Dihamilin Setan!?

Dihamilin Setan!?
With You


__ADS_3

Sudah hampir seminggu Nabil keluar dari masa rehab nya, namun Nabil sendiri tidak merasa benar - benar bahagia, karena selama seminggu ini tak ada satupun dari keluarganya yang mencarinya, apa mungkin mereka tidak mengetahui Nabil telah keluar atau memang sengaja tak ingin mencari Nabil karena sudah benar - benar tak perduli lagi pada Nabil, meskipun bunda Naomi menerima Nabil untuk menetap sementara dirumahnya, namun Nabil masih saja merasa sangat malu pada Bliau, namun Nabil sendiri juga tak ada pilihan lain, tak ada lagi rumah untuk ia pulang, rumah nyapun kini terasa asing untuk Nabil menginjakan Kakinya disana. Sempat Nabil berfikir untuk tinggal di kontrakan, Namun, siapa yang akan membiayainya, keluarganya? Nabil ragu untuk menyebut mereka sebagai keluarga, untuk saat ini.


"Sayang, koq kamu masih santai?" Panggilan Naomi yang melihat Nabil tengah melamun di ruang tengah rumah keluarga Naomi.


"Emang mau kemana?" Tanya Nabil bingung yang melihat Naomi seperti sudah siap bepergian.


"Hah? Kamu lupa?" Tanya Naomi menatap Nabil dengan sangat heran.


"Lupa apaan? Emang kita ada janji pergi, Ya?" Tanya Nabil balik mengingat - ingat, apakah dirinya memilik rencana apa hari ini.


"Ish... Yaudah lah, gausah aja..."


"Etttt... eh, Mi... Sayang!" Cegah Nabil dengan berlari menghampiri Naomi dengan menggenggam erat tangannya.


"Sayang, serius... aku lupa, emang kita mau pergi kemana hari ini..." Lanjut Nabil setelah berhasil menghentikan langkah Naomi.


"Kamu beneran lupa, apa lagi ngerjain aku?" Tanya Naomi memastikan.


"Sumpah, Mi, sayang... Aku lupa, kita mau kemana?" Tanya Nabil dengan tatapan yang sangat menyesal, pasalnya Nabil benar - benar tidak mengingat apapun.


"Aku, hari ini mau peraktek observasi di kebun teh yang ada di puncak, dan semalam emang sih aku lupa bilang sama kamu, trus tadi pas mau subuhan, aku baru bilang ke kamu, tapi kamu ngelarang aku buat pergi sendiri, trus kamu bilang, aku nggak boleh pergi kalo nggak sama kamu, kebetulan aku kesananya emang sendirian dari sininya, jadi aku ngajakin kamu tadi, trus kamu bilang Iya." Tutur Naomi yang membuat Nabil sangat berfikir keras, namun sepertinya Nabil bilang seperti itu bukan dalam keadaan sadar dan terbangun dari tidurnya.


"Sumpah, aku lupa sayang aku bilang kayak gitu tadi pagi, tapi waktunya masih lama gak? Kalo aku mandi dulu kira - kira masih keburu gak?" Tanya Nabil dengan raut wajah yang sangat panik.


"Kalo mandi kelamaan, kamu cuci muka sama ganti baju aja, sana... Mandinya nanti aja kalo udah sampe vila, takut kebur macet, kamu tenang aja disana temen - temen aku udah sewain vila buat kita nginep." Usul Naomi yang membuat Nabil menghentikan langkahnya yang setengah berlari menuju kamarnya di rumah ini.


"Loh ka..."


"Udah, nanyanya nanti lagi aja, sayang... aku panasin modil duluan, ya..." Potong Naomi saat Nabil entah akan bertanya apa.


"Berapa hari sayang kita disana nya?" Tanya Nabil kembali dan kali ini tanpa terpotong oleh sanggahan Naomi.


"Kegiatannya sih hari ini sama besok doang, nah kebetulan, besoknya lagi kan hari minggu, jadi kita bisa sekalian liburan gitu." Jawab Naomi yang hanya Nabil angguki walau mungkin Naomi tak melihatnya.


Skip


Di perjalanan yang cukup lancar, Nabil dan Naomi hanya sama - sama terdiam dengan fikirannya masing - masing, dengan posisi Naomi yang bergelayut manja di tangan sebelah kiri Nabil, hingga tiba - tiba, Nabil menepikan mobilnya ke sebuah mini market setelah melihat sebuah mobil yang sangat Nabil kenali, tengah terparkir disana.


"Kamu mau beli apa kesini?" Tanya Naomi saat Nabil sudah mematikan mobilnya.


"Kamu tunggu di sini ya, aku mau nanya kabar aja sama calon kakak ipar aku, ini mobilnya." Ujar Nabil dengan menunjuk sebuah mobil berwarna merah.


"Aku mau ikut..."


"Jangan, kamu tunggu aja disini, sebentar koq sayang..." Larang Nabil yang akhirnya Naomi angguki walau dengan wajah yang sedikit cemberut.


"Serius, Mi... Kau cuma mau nyapa aja, nggak aneh - aneh koq." Lagi Nabil meyakinkan saat mendapati Naomi terlihat kesal.


"Jangan lama - lama." Kahirnya Naomi membiarkan Nabil pergi menemui orang yang katanya calon kakak iparnya itu.


Nabil keluar dari mobil dan langsung masuk menuju mini market untuk mencari keberadaan Veranda yang nabil harap, Ve tidak sedang bersama Adzril, namun  Nasib berkata lain, Nabil mendapati Ve tengah mendorong sebuah troli dengan ditemani Adzril dengan raut wajah yang sepertinya tengah kesal.


"Hai..." Sapa Nabil dengan tersenyum datang dari belakang Adzril dan Ve. Sontak Adrzildan Ve pun menatap kearah sumber suara dengan sama - sama kaget.


"Wedehhhh... coba liat siapa ini yang tiba - tiba muncul kek jelangkung." Adzril menatap Nabil dengan tatapan yang, entahlah membuat Nabil sedikit merasa was - was.


"Gimana kabar kalian?" Lanjut Nabil ber basa - basi tanpa ada sedikitpun keberanian untuk memeluk saudara kembar yang padahal sangat ia rindukan, saat ini.


"Gitu cara loe nyapa kembaran loe sendiri?" Tanya Adzrl dengan tersenyum miring. "Loe udah lupa jalan pulang apa gimana?"


"Sebenernya gue kesini cuma mau minta tolong sama loe, Ve..." Ujar Nabil mengalihkan topik yang terasa sangat canggung.


"Apa, Bil?" Tanya Ve seperti biasanya.


"Sebenernya gue malu sih, tapi gue nggak punya pilihan lagi, gue lagi jalan sama cewek gue, nggak deh, gue mau anterin cewek gue buat praktek di punca Vila, tapi dia sekalian ngajak gue liburan..."


"Langsung keintinya aja, Bil... ribet banget omongan loe, kek baru kenal sehari doang loe sama gue." Potong Ve yang dengan sengaja tidaak menghiraukan Adzril sama sekali yang masih sibuk membuang pandangannya namun tetap memperhatikan setiap ucapan yang keluar dari mulut Nabil.


"Gue... gue boleh minjem atm loe dulu..."


Sebelum Nabil menyelesaikan kalimatnya, Adzril terlebih dahulu memberikan dompet yang ia ambil dari saku belakang celananya.


"Yang sodara loe tuh, Gue!" Ujar Adzril dengan mengangkat tangan Nabil untuk menerima dompetnya.


Nabil yang terkejut pun kini hanya bisa menunduk tanpa tau harus merespon bagaimana atas perlakuan Adzril.


"Gue minjem atm nya..."


"Loe liat itu emang dompet siapa, kebiasaan dah loe kalo ngomong nunduk mulu, kek lagi liat dan ngobrol sama kurcaci!" Potong Adzril yang kesal sedri tadi Nabil hanya sebentar menatap Adzril.

__ADS_1


Tanpa sepatah kata apapun, Nabil berlalu dari hadapan keduanya, Adzril yang bingungpun hanya bisa menatap aneh pad Nabil, seperti bukan Nabil yang ia Kenal, apa seburuk itu efek dari Narkoba hingga membuat sifat Nabil.


"Anjing... We, Bangsat! Kagak ada makasih - makasihnya ya loe gue liat - liat!" Teriak Adzril sangat keras yang membaut kini Adzril dan Ve manjadi pusat perhatian para pengunjung mini mareket yang tengah asik berbelanja. Adzril yang sebelumnya tengah kesal dan kini lebih dibuat kesal lagi dengan kelakuan Nabil pun sontak membuatnya berniat mengejar Nabil, namun untungnya Ve dengan sigap mencengkram lengan Adzril.


"Udah! apaan sih loe!" Bentak Ve yang membuat Adzril kini menatap Ve dengan kesal.


"Songong dia..."


"Udah biarin, bikin malu gue aja loe!" Potong Ve dengan ketus dan mendorng sendiri troli yang berisi belanjaan yang sedari tadi Ve dan Adzril kumpulkan.


Sedangkan Nabil sendiri baru saja duduk kembali di kursi kemudi mobil Naomi dengan wajah yang, entahlah, Naomi yang melihatnya kini bingung dengan apa yang terjadi pada Nabil.


"Kamu kenapa? Gimana, ketemu gak sama orang yang kamu cari?" Tanya Naomi yang masih heran pada Nabil.


"Ada, ketemu koq." Jawab Nabil dengan melemparkan dompetnya di depannya.


"Kamu nemuin dia cuma buat minta duit sama dia?" Tanya Naomi dengan mengambil dan melihat isi dompet milik Nabil.


"Awalnya, tapi tadi dia kesananya sama kakak aku, dan gatau gimana caranya, kakak Aku malah ngasih dompet aku yang dia bawa." Ujar Nabil yang membuat Naomi hanya membalasnya dengan mengangguk. Nabil pun mulai menjalankan kembali mobilnya dan meninggalkan parkiran itu untuk menuju tempat tujuan.


"Bil..." Tanya Naomi tiba- tiba.


"hmm?" Balas Nabil dengan hanya bergumam tanpa menatap Naomi.


"Kamu kan udah kenal keluarga aku, mamah aku, adik aku... terus, kamu kapan ngenalin aku ke keluarga kamu? Kamu mau beneran serius kan sama aku. Atau, kamu cuma mau hubungan kita sebatas pa..."


"Sayang..." Potong Nabil yang membuat Naomi menghentikan kalimatnya yang menggantung, namun Nabil tahu, kemana arah pembicaraan Naomi.


"Aku bukan nggak mau kenalin kamu ke keluarga aku, bukan juga kalo hubungan kita cuma sebatas sampe pacaran, aku sebenernya pengen banget kenalin kamu sama mamah papah aku, terutama sama kakak aku, tapi, kan kamu sendiri tahu, gimana Aku sekarang sama keluarga aku, aku aja nggak tahu, mereka masih ngarepin aku pulang, atau bener bener udah nggak perduli sama aku." Tutur Nabil yang kali ini membuat Naomi bungkam. Naomi menyadari alasan Nabil kini tinggal dirumahnya karena apa, dan sekarang Naomi malah menanyakan satu hal pada Nabil yang padahal Naomi sendiri sudah tahu alasannya.


"Aku janji, Sayang... aku mau serius sama kamu, dan asal kamu tahu, aku, suatu hari nanti akan kenalin kamu ke keluarga aku yang kalo emang ternyata udah nggak perduli sama aku, aku nggak akan perduli, aku akan tetep kenalin kamu ke mereka sebagai calon istri aku." Tutur Nabil yang membuat Naomi kini luluh kembali dan memeluk lengan samping kiri Nabil yang terbebas dari steir.


"Maaf sayang, aku bukan nggak percaya sama kamu, tapi aku juga ingin kenal lebih dekat lagi bukan hanya sama kamu, tapi sama orang - orang yang kamu sayangin juga, maafin aku Bil, akalo aku terlalu menuntut sama kamu." Tutur Nabil dengan menyesal.


"Nggak apa - apa, sayang... udah yang penting kamu tahu gimana aku sekarang, aku nggak mungkin milikin kamu cuma buat sekedar main - main aja." Tutur Nabil dengan mengecup lembut kepala Naomi yang masih bergelayut manaj di tangan kirinya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup membuat Naomi dan Nabil cukup merasa lelah, akhirnya keduanya kini sudah sampai di vila yang ternyata sudah ada teman - teman Naomi dan salah satunya adalah Nando.


"Widihhhh... Pantes nggak mau bareng kita berangkatnya, ternyata dia dianterin pangerannya, guys." Ujar Nando dengan menatap jahil pada Naomi dan Nabil.


"Bilang aja Nando cemburu gitu, nggak usah sok wadah - wedeh segala..." Timpal seseorang dari belakang Nando yang sukses membuat Naomi tertawa menatap wajah malas Nando.


"Jomblo bacot banget!" Balas Nando dengan menatap malas pada seorang gadis dibelakangnya yang sebelumnya menyindir Nando.


"Gue? sama dia? Hidiiiihhh..." Potong Nando pada seseorang yang entah datang darimana tiba - tiba sudah berada di samping Gadis yang sebelumnya tengah saling mengejek dengan Nando.


"Gue heran deh, kan kita tau ni Cindy gak pernah akur sama Nando, kenapa kita satuin mereka, sih?" Tanya Naomi yang kini mulai melangkah untuk beristirahat sejenak di dalam Vila yang diikuti Nabil yang mengekor dibelakang Naomi dengan membawa barang keperluan Naomi.


"Gue Aldo, salam kenal bang..." Tiba - tiba saat Nabil sudah menyimpan barang - barang Naomi didekatnya, seseorang dari mereka dengan badan yang sepertinya lebih tinggi dari teman - teman Naomi yang ada disni.


"Eh... oh! Sorry, Gue Nabil..." Balas Nabil dengan membalas uluran tangan salah satau teman Naomi yang bernama Aldo.


"Loe kuliah dimana bang?" Tanya Aldo yang memang sepertinya paling mudah bergaul dengan orang lain.


"Gue? Gue gak kuliah, Do..." Balas Nabil dengan tersenyum menatap Aldo sedangkan Nando yang mendengarnya hanya bisa menatap Iba pada Nabil.


"Loe beneran di D.O?" Tanya Nando yang memang Naomi dan Nando tidak satu kampus dengan Nabil, karena itulah Nabil menjadi orang Asing dimata teman - teman Naomi dan Nando.


"Di DO kenapa, Bang? Loe ikut tawuran?" Tanya Aldo dengan sedikit kaget menatap Nabil.


"Bukan gila! Biasalah..."


"Biasa mbah mu sumbing! Narkoba loe bilang biasa!" Potong Nando yang memang merasa Kesal dengan kelakuan Nabil yang menurutnya sangat gegabah itu, Namun Nabil sendiri hanya tertawa atas ucapan Nando.


"Buseettt... Narkoba? Gila, kasian banget Naomi..." Aldo yang menyadari tatapan Naomi yang terlihat sangat marah menatap Aldo pun menggantungkan ucapannya, sedangakan Nabil yang tahu arah pembicaran Aldo pun tertawa dengan merangkul Naomi agar tak menganggap serius ucapan Aldo, yang ternyata tak beda jauh dengan dirinya yang selalu nyeletuk tanpa mikirin perasaan orang lain.


"Hahahah... tenang aja, Gpp Do, santai aja gue mah, ya emang kenyataan gue di DO karena hal itu, apa lagi yang harus gue bantah." Ujar Nabil yang kini sedikit membuat Aldo merasa tak enak pada Naomi yang kini tengah di kode oleh Nabil agar tak mempermasalahkan ucapan Aldo.


"Sorry ya, Bang..." Gugup Aldo yang kini tak berani menatap Naomi.


"Udah, santai aja." Balas Nabil dengan tersenyum pada Aldo yang sepertinya sebenarnya umurnya diatas Nabil, namun entah mengapa Aldo menyebutnya Bang, apakah Aldo tak tahu jika Nabil ini sebenarnya adik kelasnya Naomi dan Nando.


"Oiya, Nan... Kalian mau langsung kegiatan sekarang juga?" Tanya Nabil mengalihkan topik yang sebelumnya sebenarnya pembicaraan ringan dan hangat, namun berubah saat Aldo mengeluarkan sifat yang sama persis dengan Nabil.


"Nanti aja agak sorean kayaknya, panas banget kalo sekarang langsung kesana." Jawab Nando dengan melihat jam yang melingkar ditangannya, yang ternya masih jam setengah sebelas.


"Yaudah, kamar gue dimana, Nan?" Tanya Nabil yang berdiri untuk sedikit mengistirahatkan badannya yang terasa cukup lelah.


"Noh, kita bertiga disana aja, biar Naomi sama Cindy sekamar diatas." Ujar Nando dengan menunjuk sebuah pintu yang tak jauh dari tempat ketiganya duduk.

__ADS_1


"Mi, Aku tinggal gapapa, ya? Aku mau istirahat sebentar." Pamit Nabil dengan membawa tas yang sepertinya berisi pakaiannya untuk tiga hari kedepan.


"Iya..." Balas Naomi dengan tersenyum.


Setelah Naomi melihat Nabil menghilang dibalik pintu kamarnya, Naomi kembali mengumbah raut wajahnya dengan menatap Aldo yang tengah memainkan handphonenya.


"Heh... loe, tadi apa - apan loe ngomong gitu sama pacar gue?" Tanya Naomi dengan wajah juteknya, Aldo yang mengira Naomi tak akan memperpanjang ucapannya tadi pun kini mengalihkan tatapannya pada Naomi dengan raut yang bingung.


"Udahlah..."


"Enggak, Nan! Ni anak harus dikasih tau, sopan sedikit sama yang lebih tua umurnya, kalo bukan adeknya Cindy, udah gue suruh Nabil patahin itu tangannya!" sangkal Naomi ketika Nando ingin menegurnya, Nando tahu jika Naomi sudah marah karena orang yang dia sayang diusik, walau konteksnya hanya bercanda, Naomi sangat tidak suka akan hal itu.


"Yaelah, Kak... Bang Nabil aja biasa aja, kenapa kakak yang ribet dah?" Ujar Aldo merasa tak terima diintimadasi seperti itu.


"Sayang... Udah gausah ribet!" Teriak Nabil dari dalam kamar yang ternyata sedari tadi menguping dibalik pintu kamarnya.


"Iya..." Sahut Naomi yang langsung meninggalkan Aldo dan Nando yang sama - sama saling menatap satu sama lain.


"Anjing... segitu berpengaruh Nabil di kehidupan Naomi, gue yang mendem perasaan dari kelas tujuh, kagak pernah dia lirik sebegitunya." Gumam Nando yang cukup bisan Aldo dengar.


"Biasanya kalo udah kayak gitu, ada dua kemungkinan, bang! Bisa karena Kak Naomi orangnya sangat susah Jatuh cinta, jadi sekalinya jatuh cinta, dia bakal bucin banget sama orang yang dia sayang dari hati dengan tulus." Tutur Aldo yang bisa masuk di logika Nando.


"Terus, kemungkinan kedua, Kak naomi udah dipake sama bang..."


"Mau gue, apa Nabil nih yang gamparin loe?" Potong Nando dengan menatap sinis pada Aldo yang lagi - lagi memancing keributan.


"Kurang logis dimana lagi gue bang? Ayolah, mereka udah sama - sama dewasa, udah nggak bisa dibilang polos lagi tentang hal seperti itu. Kali ini, sorry banget dah, ditambah background bang Nabil yang kurang baik." Sanggah Aldo yang tentu saja membuat Nando kini bungkam di hadapan anak yang umurnya jauh dibawahnya.


"Anjing, sih! Koq kata - kata loe masuk ya ke otak gue!" Lirih Nando seakan ingin sekali tak percaya aka analisa Aldo, namun Nando juga kini terfikir hal demikian, ditambah lagi, kini Nabil tinggal di rumah Naomi, semakin sulit logika Nando untuk cukup menerima kemungkinan pertama yang Aldo ucapkan.


Skip


Setelah melewati hari - hari yang sibuk untuk Naomi, Nando dan Cindy, sore harinya Nando, Cindy dan Aldo memutuskan untuk pulang hari itu juga, sedangkan Nabil dan Naomi, memang sedari awal keduanya berniat sekalian main disana, sengaja untuk menginap semalam lagi, dan pulangnya besok sore mungkin.


"Bil, Mi, Kita balik duluan ya... Have fun ya kalian disini, inget, pulang - pulang jangan bawa Anak!" Pamit Nando dengan menatap Nabil dan Naomi dengan tatapan jahil, sedangkan Aldo hanya diam, takut kembali membangunkan singa betina yang lagi lapar.


"Pertanyaannya, rela nggak loe, hubungan gue sama Naomi sejauh itu?" Balas Nabil dengan menjahili balik Nando.


"Gue mau gimana lagi, Bil... Bahagia Naomi cuman ada di elu doang. Apa gue punya satu alasan biar Naomi bisa pisah sama, Loe?" Ujar Nando dengan tersenyum hambar.


"Gue mohon, tolong loe jagain Naomi dari orang lain, juga dari diri loe sendiri, Bil... Jangan sampe loe hancurin dunia kita bertiga." lanjut Nando dengan menepuk bahu Nabil.


"Kalo gue yang bikin dia rusak, loe bunuh gue, ya Nan." Pinta Nabil yang hanya nando balas dengan senyuman dan berlalu begitu saja dari hadapan Nabil dan Naomi.


Setelah hanya tinggal Nabil dan Naomi, keduany kini hanya duduk di ruang tengah Vila menonton Tivi, dengan posisi Naomi yang tiduran menjadikan paha Nabil sebagai bantalannya. Naomi tersenyum manis menatap wajah fokus Nabil yang entah tengah melihat apa pada smartphone nya hingga membuatnya seserius itu.


"Sayang..." Panggil Naomi dengan menyentuh pipi Nabil agar Nabil mengubah perhatiannya.


"Hmm?" Tanya Nabil dengan menyimpan hpnya dan langsung menunduk mencium kening Naomi dengan sangat lembut.


"Kita mau gini - gini aja?" tanya Naomi dengan ambigu.


"Gini - gini aja? maksudnya?" Tanya Nabil memperjelas pertanyaan Naomi.


"Ya masa kita cuma tiduran gini aja di sini? Kalo cuma liburan gini mah dirumah aja, kan bisa sayang?" Tanya Naomi yang sukses membuat Nabil menatap heran pada Naomi.


"Kan kamu yang ngajak aku liburan kesini, kamu doang yang inisiatif ngajak aku ketempat mana gitu disini?" Usul Nabil dengan kembali mendekatkan wajahnya, namun kali ini bibir Nabil mengarah langsung pada bibir Naomi, Naomi sendiri perlahan menutup matanya membiarkan Nabil melakukan apa saja padanya saat ini. Bibir  keduanya menempel, namun benar - benar hanya menempel saja, tak ada lumutan sama sekali yang keduanya awali, hingga saat Nabil hendak menjauhkan wajahnya, Naomi menahan kepala Nabil dan mulai menggerakan Bibirnya, Nabil sendiri mengikuti ritme permainan yang Naomi awali hingga tanpa sadar, tangan Nakal Nabil mulai menjelajahi dari bagian leher Naomi dan semakin turun kebawah, sampai tangan Nabil berhenti di kedua gundukan yang tidak terlalu besar, daan mulai meremasnya dengan perlahan.


"mmmhhh..."


Nabil tersadar saat mendengar ******* Naomi dan mulai perlahan menyudahi ciuman keduanya yang semakin panas, dan Nabil juga kembali membenarkan kaos yang Naomi kenakan yang sedelumnya sedikit berantakan dibagian atasnya.


Naomi yang masih mengatur nafas dengan memejamkan matanya membuat Nabil kembali terpancing nafsunya, namun Nabil tahan dengan sekuat tenaganya, karena Nabil takut berbuat terlalu jauh pada Naomi, ditamabah di Vila ini hanya tinggal mereka berdua.


"Kenapa?" Tanya Naomi yang terlihat sudah bisa mengatur kembali nafasanya dengan tenang saat ini.


"Nggak apa - apa..." Balas Nabil dengan membenarkan helaian rambut Naomi yang menutupi sedikit bagian wajahnya.


"Aku siap koq, sayang..." Lanjut Naomi yang membuat Nabil tersenyum dan mengusap pipi Naomi dengan punggung tangannya sangat lembut.


"Nanti ada waktunya sayang. dan itu bukan sekarang." Ujar Nabil lembut dan kembali mencium kening Naomi dengan sangat tulus.


Nabil pun membantu Naomi bangun dari posisinya, awalnya Naomi heran ada apa dengan Nabil, apa masih ada sangkutannya pada kejadin sebelumnya.


"Ayo..." Ajak Nabil dengan mengulurkan tangannya kehadapan Naomi.


"Kemana?" Tanya Naomi dengan menerima uluran tangan Nabil.


"Liat sunset di kebun teh yang kemarin kamu observasi, disini udaranya panas, banyak setan nya, imanku nggak kuat." Tutur Nabil tanpa menatap Naomi yang kini mulai melangkah menarik Naomi untuk mengikutinya.

__ADS_1


"I'm Yours, Bil!" Bisik Naomi yang hanya Nabil tanggapi dengan tersenyum.


TBC


__ADS_2