
Jauh sebelumnya...
"Verandah..." Seorang gadis dengan senyuman yang khas menatap gadis yang akrab di sebut Veranda atau Ve. Namun Ve hanya menatap malas pada gadis yang memanggilnya.
"Ve aja! gak usah lo tambahin!"
"Ya elah Ve... gitu doang. Oiya gimana Key?" tanya gadis yang akrab disapa Mi oleh Ve atau lengkapnya nama gadis itu adalah Naomi.
"Gimana apanya?" tanya Ve dengan kembali menatap malas pada Naomi.
"Loh, katanya loe semalam ngedate sama Doi?"
"Apaan? Ngedate pala loe bocor!?"
"Koq ngegas?" balas Naomi dengan menatap Heran pada Ve.
"Lagian nih, Mi ya... Si Key key itu ya..." Pernyataan Ve menggantung.
"Orangnya yang mana sih?"
Spontan Naomi pun menepak jidatnya dengan menatap Ve begitu kesal.
"Sumpah deh Ve... loe itu selama Sekolah disini sampe anak baru yang lagi Vilar"
"Viral, Mi... Viral! Ve I eR A eL!" Ralat Ve.
" Yaitu maksud gue, gue kan orang sunda gak bisa ngomong Viral..."
" Nah itu bisa?" Potong Ve.
"Itu Contoh..." balas Naomi tak mau kalah.
"Terserah..." Balas Ve dengan malas dan meninggalkan Naomi yang kini tengah menatap Ve dengan senyum jahilnya.
Keduanya berjalan dengan banyak pasang mata yang memndang keduanya, dua gadis yang baru menginjak kelas tiga SMP itu, kini menjadi bintang sekolahan yang sering menjadi perbincangan hampir semua warga sekolah tingkat menengah itu.
"Serius deh Ve, loe itu sekarang lagi jadi topik anak - anak, yang di gadang - gadang bakal cocok sama Key." uajar Naomi saat keduanya duduk di salah satu bangku.
"Bodo ah, gak peduli... biarin aja udah biasa juga kan gue di comblangin sana - sini, ya kalo dia mau deketin gue, bukan nyri pacar namanya..." Ujar Ve menggantungkan kalimatnya seraya memakan roti yang ia ambil di hadapannya. " Nyari masalah, iya!"
"Yaudah kalo loe gak mau, biar gue yang embat aja gimana?" tanya Naomi dengan menaik turunkan alisnya.
"Sikat... tapi btw, itu Putra, Willi, Andre, Ahmad, Bayu, trus siapa lagi? Mahmud siapa lupa gue.."
__ADS_1
"Yusuf, Ve... bukan mahmud." ralat Naomi dengan memutar malas Matanya.
"Nah iya itu, mau lo kemanain?"
"Ya gue buang lah, ih gila seriusan loe gak mausama Key, Ve?" ujar Naomi dengan santainya.
"Apaan, sih... Kenal aja kagak."
"Yaudah, kalo lo gak mau, awas ya... gue mau caper ah sama dia, kali - kali gue nyangkut."
"Nyangkut ae sono, tuh di pohon beringin..."
Naomi pun dengan tekadnya mendekati Key, atau Keynal yang saat itu besetatus murid baru di sekolahan Naomi dan Ve. awalnya Keynal biasa saja saat di dekati oleh Naomi, Keynal yang pada dasarnya mempunyai sifat yang humble, tentu langsung menerima saat Naomi mengulurkan tangannya, untuk menjadi teman. Awalnya naomi pun menerima saat Keynal hanya menganggapnya sebagai teman biasa, namun lama kelamaan, karena sikap dan perhatian yang Key berikan pada Naomi, membuat Naomi salah mengartikan tentang hubungan keduanya, hingga Naomi benar - benar merasa jatuh cinta pada Keynal. Disamping kedekatan Mereka, Ve yang memang dasarnya sahabat Naomi tentu terbawa Arus kedekatannya dengan Keynal yang setiap hari selalu ngobrol dengan Naomi meskipun berbeda kelas. Entah sadar atau tidak, Keynal yang saat itu tengah dekat dengan keduanya, membuat Naomi yang semkain hari semakin tumbuh rasa sayangnya terhadap Keynal, namun Keynal sendiri, yang entah sadar atau tidak, hatinya telah terpikat oleh Ve, Ve yang saat itu juga baik pada Key, karena Ve menganngap teman Naomi, temannya juga. dan juga pernyataan Naomi padanya setiap hari yang selalu mengatakan bahwa dirinya jatuh cinta pada Keynal. Hingga Ve pun capek mendengarnya dan memutuskan untuk membantu Naomi menyatakannya pada Keynal.
Hujan yang memang tidak terlalu deras mengguyur kota yang tak pernah tidur, sinr yang hanya di terangi beberapa lampu jalan, dan kendaraan yang lewat menjadi saksi entah cinta suci keduanya atau, kesalahan terbesar dalam hidup keduanya.
"Ve!"
"Key!"
Ucapkeduanya berbarengan dengan pakaian keduanya yang telah basah.
"Ada yang mau gue omongin."
"Kita perlu bicara."
"Loe duluan." Ujar Ve dengan tersenyum menatap Key.
"Gue sayang sama Loe..."
satu pernyataan yang bahakan tak pernah terfikir dalam impian Ve lolos begitu saja dari mulut Key.
"Apa? Gue gak denger?" pura - pura Ve yang memastikan jika Key salah mengucapakan setip kata yang baru saja terucap.
"Gue, Sayang sama Loe, Jessica Veranda!" Ujar Key dengan lantangnya, hingga tanpa keduanya sadari, Jika saat itu Nomi yang entah kebetulan dari mana, yang sebelumnya ingin memberikan payunp untuk keduanya, mala mendengar hal yang seharusnya tak ia dengar.
"Nggak!" Balas Ve dengan lirih . "Loe gak..."
"Oh... Jadi gini loe di belakang gue Ve!" Ujar Naomi yang kini bersuara dan menydarkan keduany, Sontak Ve yang merasa bersalah pun hendak mendekati Naomi. Namun, Naomi mundur beberapa langkah menghindari lengan Ve yang ingin meraihnya.
"Mi... dengerin gue dulu, Mi... Loe salah, ini gak seperti yang lo fikirin..."
"Iya, loe, nggak seperti yang gue Fikir, seorang sahabat, yang bahkan gue dengan terangnya bilang sama loe, kalo gue sayang sama Dia, tapi loe... malah nusuk gue dari belakang, satu kehormatan bagi gue, punya sahabat kayak kalian berdua." Ujar Naomi dengan tanpa bisa membendung lagi airmatanya.
__ADS_1
"Nal.. loe ngomong!" Ujar Ve yang entah harus berbuat apa lagi agar Naomi percaya padanya.
"Sorry, Mi... gue Sayang sama sahabat lo, sahabat gue. sorry buaut loe, gue gak bisa balas perasaan loe." Ujar Keynal yang bukannya membantu Ve malah, membuat rumit masalahnya.
"Gue benci sama kalian!" Ujar Naomi yang kini berlari menyebrangi jalan, saat ve hendak mengejar, Key malah menahan tangnnya dan menatap tulus pada mata Ve.
"Ve, gue beneran tulus sayang sama loe..." ujar Key dengan lirih.
"Sorry, Key... kita nggka bisa...
"AAAAKKKKKK,....."
Suara teriakan begitu nyaring dari sebrang jalan, dengan jelasdi depan mata kedua sahabatnya, tubuh naomi terpental jauh dari sebuah mobil berwarna hita yang kini tengah berhenti.
Ve dan Key yang spontan langsung berlari untuk melihat sahabatnya.
Darah yang terbawa hanyut air hujan menambah kesan tragis pada seorang gadis yang kini tengah di tangisi oleh Ve.
"V...ee... ssso... sorry,,," hanya itu, kata terakhir yang Naomi ucapkan padanya.
semenjak kejadian itu, Ve menjadi orang yang sangat dingin, galak, bahkan dengan sengaja dirinya masuk perguruan tekwnodo, agar kelak andai ia punya sahabat, dirirnya bisa menjagnya, tidak seperti saat ini.
hubungan dengan key pun semakin jauh, keduanya seperti orang dua kubu musuh yang siap kapan pun untuk saling membunuh. awalnya Key bersikeras untuk kembali menjalin kedekatan dengan Ve, namun dengan keras, Ve menolaknya malah memaki Key, di depan banyak orang.
Key hanya diam, tanpa membalikan semuanya, meski dirinya atau Ve bukan penyebab kematian sahabatnya, Namun Key mengerti dan memahami, kondisi hati Ve, meski begitu Key tetap bertekad menunggu hingga suatu saat, dirinya menemukan kembali, Veranda nya yang dahulu.
~
"Jadi, dari tadi kamu ngelamu gara - gara ini, Ve?" ujar Gaby yang kini memluk Ve yang sedangkan Ve sendiri sedari tadi memeluk bantal sofa yang terdapat di ruang tamu kontarakan keduanya.
"Saat si kunyuk itu bilang, kalo dia pacar loe, saat itu gue mulai khawatir dan keinget kejadian dulu, makanya tadi siang pas jam istirahat gue samperin Key, dan ktanya dianggak ikut campur sama urusan Nabil, tapi gak semuadah itu gue gak percaya sama perkataan Key." Ujar Ve. dengan menatap khawatir pada Gaby.
"Gini Ve... hati aku, nggak seteguh hati kamu, aku punya kelemahan. yang bahkan kelemahan itu bisa kapan saja di luluhin. dan lagi, kelemahan hati aku itu, ada Di Nabil."Tutur Gabydengan nada lirih di akhir ucapannya, namun dengan jelas Ve mendengarnya.
"Gab, aku..." Gabriela mengerti jika perkataan Ve seperti ini, maka di setiap perkataan yang keluar dari mulut Ve bukan lah hal yang di bercandakan. "Nggak ngelarang kamu jatuh cinta sama siapa pun, tapi aku mohon, pliss... jangan sama Dia."
"Aku tanya? ada apa sama Nabil? Kenapa sama dia? Apa dia yang Nabrak Naomi saat itu? jelas bukan kan? Apa dia ada kaitannya dengan kejadian saat itu? enggak kan Ve? lalu kenapa kamu larangaku buat jatuh cinta sama dia, apa karena dia trouble maker di sekolahan? atau apa karena dia sahabatnya Key?" tutur Gaby dengan menatap Ve yang saat ini entah kenapa bungkam. "Bener, apa karena dia temannya Key, orang yang selama ini kamu cintai, namun bahkan hingga saat ini kebencian kamu nolak buat ngakuin kalo kalo kamu sayang sama dia? iya? apa dengan begini Naomi bisa tenang di alam sana?"
"Gue takut, loe disakitin sama dia, gue takut kehilangan loe, Gab! mungki bukan gue yang nantinya ada di hubungn loe, tapi apa motivnya nanti bakal beda jika kejadian dulu yang nimpa sama gue keulang lagi sama loe, gue takut akan hal itu, Gab. cukup sekali gue alamin kejadian yang bisa seratus persen ubah hidup gue..."
"Dan aku jamin, Andai Nabil suatu saat sadar akan kelemahan hati aku, aku janji nggak akan pernah biarin kamu ada di fase yang akan buat diri kamu berubah kembali. cukup Ve sepupu yang kayak gini, jangan lebih parah lagi." tutur Gaby dengan mengusap airmata yang tiba - tiba turun dari mata Ve. "Aku akan cintai dia, dengan cara aku sendiri, bukan dengan cara dia."
"Are you in love with he?"
__ADS_1
"for now, nothing more that." Balas Gaby dengan tersenyum. "Buka hati kamu, aku yakin, dia tidak lebih jauh beda dari kamu, Ve. Perangi masa lalu kalian, kamu sama dia udah terlalu lama lari dari masalah ini, dan aku nggak mau liat kamu nyesel karena terus - terusan nyerah dan terus nurutin ego kamu. aku nggak mau kamu nyesel saat dia udah bener - bener lupain kamu."
To be continued