Dihamilin Setan!?

Dihamilin Setan!?
Damn, I Love Him!


__ADS_3

"Buka hati kamu, aku yakin dia nggak jauh berbeda dari kamu!"


Kata - kata itu bagaikan kaset yang terus dan terus mengulang di kepala Ve, ucapan yang bahkan Ve yakin jika hal itu memang nyata, namun Ve sendiri enggan untuk menanyakan hal itu pada lubuk hatinya. haruskah dirinya untuk merangkul kembali Key dalam pelukannya, walau ve berfikir kemungkinan jika Key bahkan sudah melupakan perasaannya.


"Hey... mabk bidadari..." Sapa seseorang yang duduk di hadpan Ve yang sedari tadi tengah melamun sendiri di Kantin sekolah.


"Hmmm..." balas Ve hanya menatap lawan bicaranya sekilas.


"eh gila... tumben ini bidadari pencabut nyawa nggak ngegas ngomong sama gue? loe kesambet Ve?" tanya Siswa yang tak lain adalah Nabil di hadapan Ve dengan tampang polos bin terkejutnya.


"Ck... Diem loe, gue lagi males nge Gas... tapi kalo loe nyari masalah, bukan cuma omongan yang gue gas, Gas tiga kilo gue lempar ke kepala loe! serius dah." Ujar Ve dengan tetap tanpa menatap lawan bicaranya.


"Hahahaha... iya dah, yang jagoan mah bebas. Oiya, Ve... mana Gaby? tumbenan loe sendiri disini?"


"Kepo bet si loe jadi orang..." Ucap Ve tiba - tiba menyentak Nabil yang terkejut akibat ucapan Ve yang tiba - tiba meninggi dan meninggalkan Nabil yang masih menatap cengao terhadapnya.


"Kesambet beneran kayaknya tu anak?" Gumam Nabil dengan tersenyum menatap kepergian Ve.


Ve berjalan dari kantin dengan kepala yang ia tundukan, yang jelas salah satunya tengah memikirkan perkataan Gaby tadi malam, hingga tanpa ia sadari, beberapa langkah darinya Key tengah menatap padanya dengan penuh khawatir, tatapan yang selalu ia berikan setiap saat ketika Ve berjalan sendiri, namun kekhawatiran Key hanya sampai pada perasaannya saja, tanpa ingin untuk berbuat sesuatu terhadap Gadis yang selalu ia cintai setiap saat nafasnya berhembus itu.


"Ve, loe nggak apa - apa?' Tanya Keynal untuk pertama kalinya ia memberanikan diri untuk menyapa Ve, meskipun pada akhirnya dengan cepat Ve menangkis tangan Key yang hendak meraihnya. Bayang - bayang masa lalu dimana saat Ve meneriakinya di depan banyak teman - temannya pun kembali hinggap menyapa fikiran Key. "Loe kenapa? sakit?"


"Loe... siapa? penting tau ursan gue?" balas Ve denagn sangat pekan namun menusuk, Ve yang sebelumnya terkejut karena ada yang ingin memegang pergelangan lengnnya, namun saat ia sadar, emosinya tiba - tiba memuncak, namun dengan segenap kesabarannya ia tahan.


"So... sorry, kalo gue ganggu." Gugup Key dengan berlalu dari hadapan Ve. Anehnya ini kali kedua Ve malah merasa bersalah atas sikapnya sendiri, perasaan yang sama saat pertama kalinya ia meneriaki Keynal di depan semua teman - temannya saat SMP.


"Kenapa?? " Batin Ve dengan berjalan acuh menuju kelasnya.


Dari belakang tanpa di ketahui oleh Ve, Keynal memperhatikan gerak - gerik Ve yang terlihat biasa saja, Ve memang terlalu pintar untuk dalam hal menyembunyiakn perasaannya dari Key, namun tidak jika dihadapan Gaby. "Mungkin perasaan gue aja yang terlalu berharap." batin Key, yang hendak menlanjutkan langkahnya namun terkejut saat Adzril yang entah sejak kapan tengah tersenyum penuh arti dengan melipat tangannya di depan dada.


"Kenapa loe senyum - senyum gak jelas? Kesambet?" tanya Key dengan suara sedikit meninggi.


"Gak apa - apa... cuma, gereget aja liat loe berdua. jadi pen nyekek loe, gue." Ujar Nabil dengan menggelengkan kepalnya dan melewati Key, masih dengan senyuman aneh yang membuat Keynal ingin sekali menonjok muka tengilnya itu. "Gue bakal bantu loe, apapun caranya!"

__ADS_1


Bisikan Nabil yang tentu saja membuat Key mengerutkan keningnya karena tidak memahami maksud dan tujuan Adzril mengatakan hal itu.


"Gila kali tu anak, bantuin apaan coba?" Gumam Key yang menjauhi Adzril, dengan bergidik ngeri saat membayangkan senyuman aneh dari Adzril. "Hihh... jangan - jangan tu bocah homo lagi gara - gara di tolak Gaby."


Fikiran tentang Ve pun tiba - tiba lenyap sesaat oleh kelakuan Adzril yang membuat Key tiba - tiba menghawatirkan ucapan terakhir Adzril.


"Eh, Ve..." Sapa Gabriela saat Ve yang sudah duduk di bangkunya. "Udah Beli minumnya?"


"Udah." Balas Ve dengan sangat singkat.


"Kenapa lagi? Ada masalah lagi?" tanya Gabriela dengan mengusap punggung Ve yang kini tengah menelungkupkan wajahnya.


Hanya gelengan kepala yang mampu untuk menjawab pertanyaan Gabriela.


"Aku lebih suka kamu yang rese kayak biasanya, Ve... ketimbang kamu yang kayak gini... udahlah ngak usah terlalu kamu fikiran masalah ini. aku tadi malem cuman spontan doa..."


"Spontan? dengan tatapan yang sangat yakinin gue... loe bilang spontan? nggak... nggak, gue tau loe rasain apa yang gue rasain, dan gue tau, kalo loe pernah ngomong sesuatu sama Keynal, iya kan?" Potong Ve dengan menatap Gaby yang hanya tersenyum menanggapi kemarahan Ve.


"Loe beneran nggak ngomong apa - apa sama Key, soal Gue?" tanya Ve memastikan.


"Kamu tau aku orangnya seperti apa, Ve!" Balas Gaby dengan membawa Ve kedalam pelukannya.


"Tsah... bidadari maut sama peri baik lagi pelukan... kiamat udah inimah urusannya." Ucap Nabil yang entah darimana datangnya, dan hal itu pun membuat Ve dan Gabriela melepaskan pelukannya.


"Usil banget sih loe sama urusan orang, mending loe duduk di bangku loe, trus kerjain PR fisika loe yang bentar lagi bakalan ulangan harian, dan kalo..."


"Gak ngumpulin PR, maka siswa itu nggak bakal di izinin ulangan, dengan kata lain, ujian praktek nanti nilainya bakal di kosongin? gitu maksud loe? gue udah tau Ve... tapi BTW, thanks ya loe udah ingetin gue soal ini, tapi pertama - tama, loe gak usah khawatir karena gue udah ngerjain PR gue, dan gue... bakal ngalahin nilai kalian pada ujian kali ini." Tutur Nabil yang dengan berakhir dengan senyuman Remeh dari Ve, sedangkan Gabriela hanya tersenyum melihat perdebatan antara sahabat dan siswa yang... entahlah Gabriela menyebutnya dengan sebutan apa.


"Oh ya??? WOW banget gitu?" Balas Ve dengan tampang malasnya.


"Gimana, kalo gue bisa ngalahin nilai kalian, Loe Ve, izinin gue jadian sama Gabynya Gue ini?" Tantang Nabil dengan menatap Ve sangat serius.


"Lho... kalopun gue, Izinin Loe jadian sama Gaby-nya loe ini, Emang dia mau gitu sama Loe?" balas Ve dengan tamapang yang semakin tengilnya.

__ADS_1


Pada dasaranya, Ve itu gadis yang memiliki paras yang sangat Cantik, namun kecantikannya tertutupi dendamnya hingga membuat pribadi yang sangat dingin dan menggambarkan kesan gadis yang menakutkan bagi siapa saja yang memandangnya. tatapan yang tajam dan keangkuhan di setiap langkahnya menambah kesan negatif dan membuat setiap orang berfikir seribu kali untuk mendekatinya. bahkan hampir dari semua angkatannya, enggan untuk hanya sekedar menyapanya, hanya Adzril lah, pria pertama yang mampu melempar tatapan menantang pada gadis angkuh itu.


"Ya intinya loe takut kan, bersaing sama Gue?" ucap Nabil, yang semakin menantang pada Ve.


"Eh, anak tengil yang baru brojol kemaren sore... gue ingetin sama Loe ya, Sama siapapun, gue nggak pernah takut kcuali sama yang ciptain gue. catet itu di otak loe!" Balas Ve yang kini terpancing emosinya dan langsung meraih kerah baju Nabil, kemudian mendorong sedikit kasar ke belakang. Gaby hanya kaget melihat Ve melakukan itu, namun sedikitpun dirinya tak bisa bergeming, antara kaget dan bingung.


"Deal...Ya! Woe temen - temen... nih ya loe pada dengerin... kalo nilai ujian gue kali ini, diatas Gaby sama Ve, Ve nggak bakalan gangguin lagi gue buat pacaran sama Gaby..."


"Tapi kalo dia kalah dari Gue sama Gaby, dia bakalan mundur, oh atau bahkan bakalan pindah dari kelas ini?" Potong Ve yang membuat seisi kelas berteriak histeris.


"DEAL!" Ujar Nabil yang membuat seisi kelas semakin histeris. sedangkan Gaby hanya bisa meringis hawatir, karena yang ia tau, Nabil bukanlah apa -  apa, jika di bandingkan dengan dirinya dan Ve jika dalam hal Nilai ujian, apalagi Fisika.


Dua siswa yang diibaratkan serigala dan macan itu hendak bertarung, siapa yang akan menang? akankah Nabil pergi dari kelsnya? ataukah Ini awal kisah Nabil Dan Gaby tanpa halangan Dari Ve.


"Aku gak minta kamu untuk ini, Bil..." Batin Gabriela. sedangkan Nabil yang menatap Gaby dan wajah khawatirnya yang menurutnya sangat cantik itu, malah semakin semangat menerima tantangan dari Ve.


"Sial, gimana gue nggak jatuh cinta sama dia?" Batin Nabil dengan berlalu dari hadapan Ve dan Gaby.


Tak berselang lama, Guru Fisika pun masuk dan sesuai jadwal, jika hari ini adalah Ulangan harian Fisika.


"Bu.." uajr Nabil mengankat tangannya setelah selesai mengumpulkan PR teman sekelasnya.


"Ya, Ada apa Adzril?" balas Guru Fisika. mendengar jawaban tersebut, memubat Nabil cukup bungkam dan mencerna jawaban guru tersebut, namun sedetik kemudian Nabil tersadar.


"Saya, Ve dan Gaby bisa jika duduk di satu jajaran depan?"


"SETUJU!" teriak siswi seisi kelas hingga membuat Ve, Gaby, Nabil dan bu Erna terkejut.


"Ada apa sama kalian ini, yasudah - yasudah, terserah kalian saja gimana baiknya, asal jangan kamu gunian kesempatan ini buat nyontek!"


"Siap, Bu."


Tbc

__ADS_1


__ADS_2