
"Awal - awal pas loe di tempat rehab, bokap loe nggak ngebolehin kita buat jengukin loe, bahkan bokap loe ngancem siapa aja yang berani jengukin loe, nggak akan lagi di terima di rumah ini." Ujar Adzril dengan posisi rebahan menatap langit kamarnya, sedangkan Nabil sendiri yang sebelumnya menangis dalam diam mengingat bagaimana dirinya pernah melakukan sebuah kebodohan hingga membuat Nabil merasa sangat bersalah pada Adzril dan kedua orangtuanya.
"Iya, gue inget... disaat ada waktu buat besuk, nggak ada satupun dari kalian yang datang, awalnya gue ngerasa sedih banget liat orang lain di jengukin keluarganya, pacarnya, bahkan sama anak - anaknya juga, sedangkan Gue cuma duduk melihat gimana mereka yang lagi sedikit melepas rasa penatnya masing - masing. Tapi gue sadar, gue ngerasa udah bukan lagi sesuatu yang berharga di keluarga ini..." Tutur Nabil yang kini menyamakan posisinya dengan Adzril, tanpa Nabil sadari, ternyata airmatanya kembali jatuh mengingat bagaimana ketika dirinya harus bisa berdiri hanya dengan kedua kakinya sendiri ketika Nabil benar - benar jatuh saat itu.
"Sampai di minggu ke tiga, gue yang udah pesimis nggak akan ada yang jengukin, tapi gue masih berharap loe bisa dateng kesana, walaupun cuma buat mukulin gue, marahin gue, atau caci maki gue, tapi tetep elo satu - satunya yang gue tunggu, kak. Karena udah gue bilang, ketika loe rangkul pundak gue, disitulah gue ngerasa semua beban yang gue tanggung sendiri terasa ringan dan gue selalu yakin akan baik - baik aja kedepannya selama tangan loe selalu ada di pundak gue. Tapi, sesuatu yang nggak gue duga sebelumnya, ternyata Naomi, Nando sama Sinka hari itu datang kesana jengukin Gue, gue yang entah harus gimanapun cuma bisa nunduk nggak berani natap wajah mereka bertiga..."
Flashback
Nabil hanya terduduk melihat sekelilingnya yang beberapa diantara mereka tengah tertawa bersama orang - orang yang masing - masing mereka sayangi, sedangkan Nabil sendiri merasa miris pada keadaannya saat ini, namun dibalik itu semua, Nabil sadar apa yang telah dirinya perbuat hingga membuatnya kini berada disini, dan Nabil juga sadar, sekecewa apa keluarganya pada dirinya yang telah melakukan kesalahan yang sangat besar.
"Adzril, mamah, papah... maafin Nabil." Gumam Nabil dalam hati dengan wajah yang menunduk dengan terus mengucapkan kalimat maaf pada semua keluarganya yang telah dirinya kecewakan, hingga tanpa sadar tiga orang yang tanpa Nabil duga bahkan, sangat tak Nabil harapkan, kini sudah duduk dihadapan Nabil yang masih menunduk dan belum menyadari kehadiran ketiganya hingga Naomi sendiri yang sudah tak bisa membendung airmatanya mengulurkan tangannya menuju dagu Nabil dan membawa Nabil mengangkat wajahnya untuk bisa menatap Naomi.
Sontak Nabil pun terkejut menatap tiga orang dihadapannya yang kini menatap Nabil dengan ekspresi yang berbeda - beda.
"Na...naomi?" gugup Nabil dengan memegang tangan Naomi yang sebelumnya menyentuh dagu Nabil.
"Kenapa?" Tanya Naomi dengan lirih dan dengan airmata yang semakin deras menatap Nabil dengan raut kecewa, sedih, dan menyesal.
"Koq loe gini sih, Bil sekarang? Perasaan dulu loe baek - baek aja gaul sama siapapun? apa Keynal sejahat itu cemplungin loe ke jurang gelap kayak gini?" Tanya Nando dengan prihatin menatap sang juara yang bisa luluhin hati Naomi.
"Nggak Nan, Bukan Key koq yang bawa gue, gue sendiri yang terlalu penasaran sama hal - hal kayak gini, loe test urien aja Key, dia nggak make koq." Jawab Nabil yang bukan mau menutupi kesalahan Key, namun memang Key tak berani se-liar dirinya.
"Kalian tau dari siapa kalo gue ada disini?" Tanya Nabil dengan menatap Naomi yang masih saja menangisi nasib lelaki yang selama ini sangat dirinya cintai.
"Keynal yang ngasih tau kita, aku awalnya nggak percaya tapi pas tiga minggu ini kamu nggak pernah masuk kuliah, aku jadi kefikiran sama ucapan Key, kenapa kamu nggak ada hubungin aku? Kenapa, Bil?" Tutur Naomi dengan semakin deras menangis, Nabil pun berpindah duduknya pada tempat Nando agar bisa memeluk Naomi saat itu juga yang semakin menangis.
"Ssstttt... udah, jangan nangis, semua udah terjadi, udah... Gue minta maaf, gue nggak bisa jaga diri gue sendiri..." Tutur Nabil dengan membawa Naomi kedalam pelukannya, Naomi pun dengan tangisannya yang belum mereda membenamkan wajahnya di dada Nabil.
"Bantu aku laluin masa sulit aku sekarang ya, Mi! Kamu salah satu alasn kuat kenapa aku harus sembuh. Tolongin aku, Mi..." Lirih Nabil dengan mengusap dan mencium puncak kepala Naomi dengan sangat lembut.
Naomi hanya mengangguki permintaan Nabil tanpa mampu berkata apapun. Sinka dan Nando yang melihat itu hanya bisa menahan rasa perih dihatinya masing - masing, melihat kedua orang yang masing - masing mereka sayangi, namun tak bisa keduanya miliki kini tengah saling menguatkan satu sama lain.
Nabil yang maerasa Naomi sedikit lebih tenang, mencoba mulai mengangkat wajahnya dan membenarkan beberapa helai rambut yang berantakan menutupi wajahnya, dan mengusap lembut bekas airmata di sekitar wajah cantik Naomi.
"Kamu yang sabar, yah... aku selalu ada buat kamu, Bil." cap Naomi dengan memegang halus pipi Nabil yang kini terlihat tersenyum menatap Naomi.
"Makasih, kamu wanita terhebat dan terbaik yang pernah aku kenal, Mi... Aku minta maaf atas semua kebodohan aku dibelakang kamu." Tutur Nabil dengan kini beranjak dari kursinya dan berpindah posisi ketempatnya semula.
"Aaaaa... Nabil sweet banget, kayak agak ngerasa nyesel gitu aku nyerah waktu itu..." Ujar Sinka dengan suara dan raut wajah yang sangat lucu, Naomi yang mendengar itupun menatap Sinka dengan tajam, sedangkan Nabil hanya tersenyum dengan Nando yang juga merasa gemas sendiri melihat bagaiman lucunya Sinka saat ini.
"Nyesel gak loe Bil lebih pilih Naomi daripada Sinka, kalo liat Sinka kayak gitu." Tanya Nando dengan isengnya, sontak Nabil pun kembali tertawa atas pertanyaan konyol dari Nando.
"Nggak lah, kenapa nyesel, gue sendiri malah lebih ngerasa cocok jadi abangnya Sinka kalo liat Sinka yang imut gini, bayangin aja gimana kalo gue jadi pasangan Sinka dengan kehidupan gue yang absurd kayak gini..." Ujar Nabil yang membuat Nando malah tertawa membayangkan seorang Nabil yang kalo ngomong ceplas - ceplos semaunya, dengan sinka yang memiliki sifat imut dan lucu.
"Oh... jadi maksud kamu aku cocok buat hadepin orang - orang yang kehidupannya gak jelas kayak kamu, Keynal sama Nando, Gitu?" Tanya Naomi dengan menatap tajam pada Nabil.
"Ya... Emang bener, koq. Ya kan Nan? Sifat kamu yang dewasa, pengertian, penuh kasih sayang, perha..."
__ADS_1
"Halllahhh, Modus!" Potong Naomi sebelum Nabil melanjutkan ucapannya yang begitu meninggikan Naomi.
"Yeee... koq Modus, Sih...."
"Perhatian!!! Bapak - bapak, Ibu - Ibu, Adek - adek, waktu besuk sudah habis, silahkan untuk meninggalkan tempat ini, terima kasih!" Ujar seseorang dengan toa untuk memperjelas peringatannya. Saat orang itu mendapati Nabil tengah memeluk seseorang, dirinya pun menghampiri Nabil dengan tersenyum.
"Wihh... akhirnya, ada yang jengukin juga rupanya, kau?" Sapa orang itu pada Nabil.
"Eh, iya Om... ini pacar Nabil dan mereka temen - temen Nabil." Balas Nabil dengan mengenalkan Naomi, sinka dan Nando pada seseorang yang merupakan salah satu pengawas tempat rehabilitas itu, juga ternyata pengawas itulah yang ternyata Om nya Veranda.
"Wah, cantik juga pacar kau..." Ujar Om nya Veranda yang sering disapa Om Ucok.
"Ya, nggak kalah cantik sama keponakan Om Ucok lah..." Ujar Nabil yang membuat Naomi menatap cepat pada Nabi.
"Serem amat sayang tatapannya..." Goda Nabil yang membuat Naomi mengalihkan tatapannya karen kesal.
***
"Itulah kenapa gue sangat sayang sama dia, Kak... dan hal itu juga yang buat Nando marah banget sama Gue dan hampir bunuh gue, karena Nando tau bagaimana tulusnya Naomi sama gue. Tapi begonya Gue malah main api dibelakang Naomi." Ujar Nabil setelah selesai menceritakan siapa sosok Naomi dimata Nabil.
"Karena itu juga, gue ngerasa gak pantes lagi buat milikin Naomi, Kak... gue ngerasa sampah banget didepan Naomi." Lanjut Nabil dengan menutup wajahnya dan mengusap setiap airmata yang keluar saat mengingat Naomi.
"Secinta itu, Loe sama Naomi?" Tanya Adzril memastikan.
"Bahkan mungkin Gaby gak akan pernah bisa gantiin posisi Naomi dihati Gue, Kak." Balas Nabil dengan sangat yakin.
"Lalu, apa loe berfikir setelah Gaby melahirkan, loe akan balik lagi ke Naomi dan ninggalin Gaby gitu aja?" Tanya Adzril kembali.
"Tapi loe ikhlas andai suatu saat Loe liat Naomi bahagia bersama orang lain?" Lagi, seakan Adzril tengah mengintro gasi untuk meyakinkan Nabil, jika Nabil memang tidak akan pernah bisa lagi untuk balik sama Naomi.
"Gue nggak akan pernah bener - bener Ikhlas, tapi gue juga nggak punya pilihan lain..." ucap lirih Nabil.
"Loe ada niatan buka hati loe buat Gaby, nggak?" Tanya Adzril kembali.
"Setiap saat gue liat wajah gadis malang yang udah gue rusak masa depannya, gue selalu berusaha buat nerima dia di hati Gue, Kak... tapi harus loe tau, nggak semudah itu buat buang jauh - jauh nama Naomi di hati Gue." Tutur Nabil yang membuat Adzril tersenyum.
"Pernikahaan bukan hanya sebuah kompromi buat sekedar mengubah status, Bil. Pernikahan nggak semain - main itu." Ujar Adzril mengingatkan agar Nabil tak salah melangkah dan Menyesal di kemudian hari.
"I Know, but do i have another choice?" Desah hela nafas Nabil sangat lelah.
"Yes, of course! You always have it, 'couse your life is your choice." Balas Adzril dengan mengusap lembut puncak kepala Nabil.
"Apa gue punya pilihan buet pergi dari dunia ini, Kak?" Tanya Nabil yang sukses membuat elusan lembut dikepala Nabil menjadi sebuah tepukan cukup keras di kening Nabil.
"No! Becouse you are not a loser!" Bantah Adzril dengan sangat tegas.
"Yes i know! we are not a loser!" Ujar Nabil menyetujui ucapan kakaknya.
__ADS_1
Disisi lain, terlihat dua orang Gadis masih duduk setia menatap rembulan malam dengan ditemani bintang - bintang yang sangat indah disekelilingnya, meskipun sudah cukup larut, keduanya masih setia memandangi langit malam uang sangat sunyi dan damai. tanpa ada obrolan sebelumnya untuk memecah keheningan dan kedamaian diantara keduanya yang sama - sama sibuk dengan fikirannya masing - masing.
"Apa gue harus nyerah aja sekarang?" Tanya salah satu diantara keduanya yang sukses membuat satu gadis lainnya menatap cepat kearahnya.
"Apa dengan menyerah, kakak bisa hidup lebih bahagia dari sebelumnya? Tanya gadis lainnya yang kembali menatap langit malam.
"Apa gue bisa hidup bahagia tanpa Nabil, Sin?" Tanya satu Gadis yang tak lain adalah Naomi, dan gadis lainnya sudah pasti Sinka, ya mereka kakak beradik yang mencintai satu pria yang sama.
"Harusnya bisa, bahkan hidup kakak baik - baik aja sebelum ketemu sama Nabil. dan harusnya tak ada bedanya dengan hidup kakak dulu sebelum bertemu dengan Nabil, meskipun beberapa waktu, Nabil pernah menjadi alasan kakak bahagia, tapi ingat kak, di waktu lain, Nabil juga pernah jadi alasan kakak terjatuh terpuruk." Tutur Sinka yang membuat Naomi semakin bimbang, apakah benar, Naomi bisa bahagia tanpa adanya Nabil disampingnya.
"Kita Sin, disatu waktu, Nabil pernah menjadi alasan kita berdua terjatuh terpuruk." Ralat Naomi yang sedikit membuat Sinka tersenyum mengingat betapa egoisnya dulu Sinka untuk menghalangi kisah cinta kakaknya sendiri.
"Maaf kak, sebenarnya apa yang buat kakak sangat berat buat lepasin Nabil gitu aja?" tanya Sinka yang kini menatap wajah sampin Naomi.
"Nabil udah ambil semua apa yang pernah kakak milik, Sin, hati, kehidupan dan semua yang pernah kakak jaga selama ini... Nabil orang pertama yang entah bagai mana tiba - tiba membuat kakak merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya, dan Nabil juga orang pertama yang mengambil mahkota yang selama ini kakak jaga..." Tutur Naomi dengan sangat lirih, entah ia merasa menyesal, sedih atau beruntung atas apa yang telah Nabil lakukan padanya selama ini.
"Sejauh itu hubungan kalian? Kenapa, Kak? Apa yang Nabil janjiin buat Kakak?" Tanya Sinka dengan wajah yang kini sangat terkejut mendengar pengakuan Naomi.
"Karena Nabil adalah segalanya bagi Kakak, Sin..."
Flashback...
Setelah waktu yang cukup lama, akhirnya Nabil bisa keluar dari masa rehabilitas-nya. Namun, satu hal yang membuat Nabil merasa sangat sedih, hingga dirinya keluarpun, tak ada satupun dari keluarganya yang menjenguk Nabil disana, bahkan mungkin tak ada satu pun dari keluarganya yang tahu, jika hari ini Nabil telah terbebas dari tempat rehabilitas. Karena Nabil mengira penyebab tak ada keluarganya yang menjenguk Nabil, karena semua keluarganya sudah tak perduli lagi pada dirinya, akhirnya Nabil memutuskan untuk meminta Naomi lah yang menjemputnya, bahkan dirinya pulang pun tujuannya kerumah Naomi, dan mungkin jika diizinkan, Nabil sementara akan menetap dirumah Naomi, mengapa Nabil bisa sepercaya itu Naomi dan keluarganya akan menerimanya?
Karena Nabil sudah sangat mengenal dekat Naomi dan Bundanya, Karena Naomi beberapa kali membawa Bundanya menjenguki Nabil di tempat rehabilitas nya, awalnya Nabil sangat malu ketika naomi tiba - tiba mempertemukan Bundanya dengan Nabil dalam keadaan Nabil yang seperti ini, karena Nabil berfikir, orang tua mana yang merelakan anaknya menjalin hubungan dengan seseorang dengan latarbelakang kehidupannya yang rusak. bahkan Nabil berfikir jika Bunda Naomi awalnya menemui Nabil untuk melarang hubungannya dengan Naomi, namun semuanya salah ketika bunda Naomi malah memberikan senyuman hangatnya pada Nabil, dan dengan tegas mengatakan pada Nabil, bahwa dirinya tidak mempermasalahkan hubungannya dengan Naomi, dan pertemuan - pertemuan berikutnyapun, Bunda Naomi selalu memberikan perhatiannya - perhatiannya pada Nabil, hingga ketika Bunda Naomi mengetahui bahwa tidak ada satupun dari keluarga Nabil yang pernah menjenguknya, bunda Naomi menegaskan, jika dirinya nanti boleh pulang kerumah Naomi, pintu rumah keluarga Naomi selalu terbuka untuk Nabil.
Nabil pun merasa heran, mengapa bunda Naomi bisa sesayang itu pada Nabil, apa yang Naomi ceritakan tentang kehidupannya pada Bunda Naomi, hingga mmbuat bundanya sangat menerima Nabil.
Tanpa Nabil sadari, ternyata dirinya sedari tadi hanya berkecamuk dengan fikirannya tentang Naomi dan keluarganya, ternyata Naomi sedari tadi sudah berdiri di belakang Nabil dengan tersenyum.
"Maaf mas, udah cukup kah berhalusinasinya?" Sapa Naomi tiba - tiba dari belakang Nabil yang sukses membuat Nabil terkejut mendapati Naomi yang tiba - tiba ada dibelakangnya.
"Astaghfiruloh... Bidadari dari mana ini tiba - tiba ada disini? Lagi nyari selendngnya ya mbak?" tanya Nabil dengan mengelus dadanya.
"Iya nih mas, mas kenal gak sama pria bernama Nabil putra, soalnya dia udah curi hati saya, mas... sampe saya nggak bisa balik lagi ke khayangan." Sahut Naomi yang malah menimpali candaan Nabil.
"Wah, kebetulan sekali mabk, saya yang namanya Nabil putra." Ujar Nabil dengan pura - pura terkejut.
"Wah, kalau begitu, boleh masnya saya peluk?" Tanya Naomi dengan antusias.
"Dengan senang hati, bidadari..." Balas Nabil dengan merentangkan tangannya menyambut Naomi kedalam pelukannya, tanpa menunggu lagi, Naomi pun memeluk tubyh Nabil dengan sangat erat, begitupun Nabil yang juga membalas pelukannya tak kalah erat.
"Aku seneng, akhirnya kamu bisa sembuh dan keluar secepat ini..." UCap Naomi yeng terdengar sangat bahagia dalam pelukan Nabil.
"Semuanya nggak lepas dari peran kamu sebagai bidadari penyelamat aku, Mi." Bisik Nabil yang membuat Naomi semakin bahgia.
"Makasih bidadari kesayangan Nabil..." Lanjut Nabil yang semakin membuat Naomi merasa kupu - kupu berterbangan dalam perutnya.
__ADS_1
"Ekhm... panas yah tiba - tiba..." dehem seseorang yang tidak sama sekali nabil sadari ternyata Naomi tidak sendirian dari tadi, bahkan Naomi pun sebenarnya lupa jika dirinya kesini membawa sang adik yang masih setia menunggu dalam mobilnya.
TBC