
Waktu berlalu, diawali dengan pertemuan singkat antara Ve dan Adzril di koridor sekolah membuat keduany semakin dekat, bukan hanya dekat sebagai teman satu sekolah. Ya, Adzril dan Ve kini telah menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Awalnya, banyak yang tidak percaya akan hubungan keduanya, dilihat dari Ve yang tidak terlalu terkenal di sekolahnya, bahkan sebagian yang mengenal baik Ve tau, jika Ve bukan seseorang yang mudah terbuka dengan orang yang baru saja ia kenal, namun ketidak percayaan merka langsung terbantahkan ketika melihat mereka yang semakin memperlihatkan ikatan diantara keduany. cukup dengan melihat keduanya yang selalu berdua, datang dan pulang sekolah selalu berdua, mungkin cukup membuktikan apa hubungan diantara keduanya.
Karena hubungannya dengan Adzril sudah terbilang cukup lama, kini Ve mengenal lebih jauh lagi siapa sosok Adzril yang lebih detailnya, apa dan bagaimana Adzril, kini Ve cukup mengetahuinya, bahkan tentang keluarga Adzril pun, Ve cukup mengetahuinya walaupun tidak terlalu dalam, setidaknya Ve tahu, mengapa Nabill tidak bersekolah di tempat yang sama dengan Adzril.
Bukan karena Adzril yang enggan terbebani untuk menjaga saudara kembarnya sendiri, tidak ada permasalahn serius antar Adzril dan Nabill, walau mungkin hubungan keluarganya yang kurang harmonis, namun tak ada hal yang membuat keduanya membenci satu - sama lain. hanya memang dari awal mereka sudah menentukan dimana mereka akan menempuh pendidikan masa SMA-nya masing - masing.
Tentang Keynal sendiri, tak ada hal menarik tentang Key untuk diceritakan, Keynal hanyalah seorang Murid biasa yang kebetulan melihat Nabill yang saat itu tengah dikeroyok beberapa siswa dan dengan inisiatifnya, Key menolong Nabill, walau pada akhirnya mereka berdua tetap babakbelur, dan dari kejadian itulah Nabill menjadi lebih dekat dengan Nabill, dan karena itulah Keynal juga selalu ikut berkumpul dengan Adzril dan Ve yang memang selalu menghabiskan waktu luangnya bersama Nabill. namun, apakah benar adanya jika Keynal menjadi dari bagian dari persahabatan antara Nabill, Ve dan Adzril hanya semata karena hanya dekat dan berteman baik dengan Nabill, atau ada maksud lain.
"Berani, gak?" tantang Adzril pada Key yang memang keduanya kebetulan bertemu di sebuah sirkuit, yang sebenarnya tak ada acara apapun di sirkuit tersebut.
"Apaan?" Tanya Keynal malas.
"Adu speed?" Ucap Adzril yang kini duduk dibalik kemudi motor Ninja RR dan mengenakan helm FullFace miliknya.
"Masih sayang nyawa, gue." Balas Key yang masih malas menanggapi kekonyolan temannya yang satu ini.
"Loe lebih sayang nyawa loe, atau lebih sayang pacar gue?" Tanya Adzril yang sontak membuat Key menatap Adzril dengan sangat cepat.
"Ngomong apa sih..."
"Gue nggak marah, nggak juga benci sama loe kalo kita jatuh cinta pada orang yang sama karena gue tau, hati loe bukan A.I. yang bisa loe program sama siapa loe harus jatuh cinta, tapi salah satu diantara kita harus ada yang pergi dan tetap tinggal buat nemenin Veranda." Ujar Adzril memotong ucapan Key, dari balik helmnya.
"Kenapa kita nggak sama - sama aja buat jagain dia, loe berperan sebagai masa depan dia dan gue sebagai sahabat dia" Ucap Keynal dengan lirih dan membuang pandangannya ke arah lain.
"Gue nggak bisa bahagia daiatas penderitaan loe. Gue tau ini salah, tapi gue nggak punya jalan lain." Ujar Adzril dengan kini menyalakan motornya.
"Gue kalah, Gue pergi dan gak akan ganggu kalian. Begitupun loe, gue harap loe harus jauh dari pandangan gue sama Ve, kalo gue menang." Lanjut Adzril dan kini menjalankan motornya menuju garis start.
Dengan wajah prustai, Key menaiki motornya dan memakai helmnya juga.
"Sebenernya nggak harus gini kan, Dzril?" Tanya Key dengan menatap Adzril dengan raut wajah yang lelah.
"Kita pake jalur jalan raya, di depan nanti kita belok kanan, lalu puter balik di jalan dua arah dan finish disini." Ujar Adzril.
"Kalo loe ngerasa risih, gue akan pergi tanpa harus dengan cara gini, Dzril... gue hanya mengagumi sosok dan kecantikan dia, dan yah..."
"Fokus!" Potong Adzril dengan melemparkan kain merah ke hadapan keduanya. dan dengan benar - benar terpaksa Keynal harus menanggapi tantangan Adzril, namun dalam hati ia sudah tekankan, jika dirinya tidak akan benar - benar melawan Adzril, dia akan mengalah walau pada akhirnya ia juga memang pasti kalah.
bruuummm
Adzril dan Key sama - sama menarik gasnya dengan sangat kencang hingga langsung menimbulkan guratan hitam di aspal bekas ban keduanya.
Ditikungan pertama, Key memang terlihat seperti bersungguh - sungguh, namun saat di tikungan berikutnya yang dengan jelas mereka harus melalui jalan raya yang cukup padat, dari sana Key mulai memelankan motornya, sedangkan Adzril malah menambah kecepatan motornya yang sudah jelas, jika Adzril berhasil memutar arah motornya di depan, maka sudah dipastikan tak ada celah bagi Key untuk menyusulnya, karena disana terdapat lampu merah yang sudah berada di posisi warna kuning. Key tersenyum menatap Adzril yang sebentar lagi melewati Zebra cross dan memutar balik arah.
BRAKKKK
Namun, sesaat kemudian, Key membulatkan matanya saat melihat Adzril yang bukannya membelokan arah motornya, malah dengan keras menghantam trotoar di depannya, sontak hal itu membuat Tubuh Adzril terpentaln ke depan, melewati motornya sendiri yang tak bisa lolos dari trotoar yang cukup tinggi itu, scara kebetulan, sebuah mobil Box melintasi jalan di depan Adzril, tanpa bisa dihindari tubuh Adzril menghantam bagian depan mobil box itu, meski mobil itu tidak sedang dalam kecepatan tinggi, namun dengan adanya retakan kaca depan mobil itu menandakan seberapa kencang Adzril mengapung diudara.
"ADZRILLLLLLL!!!!" Teriak Keynal yang langsung turun dari motornya dan menghampiri tubuh Adzril yang kini tergeletak tak berdaya di depannya.
"Tahan, loe nggak boleh mati!" Ujar Key dengan membuka Helm yang Adzril kenakan, dan saat itu Adzril masih bisa menggerakan mata dan tangannya.
"D...di, sa-saku g..guehh..." Lirih Adzril dengan menunjuk saku depan celana jeansnya. sontak Key meraba saku depan celana yang Adzril kenakan, Keynal menatap bingung saat tangannya meraih sebuah surat dari dalam sakunya.
"B-buat, d...dhia...." kembali Adzril bersuara dengan menunjuk salah satu surat yang Key pegang saat ini namun kali ini dengan sebuah hembusan nafas panjang dan menandakan itu nafas terkhir Adzril.
"NGGAK! LOE NGGAK BOELH MATI! BANGUN BANGSAT!! ADZRILLL!" Teriak Key dengan memeluk erat tubuh lemah Adzril.
Bersamaan dengan itu, suara sirine yang memekakan telinga langsung menghampiri Key dan mengambil alih tubuh lemah Adzril, beberapa perawat langsung membawa Adzril dengan sebuah tandu menuju ambulance. dengan segera Key menelpon Nabill.
"Ha...halo, Bill?"
"Kenape?"
__ADS_1
"A-Adzril, Adzril... Adzrilll" Ucap Key dengan bibir yang bergetar, tak sanggup mengucapkan sebuah kata yang tentu saja kan membuat emosi si pendengar langsung meledak.
"Kenapa sama die? die mati?"
Bagai tersambar petir saat itu juga, tubuh key langsung menegang, mungkin disini konteksnya Nabill hanya bercanda mengatakan hal itu, namun beda dengan Key, yang mengira Nabill sudah mengetahui prihal tragedi ini.
"R.S Central Medical, gue harap loe datang cepet." Ujar Key yang langsung menutup telponnya dan bergegas menyusul ambulance yang membawa Adzril sebelumnya.
Tak butuh waktu lama, Key langsung melihat beberapa perawat membawa Adzril baru saja masuk kedalam rumah sakit di depannya. Denga perasaan yang sudah kacaw, Key langsung berlari menghampiri Adzril namun saat memasuki ruangan UGD, Key hanya bisa pasrah saat para perawat melarang Key untuk masuk dan hanya bisa berdo'a agar Adzril bisa diselamatkan.
Tanpa Key sadari, ternyata Nabill dan kedua orang tuanya sudah berada di dekat Key.
"Key..." Sapa Nabill dengan raut wajah yang begitu khawatir.
"Apa yang terjadi sama Adzril?" Tanya Nabill dengan perasaan yang semakin tak karuan.
"Di..."
"Keluarga pasien bernama Adzrilia Putra?" bersamaan dengan Key yang akan menjelaskan semuanya, seorang dokter keluar.
"Saya ayahnya." Ujar Seorang pria dengan raut yang begitu khawatir.
"Maaf, pak! kami..."
"NO!!! NO!!! NO!!! Dokter bohong kan? pasti dokter salah..." Potong Nabill yang sangat takut akan ucapan yang sama sekali belum siap ia dengarkan.
"Maaf pak, Beberapa bagian vital terkena tusukan dari beberapa tulang rusuk yang patah, kami sudah bersuaha semampu kami. namun tuhan berkata lain, korban meninggal di tempat kejadian.
"NGGAK!!! ITU NGGAK MUNGKIN, KAKAK GUE NGGAK MUNGKIN MENINGGAL, DIA ORANG YANG KUAT, PASTI DOKTER SALAH!" Teriak Adzril yang kini tubuhnya di tahan oleh Ayahnya.
"Cukup, sayang... udah!" Ujar wanita yang sedari tadi sudah menangis dengan memeluk Nabil.
"Nggak, Bun! Dokter pasti salah, adzril nggak mungkin mati gitu aja." Ujar Nabill dengan Nada yang lebih rendah dari sebelumnya, namun rautnya menunjukan bahwa ia masih belum percaya apa yang teradi saat ini, dan berharap ini hanya mimpi, atau sandiwara konyol Adzril untuk mengerjai dirinya.
"LOE!!! JELASIN SEMUANYA!" Teriak Adzril kembali dengan menatap emosi pada Key dan menghampirinya dengan kasar memaksa Key untuk berdiri.
"Di-dia, dia, nantangin gue balapa di sir..."
BUGH...
Tanpa menunggu Key menyelesaikan ucapannya, Nabill dengan keras memukul bagian pipi Key.
"BANGSAT!!! KENAPA LOE LAKUIN INI, HAH? KENAPA NGGAK LOE TOLAK?"
"Nabil, udah sayang..." Potong Ayah Nabill dengan memeluk putranya itu. "Cukup sayang udah, biarin Kakak pergi dengan tenang."
"DIA YANG BUNUH KAKAK GUE! DI..."
"Bunda, Ayah..." sapa Ve yang kini terpaku menatap 4 orang di depannya dengan airmata bercucuran.
"Ini bohong kan?" Lagi, Ve menatap wanita yang ia sapa bunda tadi, dan dengan segera, Ve berlari menghampiri dan langsung memeluk sang bunda dari kekasihnya itu.
Ingin rasanya Ve tidak percaya akan ucapan Nabill sebelumnya, namun saat melihat Bunda dan Ayahnya, sangat sulit untuk Ve menangkal semuanya.
"Kamu yang sabar, ya Cantik! biarin Adzril tidur dengan tenang." Ujar sang Bunda mencoba agar anak - anaknya bisa berlapang dada mengikhlaskan kepergian Adzril.
"Untuk yang terakhir kalinya, kita mendingan menemui Adzril di dalem, ya! Kita harus kuat, biar Adzril bisa istirahat dengan tenang." Ujar sang Ayah, dengan segera, Nabill berlari masuk kedalam UGD.
"ADZRILLLLL!!!!" Teriak Nabill dengan memeluk erat sang kakak seolah ia tak akan melepaskan pelukan itu.
"BANGUN BANGSAT!!! ADZRILLL!!!!" Teriak Nabill dengan semakin mengeratkan pelukannya.
"Dzril, gue tau, sebagai adik, gue blom bisa jadi apa - apa buat loe, yang ada gue selalu nyusahin loe, tapi apa harus dengan cara gini loe ngehukum gue? Gue tau gue banyak salah sama Loe, tapi apa nggak bisa loe tetep temenin gue, seenggaknya sampe kita punya anak kelak, gue belum siap hidup tanpa pengawasan loe, gue masih terlalu takut..." Lirih Nabill yang kini semakin pilu,
__ADS_1
Veranda yang tak bisa menahan lebih lama lagi agar airmatanya tidak turun, langsung menghampiri tubuh kaku Adzril dari arah yang berbeda dengan Nabill yang kini masih memeluk erat sang kakak, namun saat melihat Ve yang hanya bisa terdiam memaku, Nabill pun melepaskan pelukannya, berharap jika Veranda bisa mengembalikan kesadaran Adzrill saat itu.
"Ve, dia marah sama gue, makanya dia nggak mau bangun kalo gue yang bangunin, siapa tau, kalo loe yang bangunin, Adzril bakal bangun." Ucap Nabill dengan tatapan memohon pada Ve, seolah saat ini, Adzril hanya marah pada Nabill.
"Bangun bego, loe udah janji sama gue, kalo abis ulangan akhir sekolah ini, loe mau tunangan sama gue. terus loe bakal lamar gue, dan abis itu kita Nikah, mana semua janji loe? gue tau loe anak yang nakal, tapi gue juga percaya klo loe nggak pernah bohongin gue, apalagi sampai ingkari janji loe sendiri, jadi sekarang ayo, loe bangun, dan kasih tau Bunda sama ayah, kalo sebentar lagi kita tunangan..." Lirih Ve dengan suara parau menahan tangisnya.
Ayah dan Bunda Nabill yang sedari tadi hanya diam, kini tak bisa lagi menahan tangisnya, terlebih melihat perlakuan Ve dan Nabill yang masih sangat belum percaya dengan keadaan saat ini. Ayah Nabill pun menghampiri Nabill dan sang Bunda menghampiri Ve yang kini masih setia memeluk erat tubuh Adzril yang terlihat semakin pucat.
Sedangkan Key yang dari awal masuk ruangan ini hanya terdiam kaku melihat semua kejadian di depannya, ini salahnya, harusnya Key tidak bersahabat dengan mereka, harusnya Key tidak dipertemukan dengan Veranda, dengan begitu mungkin Adzril akan hidup bahagia bersama Ve tanpa merasa terganggu akan kehadirannya, yang dengan lancangnya menyimpan perasaan pada kekasih sahabatnya sendiri.
"Ve..." Ujar Key dengan lemah menghampiri jasad Adzril.
"Maafin gue, ini semua salah gue... maaf, Adzril seperti ini, ini semua salah gue. Andai gue nggak datang di kehidupan kalian, mun..."
"JELAS INI SALAH LOE!" Bentak Nabill dengan menatap berang pada Key.
"Untuk itu, gue minta maaf... gue akan pertanggung jawabin semua ini, tapi sebelum itu, ijinin gue pamit dengan baik - baik." Ujar Key dengan berdiri disampin Ve yang sedari tadi hanya memeluk tubuh kaku Adzril tanpa mau melepaskannya.
"Mungkin, ini buat kalian." Ujar Key dengan memberikan Nabill dan Ve masing masing satu surat yang telah tertulis nama mereka masing - masing.
Ve dan Nabill sama - sama menerima surat itu dan membacanya.
Setelah membaca suratnya masing - masing, Ve dan Nabill malah semakin menangis sejadi - jadinya, keduanya hanya bisa pasrah, tak ada yang harus mereka lakukan, bahkan di masing - masing surat itu, terdapat dengan Jelas tulisan 'Jangan benci Key, dia nggak tau apa - apa'
FLASHBACK END
"Apa itu sebabnya? Kenapa gue bisa benci sama, loe?" Tanya Nabill yang kini masih duduk disamping Key di taman.
"Apa loe benci sama, gue?" Tanua Key balik.
"Harusnya gue benci sama Loe, tapi gue nggak tau." Balas Nabill dengan menunduk lemah.
"Apapun itu, apa syaratnya hanya ini? Atau ada satu syarat penting yang harus gue, atau kita lakuin buat buka pintu buat kita balik ke tubuh kita masing - masing?"
"Ada satu syarat yang terbilang konyol, tapi kata Adzril ini syarat untuk membuka pintu menuju dunia kita." Ujar Key seperti tak yakin harus mengatakan ini.
"Apapun itu, gue akan lakuin." Tegas Nabill dengan Yakin.
"Sebelum itu, gue harus kasih tau, cara kita masuk dunia ini tuh beda - beda, kita masuk sini karena ditarik Adzril, disaat tubuh kita sama - sama sekarat... Ujar Key menggantung.
"Tubuh kita sekarat? Kenapa?" Tanya Nabill bingung.
"Setelah tujuh hari kematian Adzril, kita sama - sama berniat bunuh diri, gue sengaja bikin keributan di penjara, dan loe, loe sengaja bikin rusuh di club, dan banyak orang gebukin loe." Ujar Key dengan sangat yakin, namun sama sekali Nabill tidak bisa mengingat hal itu.
"Oke... Lalu?" Tanya Nabill yabg tak memusingkan bagaimana ia bisa ada disini.
"Sedangkan Ve, itu hanya sosok yang ketika gue bayangin, dia akan muncul. Dan Gaby, ini adalah dunia mimpinya Gaby, dia ada disini, ketika dia tertidur di dunia Nyata, namun semua yang terjadi disini, akan Gaby alamin juga di dunia Nyata, ketika dia jatuh cinta sama Loe, dia akan merasakannya juga di dunia nyata, ketika dia terluka, maka dia juga akan merasakannnya di dunia nyata." Tutur Key yang membuat Nabill semakin bingung.
"Ada hubungan apa antara kita sama, Gaby?" Tanya Nabill.
"Gue belum tahu tentang hal itu, dan kita nggak boleh ngomong apapun sama Gaby dan Ve tentang dunia ini. Karena di dunia nyata, Gaby nggak akan pernah tau, siapa sosok asli dari gue, loe sama Ve. Bahkan untuk membayangkannya saja di dunia nyata, Gaby tidak akan bisa melihat wajah - wajah kita. Yang entah gue tau dari mana, Gaby itu masih kelas tiga SMA dan asal Loe tau, kalo kita berdua, itu mahasiswa tingkat Akhir, dan tiga bulan lagi, kita akan sidang." Tutur Key kembali.
"Lalu kunci untuk kita keluar?" Tanya Nabill kembali yang lagi - lagi tak mau ambil pusing dengan itu semua.
"Loe, harus beneran bisa tulus sayang dan cinta sama Gaby dan..." Ujar Key menggantung.
"Dan Gaby harus mengandung anak loe, dari diri loe yang disini." Ujar Key mengakhiri ucapannya.
"Oh, hanya itu..." Ucap Nabil yang awalnya santai namun ia merasa ada sesuatu yang terlewat.
"Wait a minute... WHATTT??? ANAK KELAS 3 SMA?"
Tbc
__ADS_1