
"Oh, Ayolah kak! Jangan begitu..." Ujar Daren dengan sangat tertunduk malu, bahkan dirinya kini merasa sangat tak ada harga dirinya dihadapn kedua putra kembarnya.
"Sudahlah, maafkan saya... Oiya, bagaimana keadaan Erna?" Balas Bunda Naomi yang dahulu ternyata menjadi seseorang yang sangat berperan penting didalam hubungan antara Daren dan Era yang sekaran menjadi sepasang suami Istri dan juga menjadi sepasang Ayah dan Ibu dari sepasang saudara Kembar yang dinamai Nabil Putra dan Adzrilia Putra.
"Di..."
"Ohiya... Mamah dirawat disini juga, pah?" Potong Adzril yang lagi - lagi teringat akan Erna yang sebelumnya selalu ada saja yang memotongnya setiap ingin menanyai tentang Erna.
"Iya kamu fikir papah ngapain tiba - tiba ada disini?" Tanya Daren degan menatap malas pada Adzril.
"Di kama nomor berapa?" Adzril dengan berdiri dan untuk menemui Erna yang membuat Nabil sedikit tersentak ketika sebelumnya Adzril mengatakan keadaan mamah mereka berdu seolah - olah terjadi sesuatu padanya.
"Di kam..."
"Emang mamah kenapa?" Lagi kini Nabil memotong ucapan Daren yang kini menatap tajam pada Nabil yang kini malah menatap dengan raut wajah yang khawatir pada Adzril, tanpa merasa bersalah sedikitpun dari Nabil karenna sudah menyela ucapan daren sebelumnya
"Punya annak dua kembar, dua - duanya sama - sama nggak punya adab..." Gumam Daren yang sama sekali tak Nabil maupun Adzril dengar, hanya Gaby yang kini menahan tawanya saat mendengar Daren menggerutu untuk pertama kalinya.
"Gara - gara loe..." Tunjuk adzril lpada ke,barannya, ang tentu saja mmembuat Nabil memelototkan matanya karena kaget mendengar, ternyata hari ini bukan hanya satu orang yang celaka karenanya, ternyata dua orang sekaligus, dan sama - sama orang yang sangat Nabil sayangi dalam hidupnya.
"Sumpah, lloe jangan bercanda, Kak!" Tanya Nabil yang sepertinya sudah menahan tangisnya kembali.
"Hayo... Nangis gue gebuk dada, loe!" Ancm Adzril yang malas melihat Nabil hari ini banyak menangis di depannya. "Cengeng amat jadi cowok, najis! Maaf bunda, apa bunda mau punya menantu cengeng kayak bliau ini?"
Bunda Naomi hanya terssenyum menatap Adzril yang ternyata lebih dewasa dari Nabil, dan Bunda Naomi tahu, dari gerak - geriknya sedari tadi, adzril lebih mudah diajak atau mengajak ngobrol bahkan pada orang yang baru ia kenal sekalipun.
"Udah, berisik kalian, di kamar VIP nomor 101, dari sini tinggal belk kanan, nanti ada." Daren yang pusing melihat kedua anak kembarnya yang mulai kumat penyakit mengessalkannya.
"Yaudah, Adzril pamit dulu pah, Nanti kalo Ve keluar, tolong bilanngin ya, Pah." Ujar Adzril yang langsung mendapat anggukan dari Daren yang kini mulai sedikit tenang seandainya Nanti Bunda Nami atau yang dahulua Daren memanggilnya dengan panggilan Kak Bila.
"Eee...mmm.... Bunda, Na...Nabil..."
"Iya, gapapa, maaf tapi bunda nggak bisa, nanti aja lain waktu bunda temui mamah kamu, yah." Tutur Erna deengann tersenyum saat Nabil hendak meminta izin pada Salsa, namun Nabil masih terlihat canggung yang padahal andai Nabil tahu, jika Salsa sama sekali tidak mmenyalahkan Nabil atas apa yang menimpa Naomi saat ini.
"Yaudah kalau begitu, Nabil pamit sebentar, Buunda." Nabil langsung berbalik setelah Salsa kembali mengangguki Nabil, Gaby yang sedari tadi memperhatikan pun mengikuti Nabil dari belakkangnya, walaupun awalnya ragu untuk meneemui Erna, namun setelah menatap Daren yang memberinya isyarat, Daren pun menganggukinya, karena Daren tahu seperti apa isstrinya, dan bagaiman isfatnya.
"Calon menantu mu, kakak lihat - lihat nggak ada satuoun yang bener, yang satu kasar, walaupun hatinya lembut, yang satu lemah, apa - apa nangis, apa - apa Nabil." Tutur Salsa yang sukses membuat Daren menatap Salsa dengan ambigu.
"Siappa yang kakak maksud selalu bergantung dengan Nabil?" Tanya Daren yang membuat Salsa kembali tersenyum geli karena lupa jika Daren belum mengetahui bagaimana Naomi jika dihadapan Nabil.
"Bukan, bukan gadis yang baru saja pergi yang kakak maksud, tapi Naomi... Maaf, kakak lupa, kau tidak - tahu menahu tentang bagaimna Naomi dengan Nabil, dan maaf juga kakak udah lan..."
"Aku yang harusnya berterima kassih sama kak Bila, dari dulu kakak selalu nolong aku tanpa aku tahu. Bahkan, kakak nggak pernah mau aku tahu kalo kakak yang selalu nolongin aku. Aku minta maaf atas nama putra aku, kalo selama ini selalu menyusahkan putri Kak Bila. Bahkan, apa kakak tahu apa yang menimpa Nabil degan gadis yang tadi hamil?" Tutur Daren yang membuat kini dirinya semain malu dihadapan Salsa, apa yang harus dirinya katakan pada Salsa, tentang Gaby, yang ternyata buah dari kesalahannya dahulu, dan kini malah putranya sendiri juga yang menghamii gadis yang secara tak langsung ternyata putrinya juga.
"Apa Kau mau meneritakannya disini?" Tanya Salsa yang siap mendengarkan. "Sinka Vino, Bisa kalian tinggalkan kami berdua?"
Vino yang tersadar belum mengatakan info yang barusaja ia dengar langsung dari Nando pun langsung mengeluarkan smartphonenya.
"Pak, maaf saya lupa." Ujar Vino degan memutarkan sebuah Video yang memperlihatkan antara Nabil dan Nando dengan sebuah percakapan yang cukup bisa didengar melalui Video itu, karena Vin merekamnya dengan jarak yang cukup dekat namun sedikit aman karena terhalangi beberapa tumbuhan dedaunan yang cukup lebat hingga bisa menutupu tubuhnya dan Naomi yang berada disamingnya.
"Gue langsung ke intinya, Anak yang Gaby kandung, sebenarnya anak siapa Nan? Dan saat itu disini, siapa yang bikin gue koma, sampe hilang ingatan? Gue yakin, bukan loe yang saat itu pukul gue dari belakang, dan bukan juga anak buah loe, karena gue inget betul semuua posisi kita saat itu disini." Nabil yang tak mempunyai bbanyak waktupun tak ingin lagi bertele - tele dan ingin segera menyelesaikan masalah ini. "Gue janji, kejujuran loe bakal gue lindungi dari ancaman siapapun, Nan! Termasuk dari Keynal!"
Daren sedikit mengerenyikan dahinya saat mendengar menapa Nabil menanyakan hal itu, begitupun Erna dan Sinka yang juga mendengar dengan jelas suara Nabil.
"Kenapa? loe mulai ragu dengan hasil tes DNA 'palsu' yang nyokap Keynal keluarkan? hm?" dengan wajah sinis dan mengejeknya, Nando seakan memancing Nabil untuk menyerangnya terlebih dahulu, namun yang nando hadapi saat ini Nabil, bukanlah Adzril, Nabil lebih bisa mengontrol emosinya dan bisa lebih menggunakan akal sehatnya.
__ADS_1
Perasaan Daren semakin memanas sekaligus sedikit llega karena kini Daren tahu apa yang selama ini ia duga ternyata benar adanya, jika bukan Nabil yang sudah menghamili Gaby.
"Hahahaha... Bil... Bil, gue nggak tahu yah, dosa besar apa yang udah kedua orang tua loe buat dimasa lalu, sampe loe harus nanggung masalah seberat ini. Ya, yang Gaby kandung itu emang bukan anak loe, tapi Anak gue, Gue yang udah paksa Gaby buat kandung anak Gue, dan dengan segala kekuasaan Keynal dirumah sakit milik keluarganya itu, semua bisa diputar balikan sehingga loe yang harus tanggung dosa yang udah gue buat. Dan asal loe tahu, loe..." Nando dengan perlahan melangkahkan kakinya untuk mendekati Nabil yang sekuat tenaa agar bisa mengontrol amarahnya, bahkan dirinya tak gentar meski Nando saat ini tepat dihadapannya. "Loe nggak pernah bener - bener amnesia, Bil... Tapi Keynal dan nyokapnya lah yang sengaja cuci otak loe, sampe semua kenangan dan ingatan loe tentang Naomi bahkan semuanya, bisa hilang gitu aja dalam waktu tiga bulan, bahkan bukan cuma Loe, calon kakak ipar loe pun harus dengan terpaksa Key dan Nyokapnya juga mencuci otak Ve, hanya saja bedanya Ve cuma di doktrin agar selalu percaya dengan cerita konyol yang Gaby ciptakan sendiri. Dan, asal loe tau, Bil! Selama tiga bulan itu, Loe bukan koma, tapi ssengaja dibuat tidur sama Tante Kinal."
Mendengar sejauh dan separah itu rencana yang dijalankan Nando, Key dan alah kini Daren menganggap Gaby juga menjadi dalang dibalik rencana busuk antara eynal dan Nando, hingga Daren kini sekuat enaga untuk menahan amarahnya mungkin setidaknya sampai Video itu selesai.
"Kenapa, Nan? Sebenci itukah loe sama, Gue? Lalu sekarang apa yang loe dapet? Bahkan sampai saat ini, naomi masih ada utuh dalam pelukan gue. Apa yang loe dapetin dari semua ini?" Nada dinggin dan tajam serta aura amarah yang kini mulai memuncik dalam diri Nabil mulai terasa melalui tatapan dan kalimat yang Nabil ucapkan pada Nando, namun sekali lagi, Nabil masih bisa menahannya, namun entahlah setelah ini.
"Tentu Naomi yang akan gue dapetin, Bil! Well... segimana Keynal berkuasa pun dalam rencana ini, pada akhirnya, dia harus mati sia - sia ditangan kembaran loe sendiri karena kebodohannya, dan Loe... mending loe sekarang mulai fikirin gimana caranya loe lari dari gue dan pasukan gue yang akan bikin loe cepet - cepet buat nyusul Keynal ke neraka."
"Inget Nan, Meskipun Naomi jatuh cinta sama loe, Bunda nggak akan pernah restuin hubungan kalian.... S E L A M A N Y A..."
Setelah layar hap Vino kini hanya menampakan warna hitam, Daren langsung memberikan kembali hp Vino dan kini dirinya hanya pasrah dan menempelkan punggungnya pada tembok dibelakangnya dengan wajah yang mengadah menatap langit - langit koridor rumah sakit.
"Pak, saya tahu, Pak Daren saat ini tengah kecewa pada Gaby, tapi saat itu yang menemui Gaby dan membawa Gaby hingga kesini itu Adzril pak, dan tentu Pak Daren tahu, bagaimana Sifat Adzrl..." Tutur Vino yang memang sebelumnya juga mengira Gaby juga ikut andil dalam rencana jahat Keynal, namun Vino terkejut ketika melihat Gaby tengah memeluk Nabi dengan Adzril yang berada disamping keduanya.
"Kita harus menunggu Adzril menjelaskan bagaimana kejadian dirumah Gaby hingga bisa membuat Keynal yang katanya saat ini sedang sekarat, dan Bunda, saya minta aaf sudah membawa Naomi ke sana, saya akui, saya yang secara langsung menyebabkan Naomi saat ini bisa terluka." Lagi Vino kini membuat Daren sedikit bisa berfikir postiif, dan berharap semoga Adzril bisa membuatnya bernafas lega, dan bisa membuat Erna menerima Gaby dirumahnya untuk agar Daren bisa menebus dosanya pada Zaskia, wanita yang menjadi selingkuhannya dahulu hingga Gaby terlahir.
"Sudahlah Vino, semuanya sudah terjadi, Bunda hanya bisa berdoa, semoga Nami baik - baik saja." Salasa dengan rasa kecewa dan sedih namun ia juga tak bisa menyalahkan siapapun saat ini, andaipun dirinya menyalahkan Vino ataupun Nabil, apa itu bisa membuat Naomi tiba - tiba sehat dan tertawa kemballi? Tentu tidak, kan.
"Dan asal kakak tahu, Gaby itu anak aku dan Zaskia, kak..." Ujar Daren yang sukses membuat Salsa kini langsung menatap Daren dengan raut wajah terkejut, marah dan juga kecewa. "Tapi jujur, itu semua dulu, Kak."
"Erna tahu tentang ini?" Tanya Salsa Dingin, cukup untuk membuat Daren tahu, Salsa sangat kecewa dan marah padanya saat ini.
"Kenyataan itu yang membuat Erna saat ini ada disini, Kak! Sekaligus kenyataan bahwa Nabil lebih memilih menjaga Gaby dan keluar dari rumah, bahkan Nabil lebih Gaby meskipun dirinya harus dicoret dari kartu keluarga, yang Daren yakin itu semua karena Nabil lebih dahulu berjanji pada Gaby. Dan Daren tahu, apapun konsekuensinya, Nabil maupun Adzril, mereka akan ebih memilih menepati janjinya, meskipun harus mengorbankan semuanya." Tutur Daren yang membuat Salsa kembali tersenyum. "Bukan keran sebuah perasaan, Aku nggak tahu, bagaimana perasaan Nabil pada Gaby, dan bahkan jika Nabil mencintai Gaby, Aku dan Erna tidak bisa merestui keduanya, Kak."
"Jika kakak merestui, Daren dengan sangat meminta Kakak merestui Nabiol dengan putri Kakak." Lanjut Daren yang kini membuat Salsa menampakan raut wajah datarnya, dan tanpa ssepatah kata apapun, Erna berdiri dan beranjak dengan menarik tangan Sinka agar mengikutinya. Daren yang melihat hal itupun langsung panik dan juga berdiri hendak mengejar sallssa.
"Kau diam, kau tunggu kedua calon menantu Kau yang ada didalam kamar itu, Aku mau menjenguk sahabat ku yang sudah dengan lancangnya kau sakiti." ujar Salsa tanpa menatap Daren yang saat ini tertegun atass kalimat Salsa yang membuatnya bahagia dan tertampar keras dissatu waktu yang sama. Daren mengerti, Salsa mengizinkan Nabi untuk tetap bersama Naomi, namun juga secara tak langsung Salsa menampar Daren dengan kalimat "Sahabatku yang kau sakiti" Daren mengerti, Salasa kecewa atas perlakuan Daren, namun juga Salasa sekali lagi tak bisa melakukan hal papun selain memafkan Daren karena udah melanggar janjinya.
...****************...
Cklek
Pintu terbuka dari luar membuat penghuni kamar rawat dengan fasilitas pribadi langsung mengalihkan tatapannya menatap siapa yang masuk.
"Kakak?" Sapa siempunya Kamar yang tak lain adalah Erna, yang kini tersenyum melihat siapa yang menemuinya.
"Mamah, mamah nggapapa? Apa yang sakit, mah?" Tanya Adzril dengan langsung berlari menghmpiri dan memeluk Erna. Erna sendiri hanya tersenyum dan mengusp lembut punggung Adzril untuk menenangkannya.
"Mamah nggak apa - apa, kak... Udah kamu tenang yah sayang." Uajr Erna dengan melepaskan pelukan Adzril.
"Nabil..." Erna seketika teringat kembali pada putra bungsunya yang kini meninggalkannya dan lebih memilih gadis yang entah bagaimana Erna harus bersikap padanya, saat ini.
"Nabil disini mah." Erna seketika terkejut saat melihat Nabil tiba - tiba membuka pintu dari luar dan langsung menghampiri Erna bersama dengan Gaby dibelakngnya yang kini hanya terpaku didekat pintu masuk melihat Nabil kini tengah memeluk Erna yang sama - sama menangis dalam pelukannya. Merasa bukan saatnya Gaby untuk menemui Erna saat ini, Gaby kembali membuka pintu ruangannya untuk pergi meninggalkan kamar.
"Gaby..." Panggal Adzril yang langsung seketika membuat Gaby kembali menatap Adzril dan menghentikan langkahnya. Begitupun Erna dan Nabil yang langsung menatap pada Gaby.
"Mah, biar aku jelasin sesuatu, Gaby, loe kesini." Titah Adzril yang membuat Gaby mendekat pada Nabil dengan tatapan Erna yang entah Gaby tak bisa mengartikannya seperti apa, karena Erna sendiri bingung harus seperti apa bersikap pada Gaby.
"Bil, mah... Gaby ini lebih menyedihkan dari yang kita kira, yang ada dalam perutnya ini, bukan anaknya Nabil..."
"Ya, gue tahu, tapi anaknya Nando dan..."
"Loe Diem! Loe nggak tahu apa - apa, Bil!" Saat Nabil hendak memotong ucapan Adzrl dan mengatakan hal yang tentu saja akan menyakiti Gaby dan membuat Erna semakin membenci Gaby, tapi bukan itu yang Adzril inginkan.
__ADS_1
"Apa yang loe tahu, kak?" Tanya Nabil balik yang seketika entah mengapa mengingat perlakuan Nando padanya, membuatnya juga kembali merasa sangat kecewa dan marah pada Gaby.
"Apa loe tahu kalo Gaby di paksa melakukan semua itu? Gaby diancam Keynal dan Nando yang menjadikannya budak nafsu bangsat mereka sebelum Gaby aman di keluarga kita, apa loe bisa bayangin gimana tersiksanya Gaby diantara Nando dan Keynal?" Tanya Adzril yang kini malah kecewa pada Nabil yang entah darimana menarik kesimpulan semua tentang Gaby.
"Gini mah, Disamping masa lalu papah yang memang Adzril tahu sangat menyakiti mamah, tapi apa kita nggak bisa membantu papah untuk menebus dosa masa lalunya, dengan cara menerima Gaby dan melindungi Gaby dari bahaya yang pasti sebentar lagi akan mengancamnya. Azdril tahu, Gaby salah udah menuruti kemauan Keynal dan Nando, tapi kita juga harus tahu, ancaman Keynal lebih mengerikan, bahkan bisa saja membunuh Gaby secara perlahan jika saja Gaby nggak mau menuruti kemauan Keyal." Tutur Adzril yang membuat Erna semakin bingung, dan Nabil kini merassa bersalah setelah sebelumnya tanpa sadar ingin melukai Gaby, namun untunglah Adzril melindungi dan menyadarkannya.
"Gaby..."
Gaby yang sedari tadi menunduk tanpa berani menatap Erna, sekaligus dengan terpaksa harus kembali merasakan bagaiman tertekannya Gaby berada diantar Nando dan Keynal yang memang benar apa yang dikatakan Adzril, sebelum dirinya berada dirumah keluarga Nabil, Gaby harus menjad pelayan nafsunya Keynal dan Nando, bahkan ketika Gaby sudah mengandung sekalipun.
"Gaby... lihat saya!" Lagi Erna memanggil Gaby yang sedari tadi belum berani mennatap langsung Erna, namun kini Gaby sedikit keberanian mengangkat kepalanya untuk melihat Erna yang kini sedikit berlinang airmata meanatap Gaby dengan sangat dalam, terlebih ketika kedua mata mereka baertemu.
"Zaskia...." Gumam Erna dengan sangat pelan dan dengan bibir yang bergetar menahan tangis ketika menyebut nama mamah Gaby. "Sini sayang, peluk mamah."
Akhirnya Gaby pun memeluk Erna dengan tangisan yang sedari tadi Gaby tahan ketika Erna menyebut nama wanita yang melahirkan Gaby.
"Maafin dosa mamah saya, tante.... Biarkan bliau istirahat dengan tenang." Bisik Gaby dengan suara bergetar beradu dengan tangis pilunya yang kini terpaksa harus teringat dengan alamrhum mamahnya.
"Mamah sudah memaafkannya, nak." Balas Erna yang membuat Gaby semakin erat memeluk Erna seolah tengah memeluk mamahnya sendiri, menyampaikan betapa rindunya Gaby pada Zaskia yang tellah lama meninggalkannya. "Maaf, mamah terlalu terlambat menemukanmu..."
Gaby tak bisa berkata apa - apa lagi, mendengar sedri tadi Erna selalu menyebutnya Mamah, dan itu menandakan Erna ingin Gaby memanggilnya dengan sebutan itu.
"maksaih buat semuanya, mah..." Ujar Gaby, Nabil dan Adzril pun ikut memeluk mamah dan anggota keluarga baru mereka.
"Makasih kak..." Ujar Gaby yang kini sudah sama sama melepaskan pelukannya dan kinni Gaby sendiri berada dalam rangkulan Adzril.
"Kak..."
"Loe panggil gue pake embel - embel kak... Gue cekek leher loe, Gab!" Ancam Nabil saat Gaby menatap Nabil dan hendak memanggilnya sama halnya dengan bagaimana Gaby pada Adzril. "pakek nama aka, geli gue denger loe panggil gue 'kak'."
"Iya Bang, Nabil..." Balas Gaby yang membuat Nabil menatap tajam padanya.
"Oke juga, yaudah loe gapapa, panggil gue bang aja." Usul Nabil setelah menimang apa yang ia dengar dari mulut Gaby yang memanggilnya dengan panggilan 'Abang'.
"Iyaudahlah... Semau - maunya Bang Nabil aja." Ujar Gaby kembali dengan masih dalam rangkulan Adzril.
"Betah banget loe disana, inget, macan dia lebih garang, lho... Lagi di zona merah lagi." Ujar Nabil yang langsung membuat Gaby mendorong Adzril ketika menyadari posisinya dengan Adzril, sntak Nabil dan Erna pun tertawa melihat Gaby tiba - tiba ketakutan karena membayangakn bagaiman Veranda ketika sedang emosi.
"Tenang aja, lemes pasti dia abis donorin darah..."
"Donor darah?" Tanya Erna yang kaget dengan apa yang Adzril ucapkan. "Buat siapa? Siapa yang sakit."
"Calon menantu mamah yang lagi sakit." Ujar Gaby yang membuat Nabil menatapp malas padanya.
"Kamu gimana? Masa Ve donodrinn darrah buat dirinya sendiri?" Tanya Erna yang belum mengetahui tentang Naomi. "Kan calon menantu mamah cuman Veranda doang berarti sekarang, Nggak mungkin kamu mau nikah sama abangmu sendiri kan?"
Erna sebenarnya tahu, yang Gaby maksud adalah pacarnya Nabil, namun erna ingin sedikit mengerjai Nabil karena sudah membuatnya syok sampai harus masuk rumah sakit.
"Ck... Kompor bet, lu... Naomi mah, Namanya. Soal masalah calon mantu mamah apa nggak nya, mamah doain aja semoga bunda dan Naomi sendiri masih mau nerima Nabil." Ucap Nabil degan kesal menatap Gaby yang kini tersenyum dan kembali mempusisikan dirinya bersembunyi dibeakang Adzril.
"Oh... Namnanya Naomi, cantik gak?" Tanya Erna yang semakin jadi menggoda Nabil.
"Ya... Kira - kira seperti saya lah cantiknya..."
Erna, Nabil, Adzril dan juga Gaby terkejut melihat siapa yang baru saja masuk dan ikut dalam pembiicaraan mereka berempat.
__ADS_1
Tbc