Iya... sabar!" setelah beberapa kali, akhirnya terdengar sebuah suara dari balik pintu bercat putih, namun bukannya berhenti, Key malah semakin gemas memencet belnya.
"IYE BANGSAT, SEBENTAR!"
Sebuah terikan menyambut mereka, Key yang menjadi tersangka kini tertawa puas.
"Nah, kalo jawabnya begini, Key yakin kalo ini rumahnya Nabil." Ujar Key yang bertepatan dengan terbukanya pintu dan menampilkan seraut wajah jengkel seorang Nabil yang menatap tajam pada Key.
"Loh... Kepalamu kenapa?" Gaby tiba - tiba menghampiri Gaby dan menanyakan atas perban yang berada di kepalanya.
"Engh... ini..." Ucapan Nabil mulai gelagapan untuk mencari alasan yang mungkin akan langsung mereka percayai.
"Ini apa?" tanya Gaby dengan raut dan suara yang semakin khawatir.
"Tadi gue pas di rumah sakit sedikit ada masalah sama tangga, heheh..." Balas Nabil dengan diakhiri cengiran bodohnya. "Eh, Masa mau disini, masuk masuk."
Sebelum Gaby menanyakan ke hal yang lebih memojokannya, Nabil mengalihkannya dengan mengajak mereka masuk. dan sebelum Bu Erna masuk, Nabil menyalami tangan Bu Erna dengan penuh hormatnya, mungkin yang dilihat Gaby dan yang lainnya, itu hal biasa dilakukan seorang murid pada guru sekaligus wali kelasnya.
"Ehh, Adzril. Ibu boleh pinjam kamar mandi mu?" Tanya Bu Erna setelah Gaby dan yang lainnya duduk.
"Boleh, mari saya antar." Ujar Nabil dengan menunjukan jalan menuju kamar mandi yang berada di kamarnya di lantai atas.
"Bentar yak." Pamit Nabil pada ketiga temannya.
"Kakakmu dimana?" tanya Bu Erna tiba - tiba saat keduanya sudah di depan kamar Nabil.
"Lagi tidur paling di kamar." Balas Nabil dengan membukakan pintu kamarnya.
"Mana kamar kakakmu? Bunda mau bicara." Ujar Bu Erna dengan menatap Nabil yang kembali menutup pintu kamarnya, dan menghampiri kamar yang ada di sebelahnya.
tok... tok... tok...
Nabil mengetuk kamar yang bertuliskan Adzrilia Putra.
"Masuk aja, kagak gue kunci." Balas suara dari dalam tidak terlalu keras namun cukup di dengar.
"Yaudah, Nabil kebawah lagi, bun!" Pamit Nabil yang hanya diangguki oleh bu Erna.
Bu Erna pun masuk ke kamar Adzril yang terlihat tengah meminum sesuatu, Bu Erna yang melihat hal tersebut hanya tersenyum miris melihat Adzril yang kini juga melihat bu Erna dengan tatapan malasnya.
"Masih?" Tanya Bu Erna dengan nada yang sepertinya frustasi.
"Hmm..." Balas Adzril dengan acuh dan kembali meneruskan kegiatannya.
"Kalian udah makan?" tanya Bu Erna yang kembali hanya di angguki Adzril.
"Langsung ke intinya aja, saya sedang sibuk." Ujar Adzril dengan tatapan yang terus fokus pada layar komputer di depannya.
"Pulanglah..."
Di ruang tamu
__ADS_1
"Nabil! Serius, ini kepalamu kenapa?" Tanya Gaby yang kini pundaknya menjadi tumpuan kepala Nabil.
"Kagak kenapa - napa, elah... cuman tadi kebentur aja kena tangga, gue ketabrak sama orang di rumah sakit, tadi... kata dokter juga ini cuma luka kecil doang nggak ada luka yang serius..."
"Iya udah sih, Gab! lebay amat baru perban segitu doang... nggak ada apa - apanya buat dia, diakan reman." Ujar Ve dengan mealas melihat kemesraan keduanya, sedangkan dirinya sedikit malu untuk menunjukan kemesraannya pada Key.
"Reman juga manusia, bisa ngerasaain sakit, bisa juga jatuh cinta, ya kan Key?" balas Gaby dengan mata mengejek pada Ve.
"Semenjak pacaran sama Nabil, nianak makin songong prasaan, jangan jangan loe pelet dia, Yak?" Ujar Ve dengan nada yang kesal dan menyelidik, menatap mata Nabil yang tentu saja itu hanya bercanda.
"Sembarangan loe kalo ngomong..." sangkal Nabil dengan kini duduk tegak dan beranjak menuju dapur.
"Heh! Mau kemana loe?" Tanya Ve dengan sedikit menyentakan kata - katanya.
"Loe pada gak haus apa? dari tadi ngebacot mulu." ujar Nabil dengan menuangkan sebuah minuman dalam botol ke beberapa gelas yang sebelumnya ia siapkan.
"Dari tadi, kek! Kagak pekaan amat." Kini Key yang menggerutu.
"Oiya, loe pada mau makan gak?" Tanya Nabil dengan melirik meja yang sebelum teman - temannya datang, Nabil sudah menghidangkan beberapa makanan.
"Nanti aja gampang..." Ujar Gaby yang membantu Nabil menata minumannya diatas meja.
"Bu Erna lama amat ya..." Gumam Ve yang menyadari jika sedari tadi bu Erna belum kembali dari kamar mandi.
"Biarin ajalah, lagi nyelem di kloset kali..."
"Hus.. Nabil!" gertak Gaby yang hanya dibalas cengiran bodoh Nabil.
"Oiya, bokap-nyokap loe kemana? perasaan sepi amat dari tadi?" tanya Key yang tanpa ketiganya sadari, ternyata pertanyaan itu membuat Nabil sedikit bingung untuk menjawabnya.
"A...ada koq, cuman mereka jarang di rumah, kebetulan lagi dapet ship kerja di luar kota." Balas Nabil dengan mencoba sebiasa mungkin.
"Bokap - nyokap loe yang sering ngehadirin panggilan BK, kan?" tanya Ve kini.
"Bukan, bliau saudaranya nyokap... kadang gue bayar orang buat pura - pura jadi wakil gue." Balas Nabil yang kini tengah menatap kosong pada minuman di depannya.
"Tapi, papah sama mamah kamu tau, kalo kamu sering dapet panggilan merah ke sekolah?" kini Gaby yang juga Kepo tentang siapa Nabil sebenarnya.
"Kamu, kalo lagi ada masalah, bisa cerita ke kita." Ujar Gaby dengan menyenderkan kepalanya di pundak Nabil yang masih duduk dengan tegak dan menatap jus di depannya.
"Nabil, nanti kamu anterin Gaby yah, ibu ada urusan menadak." Ujar Bu Erna yag etah sejak kapan berada di belkang mereka. Nabil hanya mengangguk mengerti menanggapinya.
"Anak - anak... kalian jangan terlalu lama yah mainnya, kalian belum pada ganti seragam, nanti orang tua kalian pada khawatir. ibu duluan yah." Pamit bu Ernadengan menyalami Key, Gaby dan Ve, sedangkan Nabil mengantar sang wali kelas sampai depan halaman rumahnya.
"Kamu baik - baik, yah sama kakak..." Ujar Bu Erna sedikit berbisik, dan lagi hanya dijawab dengan anggukan dan diakhiri dengan menyalami dan mencium tangan sang wali kelas.
"Dia kesini cuma mau numpang ke toilet doang?" Benak Key dengan bingung. "Ada yang nggak beres nih sama mereka..."
"Sayang!" Tiba - tiba, Ve menepuk pundak Key yang kini terlihat kaget karena sedari tadi melamun.
"Hah?" kaget Key.
"Baru, kalo gue panggil sayang nengok! loe mikirin paan?" gerutu Ve yang kini beranjak mengikuti Nabil dan Gaby menuju meja makan.
"Nanti gue cerita." Ujar Key yang hanya diangguki Ve.
"Gila, ini loe beli?"Tanya Ve yang melihat beberapa menu makanan.
"Hmmh... sesepesial apaan emang loe pada sampe gue beliin makanan sebanyak ini, bikinan gue sendiri ini..."
"WHAT!?" kaget ketiganya yang reflek menatap Nabil dengan penuh selidik.
"Biasa aja loe pada... Kan gue udah bilang, gue sering di tinggal sama bonyok gue, gue gak mau nyewa ART, bikin ribet. mending gue belajar masak, enak gak enak gue sendiri juga yang makan." ujar Nabil santai, sontak ketiganya pun terlihat ragu untuk mengambil lauk di depannya yang sepertinya terlihat sangat enak, namun kata - kata Nabil barusan mengubah persepsi mereka atas makanan Nabil.
"Hahahah.... kagak gue racun ini makanan, takut amat loe pada, nih yak, liat nih gue makan." Ujar Nabil dengan memakan makanannya. "Tenang aja, gue emang nggak jago masak, tapi masakan gue nggak buruk - buruk amat koq, masih bisa lah diterima sama lidah lidah kita."
Gaby yang terlihat ragu, namun dengan pasti mencicipi makanan di depannya, niatnya hanya untuk menghargai usaha Nabil yang telah susah payah menyiapkan makanan begitu banyak. namun ekspresi wajahnya tiba tiba sedikit adsurd dan kembali seperti biasanya.
Ve yang melihat raut Gaby semakin ragu dan menyikut lengan Key dan memberi isyarat untuk mencicipinya. dengan ragu juga, Key mulai mencicipi masakan Nabil. awalnya Key terlihat sangat ketakutan, namun setelah makanannya masuk seutuhnya kedalam mulut Key, ekspresinya pun kini terlihat kaget, dengan Cepat Ve mendekatkan air putih kedepan Key.
"Serius ini masakan loe?" tanya Key tiba - tiba.
__ADS_1
"Tuh, kuwalinya aja belom gue cuci..." Ujar Nabil dengan tersenyum puas melihat Key yang mulai antusias mengambil lauk di depannya.
"Asli, ini enak... bangsat gue kira manusia doang yang bisa masak, setan kayak loe juga bisa ternyata." Ujar Key yang membuat nabil bingung, antara Key memuji atau menghujatnya.
Akhirnya Ve mau untuk mencicipi masakan Nabil, dan ternyata memang benara apa yang Key katakan, masakan Nabil memang sangat enak, bahkan tidak akan ada yang menduga jika ini masakan Nabil jika dilihat dari sisi buruknya Nabil.
"Dulu pas masih kelas lima SD gue sering recokin Nyokap kalo lagi masak, namun lam kelamaan gue malah lebih seneng bantuin bliau masak... dan pas masuk SMP gue udah bisa masak masakan yang ringan, kaya telur dadar, nasi goreng ya... yang kayak gitu - gitu dah... lama kelamaan gue eksperimen sendiri bikin masakan - masakan yang lain..." Ucap Nabil menggantung dan meminum airnya.
"Awalnya gue di bantu nyokap tiap mau eksperimen masak sendiri, di kasih saran ini itu, dan inilah hasilnya." Tutup Nabil.
Tanpa keempatnya sadari, ternyata sedari awal mereka makan bersama, Adzril melihat dan mendengar semua yang mereka lakukan, Adzril hanya menyinggungkan senyumannya ketika Ve dan Nabil saling memojokan satu sama lain. Namun detik berikutnya senyuman yang sebelumnya menghiasi raut wajah Adzril, kini lenyap dengan kembalinya wajah datar Adzril.
"Loe dan gue, itu satu! Siapapun, bahkan mautpun nggak akan pernah bisa pisahin antara gue sama loe... selamanya gue akan selalu sama, sama Loe... karena loe adalah diri gue yang utuh, Nabil!" Benak Nabil dengan menatap tajam sang adik.
Setelah puas memandangi keempat orang itu, Nabil berbalik dan hendak kembali ke kamarnya, namun secara kebetulan Key yang memang tengah menyusuri setiap penjuru ruangan rumah Nabil, melihat sekelebat bayangan yang terpantul ke pagar pembatas lantai dua rumah Nabil. sontak Key pus sedikit mengerutkan keningnya.
"Bil, loe punya sodara?" Tanya Key tiba - tiba, sontak Nabil pun bingung atas pertanyaan tiba - tiba tersebut.
"Ada, tadi pagi kan gue ke rumah sakit gara - gara sodara gue, ya maksdunya ponakan..."
"Nggak maksud gue, sodara kembar, adik atau kakak gitu?" Potong Key yang kini benar benar Nabil kelabakan untuk menjawabnya.
"Gu... gue... eng...."
Sebelum melanjutakan ucapannya, suara hp yang entah sejak kapan ada di dalam saku celana Nabil berdering menandakan panggilan masuk.
"Bentar ya..." Pamit Nabil yang sedikit menjauh dari ketiga temannya untuk mengangkat telponnya.
"Ya..." sapa Nabil.
"Bilang nggak, dan bilang yang telpon loe guru pembimbing loe." ucap orang itu yang tak lain ternyata Adzril.
"Oh, iya udah kalo gitu, pak. makasih infonya." Ujar Nabil dengan sedikit membesarkan suaranya, dan menutup telponnya dan kembali menghampiri ketiga temannya.
"Siapa?" tanya Gaby saat nabil kemblai duduk di sampingnya.
"Guru les gue, katanya hari ini nggak bisa ngajar, anaknya lagi sakit." Ujar Nabil dengan menyimpan kembali hpnya diatas Meja.
"Oiya, tadi apa Key?" tanya Nabil dengan santai.
"Loe punya saudara kandung? atau kembaran gitu." ujar Key dengan serius menatap Nabil.
"Setau gue sih nggak ada." Ujar Nabil dengan santai membalas tatapan Key.
"Maksudnya 'setau gue' ?" lanjut Key masih belum puas mengulik sisi lain dari seoran Nabil.
"Ya... maksud gue, nyokap cuma punya satu anak, yaitu cuma gue... kalopun ada dan udah meninggal mungkin gue bakal dikasi tau, tapi selama gue hidup nggak ada tuh tanda - tanda gue punya kakak, atau kembaran atau semacamnya gitu." tutur Nabil dengan santai, dan Key yang sedikit kurang mempercayainya hanya menganggukinya.
"Kenapa loe pada jadi kayak introgasi gue, seolah gue ini buronan yang nggak di ketahui identitasnya?" lanjut Nabil yang kini tersadar atas semua pertanyaan Key dari awal yang terus menanyakan sisi Nabil dari sisi yang lain.
"Jujur..." ucap Gaby menggantung dengan membawa Nabil untuk menatapnya.
"Nabil yang pertama kali bilang suka sama aku di kelas, aku ngerasa berbeda sama Nabil yang bilang sayang ke aku di depan banyak orang diluar sekolahan." Ujar Nabil yang lagi membuat Nabil bingung.
"Gimana aku mau sayang sama kamu, gimana kita bisa sayang sama kamu, kalo aku, Ve sama Key aja nggak pernah tau siapa Nabil 'adzrilia' Putra... yang kita semua tau kalo dia cuma seorang siswa pindahan yang ngehajar tiga orang troublemaker yang pernah gangguin aku." tutur Gaby yang membuat Nabil terpaku. "Kita bukan mau ngejerumusin kamu, kita cuma mau tau, siapa sebenarnya sosok Nabil 'Adzrilia' Putra, benarkah dia yang kita kenal dengan mata negatif kita?"
Nabil beranjak dari duduknya...
"Apa yang mau kalian tau dari gue?" tanya Nabil dengan membelakangi ketiganya.
"Tentang perasaan gue..." Ucapan Nabil menggantung.
"Gue nggak pernah bohong sama hati gue, terserah kalian percaya atau nggak... Alter ego... itukan yang ada di fikaran kalian? gue punya dua sisi yang berbeda, hah... bahkan gue buat nyembunyiin perasaan gue ke Gaby pun gagal, loe Key... orang yang paling gue benci diantara kalian bertiga, loe tau kenapa kan tentang hal itu? dan yang ganti tepung di hari itu, itu Gue!" Tutur Nabil dengan intonasi setiap tutur katanya dengan sangat santai, tak ada kakat kata yang di tekanka.
"Tapi kebencian gue hilang saat gue liat tatapn loe ke Ve yang terus terusan natap loe dengan tatapan perang diatas rindunya. darimana gue tau? dan itupun yang jadipertanyaan gue selama ini, darimana gue tau semua itu... haruskah gue percayai dengan semua kenyataan saat ini." tutur Nabil dengan masih membelakingi ketiganya yang kini merenungi masing masing kalimat Nabil yang terus melintas di kepalanya.
"Kalo kalian tanya siapa gue sebnernya, gue pun bingung... siapa gue sebnarnya, gue ngerasa ada sebagian dari diri gue yang nggak gue inget...." tutur Nabil tiba - tiba sedikit tersentak akan kata - katanya sendiri, mengapa Nabil mengatakan hal itu yang sebelumnya tak pernah ia ucapkan.
Ditempat lain, di sebuah ruangan dengan dominan warna cat putih dan beberapa alat medis dan selang yang saling menyambung pada tubuh seseorang yang terbaring lemah, seorang wanita tengah menatap sedih dan pilu pada lelaki tersebut. dengan penuh kasih dan sayang, tangan wanita itu terus mengelus lembut rambut pemuda itu, seolah berharap sebuah keajaiban mhinggap padanya.
"Bangunlah sayang, bunda rindu sama kamu... bunda ingin liat jagoan bunda ini kembali... apa kamu udah nggak mau jaga bunda..."
__ADS_1
To be continued