Dihamilin Setan!?

Dihamilin Setan!?
Tormeneted (Part 2)


__ADS_3

Pintu lift terbuka begitu sampai Naomi berada di lantai satu gedung pencakar langit itu, Begitu terbuka, Naomi langsung melangkahkan kakinya meninggalkan gedung itu menuju sebuah mobil yang terparkir di sebrang jalan gedung itu.


tok tok tok


Naomi mengetuk pintu kaca mobil pintu itu dengan cepat, dan begitu cepat pula Naomi bisa membuka pintu bagian belakang mobil itu da langsung masuk dan duduk di kursi penumpang jajaran kedua mobil.


"Loh..." Kaget naomi saat menatap seseorang yang dari sebelumnya berada di dalam mobil. namun orang itu hanya menatap tersenyum pada Naomi.


"Na... Nabil?" Gagap Naomi tak percaya.


"Hay, sayang!" Balas Adzril dengan usilnya dan tentu saja hal itu membuat Naomi tak tahan lagi untuk tak memeluk Orang yang ia kira itu Nabil.


"Erggghhh... Stop.... stoppp..." Erang Adzril dengan berusaha melepaskan palukan Naomi yang sangat erat. Serindu itulah Naomi pada sosok pemuda yang sangat ia sayangi.


"Kamu udah inget aku, kan? kamu nggak lupain aku gitu aja kan, Bil? Kamu masih sa..."


"Sssssstttt... Bawel banget loe, gue bukan Nabil!" Potong adzril yang pusing mendengar tangisan dan pertanyaan berantai dari Gadis yang sama sekali tak Adzril ketahui namanya itu.


Tiba - tiba pintu dari kemudi Mobil itu terbuka dari luar, dan masuklah Nabil yang sukses membuat Naomi tercengang, menatap dua orang yang sanag mirip, dan saat ini Naomi belum bisa memastikan yang mana orang yang benar - benar ia kenal dahulu.


"Nah, ini baru pacar loe... eh, ups maksudnya mantan.." Ujar Adzril yang sukses membuat Nabil menatap tajam padanya.


"Ka.. kalian saudara kembar?" Tanya Naomi dengan masih raut terkejutnya.


"Dah, diem!" Ujar Nabil yang langsung menyalakan mobilnya dan buru - buru meninggalkan jalan itu, yang tanpa sedikitpun mereka sadari ternyata seseorang tengah menatap sinis kepergian mobil yang Nabil kendarai.


"Gitu cara permainan loe, Bil?" Gumam orang itu dengan masih menatap sinis pada mobil Nabil.


***


Sedangkan di dalam mobil Nabil sendiri, terjadi keheningan diantara ketiga orang itu, Adzril yang ingin membuka topik obrlan pun merasa ragu, harus darimana ia memecah suasan tegang ini, pasalnya Adzril belum mengetahui bagaimana hubungan antara Nabil dan Naomi ini bisa berakhir.


"Dia Naomi, Kak! Niatnya, gue mau kenalin ke loe, Mamah sama papah, pas ketika loe udah dapet restu dari papah buat tunangan sama Ve, loe sendiri tau gimana papah ngedidik kita, bahkan loe mungkin inget gimana tatapan Papah sama Ve pas awal - awal jadian sama loe, gue nggak mau hal itu terjadi juga sama Naomi. Makanya, gue rencanain hal itu, biar kita bisa barengan rayain pesta nya, tapi..." Ujar Nabil tiba - tiba menggantung diakhir kalimatnya, rasanya ia berat untuk melanjutkan ceritanya, karena ia tahu, hal itu akan membuat Naomi sakit hati.


"Dan, Mi... Ini Adzril, salah satu keluarga gue yang pertama kali gue kenalin ke loe, dan gue minta maaf atas semua kesalahan gue, gue nggak akan minta loe buat balik sama, Gue. Karena semua itu akan percuma. Gue punya tanggung jawab lebih besar dibanding ngejaga perasaan Loe." Lanjut Nabil yang membuat Naomi kembali menangis, sedangkan Adzril sendiri kini bingung harus berbuat apa.


"Itu semua bukan salah kamu, Bil! Itu bukan anak kamu..."


"Maaf, Mi! Meskipun itu bukan anak gue, loe sendiri jadi saksi giman gue sama Gaby hari itu." Ujar Nabil yang semakin membuat Naomi semakin menangis.


"Apa kamu bener - bener ngelakuin hal itu?" Tanya Naomi dengan tangisannya yang semakin pecah dan hal itu semakin membuat Nabil merasa bersalah.


"Ya!" Jawab Nabil dengan Yakin. Ya, Nabil tau, ini akan sangat menyakiti Naomi, tapi mungkin ini lebih baik, dibandingkan Nabil memberi harapan pada Naomi yang sudah jelas takan bisa ia miliki.


"Meskipun itu bukan anak gue, Hasil tes DNA gue sama Anak yang ada dalam perut Gaby, itu udah bisa jadi bukti kuat buat Gaby bisa masukin gue kepenjara, Mi!" Ujar Nabil yang semakin menutup harapan Naomi.


Setelah berada tepat di depan gerbang pintu rumah Naomi, Nabil memberhentikan mobilnya dan keluar terlebih dahulu lalu memutar dan membukakan pintu untuk Naomi.


"Ayo, gue anterin... sekalian gue mau ketemu bunda." Ujar Nabil yang diangguki Naomi.


"Kak, bentar, ya..." Pamit Nabil yang diangguki oleh Adzril.


Setelah di depan pintu rumah Naomi, ternyata Bunda Naomi sudah menunggunya di depan pintu dan membukakannya untuk Naomi, dan betapa kagetnya Bunda Naomi ketika melihat siapa yang bersama Naomi.


"Assalamualaikum, Bunda..." Sapa Nabil dengan tersenyum dan menyalami wanita paruh Baya yang seumuran dengan Erna.


"Waalaikumsalam... masyaallah, anak bunda yang ganteng ini, gimana kabarmu, Nak?" Tanya Bunda Naomi dengan memeluk Nabil dengan penuh kerinduan, Nabilpun membalas pelukan itu dengan hangat.


"Maafin bunda, Nak. Bunda nggak bisa jengukin pas Nabil di rumah sakit, Bunda tau dari Omi, katanya Nabil kecelakaan sampe dirawat di rumah sakit dan koma berbulan - bulan. Bunda baru kembali ke sini minggu kemarin." Ujar Bunda Nomi dengan sangat menyesal menatap Nabil yang ternyata sudah mengenal Nabil, bahkan Bunda Naomi sudah tahu Hubungan antara Naomi dan Nabil, Dulu.


"Nggak apa - apa bunda, Alhamdulilah, Nabil sehat, seperti apa yang bunda lihat sekarang dihadapan bunda." Jawab Nabil dengan masih tersenyum kearah bunda Naomi.


"Yaudah kalo gitu, Kita masuk dulu, yuk." Ajak bunda Naomi, Naomi pun berharap Nabil mau mampir walau hanya sebentar, karena dalam fikirannya, masih banyak yang sangat ia ingin tanyakan pada Nabil.


"Aduh, maaf banget Bunda, Nabil kesininya sama kakak Nabil, dan Nabil nggak bisa pulang lebih lama lagi, Maaf banget, Nabil harus pamit sekarang, mungkin lain waktu, Nabil main kesini lagi." Tutur Nabil yang membuat Bunda Naomi dan Naomi sendiri sedikit kecewa pada Nabil.


"Aku harap, lain waktunya itu akan ada, bil..." Gumam Naomi yang tentu saja Nabil dan Bundanya mendengarnya, Nabil hanya tersenyum dengan mengusap lembut puncak kepala Naomi dengan lembut.


"Nabil pamit yah, Bunda..." Pamit Nabil dengan menyalami tangan Bunda. dan berjalan meninggalkan Naomi dan Bunda  yang menatap Nabil masih belum rela sebenarnya, namun mereka pun tidak bisa berbuat apa - apa.


"Sudah, jangan nangis, putri kesayangan Bunda ini pasti bisa Bahagia dengan caranya sendiri, bunda yakin!" Ujar Bunda Naom pada putri kesayangannya itu.


Sedangkan di dalam Mobil kembali Nabil yang menyetir dan Adzril yang masih betah memainkan smartphone nya.


"Dia cantik kan, Kak?" Tanya Nabil yang membuat Adzril tersenyum.


"Pantes sih loe bisa move on dari Ve kalo ceweknya dia. Tapi loe nggak bisa se-egois itu buat milikin dia, Bil. Paham kan maksud gue?" Ujar Adzril mutlak.


"Ya, dia terlalu baik buat gue sakitin buat yang keduakalinya." Ujar Nabil yang memang sudah pasrah jika takdirnya harus bersama Gaby. Namun Nabil pun belum sepasrah itu, mungkin setelah ini Nabil akan mencari semua jawaban dari apa yang Naomi katakan jika bayi yang ada di dalam rahim Gaby, ternyata bukan anak Nabil.


"Kisah kita lagi dipermainkan takdir, Mi... loe yang sabar, yah!" Benak Nabil dengan menatap kosong pada jalanan didepannya.


***


"Loe yakin?" Tanya seseorang dengan handphone menempel pada telinganya.


"...."

__ADS_1


"Koq bisa? Kata loe hal itu bakal bertahan lama, kenapa dia bisa balik secepat ini?" Lagi seseorang tadi masih asik mengobrol.


"..."


"Yaudah, loe urus aja deh semuanya, atur aja gimana bagusnya menurut loe, gue udah nyaman disini, loe nggak boleh rusak kebahagiaan gue. Kalo nggak loe lakuin lagi aja cara yang sama!"


"...."


"Yaudah, bye! Terus berkabar aja! Loe juga jangan terlalu cupu, loe harus lebih berani buat ambil tindakan, ama gue aja loe bisa senekat ini!"


"..."


"Iya, gue inget! udah loe tenang aja, ini udah mau finish, gue udah berkorban sejauh ini, gue nggak mungkin ngerusak semuanya!"


Tuut...


"Masa iya harus gue singkirin gadis itu!?" Gumamnya dengan menyimpan telpon nya di meja samping kursinya dengan menatap jauh kedepan.


"Udahlah, ngapain gue fikirin juga, gue udah dapet tempat nyaman ini..." Lanjut gadis itu dengan kini mengambil kembali hpnya dan memfokuskan matanya pada hp ditangannya.


***


Hari sudah mulai gelap, terlihat seorang gadis cantik dengan rambut panjang tergerai indah dengan sebuah kacamata berframe tipis menghiasi wajahnya, kemeja putih lengan panjang membalut tubuh bagian atasnya dan sebuah jeans panjang, hingga menambah kesan cantik dan terlihat sempurna. Sebuah buku tebal masih setia di pangkuannya dengan earphone menutup kedua telingannya hingga dirinya tak menyadari seorang pemuda yang baru saja turun dari mobil yang baru saja memasuki gerbang rumah.


Melihat gadisnya yang masih saja fokus pada novelnya, pemuda itu mengembangkan senyumannya dan memeluk gadisnya itu dari belakangnya hingga membuat gadis itu sedikit tersentak, namun saat melihat tangan siapa yang melingkar dari belakang tubuhnya, ditambah aroma parfum yang sangat familiar dihidung gadis itu membuatnya tersenyum dan melepaskan earphone dan menyimpan novelnya di meja.


"Ngapain loe diluar?" Tanya Pemuda yang tak lain adala Adzril dan gadis yang masih setia ia peluk tentu saja Veranda, gadis yang sangat ia sayangi setelah mamahnya.


"Loe nggak liat gue lagi ngapain?" Balas Ve dengan memegang tangan Adzril yang masih setia melingkar di lehernya.


"Iya kenapa nggak di dalam aja? udah gelap ini." Ujar Adzril dengan melepaskan rangkulannya yang membiarkan Ve terbangun daru duduknya dan menghadap Adzril yang kini berdiri tegak dan Nabil yang berdiri di belakangnya dengan tersenyum hangat pada Ve.


"Kalian baru pada pulang? Tumben sampe jam segini?" Tanya Ve dengan melihat jam tangan yang melingkar ditangannya.


"Abis ngajakin makan dulu gue tadi, Ve! Katanya restoran Paforite gue sama Adzril dulunya." Nabil yang menjawab dan membuat Ve mengangguk, karena yang Ve tau, restoran yang menjadi tempat Paforit si kembar bertempat tepat berdekatan dengan sebuah timzone, dan biasanya Nabil dan Adzril jika ketempat itu, pasti akan mampir ke timezone juga.


"Loe udah lama disini?" Tanya Adzril dengan merangkul Ve dan mendahului Nabil yang kini mengekor di belakang Adzril dan Ve.


"Dari siang gue disini, tadi abis nemenin Gaby katanya bosen dirumah, gue abis jalan aja tadi di mall." balas Ve dengan menatap wajah samping Adzril yang kini juga menatap Ve.


"Nggak kuliah?" Tanya Adzril kembali.


"Gue Kuliah pagi doang jam sembilan, sampe jam dua belas, balik kuliah gue langsung kesini, abis gue bt juga dirumah gak ngapa - ngapain. Kebetulan, Gaby ngajak jalan." Tutur Ve yang diangguki Adzril.


Meskipun sebentar lagi akan menikah dengan Adzril, Ve tetap saja melanjutkan kuliahnya, karena sayang sekali juika harus cuti dari sekarang, dan mungkin meskipun sudah menikah nanti, Ve akan tetap melanjutkan kuliahnya, dan setelah menjadi sarjana nanti, baru mungkin Ve akan lebih fokus pada rumahtangganya bersama Adzril.


Nabil sengaja menghentikan langkahnya saat matanya menangkap gerak - gerik Ve dan Adzril yang sudah bisa Nabil baca, wajah Adzril yang semakin mendekat kearah Ve yang kini sudah menutup matanya, tentu Nabil mengetahuia apa yang akan terjadi selanjutnya pada Ve dan Adzril yang masih Nabil perhatikan dengan tatapan usilnya, hingga ketika baru saja menempel bibir Adril dan Ve, Nabil dengan isengnya mengganggu kegiatan mereka.


"Ekhmmm..." Dehem Nabil dengan berjalan kembali menaiki tangga dengan perlahan tanpa menatap Adzril dan Ve.


"Kemarin sih ada yang pernah bilang, kalo ada cewek yang sampe malu main kerumah ini, cuman gara - gara ketahuan ciuman di belakang rumah..." Lanjut Nabil dengan berjalan santai menaiki tangga, bahkan Nabil tak sedikitpun menatap Ve dan Adzril seolah berbicara pada angin, tidak tahu saja, Ve kini tengah menyembunyika raut merah wajahnya menahan malu, sedangkan Adzril menatap sinis pada Nabil.


"Awas aja loe,nanti tidur gue bekem muka loe pake bantal sampe nafas loe ilang! Liat aja nanti!" Teriak adzril yang mendengar Nabil kini malah tengah tertawa di lantai atas, setelah mendengar ancaman Adzril yang sebenarnya menyeramkan itu, namun percayalah, Nabil takan pernah benar - benar melakukan hal itu.


"Siapa?"


"Anjj.... Apan dah, ngagetin aja loe." Kesal Nabil saat melihat Gaby yang tiba - tiba berada di depan pintu kamarnya dengan Adzril.


"Siapa cewek yang tadi kamu maksud?" Tanya Gaby memperjelas pertanyaannya dengan mengambil alih tas yang sedari tadi Nabil jinjing dan melepaskan dasi yang sedari tadi menggantung di leher Nabil. Suami istri yang sangat serasi...


"Siapa lagi? Ya, cinta pertama gue lah!" Ujar Nabil dan sukses membau Gaby menatao Nabil dengan cepat dengan wajah yang tak bisa Nabil artikan.


"Oh..." Balas Gaby dengan menggulung kasar dasi yang sudahlepas dari leher Nabil dan membuka pintu kamar Nabil dan Adzril untuk menyimpan dan membereskan tas dan peralatan Nabil, namun kini dengan wajah yang mungkin Nabil baca, Gaby saat ini tengah menahan keksalan atas ucapannya sebelumnya.


"Gab..."


"Iya udah, kamu nggak perlu minta maaf, aku tau koq... Aku disini karena apa." Potong Gaby saat tengah membereskan barang barang Nabil yang sedikit berantakan di kamarnya. Gaby memang sudah serumah denga Nabil, namun jika tak ada Nabil ataupun Adzril, Gaby tidak pernah berani memasuk kamar Nabil dan Adzril, dan Gaby hanya punya kesempatan untuk membereskan kamar Nabil dan Adzril, hanya ketika Nabil pulang kerja.


Nabil berjalan kearah Gaby yang membelakanginya dan mengusap puncak kepala Gaby dengan lembut.


"Karena gue ngizinin loe tinggal disini bukan hanya karena bayi yang ada dalam perut loe, Gab. tapi juga biar gue bisa lebih bisa jaga calon ibu dari anak gue juga." Tutur Adzril yang langsung meninggalkan Gaby yang kini terdiam karena masih menerna kemana maksud arah pembicaraan Nabil.


"Veranda memang cinta pertama gue kata Adzril, tapi dia bukan cinta terakhir gue, Gab." Lanjut Nabil yang kini sudah dalam kamar mandi dengan suara yang cukup keras.


"Dan ternyata bukan veranda juga cinta pertama dan bahkan terakhir gue, Gab!" Gumam Nabil dengan menatap pantulan bayangannya sendiri.


Flashback


Seorang gadis dengan wajah yang sangat ceria terlihat tengah bergelayut manja pada seorang remaja berpakaian putih abu yang terlihat wajahnya sangat datar, sangat berbeda dengan sang gadis.


"Loe bisa nggak, sehari aja gitu buat nggak gangguin hidup gue?" Tanya remaja itu dengan langkah yang terhenti tepat di bawah pohon yang terdapat sebuah bangku panjang di bawah pohon itu.


"Kayaknya nggak bisa, sih..." Jawab gadis itu dengan wajahnya yang terlihat dibuat seolah berfikir keras untuk menjawab pertanyaan lelaki yang sepertinya sangat gadis itu cintai.


"Eh, Sin! Loe nyadar gak sih, gue selalu ribut sama Nando itu semua gara - gara elo, tau nggak! dia itu Sayang sama loe..."


"Ngaco nih... udah berapa kali aku bilang Nabil Putra... Kalo nando itu sayangnya sama Kakak gue, makanya dia nggak mau liat gue disakitin siapapun." Potong gadis yang sering disapa Sin atau lebih lengkapnya bernama Sinka.

__ADS_1


"Gue juga sayang sama kakak loe.." Balas lelaki yang ternyata adalah Nabil, dimana Nabil ketika masih berseragam putih abu.


"Hahahah... lucu sekali, Nabil... bahkan kamu nggak kenal kakak aku yang mana." Ujar Sinka dengan tertawa hambar.


"Hemh... terserah loe deh, yang jelas gue mohon loe jangan lagi sekalipun deketin gue, urusin aja hidup loe, karena sampe kapanpun, gue nggak akan pernah jatuh cinta sama loe, Sin! bahkan ketika di dunia ini hanya ada loe yang tersisa, gue lebih memilih hidup sendiri, dibandingkan harus hidup berdampingan sama..."


"Bil! Aku tau, disekolah ini, kamu bukan siswa biasa aja, kamu ibarat sebuah bintang yang paling terang diantara bintang lainnya, sedangkan aku, harus butuh beberapa alat canggih buat orang bisa sadar akan kehadiran aku. Tapi apa hal itu pantas buat kamu bisa rendahin aku?" Tutur sinka dengan mata yang memerah menahan airmata yang ternyata dengan mudahnya lolos dari pelupuk mata Sinka dengan bebasnya.


"Aku cuma coba berusaha buat bisa terlihat diamata kamu, dan maaf kalo ternyata selama ini aku buat kamu risih, aku kira ketika kamu selalu nolongin aku dari beberapa siswa yang selalu buly aku, kamu punya perasaan lebih dari sekedar karena kasihan sama aku. Aku cuma mau kamu tahu, kalo aku beneran jatuh cinta sama kamu, yang ternyata aku sadar, kamu deketin aku, bukan buat dapetin hati aku, tapi kamu cuma mencari jalan alternatif biar bisa kenal lebih deket sama kakak aku sendiri. dan yang tanpa kamu sadari, hati aku yang udah kamu dapetin selama ini." Tutur Sinka dengan airmata yang semakin deras turun begitu saja, namun Nabil malah dengan angkuhnya berjalan meninggalkan sinka tanpa sepatah kata apapun.


Tanpa Nabil sadari ternyata sedari tadi seseorang yang sempat disebut dalam perdebatan Nabil dan Sinka, ternyata sedari tadi memperhatikan keduanya hingga kini kesabarannya sudah habis dan mengejar Nabil dengan membawa sebilah kayu yang memang tipis, namun cukup terasa jika dipukulkan pada orang lain.


"Lo fikir, Loe oke gitu bisa bikin dia nangis cuma gara - gara sosok seorang pengecut kayak loe yang manfaatin orang lain buat dapetin hati seseorang."


Nabil terhenti ketika mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya, bahkan tanpa menatap orang itupun Nabil tahu, siapa dan seperti apa kejadian selanjutnya.


"Daripada gue terus kasih dia harapan seolah gue beneran sayang sama dia, mungkin ini bisa jalan yang tepat agar dia nggak terus tersakiti sama sikap gue." Balas Nabil dengan tanpa menatap siapa yang ada di belakangnya, bahkan kini dengan tangan yang menggenggam erat kayu kecil yang ia Bawa dan dengan amarah yang besar, siswa di belakang Nabil menghantam punggung bagian bawah Nabil dengan Kayu yang ia Bawa, bahkan saking kerasnya, kayu itu sampai patah dan membuat Nabil sedikit terdorong kedepan karena Ngilu yang ia rasa dari pukulan siswa yang memukulnya dari belakang.


"Annjjjj... Sakit Bangsat!" Erang Nabil yang langsung berdiri dan menyerang balik siswa yang tak lain adalah Nando.


Dan akhirnya mereka berdua saling memukul satu sama lain, dan untungnya tempat mereka berkelahi sangat sepi, hanya beberapa orang yang sering mengunjungi tempat ini, ditambah ini adalah jam belajar, jadi hanya siswa yang mendapat jadwal olah raga yang bisa ke tempat ini, dan kebetulan Nabil yang sekelas dengan Sinka memang tengah berada di jam olah raga, sedangkan Nando, dia tak sengaja ketika membolos jam pelajaran melihat sinka dan Nabil yang memishkan diri dari siswa lainnya.


Nabil dan Nando masih saja saling memukul satu sama lain, tanpa memperdulikan tenaganya yang sama - sama semakin melemah hingga ...


"Wehh!!! udah! UDAH! CUKUP BANGSAT!"


Seseorang tiba - tiba datang untuk memisahkan keduanya yang sudah sama - sama babak belur. namun baru saja sampai di tengah keduanya, orang itu mendapat sambutan dari tangan kanan Nando yang ternyata hendak memukul Nabil namun Nabil dengan refleknya menghindar hingga mengenai wajah Siswa yang tak lain adalah Keynal.


Bugh...


"Anjjjj... Koq loe mukul gue, bangsat!" Marah Key dengan mendorong tubuh Nando yang seketika itu juga ambruk karena sudah hampir kehabisan tenaganya.


"Nah loe, Goblok! Ngapain loe disitu?" Balas Nando yang terlihat sedikit kesusahan untuk berdiri. sedangkan Nabil yang merasa sudah cukup lelah meninggalkan Key dan Nando yang mungkin saja sebentar lagi akan melanjutkan perkelahiannya.


Namun ternyata Nabil salah, Keynal malah membantu Nando berdiri dengan menariknya tangan Nando yang terulur.


Saat Nabil kini sudah disekitar halaman sekolah, Seorang gadis yang mungkin bisa dibilang mirip dengan Sinka menyadari Nabil yang memasuki gerbang masuk sekolahan dengan wajah yang berantakan.


"Hey, kamu!" Panggil gadis yang tak lain adalah Naomi, dengan menghampiri Nabil yang tak menyadari jika Naomi sang ketua OSIS sekolahannya itu memanggil dan kini menghampiri Nabil.


"Hey! Kamu habis berantem ya?" Tanya Naomi lagi saat sudah dihadapan Nabil yang sebelumnya melihat kanan kiri untuk memastikan jika Naomi menyapanya atau orang lain yang mungkin ada dibelakang Nabil, namun setelah memastikan tak ada orang lain dan hanya ada dirinya, kini menatap gadis yang ternyata lebih pendek darinya dengan tatapan bertanya.


"Berantem sama siapa kamu?" Tanya Naomi dengan menarik Nabil kehalaman sekolahnya, bukan, ternyata Naomi membawa Nabil ke arah ruang guru.


"Sama bodyguard loe!" Balas Nabil dengan menghentikan langkahnya hingga membuat Naomi pun terhenti.


"Siapa?" Tanya Naomi dengan tatapan heran menatap Nabil.


"Ya siapa lagi kalo bukan Nando sama Keynal. Nggak deh, Nando doang, Keynal cuma mau pisahin tadinya." Ujar Nabil yang tentu saja membuat Naomi menatap Nabil dengan tatapan tak percaya.


"Loe nyakitin Sinka, Ya?" Tanya Naomi dengan menunjuk Nabil dan tatapan mengintimidasi, namun bukannya takut, Nabil malah melihat Naomi sangat lucu saat marah, dengan wajah juteknya yang.


"Kenapa gue bisa nyakitin sinka, sedangkan gue sendiri gak punya perasaan apapun sama dia?" Tanya Nabil dengan balas menatap mata Naomi yang memancarkan aura amarahnya, namun tetap saja Nabil malah semakin merasa gemas sendiri mentapa wajah Naomi.


"Eh gimanapun juga, Sinka adek kandung gue, Ya! Gue nggak terima loe sakitin dia, dia itu punya perasaan sama loe..."


"Tapi Gue sukanya sama kakaknya, gimana dong?" Tanya Nabil yang sukses membuat Naomi menyipitkan matanya mengintimimidasi Nabil, seolah memaksa Nabil mengulangi kalimatanya barusan. Namun Nabil seolah tak memperdulikan Naomi, dan berjalan begitu saja melewati Naomi menuju ruang guru. Sedangkan Naomi sendiri masih mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Nabil.


"Gue nggak mungkin masuk sendiri dong kedalem, gamungkin juga gue bilang sama guru, 'pak, gue abis berantem nih, hukum gue dong' gak mungkin, kan?" Tanya Nabil setelah dirinya berada tepat didepan ruang guru BK.


Sontak Naomi yang tersadarpun kembali menghampir Nabil dan membuka kan pintu untuk Nabil. Namun kali ini tanpa menarik tangan  Nabil sama seperti sebelumnya.


"Gue bisa kabur lho, kalo nggak dipegangin." Ujar Nabil yang sontak kembali mendapat tatapan tajam dari Naomi.


"Permisi, Pak..." Sapa Naomi pada seorang guru yang tengah duduk.


"Ya... Astaghfiruloh, itu kenapa babakbelur begitu?" Kaget guru itu saat mendapati Naomi membawa seorang siswa dengan wajah yang sangat berantakan, luka lebam dimana - mana, dan sedikit darah yang menetes dari jidat Nabil yang sedikit tergores.


"Di habis tawuran, pak..."


"Bohong! Enak aja loe, gue beneran ribut satu lawan satu ya, sama Nando!" Ujar Nabil tak terima atas pernyataan Naomi. "Panggil aja Keynal kalo loe nggak percaya!"


"Hehhh... sudah! Naomi, tolong kamu bersihkan dulu luka - luka, nya! Terus nanti kamu bawa anak ini ke ruang kepala sekolah langsung, ya!" Ujar Guru Bk dan Naomi pun mengangguki perintah guru itu dan membawa Nabil ke ruang UKS yang selanjutnya akan ia bawa Nabil ke hadapan Kepala Sekolah.


***


"Ahsss... pelan - pelan anjir!" Ringis Nabil saat Naomi mengobati luka disekitar wajah Nabil.


"Ini nggak seberapa dibandingkan hati adek gue yang udah loe permainin!" Balas Naomi dengan wajah juteknya.


"Ceritanya dendam adek loe, loe yang balesin nih?" Tanya Nabil dengan menahan lengan Naomi yang tengah mengobatinya, sontak Naomi pun menatap Nabil saat tangannya tiba tiba ditahan oleh Nabil.


"Hati gue bukan telapak tangan, yang dengan mudah loe bisa bolak - balik. Dia nggak di paksa untuk jatuh cinta sama seseorang tertentu." Ujar Nabil tiba - tiba, sontak Naomi yang masih kaget pun semakin gugup saat Nabil semakin mendekat kearahnya.


"STOP!" Tegas Naomi saat wajah nabil sudah sangat dekat dan Naomi memundurkan wajahnya dan beranjak untuk menyimpan kotak P3K pada tempatnya.


"Loe tanyain sama Sinka, dia rela gak kalo loe jadi milik gue!"

__ADS_1


TBC


__ADS_2