
Seorang pria berseragam putih - abu berlari dengan sangat tergesa memasuki sebuah rumah sakit elit terkenal di daerah itu.
"Permisi sus..." sapa pria itu dengan nafas yang masih tergesa.
"Ya... ada yang bisa saya bantu?" Balas suster penjaga itu dengan ramah.
"Kamar pasien atas nama Nabil Putra, nomor berapa?" tanya pemuda itu dengan nafas yang masih belum teratur sepenuhnya.
"Mungkin yang kamu maksud Adzrilia putra... Pasien yang baru beberapa menit tiba karena terjatuh da..."
"Ya, Sus itu yang saya maksud..." Potong pemuda itu.
"Di kamar boulevard nomor 19, adanya di lantai 2, pintu ke 3 sebelah kiri jika kamu menggunakan lift." tutur suster itu.
"Makasih sus..." Ujar pemuda itu yang ternyata adalah Nabil... eh atau mungkin lebih tepatnya orang yang mirip dengan Nabil, hingga saking miripnya, suster tadi sampai kaget saat melihat data pasien barnama Adzril.
Setibanya pemuda itu di kamar yang sebelumnya suster itu beritahu, kini pemuda itu langsung memasuki kamar dan menghampiri kasur yang diisi seorang pemuda juga dengan wajah sangat mirip, bahkan postur tubuh dan raut wajah keduanya sangat mirip.
"Goblok banget sih... malah nyengir lagi!" Sentak kembaranya yang disambut cengiran bodoh kembarannya.
"Loe kenapa?" Tanya kembarannya yang terbaring diatas kasur.
"Loe yang kenapa? dirumah aja bisa sampe jatoh... kek bocah tau gak?" balas sang pemuda yang tak lain adalah kakaknya, dan yang terbaring adalah adiknya.
"Gue gak papa, koq..."
"Gapapa mata lo picek! Kalo kagak kenapa - kenapa, ngapain loe disini?" potong sang kakak dengan nada yang sangat kesal.
"Serius gue... cuma tadi agak lemes aja pas jatoh makanya gue nelpon rumah sakit." ujar sang Adik.
Nabil putra dan Adzrilia putra adalah dua anak kembar yang dimana Nabil lahir terlebih dahulu dibandingkan Adzril, namun almarhumah nenek mereka menyebutkan jika Adzril lah sang kakak, karena kebanyakan sang Kakak akan lebih sering mengalah pada sang adik, dan benar saja, dari sikap Adzri lah yang hampir selalu berfikir paling Dewasa, dan karena hal itu juga, Nabil memutuskan untuk memanggilnya Kakak, Karena dari hampir setiap Sisi, Adzril yang selalu bersikap paling Dewas, Dan Nabil menyadari hal itu.
"Loe, balik lagi aja gih ke sekolah..." Usir Nabil dengan raut yang sangat menyebalkan.
"Gak ada akhlak lagi emang ni anak... gue capek - capek dateng kesini... belum ge setengah jam, udah diusir lagi aja." Kesal Adzril dengan menyipitkan matanya menatap Nabil.
"Ntar anak - anak pada nyariin gimana?" tanya Nabil lagi dengan maksud memaksa Nabil pergi kesekolah dengan tujuan untuk mengawasi gadis yang sangat Nabil cintai.
"Kalo anak anak yang loe maksud Key, Ve sama Gaby... ya itu sih bodoamat, kan yang dicari loe, bukan gue." ujar Adzril yang kini menunjukan raut mengesalkannya.
"Kakak..." Rengek Nabil yang kini menunjukan wajah yang dibuat sepertihatin mungkin.
"Males gue ah... nggak ada ulangan ini kan. udah gue mau tidur, semaleman gue kagak tidur buat nyelesein gambar pesenan orang. dah ya loe gausah berisik." tutur Adzril dengan membuka semua kancing seragamnya dan hanya memperlihatkan lapisan kaos putih polos.
"Ya tap..." Sebelum Nabil menyelesaikan ucapannya, hp yang Adzril simpan di atas meja, tiba - tiba berdering tanda ada panggilan masuk.
"Nah... panjang umur, baru ge diomongin udah nelpon aja nih bebeb gue." ujar Adzril yang melihat nama yang bertuliskan Bebeb.
"Hallo.." sapa Nabil.
"Hallo, Nabil kamu dimana? kamu mau bolos apa nanti balik ke sekolah?" balas suara dari sebrang telfon.
"Bolos gue kyaknya, lagian kan loe ini absensi kelasnya"
"Terus apa urusannya kalo aku absensi?" tanya Gaby dengan nada kesalnya.
"Ya... aduh..." tiba - tiba Nabil menjatuhkan handphone Adzril dan memungutnya kembali.
"Hallo... hallo... Nabil?" suara seseorang yang ternyata adalah Gaby yang sedari tadi menelpon.
"Halo... halo, Gab... sorry - sorry, tadi hp gue jatoh ke tabrak orang lewat." alibi Nabill agar Gaby tak menyadari jika Gaby berbicara dengan orang yang berbeda dari sebelumnya.
"Jadi kamu beneran nggak masuk hari ini?" tanya Gaby.
"Iya deh kayaknya, kasian juga ini sodara gue, bokap nyokapnya lagi pada di luar kota, dan baru dateng paling nanti agak siangan." Balas Nabil dengan mematikan loudspeekrnya.
"Oiya, nanti aku sama Ve sama Key mau kerumah kamu, boleh?" tanya Gaby yang sukses membuat Nabil menahan nafasnya antara kaget dan bahagia.
"Ma... mau ngapain?" tanya Nabil terbata.
__ADS_1
"Ya... main aja, kan kamu sama Key udah tau kontrakan kita, masa aku sama yang lainnya gak boleh tau rumah kamu, nggak adil banget." tutur Gaby.
"Ya... ya boleh aja sih..." balas Nabil ragu, ragu antara dirinya diizinkan pulang atau nggaknya, karena jika tak dizinkan, Nabil yakin jika kakaknya tidak mau menemani mereka di rumahnya.
"Hmm... yaudah deh kalo kamu keberatan, nanti aja lain waktu deh..."
"Eh, nggak... nggak, ntar gue share lokasi rumah gue yak." potong Nabill cepat.
"Yaudah aku tunggu ya, ini udah ada guru masuk."
"Yaudah, semangat belajarnya ya..." ujar Nabil dengan tersenyum.
"Makasih..." Balas Gaby dengan memutuskan sambungannya.
sedangkan di tempat lain, ternyata bukan hanya Gaby yang sebelumnya menyimak dan mendengar Nabil di sebrang telfon, Key dan Ve serta Bu Erna pun menyimak setiap kalimat yang Nabil ucapkan dari Awal.
"Gaby, makasih yah sudah mau menuruti keinginan ibu..." Ujar Bu Erna dengan mengusap bahu Gaby dengan tersenyum.
"Yasudah, kalian boleh kembali ke kelas." Ujar bu Erna dan di angguki ketiganya. "Oiya, Gaby nanti kamu sama Ibu aja yah ke rumah Nabilnya."
"Iya bu..." balas gaby dengan mengangguk sopan.
Sepeninggalan ketiganya, bu Erna tampak memperlihatkan wajah sedihnya kala melihat wallpaper hanphonenya.
~
Tak terasa, matahari sudah sangat tinggi hingga menyebabkan sinar uv cukup untuk membuat kulit manusia merasa terbakar jika berlama lama berdiri di bawahnya dengan waktu yang sangat lama. Bunyi bel sekolahan begitu nyaring terdengar yang menjadi tanda berakhirnya waktu bagi para guru mengajar di sekolah tersebut, hari ini. Gaby dan Ve jalan beriringan menuju parkiran motor untuk menunggu Key, namun bukannya mereka berdua menunggu, ternyata ada beberapa siswa yang sudah stay di dekat motornya masing - masing, termasuk Key yang sudah bersiap di motornya.
"Koq, loe udah disini?" Tanya Ve dengan nada yang sedikit meninggi. siswa yang langusng melihat kaget karena Ve tiba - tiba membentak. Para siswa itu takut akan amarah Ve. Beberapa waktu yang lalu, sekumpulan genk troublemaker dari kelas lain mengerjai Gaby dengan menumpahkan terigu diatas kepalanya saat pulang sekolah.
Flashback.
Gaby tengah berjalan sendiri melewati jalanan biasa ia lewati ketika pulang sekolah menuju kontrakannya bersama Ve, Kebetulan hari itu Ve tidak masuk sekolah karena dirinya beralasan sakit pada Gaby.
Ketika Gaby melewati sebuah warung yang biasa dijadikan basecamp oleh anak - anak berandalan sekolahnya, Gaby melihat beberapa siswa yang berseragam sama dengannya, sebenaranya dari awal Gaby melihat mereka, Gaby sudah enggan muntuk melintas di hadapan mereka, namun Gaby juga tak ada pilihan lain selain melewati mereka.
Dengan tatapan jahil, tiga siswa diantara mereka menghampiri Gaby dengan tatapan jahil nan menakutkan, namun Gaby mencoba biasa saja melewati mereka.
"A... aku mau pulang, m... maaf permisi." Ujar Gaby dengan wajah yang menunduk takut.
"Mana temen loe yang jagoan itu?" tanya Billy kembali dengan sedikit mengangkat wajah Gaby, namun Gaby menepisnya dengan reflek.
"Udah Bill, lepasin aja, kan gak ada ini cewek yang loe cari." ujar salah satu dari ketiganya.
"Loe gak mau apain dulu gitu ni cewek, Key?" tanya Billy pada siswa yang kerap disapa Key, atau tepatnya Keynal, ya dia Keynal yang kalian kenal sebelumnya. Alasan Keynal mau membantu Billy, karena nanti kalian akan tahu.
"Udahlah, kasian cewek cupu gini, tar dia depresi gak mau sekolah lagi." Ujar Keynal dengan merangkul Gaby dan membiarkannya pergi.
"Bilang sama temen loe, gue masih belum terima sama kejadian kemaren!" Ujar Billy dengan menahan Gaby. dan Gaby hanya menganggukinya.
"Gue titip salam buat dia." lanjut Key dengan membiarkan Gaby pergi.
Gaby akhirnya bisa bernafas lega, namun baru berapa langkah, sebuah debu putih kering berbau tepung terigu menimpa Gaby dari atas hingga menyebabkan Gaby terdiam memaku. sedangkan dibelakangnya, Key, Billy dan satu temannya yang sedari tadi hanya diam kini mentertawakan Gaby yang sudah menjadi adonan putih seperti goreng ayam mentah yang baru saja di taburi tepung kering.
"Parah sih, Bill... harus nya loe gak segitunya. kena karma tau rasa loe! hahaha." tawa Key dengan merangkul Billy yang juga kini tak hentinya tertawa melihat Gaby yang sudah naik ke angkot dengan tubuh yang berlumuran tepung kering.
"Bahkan, Karma aja takut sama gue, Key." balas Billy dengan tertawa remeh yang kemudian menghampiri kembali tempat duduk di depan warung.
Sedangkan tanpa mereka sadari, seseorang menatap mereka dengan menatap kebencian pada ketiganya, dengan tangan yang berlumuran tepung dan kemudian menatap sedih pada sebuah angkot yang sebelumnya Gaby naiki kini sudah cukup jauh dari hadapannya.
"Maaf." gumamnya dengan menatap tangan yang dilumri tepung basah dan bau yang sangat amis.
"Cuma ini yang gue bisa lakuin, Gab." gumam pemuda itu dengan menatap nanar pada lengannya. "Setidaknya sebelum besok atau lusa."
"Tapi btw, Key koq nggak bau amis ya, trus ini kayaknya tepung deh, bukan kapur?" tanya Billy yang kini sadar dengan apa yang mengguyur Gaby tadi. "Loe ganti?"
"Dari tadi gue sama loe, monyet... kapan gue ganti?" balas Key dengan malas dan meninggalkan tempat itu dengan menaiki motornya.
Sesampainya Gaby dikontrakannya, Gaby mulai ragu untuk masuk, dirinya takut jika Ve murka dan membuat tiga siswa tadi menyesal karena diberi takdir bertemu dan kenal dengan sosok wanita yang beranama Veranda.
__ADS_1
Namun dengan segenap keberaniannya, Gaby mulai membuka pintu dan mendapati Ve yang tengah bersantai dengan buku tebalnya. namun detik berikutnya, Ve langsung melihat kearah Gaby dengan sorot mata membunuhnya.
"Gaby... Hey! Loe, kenapa? Ya ampun, rambut loe kenapa gini sih? Loe abis ngapain?" Cecar Ve dengan menghampiri dan membersihkan tepung yang masih menempel di beberapa are tubuh Gaby.
"Ak... Aku... Aku, aku gak papa..." Balas Gaby dengan suara yang parau. "Ak... Aku, mau bersihin dulu badan aku..." Ujar Gaby dengan sedikit menepis lengan Ve yang kini tengah menatap khawatir padanya.
"Ini pasti karena cowok itu, kan?" Tanya Ve yang tidak sedikitpun di gubris olehnya. Ve yang mendapat respon demikian pun hanya menghela nafasnya.
Setelah membersihkan dirinya, Gaby kini memilih berbaring di tempat tidurnya dan meratapi nasibnya yang begitu naas.
"Besok gue kasih mereka faham, siapa yang mereka hadapi." Ujar Ve dengan suara sedikit keras namun terkesan santai dan kembali membaca bukunya.
*Skip
Keesokn harinya, benar saja apa yang Gaby khawatirkan, dengan tatapan membunuh, Ve menghampiri seorang siswi yang tengah duduk di bangkunya.
"Nama loe siapa?" tanya Ve tiba - tiba dengan raut yang sangat menyeramkan.
"De... Devy." galas gadis itu terbata.
"Sorry, loe tau siswa yang namanya Keynal?" tanya Ve dengan raut wajah yang masih sama dengan sebelumnya.
"Ta...tau." Balas Devy yang masih takut untuk menatap Ve.
"Gue nitip pesan ama dia, suruh dia naik ke rooftop, dan bawa anak - anak yang kemaren juga." ujar Ve dengan kini tatapnya lebih menyeramkan dari sebelumnya. Sisiwi itu hanya menganggukinya dan cukup untuk membiarkan Ve pergi dari hadanya.
Tak berselang lama, Key kini memasuki kelasnya.
"emmmh... Key!" panggil Devy dengan sedikit ragu. Key hanya diam dan menatap Devy seolah menjawab 'ada apa'
"Tadi ada cewek nyariin, dan dia lagi nunggu loe sama temen - temen loe yang kemaren di rooftop, katanya." Ujar Devy yang sukses membuat jantung Key berdebar begitu hebatnya.
"Oke, tahnks." ujar Key dengan sebiasa mungkin.
Tak berselang lama, Key dan kedua temannya sudah sampai di rooftop sekolahannya. Key, Billy dan satu temannya yang akrab dipanggil Kenshin, sebenarnya bukan itu namanya, namun karena dirinya suka sama karakter dalam sebuah film anime jepang, teman - teman temannya memanggilnya Kenshin. okeh, itu nggak penting.
"Bagus juga nyali loe buat dateng kesini cuma bertiga?" Ujar Ve yang langsung berdiri dengan membawa satu bilah kayu yang cukup untuk meremukan satu kepala manusia.
"Urusan loe cuma sama Gue, Ve..." Ujar key dengan wajah yang mulai pucat pasi.
Ve melemparkan Kayu pada ketiganya.
"Pake tuh buat mukul gue kalo bisa!" Ujar Ve dengan tatapan membunuhnya.
Tanpa ragu, Billy yang memang orang yang sombong, langsung maju dan mengambil kayu yang ve lemparkan sebelumnya.
Ve tidak menghindar, hanya menahan kayu itu dengan satu lengannya, Billy yang memang sudah sangat muak dengan tingkah Ve, langsung mengayunkan kayu itu pada area kepalanya dengan sangat keras, namun bukannya tangan Ve yang patah atau retak, kayu yang Billy ayunkanlah yang malah patah menjadi dua potongan. Saat itulah Billy dan kenshin mulai sadar, siapa yang ada di depannya.
"Lebih keras lagi, bisa?" tanya Ve dengan meremehkan.
Billy hanya diam mematung di tempatnya.
Bugh
Ve langsung mengayunkan lengan kirinya pada bagian wajah Billy, alhasil Billy tersungkur dan mungkin beberapa Gigi yang langsung terkena bogeman mentah Ve copot dan membuat mulutnya di penuhi darah.
"Sini loe, nyet!" Panggil Ve dengan menatap Kenshin, namun bukannya maju atau kabur, Kenshin hanya diam mematung di tempatnya.
Ve yang telah dikuasi amarah sepenuhnya, langsung menghampiri Kenshin yang kini tengah menatap kosong pada Billy.
Bugh...
Lagi tangan kiri Ve kini melayang pada bagian ulu hati Kenshin yang tentu saja membuatnya langsung pingsan di tempat ia berdiri.
"Urusan loe, sama Gue, Ve!" Gumam Key kembali namun cukup di dengar oleh Ve.
"Jauhin mereka! ini peringatan terakhir buat loe!" Ujar Ve yang berlalu di hadapan Key.
namun sebelum Ve benar - benar pergi, Ve masih sempat menendang dari belakang bagian otot lengan atas Key dengan kaki kanan Ve, memang tidak sekeras Billy dan Kenshin yang kini sudah tak sadarkan diri, namun tendangan itu cukup membuat otot lengan Key cukup ngilu dan mungkin akan bengkak untuk beberapa hari kedepan.
__ADS_1
Semenjak saat itu, tak ada lagi yang mengganggu Ve dan Gaby, selain itu, beberapa hari kedepan, Belum kering luka pada Billy, Kenshin dan Key, Siswa pendiam dan tak banyak orang kenal namun ternyata kelakuannya lebih sadis dari Billy dan teman - temannya, kembali membuat luka pada ketiganya, dan menegaskan jika Gaby adalah pacarnya, dan siapapun yang mengganggu Gaby maupun Ve, mereka akan berhadapan dengan siswa itu. tentu kalian tahu, siapa dirinya.
TBC