
Setelah selesai dua kali jam pelajaran, bu Erna sebagai guru fisika yang kini baru saja selesai memeriksa hasil dari murid - murid di kelas Nabil. Dengan raut wajah yang seperti keheranan, bu Erna terus membolak - balik satu kertas di tangannya.
"Baik ibu akan bacakan hasil ulangan kalian, 5 besar nya saja!" Ujar bu Erna dengan tegas. "Yang namanya saya tulis didepan kalian boleh keluar lebih duluan."
Bu erna menuliskan peringkat ulangan harian dari lima besar.
5. Bagas
4. Nadila
3. Adzril
2. Veranda
1. Gabriella.
"Silahkan yang namanya ada di papan tulis, kalian bisa keluar." Ujar bu Erna.
Ve yang merasa memenangkan taruhan ini pun menatap Nabil dengan remeh, bahkan masuk lima besarpun nggak, gimana mau mengalahkan Ve?.
"Bu..." Panggil Nabil dengan mengangkat tangannya.
"Iya Kenapa?" Jawab bu Erna.
"Maaf bu, di kelas ini nggak ada yang namanya Adzril, yang ada juga Ariel, mohon periksa lagi bu itu urutan nomor 3 siapa." Tutur Nabil, sontak Bu Erna pun melihat kembali lima kertas yang sebelumnya ia pisahkan.
"Oh, iya maaf ternyata bukan Adzril, tapi Nabil disini yang tertulis." Ujar Bu Erna merasa tidak bersalah sedikitpun.
"Bu, sekali lagi Nabil mohon maaf banget, bisa ibu memberitahukan nilai - nilainya nggak bu?" Tanya Nabil kembali dengan wajah yang sedikit memohon.
"Baik. Nilai dari Gaby 90, Veranda 85, kamu Nabil 85, Lalu Nadila 80 dan Bagas 75, sudah. Ada lagi Nabil?" Tanya Bu Erna yang semakin heran menatap Adzril.
"Ibu yakin, kalo nilai saya segitu bu? Coba tolong di..."
"Udah lah, kalo kalah, ya kalah aja nggk usah berbelit - belit!" Potong Ve deng wajah malasnya, sedangkan Gaby masih menatap khawatir pada Nabil.
"Loe nggak tau apa - apa, Ve!" Balas Adzril tak kalah menantang pada Ve.
"Maksud loe apa?!" Tanya Ve yang langsung merasa tersinggung.
"Sudah... Sudah!" Lerai Bu Erna yang melihat Ve dan Adzril semakin ngotot.
"Nabil, apa yang buat kamu yakin kalo nilai kamu lebih dari itu? Hm?" Tanya bu erna mendekati Nabil dengan tatapan jahilnya.
"Karena seingat Nabil, dan dalam uraian hitungan yang saya buat, Saya tau dan Saya yakin, kalo saya hanya salah di satu nomor." Ujar Nabil dengan yakin.
"Mana uraian hitungan kamu!?" Tanya bu Erna. Sontak Nabil pun memberikan uraiannya pada bu Erna.
"Ya, memang apa yang kamu katakan benar, dan nilai kamu sebenarnya 95." Ujar bu Erna dengan memperhatikan Uraian yang Nabil buat. "Tapi saya tidak yakin, ini hasil kerja kamu sendiri, ayo ngaku kamu dapat ini dari siapa?"
"Maksud Ibu?" Tanya Nabil dengan bingung. Namun akhirnya Nabil sadar dan menatap Ve sekilas yang kini hanya tersenyum remeh padanya. "Oh, Nabil tau..."
Sontak, Bu Erna menatap Nabil dengan raut yang sangat terkejut.
"Sebelumnya maaf, kalo perkataan saya sedikit lancang.." ujar Adzril menggantung dan menutup sekejap matanya. "Bu, saya nemang pembuat onar, saya memang nakal, tapi otak saya masih berfungsi seratus persen, dan masih bisa memahami apa yang kakak pembimbing saya ajarkan sebelumnya, bahkan hanya pelajar seperti ini, nggak sedikitpun buat saya pusing bu. Bahkan jika di ukur, mungkin ulangan hari ini, dalam otak saya belum sampai mencapai level bawah pun."
Perkataan Adzrill yang cukup tajam itu sontak membuat bu Erna menatap tajam padanya.
"Bu, Adzril memang anak nakal, tapi Adzril juga anak manusia Bu! Selayaknya Manusia lain yang diberi Anugrah dan akal sehat untuk berfikir."
Plak
"Cukup, kamu sudah keterlaluan..." Bukan bu Erna yang menampar Nabil, melainkan Gaby yang sedari tadi hanya bungkam, namun tersadar saat arah perkataan Nabil akan kemana.
__ADS_1
"Bu, atas nama teman saya, saya minta maaf..." Ujar Gaby menunduk dan menarik Nabil keluar dari kelas.
Sesampainya di luar ruangan Kelas, Nabil menghentikan langkahnya yang tentu saja membuat Gaby yang memang menggenggam lengan Adzril ikut terhenti langkahnya. Gaby menatap Nabil dengan sedikit kecewa dan menghempaskan lengan Adzril dengan sedikit menghempaskannya.
"Ini yang kamu bilang mau buktiin kalo kamu sayang sama aku?" Tanya Gaby dengan meneruskan jalannya yang sepertinya menuju arah kantin. Nabil yang masih belum sadar dari maksud tamparan Gaby sebelumnya hingga kini ia bertanya kembali tentang hal yang kembali membingungkannya.
"Katanya, kamu siap berubah jadi orang yang lebih baik lagi buat buktiin kalo kamu sayang sama aku, baru segitu aja kamu udah maki guru kamu sendiri. lagian siapa yang nggak kaget juga kalo ternyata kamu ikut bimbel, nggak ada yang nyangka seorang Nabil Putra, trouble maker dapet nilai paling bagus di pelajaran Bu Erna, padahal disetiap jam pelajarannya kamu jarang masuk, jelas bu Erna ragu sma jawaban kamu. jangankan bliau aku aja ra..."
"Bawel!" potong Nabil dengan menutup mulut Gaby dengan telapak tangannya. Saat ini keduanya sudah sampai di kantin dan duduk bersebelahan di spot paforit Nabil, pojokn kantin yang tepat di siku - siku 90 drajat ruangan dengan kedua jendela yang hampir berhadapan.
"Ish..." Kesal Gaby dengan menghempaskan lengan Nabil dari depan mulutnya.
"Kenapa loe semarah itu sama gue?" Tanya Nabil yang sukses membuat Gaby menatap heran pada Nabil.
"Fikir aja sendiri!" Ucap Gaby dengan raut wajah yang sangat kesal.
"Loe tau?" tanya Nabil tiba - tiba, Gaby hanya menatap Nabil yang mengartikan 'Tau apa'
"Muka loe lebih cantik kalo lagi marah!" ujar Nabil yang sukses membut Gaby memalingkan tatapannya dari Nabil untuk menyembunyikan pipinya yang kini sangat merah.
"Mau makan gak?" tanya Nabil dengan beranjak hendak memsan makanannya namun sebenarnya itu hanya pengalihan saja, agar Gaby tidak terlalu malu padanya.
"Minum aja, aku masih kenyang." ujar Gaby yang terlihat masih kesal. Adzrill hanya tersenyum dan mengacak lembut rambut Gaby dan berlalu menuju tempat memsan makanan.
"Nah, gue cariin malah asik ngedate disini pula! mana Gaby?" ujar seseorang yang entah datang darimana kini sudah berada di samping Nabil.
"Tuh, loe mau makan gak? gue traktir!" Ujar Nabil dengan menunjuk Gaby dengan dagunya dan berakhir menawari gadis yang ternyata adalah Ve.
"Boleh deh, samain aja!" Ujar Ve yang dijawab anggukan oleh Nabil dan kembali berbicara pada ibu kantin.
"Bu, mie ayamnya jadi tiga trus minumannya es teh manis dua, trus yang satunya es teh tawar aja." Ujar Nabil dengan dengan diangguki ibu kantin yang menuliskan pesanan yang Nabil sebutkan.
"Tunggu sebentar ya Bil, nanti Ibu anter." balas Ibu Kantin dengan hanya diangguki Nabil dan kembali ke tempat duduknya yang kini sudah ada veyang tengah berbincang dengan Gaby.
"Di gas salah, di baikin malah ditanya kenapa? jadi loe maunya gue gimana sih?" kesal Ve.
"ya gak giman - gimana Ve... gue cuma heran aja koq ada ya cewek kayak loe yang keliatan anti banget gitu deket sama cowok?!" ujar Nabil dengan mengambil telphonnya yang terus berbunyi tanda ada yang menelponya.
"Bentar..."
"Hallo dengan siapa dimana dan ada apa? passwordnya..."
"..."
"Gue di kantin lagi makan, kenapa dah?"
"...."
"yaelah... yaudah sini dah, sekalin bawa buku loe! jangan lama gue lagi ngedate!"
tut
Nabil menutup telponnya secara sepihak.
"Siapa?" tanya Ve yang entah mengapa penasaran pada orang yang menelpon Nabil.
"Tar juga loe tau..." balas Nabil dengan mengotak - atik hpnya entah apa yang ia lakukan.
"Eh, Gab, Ve... kalian belom follback IG gue, lho! parah banget sumpah." ujar Nabil yang mukanya di buat sesedih mungkin, sontak Gaby dan Ve pun saling menatap.
"Gapenting banget follow IG kamu!" Ujar Gaby dengan memutar matnya malas.
"Dih, kan Gaby jadi bisa kepoin Nabil kalo Gaby lagi kangen sama Nabil..."
__ADS_1
"Jijik banget gue, sumpah..." ringis Ve dengan menatap Nabil.
"Ngomong aja loe..."
"Curut... nih!" Sebelum Nabil menyelesaikan ucapannya, seseorang yang ternyata adalah Key datang dan menaruh bukunya di depan Adzril.
"Bangsat, nggak punya adab emang nih anak!" Ujar Nabil yang tentu saja hanya bercanda. "Yang tentang apa sih emang, bego banget gini doang?"
"Ini Bil..." Ujar Key dengan menunjukan satu pertanyaan yang ada di bukunya, sebenarnya sedari awal masuk ke kantin Key ragu untuk bergabung dengan Nabil karena disaana ada Ve dan Gaby, namun sebisa mungkin Key mencoba tak menghiraukan Ve maupun Gaby.
"Kenapa kamu gak minta ajarin sama Ve? Ve jago lho kalo masalah bahasa inggris gini." Ujar Gaby dengan sedikit menatap Ve untuk menggodanya.
"Apaan sih, Loe?" ketus Ve yang masih memokuskan perhatian pada ponsel pintarnya.
"Nah, iya Key? Kenapa gak loe minta ajarin Ve aja?" sambung Nabil dengan sama menggoda Key.
"Lama - lama ba..."
"maaf mengganggu, ini pesanannya Nabil." Ibu Kantin memotong ucapan Ve yang langsung membuat Ve menatap kesal pada Gaby yang mentertawakannya tanpa suara.
"Dah loe makan aja dulu Bil." Ujar Key dengan mengambil bukunya kembali namun pada akhirnya Nabil tahan.
"Bentar, ini loe cari jawabannya di sekitar paragraph ini, pake kamus aja, trus yang ini tentang Tense ini loe cari di bagian ini, udah ke bawahnya loe pake translator hp loe aja, gampang koq ini, soal cerita semu." ujar Adzril dengan memberikan buku yang sebelumnya Key bawa.
"Okeh thanks dah, yaudah gue kilab yak..." pamit Key dengan mencomot krupuk yang ada di di mangkuk Nabil.
"Eh, bentar dulu duduk, buru - buru amat, kayak guru perawan aja yang ngajar kelas loe?" tahan Nabil yang sukses membuat Key terduduk kembali dan menatap bingung pada Nabil.
"Bu Shela emang kayaknya masih perawan deh, Bil?" Balas Key polos yang sukses membuat kedua gadis dihadapan mereka mengerilingkan matanya.
"Dijawab lagi, gapunya adab emang!" Gerutu Nabil. "Hari minggu mau kemana lo, Key?" tanya Nabil dengan menyuapkan mie Ayam miliknya.
"Kalo jadi, kayaknya gue ke Bandung deh, kenapa emang?" balas Key dengan mengambil krupuk yang ada di mangkuk Nabil.
"Gue Ada urusan sih sebenernya sama loe, ya nggak terlalu penting juga sih." ujar Nabil, Key hanya menganggukinya. "Mau ngajakin loe ke Event di parkiran timur senayan. ya, tapi kalo lo ada keperluan gapapa sih, cuman gue bt aja kalo berangkat sendiri."
"Bangsat gue dijadiin umpan buat ngode, dahlah gue kilab. btw thanks, yak!" gerutu Key dengan kembali mencomot krupuk Nabil dan pergi begitu saja.
"Kampret... bener - bener gapunya adab emang." pekik Nabil yang hanya dibalas tawa keras Key.
"Ada bidadari di depan loe, ngapain loe malah ngajakin curut itu?" gumam Ve yang langsung di tatap tajam olehg Gaby.
"Sukur kalo dia mau, lah dia kan terserah loe... loe emang ngzinin?" tanya Nabil dengan alis yang terangkat.
Benar memang yang Nabil katakan, jika ingin mengajak Gaby pergi, harus di setujui dulu oleh Ve, namun bukan itu alasan Nabil yang sebenarnya, yang Nabil inginkan Ve dan Key juga ikut ke acara tersebut, namun Key sudah memberikan sinyal negatif.
"Kalopun gue izinin, loe mau cuam jadi penonton dari jauh, loe tau sendiri nianak nggak suka keramaian." Ujar Ve yang kembali membuat Gaby mengerucutkan bibirnya.
"Kalian sadar gak sih, kalo orang yang kalian omongin itu ada di depan kalian?" Gerutu Gaby dengan menyuapkan kesal makanannya. sedangkan Ve dan Nabil hanya tertawa memandangi wajah kesal Gaby, tanpa Sadar, Nabil terpaku cukup lama memandangi kecantikan Gadis yang sangat ia cintai.
"Mandangin Gaby nggak bakal bikin loe kenyang, bego!" Ujar Ve dengan isengnya, sedangkan Nabil hanya menggelengkan kepalanya dengan masih senyum yang sama. Gaby yang baru sadar sedari tadi Nabil menatapnya, kini menatap Nabil yang mulai menyantap makanannya.
"Kenpa, ada yang aneh?" tanya Gaby dengan menatap Nabil yang kini kembali menatap Gaby.
8064"Nggak ada, cuma keingetan aja tadi ada yang bilangnya nggak mau makan, eh pas udah ada di depannya udah mau abis aja." Ujar Nabil dengan senyum yang masih mengembang setia di wajahnya.
Gaby yang tersadar sindiraan Nabil pun kini tersipu dalam diamnya, karena terlalu malu, Gaby meminum minumannya yang dengan mencoba menahan senyumnya.
"Bodoh, malah salting lagi si Gaby ini, makin terbang itu si curut." Gertu Ve dengan menatap Nabil yang kini semakin tertawa keras.
"Nggak usah loe bilang lagi Veranda, itu si Gaby makin salting!" Ujar Nabil yang masih dengan tertawa sangat renyah. Dan anehnya, Gaby malah yang kini menatap terpaku pada wajah bahagia Nabil, disana Gaby melihat seolah ini adalah kali pertama Nabil tertawa begitu bahagia.
"Yatuhan, gimana aku nggak jauth cinta sama dia, baru gini aja aku sebegitu terpesonanya sama makhlut terindah ciptaanmu dihadapnku ini."
__ADS_1
To Be Continue...