
Hari yang sangat Gaby dan Nabil tunggu pun tiba, hari dimana semua jawaban yang menjadi pertanyaan di setiap fikiran Semua yang mendengar cerita Gaby tentang dirinya dan Nabil, mungkin akan terjawab hari ini juga dengan keluarnya hasil tes yang kemarin dilakukan oleh keduanya.
"Jadi, gimana dok?" Tanya Nabil saat kini dirinya dan Gaby sudah berada dihadapan dokter yang sebelumnya melakukan tes padanya dan Gaby.
"Seperti sebelumnya sudah saya katakan, di kehamilan Gaby yang saat ini menginjak 13 minggu, Jadi kami sedikit kesulitan untuk menganalisis gen yang kami ambil dari Gaby, tapi untunglah peralatan medis disini cukup memadai, meskipun sulit, tapi kami bisa mendapatkan hasil yang sangat akurat, terlebih lagi..."
"Maaf sebelumnya, Dok..." tiba - tiba Nabil menghentikan penuturan sang Dokter. "13 minggu itu artinya Gaby udah hamil sebelum Nabil koma?"
"Loh, bukannya kemarin saya sudah kasih tau sama Tuan Daren?" Tanya sang dokter dengan menatap papah Nabil yang kini membuang mukanya.
"Oh, iya tidak apa - apa dok, mungkin saya lupa papah pernah mengatakannya pada saya, silahkan lanjutkan, dok." Ujar Nabil yang kini menatap Gaby dengan sedikit Iba, Nabil pasalnya merasa jika Gaby mungkin dipakasa sang Ayah untuk merahasiakan umur kandungannya pada semua orang.
"Baiklah, jadi Nabil, Gaby... hasil tes DNA antara Nabil dan bayi didalam rahim Gaby, 99% memiliki kecocokan, jadi bisa diartikan bahwa bayi yang ada di dalam kandungan Gaby, adalah bayi Nabil juga." ujar sang Dokter dengan memberikan kertas hasil tes DNA kpada Nabil yang ternyata hal itu sukses membuat Nabil tertunduk, sedangkan Daren atau Ayah Nabil melangkah tanpa sepatah katapun meninggalkan mereka.
"Terimakasih, Dok." Ujar Nabil dengan langsung berdiri dan menyalami sang Dokter yang dikkuti Gaby, Ve dan Erna yang keempatnya langsung meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang berbeda - beda.
Sesampainya diluar ruangan dokter tadi, Nabil tak mendapati sang Ayah yang entah kemana perginya, namun bukan itu yang menjadi fikirannya yang kini tiba - tiba berhenti dan membalikan tubuhnya untuk menghadap pada Gaby yang ternyata langsung tertunduk saat Nabil menatapnya.
"Mah... apa mamah seneng kalo putranya yang satu ini jadi pecundang dan lari dari tanggung jawab?" Tanya Nabil pada Erna namun tatapannya mengarah pada wajah Gaby yang tertunduk.
"Itu bukan sifat anak mamah..." Ujar Erna dengan tersenyum dan meninggalkan ketiganya, namun sebelum melangkah, Erna sempat mengelus pundak Gaby tanda jika semuanya akan baik - baik saja.
"See... Loe nggak usah khawatir, gue akan pertanggung jawabin apa yang udah gue lakuin, meskipun gue nggak inget apa - apa, seenggaknya gak ada lagi alasan buat gue pergi ninggalin loe sendirian." Tutur Nabil dengan merih kedua tangan Gaby dan menuntun wajahnya untuk menatap Nabil.
"Ngobrolnya lanjutin dirumah aja kayaknya, Bil." Usul Ve yang diangguki Nabil dan mempersilahkan Ve dan Gaby berjalan lebih dulu.
Sesampainya diparkiran, ternyata disana sudah ada mamah dan papah Nabil menunggu di depan mobil keluarganya.
"Pah, Nabil ikut Gaby sama Ve..."
"Kita harus bicara serius, Gaby, kamu bawa wali kamu buat ketemu kami, saat ini juga." Potong Daren sebelum Nabil menyelesaikan ucapannya.
"Pah, Gaby disini hidup sebatang kara, Ibunya diluar negeri dan gaby sendiri gak tau diamana tepatnya, dan hak asuhnya jatuh ke papahnya yang juga sekarang nggak tau ada dimana." Ujar Ve mewakili Gaby yang entah apa yang mau dikatakan pada keluarga Nabil saat ini.
"Ap..."
"Pah, udah... nak Gaby, gapapa kamu nggak perlu bawa siapapun, kita bicarai ini cukup kita - kita aja, ya. tapi Ve, mamah papah kamu bisa kalo sekarang kita berunding dirumah kami?" Ujar Erna memotong perkataan suaminya yang sudah pasti akan melukai perasaan Gaby, dan sebagai seorang Ibu, Erna tidak akan membiarkan hal itu terjadi pada Gaby.
"Bisa, Mah. Ve akan telfon sekarang." Ujar Ve yang langsung mengeluarkan hpnya dan menelpon kedua orangtuanya.
"Kalian langsung aja kerumah, ya." Ujar Erna dengan membawa suaminya meninggalkan kembali ketiganya dengan mobil yang Daren kendarai.
"Ayo, Gab." Ajak Nabil membawa Gaby kedalam Mobil milik Ve dengan Ve yang kini sudah selesai menelpon orang tuanya untuk datang kerumah Nabil.
skip
Semuanya kini sudah berkumpul dirumah Nabil, termasuk kedua orang tua Ve, yang sebelumnya sudah membicarakan hal ini.
"Jadi gimana, mbak?" tanya mamah Ve yang diketahui bernama Anissa pada calon besannya.
"Hasilnya DNA mereka cocok, Niss... untuk itu, seperti yang sebelumnya kita bicarain, kalo Adzril minta pernikahannya ingin berlangsung bersamaan dengan adiknya." Ujar Erna dengan menatap lawan bicaranya, sedangakan Daren hanya terdiam menyimak semuanya dan benar - benar sudah pasrah pada keputusan apapun yang nantinya akan disetujui semua pihak yang ada disana.
"Untuk itu, Mbak minta maaf sekali sama kamu Nis, Ivan, maaf kalo Adzril harus memaksa Ve menikah di usia yang masih terbilang muda ini." ujar Erna merasa sangat tak enak.
"Mbak Erna, mas Daren, tidak apa - apa, Aku sama istriku tidak sama sekali memepermasalahkan hal ini, karena kami menyerahkan semuanya keputusan sepenuhnya sama Veranda. Jika veranda memang bahagia sama Adzril, toh apa salahnya memepersatukan mereka." Tutur Ivan yang bermaksud agar keluarga Adzril tidak merasa tak enak hati atas keputusan Adzril sendiri.
__ADS_1
"Tapi sebelumnya gini, lho mas Daren..." Lanjut Ivan yang membuat papah Nabil menatap kearahnya.
"Bukannya aku bermaksud mempersulit keadaan, tapi dalam agama tidak terlalu menganjurkan menikah ketika calon istri sedang mengandung seorang bayi. Dalam Undang - Undang memang mengesahkan pernikahannya, namun dalam agama kita, tidak terlalu menganjurkan menikah dalam keadaan calon istrinya tengah dalam mas Iddah-nya." Lanjut Ivan yang seketika membuat Daren memutar otaknya.
"Pah..." Tegur Ve yang bingung mengapa ayahnya tiba - tiba bicara seperti itu.
"Ada benernya juga perkataan mu, Van. tapi saya sudah berjanji sama anak - anak, saya tidak akan lagi menghalangi niat baik mereka, semua keputusan ada pada Nabil dan Adzril." Ujar Daren yang memang dirinya tidak lagi mau membantah, apalagi ketika melihat tatapan tajam Adzril.
Gaby yang sedari tadi hanya bisa diam dalam rangkulan Ve kini mulai memberanikan dirinya menatap satu -persatu orang yang ada diruangan itu.
"Begini saja..." Ujar Gaby tiba - tiba yang langsung menjadi pusat perhatian.
"Umur kandungan Gaby juga sudah besar, dan Gaby sadar diri jika menikah dalam keadaan Gaby seperti ini, mungkin akan menjatuhkan nama keluarga Nabil, jadi Gaby nggak..."
"Nggak! Stop, loe nggak usah ikut bicara." Potong Adzril yang mengiranya Gaby berada di bawah tekanan Ayahnya.
"Tapi..."
"Sssssttt... Diem, Gab! Udah gue disini yang nentuin semuanya!" Lagi, Adzril masih dengan pendiriannya yang ingin segera menikah.
"Kenapa jadi loe yang ngebet banget, sih?" Tanya Ve yang heran melihat begitu antusiasnya pada pernikahan mereka.
"Emang kenapa? Loe nggak mau nikah sama Gue?" Adzril yang malah bertanya balik.
"Kagak begitu konsepnya! Tapi disini tentang kita berempat, bukan tentang diri loe seorang, atau gue, atau Gaby, ini semua tentang kita Adzril. loe nggak bisa mutusinnya sendiri, kita harus ngambil dari keputusan gue, Gaby sama Nabil juga." Tutur Ve yang membuat Adzril kini terbungkam.
"Emang cuma Veranda yang bisa bungkam kerasnya keputusn Adzril." Gumam Daren yang cukup di dengar Erna yang memang sangat dekat dengannya hanya tersenyum.
"Begini Ve, Gaby... Mungkin Adzril berfikir, saya menenkan Gaby agar menunda pernikahan kalian. Adzril, papah sudah janji sama kamu bahwa apapun keingin kamu untuk ini, papah nggak akan ngelarang dan nggak akan membantah apapun itu. Dan untuk Gaby, kalau kamu berfikir saya akan menghalalkan segara cara untuk menolakmu, maaf itu sama saja saya mengajarkan anak - anak saya untuk lari dari tanggung jawab. Sekarang juga kami tunggu keputusan akhir kalian disini. dan untuk masalah Wali Gaby, kita cari nanti, namun mungkin jika seperti ini, mau atau tidak, Gaby, setatus ayahmu akan di matikan." tutur Daren dengan menatap tulus pada Gaby dan Adzril secara bergantian.
"Nah, karena itu, lebih baik kita menikah setelah bayi aku sama Nabil lahir aja, Kak Adzril, aku cukup sadar diri, siapa dan seperti apa peranku disini, dan aku minta maaf dari lubuk hati aku yang sedalam - dalamnya karena udah jadi beban dan jadi setitik noda di keluarga kalian..."
"Udah, kalian gaperlu minta maaf, semuanya udah terjadi, nggak ada yang perlu disesalin lagi, loe berdua juga udah sama - sama harus berfikir dewasa." Ujar Adzril dengan merangkul saudara kembarnya itu. Entah bagaimana, Nabil tiba - tiba merasa tenang ketika Adzril merangkulnya, seoalh kedepannya akan terasa mudah ketika Adzril berada disampingnya, seperti saat ini.
"Adzril, seperti yang sudah Veranda katakan tadi, setelah ini kalian hidup bukan untuk diri kalian sendiri masing - masing, untuk itu papah punya usul, sambil menunggu Bayi Nabil lahir, kalian berdua harus segera memulai fikirin masa depan kalian, salah satunya kalian harus mulai bagi tugas buat pegang perusahaan keluarga dari sekarang juga, dan suka atau tidak kalian harus menunda cita - cita kalian yang ingin buat pabrik mobil seperti yang kalian cita - citakan sebelumnya." Tutur Daren yang kembali membuat Adzril memutar kembali fikirannya untuk memahami setiap kata yang Ayahnya sampaikan tadi.
"Jadi gimana? kalian maunya kapan?" Tanya Erna yang sedari tadi hanya terdiam.
"Gimana Bil?" Tanya Adzril akhirnya.
"Nabil setuju sama papah, Kak. Papah bener, kita belum punya apa - apa buat menanggung semuanya, kita nggak mungkin menanggung sesuatu disaat kita sendiri masih bergantung pada orang tua kita."
Skip
Seminggu sudah berjalan setelah keputusan hari itu yang disepakati kapan Nabil dan Adzril akan menikah dengan pasangannya masing - masing, dan seminggu juga telah berjlannya dimana Nabil dan Adzril kini benar - benar menjadi trainne di kantor papahnya sendiri, mulai dari sebagai karyawan kecil biasa, sebenarnya papahnya bisa saja menjadikan keduanya pemegang tertinggi perusahaan itu, namun Nabil dan Adzril sepakat untuk belajar dari awal dan agar dirinya tahu seperti apa seluk beluk tentang apa saja yang ada di perusahaan itu.
Meski awalnya keduanya merasa kesulitan karena memang bidang pekerjaannya ini bukan lah bidang yang keduanya kuasai, dimana Nabil yang seorag calon insinyur dan Adzril yang juga seorang desainer, kini harus bekerja di bidang batu bara. bahkan keduanya juga memutuskan untuk cuti kuliahnya yang entah sampai kapan, karena Nabil yang kini juga fokus pada pekerjaannya juga Gaby yang kini sudah tinggal dirumah Nabil, meskipun masih berbeda kamar dengan Nabil, namun setiap harinya keduanya sudah seperti layaknya sepasang suami istri pada umumnya.
Namun meski begitu, Nabil masih saja dengan Nabil yang tidak bisa mengingat apapun yang terjadi hingga membuat seorang gadis SMA kini mengandung calon anaknya kelak. Meskipun setiap malamnya, Nabil selalu bermimpi yang selalu membuatnya terbangun tiap malam, awalnya Nabil mengira jika mimpi itu akan membuat kembali ingatannya, namun ternyata Nabil salah, mimpi yang selalu Nabil alami selalu mimpi yang sama.
"Meskipun gue nakal, tapi gue nggak suka manfaatin orang buat kepentingan gue sendiri, dan sifat itu melekat kuat pada diri dia."
Itulah kalimat yang selalu hadir dalam mimpi Nabil setiap malamnya, dan yang membuat Nabil bingung adalah siapa orang yang berbicara seperti itu padanya, dan siapa 'dia' yang orang itu maksud.
"Kamu kenapa?" Tanya Gaby tiba - tiba yang melihat Nabil tengah melamun sendiri di depan rumahnya.
__ADS_1
"Hmm?" Gumam Nabil menanyakan kembali perkataan Gaby yang sebelumnya kurang jelas ia dengar.
"Kamu kenapa? koq ngelamun sendirian disini?" Ujar Gaby kembali memperjelas pertanyaannya dengan kini duduk disebelah Nabil dengan bergelayut manja di lengan kiri Nabil.
"Gue nggapapa, loe ngapain keluar, ini udah malem?" Jawab Nabil, bukannya masuk kembali kerumahnya, Gaby malah duduk disamping Nabil dengan bergelayut manja pada lengannya.
"Kamu lagi ada masalah? Kamu bisa cerita ke aku, Bil. Aku juga mau jadi sesuatu yang berarti buat kamu." Ujar Gaby tak puas akan jawaban Nabil sebelumnya.
"Nggak, Gab! gue cuma lagi pengen disini aja." Balas Nabil yang juga kekeh masih belum bungkam akan mimpinya.
"Gab, kalo emang gue ngelakuin kesalahan Gue dalam mimpi, mungkin loe punya satu kunci yang bakal buat gue inget semuanya, mungkin gue minta sesuatu biar gue langsung bisa inget sama loe, kalopun kita nggak pernah kenal sebelumnya. Atau mungkin gue ngelakuin itu bukan dalam mimpi?" Tanya Nabil yang dengan mengelus rambut Gaby dengan penuh kasih sayang.
"Hal paling manis yang pernah kamu lakuin buat aku, dimana kamu teriak didepan banyak orang terus bilang 'Gaby chintya, Gue sayang dan cinta sama loe!' Terus karena malu, aku nggak langsung jawab ia, justru aku bilang..."
"Sebelum Aku jawab, tanya hati kamu terlebih dahulu. Omongan kamu barusan itu, pernyataan buat hati aku, atau pertanyaan buat hati kamu sendiri"
Entah bagaimana, Nabil tiba - tiba mengucapkan kalimat itu bersama Gaby dengan tempo kalimat yang sama. Rasanya Nabil sangat tidak asing dengan kejadian itu.
"Kamu inget?" Tanya Nabil dengan mata yang berbinar.
"Enggak tau, Gab! Gue ngerasa pernah lakuin hal seperti itu. Tapi gue nggak tau tepatnya kapan dan dimana." Tutur Nabil yang kini menatap tulus pada Gaby.
"Gaby, Nabil? kalian koq diluar? di dalem aja sini ngobrolnya, nggak baik buat bumil terlalu sering kena angin malam." Dengan tiba - tiba Erna keluar menghampiri keduanya.
"Ayo sayang, sini." Lanjut Erna dengan menuntun Gaby masuk kedalam rumahnya diikuti Nabil di belakangnya.
Saat hendak menutup pintunya, sebuah mobil yang tidak Nabil kenal memasuki pekarangan rumahnya. keluarlah seorang gadis cantik mendekat kearah pintu yang sebelumnya akan Nabil tutup.
"Nabil!" Panggil orang itu dengan tergesa menghampir Nabil, dan tanpa Nabil duga gadis itu langsung memeluk Nabil sangat erat.
Nabil yang mendapat perlakuan tiba - tiba itu hanya bisa terdiam dan menatap aneh pada gadis yang masih memeluknya sangat erat itu. Bahkan, bukan hanya Nabil, Gaby dan Erna pun terkejut melihat hal itu.
"Sorry?" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Nabil yang masih menatap heran pada Gadis yang semakin erat memeluknya seolah dirinya pernah sangat kehilangan NAbil, namun kini dipertemukan kembali setelah waktu yang cukup panjang.
"Nabil, mafin aku, untuk semua kesalah fahaman aku, aku mohon maafin aku, aku sayang sama kamu, aku nggak bisa hidup tanpa kamu!" Ujar Gadis itu yang justru membuat Nabil semakin bingung.
"Dan loe! Loe cewek murahan yang halalin segala cara buat pisahin Gue sama Nabil, loe sadar diri, loe cuma ******..."
"Stop! Loe siapa berani - beraninya hina istri gue?" Potong Nabil yang kini sedikit mendorong tubuh gadis itu sedikit kebelakang.
"Istri??? Itu bukan anak kamu Nabil, sadar bil! Aku calon tunanganmu, aku pacar kamu Nab..."
"Udah, makin ngaco loe, dan sorry banget, yah! Gue sama sekali gak kenal sama Loe, bahkan nyokap gue aja nggak ngebela loe sama sekali kalo emang loe tunangan Gue, harusnya mamah juga bakal ikut ngomong buat yakinin gue kalo loe tunangan Gue, dan Anak yang dikandung istri gue, itu calon Anak gue. dan sekarang loe pergi dari rumah Gue, dan jangan paernah lagi berani nunjukin wajah loe di depan Gue!" Ujar Nabil dengan menekan setiap kata yang ia ucapkan dan menandakan jika dirinya sangat tak teriama atas semua ucapan yang keluar dari mulut gadis di depannya ini.
"Tap..."
"GUE BILANG PERGI!!!" Bentak Nabil yang kini benar - benar marah pada gadis itu.
"Nabil, udah cukup! Dan buat kamu, maaf sekali saya tidak mengenal siapa kamu, dan saya tidak terima kamu menghina menantu saya, sebelum saya bertindak lebih kasar, dengan sangat memohon,tolong silahkan kamu pergi." Ujar Erna dengan menghampiri keduanya dan membawa Gadis yang kni menangis, menjauh dari Nabil.
"Tante, tolong percaya saya... Gaby bukan gadis yang baik, dia udah fitnah na..."
"Saya tekankan, jangan menuduh yang tidak - tidak tentang menantu saya. meskipun ini terjadi karena sebuah kesalahan, tapi kamu tidak berhak apapun untuk menghina keluarga anak - anak saya" Potong Erna dengan meninggalkan gadis itu yang kini semakin menangis dan pasrah memasuki mobilnya
Ketika Erna memasuki rumahnya, dia melihat Nabil tengah memeluk Gaby yang terlihat kini menangis.
__ADS_1
"Udah, gak usah dimasukin ke hati, Gab! Gue lebih percaya loe yang bawa bukti kuat, dan gue nggak akan biarin siapapun orang yang berani hina orang orang berharga dalam hidup gue. gue akan selalu lindungin loe." Tutur Nabil dengan lebih erat memeluk Gaby yang kini semakin menangis.
TBC