Dihamilin Setan!?

Dihamilin Setan!?
Tormented


__ADS_3

Pagi menjelang, sinar mentari dengan lancangnya menerobos tirai jendela yang sedikit tersibak kan angin hingga dengan menerpa kelopak mata seorang pemuda yang masih enggan membuka matanya, namun mau tak mau, pemuda itu terpaksa sedikit - demi sedikit membuka matanya. Hingga setelah kesadarannya terkumpul,kini pemuda itu menatap seisi ruangan yang terasa asing, namun detik berikutnya pemuda itu tersadar memang dirinya bukan tertidur di rumahnya.


Setelah bergelut dengan fkiran paginya yang sangat kacau, dengan segera pemuda itu mengubah posisinya untuk bangun dan membersihkan tubuhnya, namun ketika pemuda itu menyibakan selimutnya, betapa kagetnya pemuda yang tak lain adalah Nabil, ternyata dirinya tebangun dengan tanpa sehelai benangpun yang menempel di badannya. Sontak, Nabil pun kembali menarik selimutnya dan belum selesai dengan keterkejutan sebelumnya, kini kembali semakin bingung ketika menyadari jika entah dari kapan, ternyata seorang gadis masih terlelap nyaman disampingnya, dan Nabil yakin, mungkin gadis disampingnya ini juga sama telanjangnya dengan Nabil sendiri.


"Gab..." Panggil Nabil dengan ragu.


Ya, wanita yang tertidur lelap disamping Nabil adalah Gaby.


"Gaby... Bangun!" Lagi Nabil mencoba membangunkan Gaby dan kali ini dengan sedikit menyentuh bahu Gaby. Dan alhasil Gaby yang merasa terusik dari tidurnya, kini mulai mengerjapkan matanya dan sedikit merenggangkan ototnya.


Merasa ada yang ganjil Gaby menengok kearah sampingnya dan mendapati Nabil dengan wajah yang sangat sulit diartikan, hingga akhirnya...


"Nabil? Loe ngapain di kamar gue?" Tanya Gaby dengan sedikit berteriak karena masih dalam keterkejutannya.


"Loe yakin ini kamar loe?" Tanya Nabil kembali, dan hal itu sukses membuat Gaby mulai menatap sekelilingnya yang terasa asing.


"Gue dimana, ter..."


"Jangan! diem jangan bangun!" Potong Nabil saat melihat Gaby yang hendak berpindah posisi, dan hal itu sontak membuat Gaby kembali bingung, namun dengan perasaan was - was, diapun melihat tubuhnya sendiri dibalik selimut yang seketika itu pula membuat wajah Gaby kini terlihat hancur.


"Loe apain gue, Bil?" Tanya Gaby dengan amarah dan tangis yang sudah tak bisa ia tahan.


"Gue juga nggak tau, Gab! Loe kenapa bisa ada disini? Perasaan gue semalam seinget gue cuma minum sendirian, kenapa pas bangun tiba - tiba ada loe disini?" Tanya Nabil yang masih mencerna semua, sebenarnya apa yang terjadi padanya dan Gaby.


"Gue... gue gak tau, gue nggak inget apa - apa, Bil..." Lirih Gaby dengan menggenggam erat selimutnya.


"ERRRGGHHHHH..." Erang Nabil dengan memegang keplanya sendiri dengan prustasi.


"Gue nggak mau hamil, Bil! Gue masih sekolah, gue masih mau gapai cita - cita gue!" Lirih Gaby dengan tangisan yang sangat pilu Nabil dengar, namun Nabil sendiri juga masih bingung, apa yang harus dirinya lakukan sekarang. hingga dirinya kini teringat jika ini adalah rumah Key, mungkin Key bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"KEYNALLLLL!!!" Teriak Nabil dengan sangat keras memanggil sang empunya rumah.


Cklek...


Pintu terbuka dari luar dan ternyata bukan Keynal yang membuka pintu tersebut, namun seorang gadis dengan senyuman manisnya yang sedikit demi sedikit berubah menjadi tatapan kosong, dan kemudian berganti dengan tatapan kecewa ketika menatap Nabil dan Gaby yang saat itu masih dilanda kebingungan.


"Na...Naomi?" Gugup Nabil saat melihat Naomi yang membuka pintu.


"Aku inget, kamu pernah bilang, kalo kamu cowok berengsek, tapi aku nggak nyangka sampai seberengsek ini, Bil." Lirih Naomi dengan kini menatap jijik pada keduanya.


"Aku benci sama kamu, Bil! Mulai sekarang jangan coba buat cari aku lagi! Kita putus!" Lanjut Naomi dengan airmata yang dengan bebasnya turun begitu saja.


"Kenapa loe tereak... Owh, Shit!" Keyna langsung terkejut ketika melihat pemandangan didepannya.


Seketika itu juga, Naomi lari dengan sedikit menabrak Key.


"Gila loe, Bil!" Lanjut Key dengan berbalik ke belakang untuk mengejar Naomi.


"ARRGHHHH...."Lagi, Nabil mengerang frustasi ditambah tangisan Gaby yang sedari tadi tak mau berhenti.


"Loe nggak ada saran lain apa selain nangis?" Tanya Nabil dengan raut wajah kesal, marah, dan takut sekaligus disaat yang bersamaan.


"Loe fikir gue harus apa? Mati? bunuh diri, hm? Biar loe bisa bebas dari tanggung jawab, kalo gue hamil? GUE HARUS APA NABIL?" Balas Gaby tak kalah marahnya dengan Nabil.


"Loe gugurin aja tu bayi, berapapun gue bay..."


"GUE BUKAN PELACUR!!!" Teriak Gaby dengan menatap Nabil sangat tajam.


Seketika Nabil terdiam dan mencerna kembali kalimat yang sebelumnya ia ucapkan. merasa lelah berdebat dengan Gaby Nabil menyibakan selimutnya dan sukses membuat Gaby memalingkan wajahnya saat melihat tubuh Nabil yang telanjang bulat dan mulai memunguti pakaiannya dan pakaian Gaby yang berserakan dilantai.


"Seandainya loe hamil, Gue akan tanggung jawab, semua apapun yang loe minta, loe bilang sama gue. semuanya akan gue turutin. Gue janji!" Ujar Nabil akhirnya dengan nada yang lebih tenang dan menyimpan pakaian Gaby tepat di hadapan Gaby.


"Nikahin Gue!" Ujar Gaby.


"Ya, kalo sampe loe hamil, gue akan nikahin loe!" Ujar Nabil dengan pergi menuju kamar mandi.


***


Nabil tersadar dari lamunannya dan menatap jauh kedepan dari atas gedung pencakar langit tampat dirinya saat ini bekerja, dari ruangannya yang cukup tinggi, Nabil bisa melihat ramainya kendaraan di bawah sana, tatapan kosong dan sebuah penyesalan kini terpampang jelas diwajahnya.


Fikirannya kini dipenuhi dengan kenangan - kenangan yang lalu, jika ditanya siapa Naomi, tentu saat ini Nabil akan menjawab, Dia, wanita terhebat yang pernah hadir dan bisa menghilangkan perasaanya pada cinta pertamanya, apakah Nabil sudah mengingat semuanya, Ya, Nabil mengingat semuanya, bagaimana dirinya bisa menghamili Gaby, dan bagaimana dirinya dikeroyok habis - habisan oleh Nando dan teman teman geng Nando juga.


Tepat setelah Berteriak seperti bagaimana dulu Nabil mengungkap kan perasaannya pada Naomi, Nabil sebenarnya sudah mengingat semuanya saat berada dirumah sakit, bahkan ketika Nabil memanggil Ve dan Adzril dengan embel - embel 'Kak', Memang seperti itulah panggilan Nabil pada Adzril dan Ve semenjak dulu Adzril yang meminta restu pada papahnya untuk bertunangan dengan Ve.


"Maafin gue, Mi... Gue nggak bisa jadi sosok seorang lelaki yang pantas buat dapetin hati loe."  Gumam Nabil dalam hati, yang sebenarnya sampai saat ini perasaannya untuk Naomi memang masih ada seperti dahulu, jika saja dirinya tidak terjebak dalam situasi saat ini, mungkin dari kemarin Nabil akan langsung menemui Naomi dan mengatakan semuanya jika dirinya sudah mengingat siapa Naomi dan.


"Bil..." Adzril tia - tiba masuk tanpa mengetuk pintu ruangan Nabil terlebih dahulu.


"Ngagetin aja... kenapa?" Ujar Nabil dengan menatap Adzril.


"Loe ngapain ngelamun disana? Gak mau balik sekarang emang?" Balas Adzril dengan menatap heran pada Nabil.


"Ayo, balik! Gue lagi mikirin soal Gaby doang tadi..." Ujar Nabil dengan menghampiri Adzril dengan merangkul pundaknya dan membawanya keluar dari ruanganannya.

__ADS_1


Meskipun keduanya bekerja di kantor Ayahnya hanya sebagai karyawan biasa, namun tetap saja Adzril dan Nabil memiliki ruangaan pribadi untuk bekerja disana, ditambah lagi, selama sebulan Kedepan, Nabil dan Adzril masih bekerja dibawah bimbingan oraang - orang kepercayaan Ayahnya yang sengaja dipekerjakan untuk membimbing Adzril dan Nabil.


"Kenapa loe mikirin Gaby? Mulai ada rasa loe sama dia?" Tanya Adzril di tengah perjalanan mereka menuju parkiran.


"Belum sampe kesana sih, cuma gue berasa jahat banget udah rusak masa depan dia yang masih panjang." Tutur Nabil dengan menatap kedepan.


"Udahlah, Bil! Toh, loe juga akan bertanggung jawab koq, dan gue rasa sekarang pun loe lagi ngejalanin tanggung jawab loe sebagai calon seorang Ayah. Loe ngga usah terus nyalahin diri sendiri." Tutur Adzril dengan mengusap bahu Nabil sebagai tanda menyemangati kembarannya itu agar terus bisa melangkah kedepan, karena kehidupannya bukan hanya sekedar hari ini dan esok hari.


"Thanks ya, Kak! Mungkin selama ini, eamng udah bener banget loe yang jadi sosok Kakak diantara kita. Gue selalu ngrasa tenang kalo loe udah pegang bahu gue kayak gini, seolah beban gue semuanya terasa ringan dan kedepannya akan baik - baik aja semuanya." Ujar Nabil dengan tersenyum menatap wajah samping Adzril, begitupun Adzril yang juga tersenyum hanya saja Adzril menatap Nabil hanya dengan ekor matanya.


***


Ditengah perjalanan, Nabil dan Adzril hanya ditemani dengan lagu - lagu yang diputar di Radio. Tak ada obrolan yang mereka bahas, biasanya Nabil akan selalu bertanya random, mulai dari masa lalu mereka berdua, pertemuan pertama kali Adzril dengan Ve, bahkan semuanya, hingga pernah sekali Nabil bertanya, sudah berapa kali Adzril berciuman dengan Ve, bahkan Nabil sendiri kaget, ketika Adzril mengatakan bahwa Nabil pernah memergoki saat Adzril dan Ve sedang berciuman di area sekitar rumahnya, dan bahkan itu bukan hanya sekali, bahkan beberapa kali, hingga sampai yang terakhir mrmbuat Ve sedikit canggung, dan akhirnya Ve setelah kejadian itu sangat jarang berkunjung kerumah Adzril.


Setelah lama dalam keadaan hening, Adzril yang merasa ada yang aneh dengan kembarannya ini pun langsung membuka topik obrolan.


"Bil, Loe kenapa deh?" Tanya Adzril yang sontak membuat Nabil yang tengah menyetir sedikit menengok kearah Adzril.


"Apanya yang kenapa?" Tanya Nabil balik.


"Loe biasanya banyak tanya, kenapa sekarang loe diem? Ada masalah?" Tanya Adzril lebih jelas.


"Nggak ada, gue cuma la..."


"Sampe loe bilang cuma kefikiran Gaby, gue jedotin kepala loe ke stir!" potong Adzril yang sukses membuat Nabil sedikit tersenyum.


"Apaan dah, Ya emang gue lagi kefikiran aja ama Gaby, tapi tadi gue bukan mau bilang gitu, gue cuma bilang, loe mau gak minggu nanti temenin gue?" Ujar Nabil dengan sedikit tertawa.


"Temenin kemana? Kita doang berdua?" Tanya Adzril bingung, kenapa Nabil tiba - tiba ingin mengajaknya pergi, dan sepertinya Nabil ingin pergi bersamanya bukan untuk hanya sekedar berlibur biasa.


"Iya, kita doang berdua, dan gue harap yang tau juga cuma kita berdua doang, gimana? bisa?" Tanya Nabil yang semakin membuat Adzril berfikir yang aneh - aneh.


"Iya kemna dulu? Kalo ke luar negri, gue nggak bisa, gue ada urusan soalnya." Balas Adzril yang semakin penasaran pada Nabil yang saat ini semakin aneh dimata Adzril.


"Enggak lah, nggak sampe ke..." Ucapan Nabil tiba - tiba terhenti kala matanya menangkap satu objek pemandangan yang membuatnya sedikit terganggu.


"Kayak gue kenal tu orang..." Lanjut Nabil dengan menggumam sangat pelan, namun Adzril masih bisa mendengar apa yang Nabil ucapkan hingga Adzril mengikuti arah pandangan Nabil yang ternyata Nabil tengah melihat Keynal yang tengah memangku seseorang yang sepertinya Adzril mengira jika itu adalah seorang Gadis.


"Itu Keynal kan? sama siapa dia?" Tanya Adzril yang sama sekali tak mendapat jawaban apapun dari Nabil, malah Nabil langsung memutar setirnya untuk mengikuti Key yang sudah menjalankan mobilnya.


"Kenapa loe ikutin dia?" Tanya Adzril yang sama sekali tak ada respon apapun dari Nabil yang ternyata kini wajahnya memerah seperti menahan sebuah emosi yang sebentar lagi akan meledak, untuk itu, Adzril hanya bisa diam tanpa bertanya apapun lagi pada Nabil.


Ketika mobil Keynal tepat di depan Mobil yang Nabil kendarai, Nabil ternyata tidak menghalangi Mobil Key untuk menghentikannya, namun ternyata Nabil lebih ingin tahu Kemana Key akan membawa Mobil yang didalamnya ada seseorang yang sedang tak sadarkan diri.


"Loe nggak amnesia, Bil!"


Nabil hanya terdiam tanpa mau membenarkan ataupun menyangkal kalimat pernyataan dari kembarannya ini. Hingga Nabil melihat Key membawa mobilnya memasuki sebuah gedung yang ternyata itu adalah sebuah apartemen. Nabil hanya bias menghentikan mobilnya tanpa bisa masuk kearea apartemen, karena pasti hal itu akan Key sadari, jika dirinya tengah diikuti Nabil.


"Sejak kapan dia punya apartemen disini?" Kini Nabil bertanya pada dirinya sendiri, namun detik berikutnya Nabil menatap Adzril yang kini tengah fokus memainkan smarthpone nya.


"Gue akan jelasin semuanya, Kak! Tapi nggak sekarang oke, dan gue harap hanya loe dan gue yang tau akan semua hal ini." Ujar Nabil yang ternyata Adzril yang kini diam tanpa merespon apapun pada Nabil yang ternyata membenarkan kalimat pernyataan Adzril.


"Yang didalam mobil Key, yang lagi gak sadarin diri tadi, itu pacar gue, kak! Yang harusnya kenal sama nyokap - bokap, itu dia... bukan Gaby!" Lanjut Nabil yang ternyata kali ini membuat Adzril menatap Nabil dengan mata yang membulat sempurna.


"Lebih tepatnya mantan pacar gue, untuk sekarang!" Lanjut Nabil yang kini menunduk. "Semua yang loe bilang tentang gimana gue bisa hamilin Gaby, itu bener kak! Gue 'pake' dia pas malam pertama gue nginep di rumah Key, dan itu juga tepat hari dimana ve dengan ternganya ngasih tau gue, Kalo dia udah tau gue juga punya perasaan yang sama - sama Loe ke dia."


"Loe beneran udah inget semuanya?" Tanya Adzril memastikan, dan hanya anggukan lemah dari Nabil untuk menjawab pertanyaan Adzril.


"Apa yang loe rencanain sekarang, Bil?" tanya Adzril yang membuat Nabil menatap Adzril.


"Semuanya akan gue jelasin, kak! Tapi gue mohon, izinin gue untuk terakhir kali ini buat selesain semua cerita antara gue, sama mantan gue yang sekarang mungkin lagi dalam bahaya. loe nggak boleh ikut, loe tunggu gue disini!" Ujar Nabil yanglangsung membuka pintu mobilnya dan sedikit berjalan sedikit cepat menuju gedung apartemen di depannya.


Selang beberapa saat, Nabil melihat Key baru saja memasuki lift, Nabil pun menghampiri seseorang yang sebelumnya terlihat bertegur sapa dengan Key sebelum masuk lift.


"Mas, maaf..." Sapa Nabil pada orang itu. "Yang tadi namanya Keynal apa bukan?"


Orang itu melihat Nabil dari atas hingga bawah dengan tatapan asing.


"Iya, maaf siapanya Keynal, ya?" Tanya orang itu balik.


"Saya temen kuliahnya mas, mau minta buku paket yang dia pinjem, katanya saya disuruh ambil aja kesini, cuma saya lupa nanyain dia tinggal di pintu nomor berapa. Kalo boleh tau, Key tinggal di pintu nomor berapa ya, Mas?" Tutur Nabil yang hanya diangguki orang itu dengan mengangguk.


"Ohh.. dia tinggal di pintu nomor 21, ada di lantai dua, tapi kayaknya sekarang dia gak bisa di ganggu deh, mending loe balik lagi aja nanti..." Ujar orang itu yang membuat Nabil tersenyum lega.


"Gapapa, mas! Saya juga nakalnya seperti Keynal, Kok." Ujar Nabil sedikit malu mengatakannya namun bagaimana pun itu jalan satu - satunya agar nabil bisa langsung menuju kamar Key.


"Wadududuhhh... mau bikin film pendek kalian ya?" Tanya mas itu dengan tersenyum menggoda Nabil.


"Oh, enggak mas, saya orangnya nggak suka berbagi, kalo gitu saya permisi dulu mas, sebelumnya terimakasih." Ujar Nabil dan langsung pamitan pada mas - mas itu dengan menggunakan lift yang sudah terbuka kembali.


"Sabar, Mi! tunggu Gue!" gumam Nabil yang terus memohon agar Key tidak berani macam - macam pada gadis yang sebenarnya masih Nabil sayangi hingga saat ini.


Tepat setelah pintu lift terbuka kembali, Nabil buru buru mencari nomor yang disebutkan oleh mas - mas tadi. dan untunglah ternyata ruangan Key tak begitu jauh dari lift, hingga Nabil langsung memencet bel yang ada disamping pintu kamar Key. Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, pintu langsung terbuka dengan menampakan sesosok Key yang seketika terkejut menatap Nabil yang tiba - tiba berada di depan pint apartemennya.

__ADS_1


"Lah? loe ngapain ada disini, nyet?" Tanya Key kaget.


"Ehe... gue boleh masuk gak?" Tanya Nabil yang sukses membuat Key semakin lebar agar Nabil bisa masuk kedalam apartemennya.


"Koq loe tau gue ada disini? perasaan gue nggak pernah bilang gue tinggal disini?" Tanya Key dengan membawakan minuman kalen kedepan Nabil yang kini tengah duduk di sofa ruang tamu apartemen milik Key.


"Tadi gue baru lagi liat - liat di apart sini, niatnya gue mau tinggal di apartemen sini biar gak terlalu jauh ke kantor, trus gue gak enak juga sama tetangga, Gaby tinggal dirumah gue, tapi belom gue nikahin, jadi gue yang ngalah aja. Tadi gue liat loe masuk sini, gue kira loe tinggal di rumah." Tutur Nabil dengan membuka minuman kaleng yang Key taruh di hadapan Nabil sebelumnya.


"Ohhh, gue kira loe ngintilin gue sampe sini... Nggak koq, gue kesini kalo lagi males aja dirumah, gue sebenernya lebih sering tidur dirumah." Ujar Key.


"Oiya, gue boleh pinjem toiletnya nggak? Gue blom dapet ruangan yang pas, soalnya." Ujar Nabil yang membuat Key sedikit ragu mentap Nabil, namun key kembali teringat tentang Nabil yang tengah amnesia.


"Boleh, yuk." Ujar Key dengan berjalan terlebih dulu menuju kamarnya.


Saat Nabil sudah masuk ke kamar Key, Nabil melihat seorang gadis yang tengah terlelap tibur dibalik selimut tebal.


"Hmmm, gue tau kenapa loe disini sekarang." Ujar Nabil dengan tatapan menggoda pada Key.


"Udah gausah banyak bacot Loe, buru!" sanggah Key dengan menarik Nabil menuju kamar mandinya.


"Pacar apa BO?" Tanya Nabil seolah olah tak mengenak siapa gadis yang tengah tertidur itu.


"Enak aja, BO! Cewek gue itu!" Elak Key tak terima.


"Yah... Gue kira bisa di.."


"Gue tampol ya lama - lama, loe!" Potong Key yang langsung mendorng Nabil ke kamar mandinya.


Tepat setelah Nabil menutup pintu WC nya, keberuntungan sepertinya menghampiri Nabil saat Ini, Keynal tiba - tiba menerima sebuah panggilan, dan panggilan itu mengharuskan Key untuk meninggalkan Nabil diapartemennya, namun dengan tenangnya Key bisa meninggalkan Nabil bersama Gadis yang Key akui sebagai pacarnya itu pada Nabil.


"Bil, gue kebawah bentar ya, gue titip pacar gue, siapa tau nanti dia bangun, bilang aja gue dibawah." Ujar Key sedikit berteriak agar Nabil mendengarnya dari dalam.


"Iye, bawel!" Balas Nabil dari dalam.


Tepat setelah Nabil mendengar pintu kamar tertutup, Nabil langsung keluar dari dalam kamar mandi dan menghampiri Gadis yang masih tertidur nyenyak.


"Mi..." Panggil Nabil pelan dengan sedikit mengusap pipi gadis yang tak lain adalah Naomi.


"Naomi..." Lagi Nabil memanggil Naomi agar tersadar dari tidurnya.


"Hey, Mi... Bangun." Lagi untuk ketiga kalinya, Nabil masih berusaha agar Naomi tersadar. dan akhirnya Naomi sedikit ada pergerakan pada kelopak matanya dan sedikit demi sedikit membuka matanya. Hingga setelah Naomi sepenuhnya tersadar, mata Naomi melotot menatap siapa yang pertama kali ia lihat.


"Na... Nabil?" Kaget Naomi yang tanpa terasa tiba - tiba airmata Naomi mulai turun dari ujung matanya.


"Ssssstttt, dengerin gue, nanti pas loe denger Key udah balik, loe cepet - cepet bangun dan pamit pulang sama Key, loe tenang aja, dibawah ada mobil audi silver, disebrang jalan, setelah loe keluar dari apart ini, loe langsung kesana, disana ada kakak gue. jangan dulu banyak tanya." Tutur Nabil dengan menghapus airmata yang masih menetes di pipi Naomi. Namun belum sempat Naomi mengatakan hal apapun, Nabil langsung meninggalkan Naomi sendiri di kamar itu.


Setelah keluar dari kamar Naomi, Nabil hanya diam disofa dan memainkan smartphone nya untuk mengobati rasa bosannya. namun fikirannya jauh melayang memikirkan tentang bagaimana Key begitu terobsesinya pada Naomi, bahkan Nabil sempat berfikir jika yang membuatnya Koma bukanlah Nando, melainkan Key sendiri lah, namun hal itu segera ia sangkal saat sedikit mengingat bagaimana Nando bigu emosi yang membabi buta menghajar Nabil dan Key.


Asik dengan lamunannya, ternyata Key sudah balik dari urusannya dan membawa beberapa plastik yang sepertinya stok makanan untuk mengisi kulkas dan lemari cemilannya.


"Gila... Pindahan loe?" Tanya Nabil saat melihat Key membawa banyak sekali plastik.


"Cewek gue kalo lagi bt, mukanya nyeremin, dan ini obatnya..." Ujar Key dengan hanya menunjukan cengiran bodohnya.


cklek


Pintu kamar yang sebelumnya Naomi tempati, kini terbuka dan menampakan Naomi dengan wajah yangterlihat biasa saja.


"Key... gue balik ya..." Ujar Naomi tiba - tiba, sontak Key sedikit terkejut karena Naomi tak merespon apapun padahal sebelumnya Key membawa Naomi kesini dengan membiusnya, namun Key melihat tatapan Bencinya pada Nabil saat melewatinya.


"Katanya loe mau nginep?" Tanya Key dengan masih kebingungan bagaimana ekspresi Naomi menatap Nabil dengan begitu bencinya. padahal sebelumnya Naomi mengatakan jika Naomi mengetahui bagaimana Gaby hamil bukan karena Nabil.


"Nginep? Kagak, gue bilangg nggak mau nginep disini, udah lah, gue pulang ya." Ujar Naomi yang kini sudah dihadapan Key yang masih berdiri tak jauh dari pintu.


"Gue anterin, ya..."


"Kagak ada sopan - sopannya loe sama gue, gue tamu lho ini dirumah loe!" Potong Nabil yang berusaha mencegah Key agar membiarkan Naomi pergi dari sini.


"Manja amat loe, lagian biasanya loe senaknya aja kalo dirumah gue keluarga gue juga..."


"Udah, gue mau pulang!" Ujar Naomi yang langsung meninggalkan Nabil dan Key.


"Yah, kagak jadi mabar dong..." Ujar Nabil dengan mengejek Key, sontak Key menatap Nabil dengan mata yang menatap tajam.


"Ih... serem bet, balik lah gue, tar besok - besok main lagi gue kesini." Ujar Nabil yang membuat Key melengo menatap Nabil yang melewatinya tanpa beban.


"Gak usah! loe nggak usah kesini lagi aja, anjing emang loe, ganggu gue aja!" Balas Key dengan menatap malas pada Nabil, sedangkan Nabil hanya tertawa dibalik pintu yang sudah tertutup.


Sedangkan Naomi sendiri kini sudah berada disamping mobil yang Nabil maksud, dan setelah membuka kunci pintunya dari dalam, Naomi langsung masuk ke mobil itu dan duduk di kursi penumpang jajaran kedua.


"Loh..." Kaget Naomi saat menyadari siapa yang ada di dalam mobil.


"Na... Nabil?" Gugup Naomi menatap tak percaya pada orang didepannya yang kini menatap aneh pada Naomi.

__ADS_1


tbc


__ADS_2