Dihamilin Setan!?

Dihamilin Setan!?
Gaby and Nabil's Family Past.


__ADS_3

PLAK


"Keluar kamu dari rumah ini!"


Nabil, Adzril dan Verandi terkejut ketika tiba - tiba Erna yang entah datang darimana langsung menmpar Gaby dengan tangsian dan kekecewaan yang terpancar diwajah Erna.


"Mah!?" Verand tiba - tiba berdiri menghadan Erna agar tidak melakukan hal yang lebih kejam dari ini.


"Ada apa ini?" Tanya Adzril yang semakin pusing dngan masalah yang tiba - tiba menyerang keluarga ini.


"Ve..." gumam daren mengisyaratkan Ve untuk mundur dan membiarkan Erna menyelesaikan urusannya dengan Gaby.


"Nggak, Pah!? sebelum Ve tahu apa masalah sebenarnya." Tegas Ve yang masih menghadang Erna yang kini menatap tajam pada Ve, namun sedikitpun Ve tidak takut, meskipun pada akhirnya ia tak bisa berama Adzril karena melakukan hal ini.


"Mah..." Nabil yang sebenarnya tengah merassa kesal pada Gaby, namun jika diperlakukan seperti ini, Nabil juga merasa iba pada Gabs yang kini tengah mengandung calon anaknya keak. "Ada apa, kenapa mamah marah sama Gaby?" Nabil mencoba selembut mungkin menenangkan Erna.


"Kamu tahu, dia tidak lebih dari anak haram seorang pelacur, yang dahulu sempat mencoba untuk menghancurkan keluarga ini, namun ternyata takdir menolaknya dan lebih dahulu untuk mengambil nyawanya! Dan kamu, Gabriela Chintya, selamat, kamu berhasil masuk disni untuk menerusskan rencana busuk ibumu yang..."


"Cukup, mah! Nabil nggak ngerti dengan apa yang saat ini sedang terjadi, tapi Nabil mohon, jangan sakiti Gaby..."


"Apa? Kamu berrharap apa sama Gaby? kamu berharap menikah, dan membesarkan anak kalian denngan kata bahagia diatasnya? Apa kamu fikir mamah akan tetap merestui kalian setelah mamah tahu kalo Gaby ini anak selingkuhan papah Kamu? HAH!?" Veranda, Nabil bahkan Gaby sendiri terkejut atas apa yang erna ucapkan, hingga meembuat ketiganya kini menatap Erna deengan mata yang hampir saja keluar dari tempatnya. Sedangkkan Daren dan Adzril yang mengetahui sebelumnya, hanya diam pasrah dan tak ada keberanian sedikitpun untuk menghentikan Erna yang tengah dilanda emosi yang sangat bessar.


Veranda kini bingung harus membela siapa, meskipun hati nuraninya mengatakan untuk menarik Gaby dari situasi ini, namun Veranda kini mulai ragu akan keperibadian Gaby sebenarnya, apakah benar, Gaby hadir di tengah - tengah keluarga ini untuk meneruskan rencana mamahnya yang dahulu ingiin menghancurkan keluarga Nabil, atau Gaby tidak tahu apa - apa, dan murni kini tengah dalam musibah dan tanpa sengaja menyeretnya pada masalah masa lalu keluarga ini.


"Mah, Pah... demi tuhan, walaupun Gaby berbohog tentang mamah Gaby yang sebenarnya sudah meninggal, tapi sedikitpun Gaby gak tahu apa - apa tentang hubungan mamah Gaby dengan keluarga ini... Dan Gaby minta maaf, jika dimasa lalu, mamah Gaby pernah..."


"Halah! Cukup! Kamu tidak perlu mengeluarkan tangisan palsummu itu, saya tahu niat burukmu! Dan, mau ataupun tidak, kamu harus menggugurkan kandunganmu!" Erna yang kini tanpa halangan dari Ve langsung menarik Gaby untuk berdiri dan mencengkram kuat pergelangan tangan Gaby sangat kuat.


Namun Nabil dengan wajah datarnya kini berdiri dan dengan lembut meepass cengkraman kuat tangan Erna dari Gaby yang kini menangis pilu.


"Mah, nabil tahu, sebenci apa manusia pada seorang penghianat, tapi hal itu nggak bisa menjdikan mamah menjadi seorang pembunuh." tutur Nabil dengan kini menarik Gaby setelah terlepas dari cengkraman kuat erna sebelumnya dan membawanya keluar dari rumahnya, namun...


"Sekali kamu keluar dari rumah ini untuk melindungi pelacur itu, Selamanya kamu nggak akan mamah anggap bagian dari keluarga ini NABIL PUTRA." Tutur Erna dengan sangat tajam namun penuh penekanan disetiap kalimatnya untuk meyakinkan Nabil juka kalimat yang Erna ucapkan itu sangat mutlak.


"Nabil sudah pernah merssakan terbuang dari keluarga ini..."


Tanpa mereka semua duga, Nabil - benar - benar sudah membulatkan keputusannya untuk melindungi Gaby, bahkan dari seseorang yang sangat Nabil hormati selama ini dan kin Nabil terus menarik Gaby yang masih saja menangis kedalam mobil Nabil.


"Dengerin Gue, Walaupun keputusan Nyokap gue mutlak, tapi janji gue hari itu lebih dulu mutlak bagi kehidupan Gue, Gab!" setelah membantu Gaby duduk di kursi penumpang, Nabil membingkai wajah Gaby dengan kedua tangannya dan mengusap lembut menghapus airmata Gaby untuk meyakinkan Gaby akan keputusannya.


"Aku minta maaf..." Lirih Gaby dengan menatap tulus Nabil, yang tanpa keduanya sadari ternyata Naomi dan Sinka melihat keduanya dari luar gerbang rumah Nabil yang sebelumnya memanng keduanya berniat datang kerumah Nabil untuk meminta maaf pada Ve dan gaby atas ucapan Sinka sebelumnya, namun ternyata itu keputusan yang salah, hangga Nabil menyadari kehadiran keduanya ssaat akan membuka pintu kemudi mobilnya, namun Nabil menghiraukan keduanya dan lebbih memilih untuk cepat membawa Gaby keluar dari rumah ini.


"Kakak lihat? Apa masih ada uang dihati Nabil untuk Kakak seperti apa yang Nabil janjikan dulu?" Tanya Sinka yang kini meninggalkan Naomi dan masuk kedalam Mobilnya untuk memberkan jalan agar Mobil yang Nabil kendarai bisa keluar, ssedangkan Naomi dengan menundukan wajahnya mengikuti Sinka dan duduk di kursi penumpang sebelah Naomi.


Saat mobil Nabil tepat di samping mobil Naomi dan Sinka, Nabil menurunkan kaca mobilnya dan meminta Sinka untuk menurunkan juga kaca mobilnya yang ternyata dituruti oleh Naomi dan menurunkan kaca Mobilnya, namun terlihat enggan menatap Nabil dan Gaby yang kini juga melihat kearah Naomi.


"Maafin Gue... Untuk yang kesekian kalinya, gue minta maaf, Mi..." tutur Nabil dengan menatap sedih pada Naomi yang kini menaikan kembali kaca mobilnya dan meninggalkan mobil yang Nabil kendarai, yang kini juga mulai berjalan namun menuju arah yang berbeda dengan mobil yang sinka kendarai.


...****************...


Setelah cukup jauh Nabil mengendarai mobilnya, ditengah keheningan kadeuanya, Gaby mencoba membuka suaranya karena penasaran dengan tujuan Nabil membawa Gaby saat ini.


"Kita mau kemana?" Suara Gaby kini membuyarkan lamunan Nabil yang seedari tadi mmembuatnya fokus akan jalanan yang sedikit lenggang untuk dilewati.


"Kemanapun loe mau, Gab..." Tanpa menatap Gaby yang kini terheran atas jawaban Nabil.


"serius, kita mau kemana, Bil?" Tanya Gaby sedikit kesal yang mengira saat ini Nabil tengah bercanda dan berniat untuk menggombalinya, oh ayolah, Gab... disituasi seperti ini, masih bisa berfikir seperti itu?.


"Gue juga serius, loe maunya kemana? Gue juga bingung sebenarnya mau bawa loe kemana? gak mungkin guee bawa loe ke rumah Keynal, tapi gue juga nggak punya rumah kedua yang bisa gue jadiin tempat pearian ketika..."


"Kita ke rumah aku aja!" Potong Gaby yang hanya Nabil angguki kali ini dan membiarkan Gaby menunjukan dimana rrumah yang Gaby maksud.


"Di depan beelok kanan." Nabil kembali mengangguki ketika di depan matanya melihat perempatan jalan.


"Aku minta maaf, aku nggak bermaksud ngerusak hubungan kamu sama Naomi, jujur meskipun dari awal ketemu kamu, aku udah suka sama kamu, tapi ketika aku tau kamu udah punya pacar, nggak sedikitpun niat aku buat rebut kamu, Bil. Dan itulah alasan aku ketika aku selalu nolak ajakan kamu sama Key buat ke club bareng, aku takut, pperasaan aku semakin tumbuh buat kamu, Bil. Bhakan, andaikan aku nggak hamil, aku nggak akan pernah berusaha mencari dan mnemui kamu, Bil. Dan memang ternyata tuhan memang mentakdirkan kita bukan untuk bersatu." Nabil yang tengah menyetirpun kini juga ikut merasa bimbang, setelah mengetahui jika Gaby ini secara tidak langsung adalah saudarinya ssendiri, apa masih bisa Nabil untuk menikahinya?.


"Gue harus gimana Gab?" tanya Nabil dengan suara yang bergetar menahan tangis karenna mmerasa sangat berdosa menghamili saudarinya sendiri. Meskipun hal ini bukanlah sebuah kesengajaan, namun andaikan saja Nabil mengikuti kata - kata Naomi untuk tidak meminum - minuman beralkohol saat itu, mungkin Nabil saat ini masih bersama dengan Naomi.

__ADS_1


"Aku nggak apa - apa... kamu kembali sama Naomi, karena nggak mungkin bagi aku buat nikahin saudara aku sendiri, aku bisa besarin anak ini senndiri sampai besar nanti, dan aku akan anggep semua ini adalah dosa terindah yang pernah aku lalui sama kamu, Bil...." Gaby dengan mengalihkan tatapannya ke arah jalan yang semakin sepi karena memasuki are perumahannya yang memang jauh dari jalan raya. "Cinta pertamaku..."


Meskipun sedikit berbisik, namun Nabil bisa dengan jelas mendengar akhir kaimat Gaby yang membuatnya semakin merasa bersalah. Benar yang Gaby katakan, tidak mungkin bagi dirinya dan Gaby untuk bisa bersama dalam sebuah ikatan pernikahan.


"Apa aku boleh pergi dari semuanya, gab?" tanya Nabil tiba - tiba dengan nada yang sangat ambigu bagi Gaby setelah Nabil mnghentikan mobilnya tepat di area pekarangan rumah Gaby yang dahulu ia tempati sebelum pindah kerumah Nabil.


"Aku sama anak kita akan lebih bahagia ketiika aku bisa lihat kamu bisa bahagia denngan Naomi, Bil." Tegas gaby ketika Gaby berfikir kalimat Nabil yang sebeenarnya adalah pergi untuk selamanya.


"Apa Naomi masih mau terima aku yang udah kotor atas semua perbuatan aku selama ini..."


"Naomi tetaplah Naomi yang mencintai kamu dengan tulus, Bil! Gimanapun kamu, bagi Naomi kamu tetaplah Nabil yang sangat di sayangi dengan tulus, percaya sama aku." Dengan perlahan Gaby membuka pintu disampingnya dan mennggalkan Nabil yang kini merenungisetiap kalimat yang sebelumnya Gaby ucapkan.


"Pulanglah, Bil! Aku bukan rumah untuk kamu pulang." Pinta Gaby dengan mencoba tersenyum, Gaby meminta Nabil untuk kembali pada Naomi.


...****************...


Sedangkan ditempat lain, tepatnya dirumah keluarga Nabil, Erna masih belum percaya atas keputusan Nabil yang lebih memilih Gaby kini hanya bisa terduduk dengan pikiran kosong. Daren yang menyadari Adzril dan Ve masih memahami situasi ini pun memberi isyarat pada keduanya untuk meninggalkan Dare dan Erna, dan untungllah tanpa banyak pertanyaan, Adzril mengerti isyarat yang Daren berikan.


"Ve..." Adzril dengan lembut menyentuh tangan Ve yang sukses membuat Ve menatap Adzril yang kini memebrikan isyarat untuk mengikutinya menjauh dari Daren dan Erna, Veranda yang memang ssaat ini merasa canggungpun langsung mengikuti Adzril beranjak dari ruang tamu untuk menuju lantai atas.


"Sudah, apa mamah puas saat ini? Apa ini yang mamah mau?" Tanya Daren dengan Nada yang sangat lembut dan kini berlutut dihadapan Erna.


"Papah tau, kata maaf nggak akan pernah cukup untuk menghapus dosa papah dimasa lalu, tapi apa mamah sedikitpun tak bisa memberikan kesempatan untuk papah menebeus dosa masa lalu papah, dengan mengurus dan menjaga Gaby, buah dari akar yang papah perbuat dari masa lalu papah yang kelam." lanjut Daren dengan menggenggam lembut tangan Erna.


"Tapi mamah nggak bisa pah, saat ini mlihat Gaby, sama saja mamah melihat bagaimana mamah dikhianati sama sahabat baik mamah sendiri. Tapi mamah juga nggak mau Nabil pergi lagi dari sini, kita udah pernah sama - sama merasakan bagaimana kehilangan Nabil... Dan mamh nggak mau mengulangi hal itu lagi sebenarnya." Dengan tangisan yang sangat pilu, Erna mengungkapkan bagaimana perasaannya pada sang suami, jujur, sebenarnya Erna tidak ingin membenci Gaby, bahkan sebenarnya Erna sadar, bahwa tak ada urusannya Gaby dengan masa llalu dirinya dan suaminya serta Almarhum mamah Gaby, namun sekali lagi, Erna saat ini mellihat Gaby, merasa dipaksa merasakan bagaimana sakit hatinya dulu ketika Erna mengetahui jika Daren memiliki hubungan spesial dengan sahabatnya seendiri.


Lama berkecamuk dengan fikirannya, tiba - tiba Erna merasakan dunia disekelilingnya tiba - tiba berputar degan sangat lambat, hingga semakin lama pandangannya semakin berat dan tak lagi mendengar suara Daren yang terus berusaha menjaga keseimbangan tubuh Erna yang kini sudah tak sadarkan diri.


"ADZRIL!!!!" Teriak Daren saat mendapati kini Istrinya pingsan dalam pelukannya, untunglah Adzril tidak benar - benar meninggalkan keduanya, hingga ketika Daren berteriak memanggil namany, Adzril langsung menghampiri keduanya bersama Veeranda yang kini juga panik melihat tubuh Erna yang terkulai lemas dalam pelukan Daren.


"Mamah!?"


Daren dan Veranda sama - sama terkejut menatap Erna.


"Pah..."


"Kamu jangan banyak tanya! Bantu papah bawa mamah kedalam Mobil." Potong Daren ketika Adzril akan mengeluarkan pertanyaannya. Dan tanpa bantahan lagi Adzril langsung membantu Daren membawa tubuh Erna dengan Veranda yang terlebih dahulu keluar untuk membukakan pintu Mobil yang akan membawa Erna menuju rumah sakit.


"Kamu jangan ikut, kamu cari adik kamu, biar papah sama Veranda yang bawa mamah ke Rumah Sakit.' Titah Daren yang sebelumnya ingin Adzril tolak, Namun melihat bagaimana tatapan Daren yang sangat memohon pada Adzril, Adzrilpun tak bisa lagi untuk menolak perintah Daren dan dengan buru - buru Adzril langsung berlari menuju mobilnya untuk mencari Nabil, yang sebenarnya Adzril saat ini bingung harus mencari Nabil kemana.


...****************...


Ditengah bingung, khawatir dan kesal dalam perjalanan mencari Nabil, Adzril mulai frustasi kini harus kemana lagi mencari Nabil, hingga dalam fikirannya terlintas satu nama dan mungkin saat ini Nabil berada bersamanya, dan untunglah Nabil pernah membawa Adzril ke rumahnya beberapa waktu lalu.


"Naomi..." Gumam Adzril dengan raut yang sedikit tenang saat teringat mungkin saja Nabil akan kerumah Naomi karen dulu Nabil juga pernah tinggal disana walaupu hamya sebentar.


Tanpa berfikir panjang dan mencoba mengingat - ingat jalan meenuju rumah Naomi, Adzrilpun deengan kecepatan yang cukup tinggi melesatkan mobilnya, hingga tak butuh waktu lama, kini dirinya telah sampai di depan pintu gerbang ruma yang seingat Adzril ditinggal keluarga Naomi.


"Assalamualkum, pak..." Adzril yang llangsung turun dari mobilnya langsung menghampiiri sekuriti yang menjaga rumah Naomi.


"Loh, Nabil ya? wah.. udah lama banget kita nggak ketemu!?" Sapa balik sekuriti itu ketika melihat siapa orang diluar gerbang yang menyapanya.


"Eh, i...iya pak... maaf saya mau ketemu sama Naomi, apa dia ada dirumah?" Gugup Adzril yang ternyata Nabil sangat dikenal baik dikeluarga ini.


"Oh... Ada, silahkan masuk, Buru - buru banget kayknya, udah kangen banget." Ujar sekuriti itu dengan membuka gerbangya agar pemuda yang dia anggap itu adalah Nabil agar bisa membawa mobilnya masuk kedalamrumah Naomi.


Namun Adzril langsung masuk kerumah itu tanpa membawa mobilnya.


"Naomi!' Panggil adzril ketika kebetullan melihat Naomi yang tengah duduk melamun di sebuah kursi yang terletak ditaman pekarangan rumahh keluarga Naomi.


"Nabil?" gumam Naomi saat melihat sesosok pemuda yang ia kira adalah Nabil.


"Nabil? Kamu ngapain kesini?" Tanya Naomi yang kini berdiri dihadapan Adzril yang kini tengah mengatur Nafasnya dengan raut yang masih panik.


"Gue Adzril, sory... hahhh..." Dengan Nafas yang belum teratur, Adzril menegaskan pada Naomi siapa yang ada dihadapannya. "Gue ksini mau cari Nabil? apa Nabil ada kesini, mi?"


Naomi yang masih mencerna semuanya pun kini bingung deengan apa yang tengah terjadi pada pemuda dihadapannya ini.

__ADS_1


"Nggak ada, bukannya tadi pergi sama Gaby?" Dengan raut yang masih bingung namun karena merassa tak tega, Naomi pun memberikan gelas yang berisi air putih miliknya untuk Adzril minum, dan dengan sedikit kasar, Adzril mengambil gelas yag Naomi sodorkan dan meminumnya sampai habis, lalu memberkannya kemballi pada Naomi.


"Emang kenapa kak? Apa yang terjadi sama Nabil?" sedikit kekhawatiran tiba - tiba menhampiri di kepala Naomi, meskipun masih merasa kecewa pada Nabil.


"Nyokap masuk rumah sakit gara - gara Nabil pergi buat liindngi Gaby..."


Lagi, Naomi merassakan sangat sakit pada hatinya ketika lagi - lagi melihat betapa Nabil sangat mengutamakan Gaby diatass segalanya, bahkan diatas keluarganya sendiri.


"Oh..." Balas Naomi yang kini malas dan kembali duduk ditempat sebelumnya. "Btw, Nbail kan perginya sama Gaby, kenapa kakak nggak keruamh Gaby aja, siapa tau Nabil ada disana..."


"Ho iya...." Adzril yang entah mengapa melupakan hal itu kini menepuk dahinya dengan sangat frustasi.


"Thanks, buat minumnya." Adzril langsung kembali berlari menuju mobilnya untuk menuju rumah Gaby yang memang sudah pasti saat ini Nabil berada disana.


Naomi yang melihat Adzril sudah menghilang dari pandangannya dengan selanjutnya mendengar suara mobil yang menjauh dari pekarangan rumahnya, menandakan Adzril sudah benar - benar pergi dari rumah Naomi. Naomi kembali memasang earphonenya dan memfokuskan kembali perhatiannya pada buku yang sebelumnya ingin ia baca namun terganggu akan kehadiran Adzril.


Entah karena fikirannya yang tengah melayang jauh entah kemana, atau meemang saat ini Naomi tengah benar - benar fokus pada buku yang ia baca hingga tak menyadari jika ternyata sebuah Mobil barusaja memasuki pekarangan rumahnya dan keluarlah Nabil yang kini melihat Naomi dan menghampirinya dengan langkah cepat, hingga sampai kini berada tepat disamping Naomi yang belum juga menyadari kehadiran Nabill yang masih bungkam dan meantap gadis yang sangat ia cintai sampai saat ini.


Nabil ang sudah tidak bisa menahan lagi untuk tidak memeluk Naomi, kini langsung memegang bahu Naomi yang ternyata langsung menatap Nabil dengan posisi duduk, namun langsung berdiri ketika menyadari saat ini siapa yang berdiri dengan mata yang berkaca - kaca menahan tangisnya. Tanpa menunggu satu kata yang terucap dari keduanya, Nabil langsung memeluk Naomi dengan sangat erat dan menumpahkan tangisannya tepat dibahu Naomi, sedangkan Naomi sendiri masih mencerna semua yang terjadi saat ini padanya.


"please shut up! I just want to hug you." Pottong Nabil ketika tangan Naomi ingin mendorong tubuh Nabil yang kini semakin mngeratkan pelukannya.


Tak ada yang bisa Naomi lakukan saat ini, mendengar iskan piu Nabil membuat Naomi tak bisa untuk menolak pelukan Nabil, hingga dengan perlahan Naomi mengangkat keduatangannya untuk membalas pelukan Nabil yang ia rasa semakin erat.


"I Love You..." Lirih Nabil yang beradu dengan isakannya. "Only you."


"Kenapa? Ada apa sama kamu, Bil?" Tanya Naomi dengan lembut dan menggerakan tangannya untuk menenangkan Nabil yang semakin terisak mendengar suara Naomi.


Naomi yang tak mendapatkkan jawaban apapun kini hanya bisa diam sampai Nabil sedikit tenang dan menceritakan semuanya pada Naomi.


Tanpa Naomi sadari, ternyata Bundanya dan Sinka tengah menatap Nabil yang masih setia memeluk Naomi, dengan tersenyum dan menghampiri kduanya diikuti Sinka dibelaknganya dengan mimik muka yang sepertinya masih kesal dan marah pada Nabil.


Saat Naomi melihat bundanya dan Sinka menghampirinya, Naomi sedikit ingin kembali mendorong Nabil, namun sebelum itu terjadi, Bunda Naomi langsung mengisyaratkan Naomi untuk membiarkan Nabil seperti itu.


Namun Nabil ternyata kini sdikit merasa tenang dan dengan perlahan melepaskan pelukannya dan menatap Naomi dengan mata yang memerah dan masih sediikit berair, Naomi pun dengan reflek menghapus sisa airmata dipipi Nabil dengan sangat lembut.


Nabil pun dengan reflek meraih tangan Naomi yang berada dipipinya namun tanpa mengalihkan tatapannya dan sedikit dengan sedikit memajukan wajahnya yang sepertinya ingin mencium Naomi, namun Naomi mengangkat tangannya untuk menahan wajah Nabil agar tak seemakin mendekat dan mengisyaratkan Nabil untuk melihat kebelakng tubuhnya dengan mata yang melotot pada Nabil.


Nabil yang penasaranpun langsung membalikan tubuhnya dan mendapati Bunda Naomi yang tengah tersenyum kearahnya dengan sinka yang masih dengan tatapan tajamnya menatap Nabil yang kini tersenyum canggung meraih tangan bunda Naomi dan menciumnya.


"Keenapa, nak?" Tanya bunda Naomi tanpa berbasa - basi lagi.


Nabil hanya bisa menggelengkan kepalanya tanda belum siap untuk menceritakannya pada wanita paruh baya yang sudah ia anggap sebagai bundanya sendiri.


"Gitu yah, giliran ada masalah tetep aja larinya ke kakak juga, giliran lagi seneng..."


"Sinka!" Bentak Naomi mengisyaratkan untuk diam.


"Maafin Nabil Bunda..." Lirih Nabil tertunduk yang terlihat sangat merassa bersalah pada Bunda Naomi.


"Sudahnlah, mending kita ngobrolnya di dalam aja, yuk!" ajak Bunda Naomi dengan menarik halus Nabil untuk mengikutinya.


"Untuk yang kedua kalinya, Nabil nggak bisa ngobrol panjang dengan Bunda, maaf Nabil kesini hanya untuk pamit senadainya Nabill nggak bisa balik lagi, Nabil ingin menyelesaikan semua yang udah Nabil mulai, Bunda..." tutur Nabil yang membuat Bunda Naomi tiba - tiba langsung merasa khawatir dan membelai halus wajah Nabil.


"Putri Bunda ngga akan pernah bener - bener bisa hidup bahagia tanpa kamu, nak! Ingat itu..." Lirih Bunda Naomi yang sepertinya sangat tidak merelakan keppergian Nabil saat ini.


"Aku nggak akan pernah izinin kamu pergi lagi, Bil!" Tegas Naomi dengan kasar membalikan tubuh Nabil agar menatap padanya.


"Aku akan balik lagi, Mi! Aku janji!" Lirih Nabil yang mencoba meyakinkan Naomi, walaupun hatinya sendiri tidak yakin.


"Aku akan izinin kamu pergi, asalkan aku tahu, kemna kamu akan pergi?" Paksa Naomi yang sebenarnya hanya gertakan semata, karna Naomi tahu, sebagaimanapun Naomi melarangnya, Nabil tetap akan pergi.


Benar saja, tanpa menjawab apapun, Nabil hanya mengusap lembut puncak kepala Naomi dengan tersenyum perih dan berlalu dari hadapan ketiganya.


...****************...


"Bego banget sih, Loe! Kenapa loe bisa keluar dari rumah itu!" Bentak seseorang pada seorang Gadis yang kini tengah tersenyum miring menatap isi layar hanphonenya.

__ADS_1


"Loe tau? Sebentar lagi malaikat maut bakal jemput loe, Key!" Ujar gadis itu dengan menatap sinis pada pemuda yang kini berdiri didepannya dengan tatapn bingung ditengah amarahnya yang tengah meleak.


"Kalo loe kira gue ikutin semua kemauan loe karena gue benci sama Nabil, Loe salah besar, Key! Gue mau loe Mati!"


__ADS_2