
Gaby terus berlari dengan tangan yang terus bertahan menutup mulutnya agar tangisannya tidak didengar banyak orang, Adzril pun terus memanggil nama Gaby yang semakin dekat dengannya.
"Gaby, stop!" Ujar Adzril yang kini berhasil menggenggam lengan Gaby.
"Ey.. hey, Gaby... Gaby! Tunggu!" Cegah Adzril dengan menarik Gaby hingga dengan terpaksa Menatap Adzril dengan iarmata yang semakin deras.
"Udah, Kak! cukup, gue bakal pergi, gue nggak akan ganggu keluarga kalian lagi, kakak lupain aja semua yang pernah gue..."
"No..." Lagi Adzril memotong ucapan Gaby. "Dengerin gue! Gab, gue emang nggak percaya akan apa yang ceritain, loe juga harusnya sadar, orang waras mana yang bisa percaya akan apa yang loe ceritain semuanya? Tapi, hal itu nggak bisa buat gue dan Nabil narik kesimpulan negative terhadap loe, gue sama sekali nggak setuju akan keputusan Nabil yang tiba - tiba ngejtuhin loe, dan asal loe tau..."
Adzril menggantungkan ucapannya dengan menatap Gaby yang kini terdiam walau masih dengan airmata yang terus menetes.
"Salah satu hal yang bikin gue nggak percaya atas apa yang loe ceritain, Nabil itu nggak se romantis dan selembut itu, Gab! tadi, yang loe liat, ya seperti itulah Nabil, dia nggak akan pernah perduliin perasaan siapapun. Apa yang ada dalam fikirannya akan dia keluarin saat itu juga, meskipun akan ada yang tersakiti." Tutur Adzril dengan memegang kedua bahu Gaby, yang mungkinsaja bisa menenangkan dirinya.
"Tapi, kak dia yang minta buat gue selalu ingetin dia tentang saiap gue, dia yang wanti - wanti gue biar gue bisa sadarin dia." Ujar Gaby yang membuat Adzril semakin merasa Iba.
"Kita tunggu hasil tes DNA kalian, Yah!? Gue janji, jika emang yang ada di rahim loe anak Nabil, gue akan paksa Nabil gimanapun caranya, supaya kalian nikah, loe nggak usah khawatir sama bokap gue, gue yang akan ada di garis depan buat lindungin kalian." Tutur Adzril, dengan tiba - tiba Gaby memeluk Adzril.
Meskipun sikap Adzril yang sekarang lebih mirip dengan sikao Nabil yang ia kenal sebelumnya, namun Gaby tidak bisa mengelak jika pelukannya saat ini, tidak senyaman saat dirinya memluk Nabil saat tadi dikamarnya.
"Maa... maaf, Kak..." Gugup Gaby saat sadar siapa yang dirinya peluk.
"Loe mau kemana sekarang? apa mau balik lagi ke kamar Nabil?" Tanya Adzril dengan tersenyum tanda dirinya tak masalah.
"Gue mau pulang, kak... gue belum siap nerima apa yang akan Nabil bilang saat liat gue lagi." Ujar Gaby dengan menunduk.
"Yaudah, loe tunggu disini, biar gue ambil kunci mobil gue di kamar, gue akan anterin loe pulang." Ujar Adzril yang tanpa menunggu penolakan Gaby langsung berlari meninggalkan Gaby menuju kamar tempat Nabil dan Key dirawat.
Sesampainya di dalam Kamar, Adzril langsung menatap Nabil dan ayahnya dengan tajam.
"Gue nggak pernah ngajarin loe buat ngerendahin orang lain, lain kali jaga bacot loe, apalagi sama cewek!" Ujar Adzril dengan menatap tajam sang Adik yang kini menatap takut pada Adzril.
"Adzril..."
"Terus!!! Terus aja belain! Udah tau salah masih aja di belain, mikir pah, Jika suatu saat ada yang ngerendahin mamah, apa kita akan nerima gitu aja? hm? Coba papah bayangin, kalo aja Nabil bilang kayak gitu di depan orang tua Gaby harus dengan kalimat apa buat kita minta maaf sama mereka?" Ujar Adzril dengan awarah yang begitu besar.
"Ikut gue, Ve!" Lanjut Adzril dengan menarik tangan Ve dan mengambil kunci yang terletak di atas nakas. sedangkan Ve hanya terdiam menuruti apa yang Adzril lakukan saat ini, Karna Ve tahu, Adzril yang seperti ini tidak akan memandang siapapun jika ada yang berani membantahnya.
Setelah melangkah cukup jauh dari ruangan tempat Nabil, Ve dan Adzril melihat Gaby masih berdiri di tempat yang sebelumnya Adzril meninggalkannya sendiri.
"Gab!" Panggil Ve yang sukses mengalihkan tatapan Gaby.
"Ayo, balik." Ajak Adzril yang tanpa bantahan apapun lagi, Gaby dan Ve mengekori Adzril yang berjalan menuju parkiran.
Ditengah keheningan malam, Mobil yang Adzril kendarai melaju sedikit cepat membelah keheningan jalanan Ibu kota, ditambah suasana antara ketiganya yang sama - sama terdiam tak dari seorangpun diantara ketiganya yang berniat membuka obrolan. Hingga, mau tak mau Adzril yang tak tahu dimana Gaby tinggal, iapun harus berinisiatif menanyakan alamat rumah Gaby.
"Loe tinggal dimana?" Tanya Adzril memech keheningan sekaligus mengalihkan lamunan Gaby yang tengah asik memandang tenangnya jalanan.
"Di depan belok Kiri." Balas Gaby seadanya.
"Gab..." Panggil Ve yang duduk disamping Adzril yang mengemudi, sedangkan Gaby duduk sendiri di bangku tengah.
"Gue udah ngomong sama Papah, kalo emang DNA kalian cocok, seandainya Papah ngelarang Loe sama Nabil menikah cuma karena nggak boleh ngelangkahin Adzril, Gue udah sepakat koq buat nikah dalam waktu dekat ini sama Adzril." Ujar Ve yang membuat Adzril termenung.
"Kuliah loe gimana?" Tanya Adzril dengan menatap Ve dengan tatapan bingungnya.
"Kita masih bisa kuliah, Dzril! Selagi gue belum hamil, kita masih bisa kuliah." Ujar Ve yang teanpa sadar membuat kembali Gaby merasa sedih yang harus merelakan impiannya untuk jadi seorang dokter hanya karena harus mengandung seorang Bayi yang ayahnya masih belum pasti siapa.
"Kalau seandainya DNA anak gue dan Nabil nggak cocok, gue harus apa..." Lirih Gaby yang kembali merasa khawatir.
"Gue janji bakal jaga loe sampe anak loe lahir nanti, asalakan loe mau nunggu sampe Nabil bisa inget semuanya." Ujar Ve dengan begitu meyakinkan.
"Ve, Bahkan loe nggak kenal gue, Ka Adzril pun sama, tapi kenapa kalian begitu perduli sama Gue, bahkan gue masih ngerasa ada di dunia Ilusi, karena Ve yang gue kenal disana begitu mirip dengan yang sekarang ada di depan Gue." Tanya Gaby yang terharu mendengar setiap apa yang Ve ucapakan.
"Gue ngerasa nggak asing dengan nama Gaby. Rasanya entah kapan gue pernah denger ada yang nyebut nama Loe." ujar Adzril dengan pandangan fokus kedepan. "Apa sebelum loe masuk ke dunia ilusi, loe sebelumna pernah kenal dengan Nabil?"
"Jujur, gue baru tau didalam ilusi, bahwa ternyata ada sesosok manusia ngeselin, nggak disukai banyak orang, tapi selalu bisa membuat hal - hal manis buat orang yang dia sayang di ." Tutur Gaby dengan menatp kosong keluar kaca mobil.
__ADS_1
"Kemana lagi ini Gab?" Tanya Adzril ketika melihat pertigaan jalan di depannya.
"Belok kiri kak." Ujar Gaby yang langsung di turuti oleh Adzril. "Nanti di depan ada rumah warna putih, itu rumah Gue, kak."
Tak berselang berapa saat, Adzril melihat sebuah rumah berwarna putih dengan pagar berwarna hitam, tidak terlalu besar, namun terlihat nyaman untuk ditinggali, terlebih ternyata rumah yang Gaby tinggali berada di dalam sebuah perumahan elite.
"Ini rumah loe, Gab?" Tanya Adzril setelah mematikan mesin mobilnya.
"Iya, Kak." Balas Gaby dengan membuka pintu dan keluar bersama Adzril dan Ve.
"Masuk dulu ya, Ve..." Ajak Gaby dengan tatapan memohonnya.
"Emmm..." Gumam Ve sedikit bingung,karena ini sudah hampir malam.
"Plisss... dirumah gue gak ada orang, gue butuh banget temen buat ngobrol, meskipun loe nggak kenal gue, tapi gue tau Ve loe orang baik, bahkan gue bakal amat sangat makasih banget, kalo loe mau nginep disini." Ujar Gaby yang sepertinya sangat membutuhkan seorang teman saat ini.
"Dzril?" Akhirnya Ve meminta izin pada Adzril yang bagaimanapun sebelumnya Adzril yang meminta izin pada kedua orang tua Ve untuk mengajaknya keluar.
"Mau nginep?" Tanya Adzril yang mengerti tatapan Ve.
"Boleh gak?" Tanya Ve dengan tatapan memohonnya. Adzril yang memang jarang melihat wajah Ve ketika memohon yang lebih ke seperti anak kecil ini, sontak meanatap Ve dengan raut wajah yang aneh.
"Jijik bego, muka loe nggak pantes digitu - gituin." Ujar Adzril dengan sedikit menyentil jidat Ve. "Yaudah, kalo mau nginep. Tapi loe telfon nyokap loe, biar nggak khawatir, dikiranya nanti gue ajak loe maen kemana tau."
"Gak usah nyentil juga, bisa nggak sih? tepos lama - lama jidat gue." Ujar Ve dengan kesal
"Gimana Ve?" Tanya Gaby dengan wajah berharap.
"Iya, Gue temenin..." Ujar Ve dengan tersenyum menatap Gaby.
"Loe juga mampir aja dulu, kak." Ajak Gaby dengan menatap Adzril, Adzril sedikit berfikir karena sebenarnya banyak yang ingin ia tanyakan pada Gaby.
"Boleh emang?" Tanya Adzril yang sedikit khawatir tentang lingkungan Gaby, ditambah tidak adanya kedua orang tua Gaby.
"Tenang aja, kak." balas Gaby yang hanya diangguki Adzril yang kemudian ketiganya masuk ke rumah Gaby.
"Kalo boelh tau, orang tua loe kemana?" Tanya Adzril to the poin.
"gue mau jur - jujur aja sama loe, Kak. sebenarnya gue disini hidup sebatang kara, nyokap gue pisah sama bokap tiga tahun yang lalu, dan hak asuh gue jatuh ke tangan bokap gue, sedangkan Nyokap gue pergi katanya keluar negeri, gak tau kemana." Tutur Gaby yang membuat Ve semakin merasa Iba pada Gaby.
"Terus bokap loe tau, loe sekarang lagi hamil?" Tanya Adzril yang timbul sedikit rasa curiga dalam hatinya.
"Nggak tau, gue udah nggak ketemu bokap cukup lama. lagian gue kira bokap juga nggak perduli apapun yang terjadi sama Gue, dia lebih mentingin keluarga baru dia." Ujar Gaby yang semakin membuat Adzril berfikir ke arah yang negative.
Berbeda dengan Ve yang notabennya seorang wanita, dirinya malah semakin merasa iba pada gadis yang kisah hidupnya sangat pilu ini, Ve membayangkan jika dirinya berada di posisi Gaby, Hidup sendiri tanpa kasih sayang dari orang tuanya, bahkan harus menanggung beban seorang diri di umurnya yang masih sangat muda, mencari sesosok Ayah untuk bayi yang ada di dalam kandungannya.
"Sekarang loe kelas berapa?" Tanya Adzril kembali.
"Harusnya gue kelas dua SMA, kak! Tapi gue malu, gue nggak ngelanjutin sekolah gue, ditambah bayi yang sekarang gue kandung, dengan kisah gue gimana bayi ini bisa ada, gue ngerasa jadi orang yang nggak waras. Gue sadar, kalo semua orang nggak akan pernah percaya sama kisah gue, bahkan gue juga nggak bisa paksa kalian buat percaya sama Gue, tapi apa gue boleh minta satu hal sama kalian?" Tutur Gaby dengan menatap Ve dan Adzril secara bergantian.
"Gue cuma butuh teman, Kak! Gue butuh sandaran ketika gue ngerasa lelah dengan semuanya, gue butuh pendengar ketika gue marah sama keadaan yang gue ngerasa gak adil buat gue tanggung sendirian, bahkan seandainya bayi yang ada di dalam rahim gue ternyata bukan anak Nabil, gue nggak apa - apa, kak! Yang gue butuhin satu sosok orang yang bisa gantiin sosok orang tua gue." Tutur Gaby dengan kini mulai menangis. Ve yang sudah tak tahan mendengar kisah pilu Gaby pun kini mendekati Gaby dan memluknya dari samping.
"Gab, Gue nggak bisa janji bakal selau bisa ada buat loe, tapi mungkin gue sama Veranda bisa loe jadiin sosok kakak dimata loe, ketika loe ingin cerita, loe butuh sandaran, loe marah sama keadaan, loe bisa berbagi sama Gue maupun Ve. Meskipun suatu nanti, kenyataan berkehendak kalo Loe sama Nabil nggak bisa bersama, Ve sama Gue pasti akan tetep nemenin loe sampe loe bisa hidup bahagia tanpa adanya gue dan Ve." Tutur Adzril yang membau Gaby semakin menangis karena terharu.
"Udah Gab, loe tenang aja, bener koq yang Adzril bilng, gue bakal stay disini selama kapan pun itu, Gue bersedia koq jadi Veranda yang loe kenal selama ini, meskipun gue nggak tau Veranda seperti apa yang loe kenal, gue mungkin akan berusaha sebisa gue buat jadi seperti apa yang loe kenal. Loe jangan sungkan lagi sama Gue, mungkin awalnya gue ragu sama semua cerita loe, tapi sekarang, andaipun semua kisah yang loe ceritain itu semuanya bohong, gue nggak akan perduliin lagi, gue akan tetep jaga loe, jika emang yang loe butuhin cuma sesosok teman, mungkin gue bisa, Gab." Ujar Ve dengan sangat tulus, mungkan tak ada salahnya menolong seseorang yang memang membutuhkan, meski awalnya Ve menganggap Gaby sebagai sosok gadis aneh yang tiba - tiba bercerita panjang padanya saat ketika tak sengaja bertabrakan di rumah sakit, hingga berujung menjadi teman baik.
"Yaudah, udah mau jam sepuluh aja gue liat - liat, gapapa kan kalian gue tinggal?" Pamit Adzril yang langsung membuat Ve dan Gaby menatapnya.
"Loe mau ke rumh sakit lagi apa mau pulang?" Tanya Ve yang juga ikut berdiri hendak mengantrkan Adzril sampai ke tempat dimana Adzril memarkirkan Mobilnya.
"Ke RS lah, kan malam ini giliran nyokap sama bokap pulang" Ujar Adzril yang kini sudah sampai di dekat mobilnya.
"Sorry yah gue gak bisa nemenin malam ini." Ujar Ve sedikit tak enak pada tunangannya itu, karena biasanya Ve yang selalu menemani Adzril ketika gilirannya menjaga Nabil.
"Gapapa, loe baek baek ya disini, jangan lupa juga loe kabarin mamah, gue nggak sempet kalo sekarang harus kerumah loe lagi." ujar Adzril dengan mencium kening Ve. Ya, seabsrudnya kelakuan Adzril, dia juga punya sisi manis jika berada di dekat Ve.
"Loe juga hati - hati dijalan, kabarin kalo udah sampe ya..." Jawab Ve yang hanya diangguki ole Adzril dan langsung masuk kedalam mobil dan meninggalkan Ve sendirian disana.
__ADS_1
Ketika Ve berbalik, ternyata Gaby sudah ada di dekat pintU yang mungkin saja Gaby melihat semua yang diperlakukan Adzril pada Ve.
"Ngapain loe diluar?" Tanya Ve yang sebenarnya sedikit terkejut akan kehdiran Gaby dibelakangnya.
"Gue bingung, kenapa sikap Kak Adzril lebih sama dengan sikap Nabil ketika dalam dunia ilusi... gue jadi ragu ini anak Nabil..."
"Nggak usah ngadi - ngadi, loe!" Potong Ve yang tau arah pembicaraan Gaby kearah mana. dan hal itu sukses mebuat Gaby tertawa melihat wajah amarah Ve.
"Nggak lah Ve, Gue juga ngerasa yakin koe, ketika gue meluk Nabil pas pertama dia bangun, gue ngerasa nyaman, sama seperti saat gue ada di dunia Ilusi gue." Ujar Gaby dengan menarik Ve agar ikut masuk kedalam rumahnya.
Keesokan paginya...
terlihat Gaby dan Ve yang baru saja sampai di rumah sakit dimana ternyata disana Nabil, Key dan Adzril juga bersiap untuk pulang karena keadaan Nabil dan Key yang bisa dikatakan cukup sehat dan diperbolehkan pulang hari ini juga.
"Adzril..." Panggil Ve saat berada di dekat ketiga orang tadi.
"Yuk, langsung aja, mamah sama papah juga udah nunggu di ruang dokter, tadi malem gue udah bikin janji juga. Jadi kita tinggal masuk dan tes aja." Ujar Adzril dengan menarik tangan Ve.
Sedangkan Gaby sendiri hanya mampu menunduk karena sedikit takut menatap Nabil.
"Gaby..." Panggi Adzril tiba - tiba, Gaby terkejut mendengar namanya dipanggil langsung oleh Nabil.
"Gue minta maaf kalo kemaren gue sempet nyakitin hati loe, jujur gue takut, gue belum siap buat jadi sesosok Ayah. ditambah lagi, gue nggak inget apa - apa, gue semakin bingung dengan pernyataan kalo loe hamil karena gue..." Tutur Nabil yang membuat Gaby kembali bisa sedikit menatap Nabil walaupun dengan sedikit ketakutan, pasalnya Nabil masih menunjukan wajah dinginnya.
"So... Gue bener bener minta maaf tulus dari hati gue, dan gue minta satu hal, jika seandainya yang ada di rahim loe beneran anak Gue, tolong bantu gue buat inget semuanya, tapi seandainya bukan, gue minta loe jangan pernah lagi hadir dihadapan gue." tutur Nabil yang sontak membuat keempat orang tadi menatap Nabil dengan terheran.
"Segitu bencinya Loe sama dia?" Tanya Key yang kembali tersulut amarahnya.
"Key, ini hidup gue, semua pilihan ada di tangan gue, loe nggak usah ikut campur, lagian, apa loe fikir, Nabil yang loe bilang ada di dunia Ilusi loe, itu beneran Gue? Kalo aja loe bisa buat ilusi tentang Ve, kenapa Gaby nggak bisa buat ilusi tentang gue?" Ujar Nabil yang kini masih menggunakan nada yang masih tenang.
"Tapi, dalam ilusi gue maupun Gaby, semua tentang loe itu sama..."
"Darimana gue harus percaya, bahkan loe aja nggak inget semua tentang gimana kita bisa koma sampe berbulan - bulan lamanya?" Tanya Nabil yang masih tenang karena dirinya tak ingin membuat keributan dengan Key.
"Key, udah cukup! Dan, Oke Nabil jika itu mau Loe, gue akan turutin semuanya, gue siap koq jika seandainya emang ini bukan darah daging loe, gue nggak akan ganggu hidup loe lagi, dan andai suatu saat loe inget semuanya, gue anggap semuanya udah nggak berlaku apa - apa, Bil!" Tutur Gaby yang kini lebih berani berbicara pada Nabil.
"Bener gue bilang, mending loe koma aja udah, nyusahin mulu emang hidup loe." Ujar Adzril yang sudah muak dengan sikap Nabil yang seperti ini.
Sesampainya mereka di depan ruangan untuk tes DNA, hanya Nabil dan Gaby yang diperbolehkan masuk, sedangakan mereka termasuk Key dan kedua orang tuanyapun ikut menunggu Nabil dan Gaby.
"Pah..." Panggil Adzril saat melihat sang Ayah tengah melamun.
"Dari dulu, Azdril belum pernah minta satu pun hal yang sangat berarti menurut Adzril, tapi untuk kali ini..." Ujar Adzril menggantung dengan menatap tulus sang ayah.
"Untuk satu hal ini aja, Adzril mohon, seandainya DNA mereka cocok, jangan halangi apapun untuk mereka bisa bersama. Jujur, Adril sangat berharap, Adzril dan Nabil bisa menikah di waktu yang sama, dengan gadis pilihan kami masing - masing." Lanjut Adzril dengan tatapan memohonnya.
"Kita liat aja nanti." Ujar sang Ayah yang sepertinya masih berat mengijinkan Nabil untuk menikah dengan gadis yang masih dia anggap kurang waras.
"Mbak, Maaf saya mau tanya? emang itu pacarnya Nabil, udah berapa bulan mengandungnya?" Tanya ibu Key saat tengah berada di dekat mamah Nabil.
"Kemari pas di periksa kata dokter, katanya baru satu bulan lebih." Bukan Erna, melainkan Ayah Nabil lah yang menjawabnya.
"Hah? satu bulan? koq, kayak lebih? saya fikir itu lebih dari tiga bulan." Ujar Ibu Key dengan terkejut, dan hal itu juga sekaligus membuat semua orang yang ada disana menatap pada Ayah Nabil.
"Entah, mungkin dokternya yang salah." Balas Ayah Nabil sekenanya.
"Bisa - bisanya nyalahin dokter, ngadi ngadi emang bokapnya Nabil." Gumam Adzril yang ternyata Ve masih bisa mendengarnya dan langsung sedikit menyikut perut Adzril dengan santainya.
"KDRT mulu, loe!" Ujar Adzril dengan sedikit meringis.
Setelah melalui beberapa proses, akhirnya Nabil dan Gaby keluar secara bersamaan dari ruangan tes. Nabil yang memang dasarnya masih belum sembuh, terlihat sedikit lemas setelah melalui beberapa proses.
"Gimana?" Tanya Ve yang langsung merangkul Gaby yang juga sama terlihat sedikit lemas.
"Hasilnya baaru bisa keluar besok." Ujar Gaby yang membuat semua orang mengangguk.
tbc
__ADS_1