Dihamilin Setan!?

Dihamilin Setan!?
Remember Of Today


__ADS_3

Nabill tengah menatap intens seorang gadis yang sedari tadi tersenyum sangat indah dengan menatap senja, seolah dirinya tengah menantang keindahan didepannya dengan senyumannya.


"Gab, loe tau senja kali ini, kenapa terlihat biasa aja?" tanya Nabill dengan msasih setia menatap wajah samping Gaby.


"Aku tau..." Ujar Gaby dengan kini beralih menatap wajah Nabill. "Karna Senja kali ini insecure sama senyuman aku."


"Udah, kamu gak usah gombal sama aku, gombalan kamu copas semua dari google, aku tau." lanjut Gaby dengan menatap Nabill yang meskipun rencananya gagal untuk menggoda Gaby, tapi Nabill tetap tersenyum dan mengusap puncak kepala Gaby dengan penuh kasih sayang.


"Kalo senja aja minder liat loe, lalu dimana lagi gue bisa cari sosok yang lebih baik dan lebih sempurna dari loe? Bahkan dengan bangganya gue rasa, Tuhan memamerkan ciptaan terindahnya melalui loe, Gab." tutur Nabill dengan membiarkan Gaby memalingkan wajahnya karena malu sendiri. Bisa - bisanya Nabill memiliki setiap jawaban yang selalu ia patahkan sebelumnya.


"Lihatlah kak, gadis didepan gue sekarang ini, begitu polos, dan memiliki harapan bahagia dimasa depannya, apa gue akan setega itu ngehancurin masa depan dia?" Benak Nabill dengan kini menatap sendu pada Gaby.


"Gab, jika suatu saat kita dipaksa untuk berpisah dan saling melupakan satu sama lain, apa yang akan loe lakuin?" Tanya Nabill tiba - tiba dengan raut khawatir.


"Nabill maunya Gaby gimana?" Tanya Gaby balik yang membuat Nabill bingung harus menjawab apa. Walau dalam hatinya ia berharap jika Gaby akan selalu mengingatkannya tentang satu hal penting dalam hidupnya, numun mungkin ini akan sangat egois.


"Let see, how muach i love you in this time!" balas Nabill dengan begitu tulus menatap mata Gaby dengan penuh cinta, hingga tanpa Nabill sadari karena saking fokusnya menatap mata Gaby, dunia di sekelilingnya menjadi gelap, hanya setitik cahaya dalam mata Gaby yang terus membawanya semakin masuk kedalam tatapan teduh Gaby.


***


"Harus banget, gue percaya omong kosong ini? bahkan Adzrillia Putra yang loe maksud masih hidup dan gak pernah ngalamin kecelakaan dalam bentuk apapun." Ujar Ve dengan menatap heran gadis dihadapannya yang ia rasa baru kali ini melihatnya.


"Gue mohon, percaya sama gue, ini anak dari sodara kembar pacar loe, Ve." ujar Gadis dihadapn Ve dengan tatapan memohonnya.


"Gini deh, logikanya dari tiga bulan yang lalu, Nabill belum sedikitpun bahkan sekedar membuka matanya barang sedetik pun, dan loe bilang ini anaknya Nabill dengan kandungan berumur sebulan. Sorry to say, salah gak sih gue anggap loe orang gila?" tanya Ve yang semakin tak percaya akan penjelasan Gadis dihadapannya dari awal.


"Oke, kalo loe nggak percaya, Ve! Tapi apa boleh gue temuin Nabill mungkin untuk yang terakhir kalinya? yang semoga aja gue bisa bangunin dia dari tidur panjangnya?" Akhirnya gadis itu menyerah. Namun dalam hatinya terus memohon jika kehadirannya benar - benar membuat Nabill terbangun.


"Gue janji, gue gak akan ngomong macam - macam dihadapan keluarga Nabill. gue janji!" Lanjut gadis itu dengan semakin memohon dihadapan Ve.


"Oke, ayo ikut gue!" Ujar Ve akhirnya mau - tak mau memenuhi permintaan gadis itu. "Btw, siapa nama loe?"


"Panggil gue Gaby, Ve!" Ujar gadis itu dengan mengulurkan tangannya, yang ternyata Ve baru menyadari jika dari sebelumnya Ve belum menyebutkan namanya pada gadis itu, namun darimana ia tahu nama panggilannya yang sebnarnya hanya Nabill dan Adzril saja yang sering memanggilnya seperti itu.


"Sebenarnya ucapan loe semua diluar nalar manusia normal, tapi kenapa gue harus binggung, gimana caranya loe bisa tahu nama panggilan gue yang cuma Nabill dan Adzrill yang tahu." Ujar Ve yang kini sudah sampai dihadapan kamar yang Nabill dan Keynal tempati.


"Apa kalo gue bilang, Loe sahabat sekaligus sepupu gue saat dialam mimpi itu, loe akan paercaya Ve?" tanya Gaby yang kini pandangannya tertuju seorang lelaki yang sangat ia rindukan.


"Harusnya gue nggak percaya, Gab!" Ujar Ve dengan menghela nafasnya.


"Gue boleh masuk?" tanya Gaby dengan kini menatap Ve.


"Satu lagi, gue tanya, agar gue lebih yakin kalo loe emang seseorang yang bakal sadarin Nabill. siapa Nama panjang gue, Nabill dan Adzrill?" Tanya Ve yang kini menatap mata Gaby dengan sangat intens.


"Loe, Jessica Veranda, dan si kembar Adzrillia Putra dan Nabill Putra." ujar Gaby yang tak kalah menatap Ve dengan tajam. "Dan Sahabat satau satunya Nabill bernama Davian Keynal."


"Oke, gak ada bantahan lagi gue buat gak percaya sama omongna loe. walapun alasan kenapa Nabill sama Key bisa koma terlalu jauh dari apa yang lo ceritain." ujar Ve yang akhirnya membukakan pintu agar Gaby bisa masuk.


Setibanya di dalam, Gaby dan Ve disambut dengan tatapan pilu dari keduanya.


"Maaf, mah... ada apa ini?" tanya Ve dan langsung menghampiri calon mertuanya dan memeluknya dengan erat.


"Nabill udah nyerah, Ve!" Ujar Adzrill dengan sangat lemah.


"Maksudnya apa, mah? kenapa? ada apa sama Nabill?" tanya Ve yang semakin panik.


"Papah udah mutusin buat ngelepas alat bantu Nabill..."

__ADS_1


"NGGAK!" cegah Gaby tiba - tiba yaang sukses menjadi pusat perhatian di kamar itu.


"Nggak tante, Kak! Kalian nggak boleh lakuin hal itu!" Lanjut Gaby yang kini menghampiri badan Nabill yang dipenuhi alat bantunya yang selama ini menjadi penopang agar Nabill tetpa bernafas.


"Loe siapa?" tanya Adzrill dengan menatap heran pada Gaby.


"Aku bukan siapa - siapa memang diantara kalian, tapi tidak dengan Nabill, Kak! aku yakin Nabill pasti sembuh kak..."


"Plis, siapapun loe, gue mohon, kami sekeluaraga udah berat banget ngeikhlasin kepergian Nabill, tolong loe jangan buat keluarga gue jadi ngerasa bimbang, jujur, gue juga berharap Nabill bisa sembuh, tapi sejauh ini, gue ngerasa terlalu egois buat terus nahan Nabill dengan tenang." Ujar Adzrill dengan sangat lemah.


"Tapi dia masih punya banyak janji sama gue, Kak! dan gue gak akan pernah ikhlasin dia ingkarin semua janjinya sama gue, terma...."


"Nak, cukup! saya sebagai ibunya Nabill, mohon dengan segala kerendahan hati saya, saya mohon, ikhlasin kepergian Nabill, ya... saya mohon." Tutur mamah Nabill dengan tatapan memohonnya.


Gaby yang merasa tak bisa membantah lagi ucapan mamah Nabill, kini hanya bisa menangis pasrah dengan memeluk tubuh tak berdaya Nabill.


"Nabill sayang, dengerin aku..." ujar Gaby menggantung, dan dengan tiba - tiba. sontak mamah dan Adzril menatap Gaby.


"Dimanapun kamu, kumohon pulanglah, semua udah cukup, Bill! apapun itu, pintu gerbang udah kebuka, aku disini bersama buah hati kita, nunggu kamu, aku mohon..." Lirih Gaby yang semakin kehabisan suaranya.


disis lain, Adzrill, Ve dan sanga mamah pun terkejut mendengar penuturan Gaby.


"Maksud kamu apa, nak?" Tanya sanga Mamah dengan kini menghampiri Gaby yang semakin lemah, bahkan hanya sekedar untuk berdiri.


"Bu Erna, apa ibu bisa mengenali saya? papa Ka Adzril mengenali saya? Apa Keynal menget..."


"Gue tau, Gab! Gue kenal siapa loe!" Tiba - tiba terdengar sebuah suara dari balik tirai yang sedari awal tidak Gaby ketahui siapa yang ada di balik tirai itu.


"Ke... key?" pekik Gaby dengan terkejut. bukan hanya Gaby, semua orang yang ada disana langsung menghampiri Keynal dengan membuka tirai pemisah antara tempat tidur Nabill dan Key.


"Gue tau siapa loe, gue tau semua yang udah terjadi, dan gue percaya sama Loe, Gab! Loe gak usah khawatir, bentar lagi Nabill pasti sadar. Adzril, mamah, Ve... percaya nggak percaya, apa yang Gaby katakan itu nyata. dan anak yang ada di rahim Gaby, itu beneran Anaknya Nabill, mah." Tutur Key yang semakin membuat Adzrill dan mamahnya semakin terkejut.


"Tunggu mah!" Cegah Key yang sukses menghentikan langkah mamah sahabat sekaligus sudah ia anggap sebagai mamahnya sendiri.


"Gab, panggil terus nama Nabill, gue yakin dia lagi tersesat disana." Ujar Key dengan susah payah untuk merubah posisinya menjadi terduduk, untungnya dengan sigap Adzrill langsung berinisiatif membantu Key mengubah posisinya.


"Udah, Key! loe nggak usah terlalu banyak ngomong dulu. loe baru siuman... Loe butuh apa biar gue ambilin?" Ujar Adzill.


Tanpa semua orang sadari, ternyata dengan perlahan Nabill sedikit demi sedikit menggerakan pelupuk matanya hingga semuanya terbuka sempurna dan menggerakan lengannya yang sedari tadi Gaby genggam. Merasa ada pergerakan, Gaby langsung mengalihkan tatapannya kearah Nabill yang kini menatp asing pada semua hala yang ada di sekitarnya.


"Nabill!?" pekik Gaby dan langsung kembali memeluk Nabill yang masih menyesuaikan dirinya dengan semua hal yang ada di sekitarnya.


"Emhh..." erang Nabill dengan membuka alat yang membntu dirinya bernafas.


"Ma...maaf! Ujar Nabill dengan perlahan sedikit mendorong Gaby.


"Adzrill, cepat panggil dokter!" Pekik sang mamah yang langsung diturutinya tanpa bantahan sedikitpun.


"Nabill sayang, apa ada yang sakit? Kamu butuh apa?" tanya sang mamah dengan perasaan berkecamuk, bahgia, bingung dan terkejut dalam satu waktu yang sama.


"Maaf, kalian siapa?" tanya Nabill dengan masih raut bingungnya menatap semua orang yang ada disana.


"Ini mamah, sayang..."


"Maaf, bisa semuanya tunggu di luar?" Ujar dokter yang baru saja tiba bersama Adzrill dan Ayahnya.


***

__ADS_1


Setelah berselang beberapa menit, dokter yang sebelumnya menangani Nabill dan Key kini keluar dan langsung di kerubuni orang - orang yang sebelumnya menunggu di depan pintu ruangan Nabil dan Key.


"Keluarga Nabill dan Key?" panggil Dokter dengan menatap ayah Nabil dan Key yang menjawab panggilan dokter tadi dengan anggukan.


"Sulit saya jelaskan, bagaimana bisa hal ini bisa terjadi. tapi ini sangat nyata, keduanya bisa saya nyatakan sembuh, bahkan salah satu diantara mereka udah jauh lebih sehat, hanya saja..." tutur dokter menjelaskan keadaan keduanya hingga dirinya bingung untuk melanjutkan kalimat selanjutnya dengan menatap Ayah dari Nabil.


"Untuk Nabil..." lanjut dokter itu menimang kata apa yang harus ia ucapkan pada keluarga Nabil.


"Nggak apa - apa, Dok. silahkan lanjutkan, kami akan menerima apapun keadaan Nabil." Ujar Adzril yang diangguki semuanya.


"Sebagian dari ingatannya hilang, atau biasa kami para Medis menyebutnya amnesia. tapi mungkin ini tidak akan lama, lambat laun mungkin ingatannya akan kembali, tapi saya sendiri tidak bisa memprediksikan sampai kapan." Ujar Dokter itu yang membuat semua keluarga Nabill sedikit Kecewa, namun sepertinya kekcewaan ini hanya sebagian kecil, dibandingkan rasa bahagianya karena kembalin ya nabill pada mereka.


Lain dengan Gaby, jujur dirinya malah terpuruk. bagaimana mungkin dirinya harus kembali berjuang untuk mengingatkan Nabil akan siapa dirinya, bahkan dalam keluarganya pun, Gaby belum yakin mereka akan menerima Gaby, ditambah dengan alasan seperti apa Gaby bisa mengandung anak dari Nabil. Apakah Gaby harus menyerah sampai disini? lalu bagaimana dengan anaknya? apakah Gaby harus tega menghilangkannya begitu saja.


"Sorry..." Adzril tiba - tiba menyadarkan dari lamunan yang berkecamuk di kepala Gaby saat ini.


"Ya, Kak?" balas Gaby dengan menatap Adzril, Ve dan kedua orang tua Nabil yang kini menatap Gaby dengan tatapan yang berbeda - beda.


"Namanya Gaby..." Ujar Ve yang mengerti tatapan Adzril.


"Gaby? tunggu... rasanya gue pernah denger nama ini. But, thanks loe udah nyembuhin adek gue... kami sekeluarga ngucapin makasih banget, loe udah bawa keajaiban buat kita." tutur Adzril yang cukup membuat Gaby sedikit tenang, mungkin nggak akan sulit baginya buat berbaur di keluarga Nabil.


"Dan tentang Janji Nabil buat loe, kita nggak bisa ngasih harapan apapun, loe sendiri tadi denger apa kata dokter." Lanjut Adzril dengan kini memegang Bahu Gaby.


"Gimana kalo kita masuk aja? kita liat gimana keadaan Nabil saat ini." Usul Ve yang diangguki Adzril dan kedua orang tuanya. sebelum Gaby masuk, Adzril sedikit menahan Gaby di pintu.


"Loe, sabar dulu yah... nggak usah terlalu maksa Nabil buat inget semua, gue janji gue bakal bantu apapun itu jika emang Nabil yang udah rusak masa depan loe. yang pasti buat saat ini, biari Nabil sehat total dulu, oke!" Pinta Adzril yang diangguki Gaby, dan Adzril menjawabnya dengan tersenyum kembali dengan merangkul Gaby untuk masuk menemui Nabil yang kini sudah di kerumuni kedua orang tuanya dan juga Veranda.


"Nggak usah ngadi - ngadi loe, Bil!" Ujar Key dengan sedikit meninggi dengan menatap Nabil tak percaya.


"Maaf banget, kalo gue salah, tapi jujur, gue gak tau siapa kalian." Balas Nabil dengan menatap Key dengan serius.


"Nah, tuh loe liat... gue yakin loe pasti kenal siapa mereka!" Ujar Key dengan menunjuk Adzril dan Gaby yang baru saja masuk.


Nabil menatap Adzril dan Gaby dengan seksama, namun tak ada sedikitpun mengingat apapun tentang dua orang itu.


"Udah, Key... gapapa, biarin aja dulu begini." Ujar Adzril dengan membawa Gaby mendekat kearah Nabil.


"Mah, Pah... liat mereka?" Ujar Adzril dengan mendekatkan Gaby dan Nabil.


"Cocok gak kalo mereka berdua menikah..."


"No!!! Nabil masih kuliah." potong sang Ayah dengan menatap Gaby dengan tak sukanya.


"Terserah lah... Key?" Ujar Adzril yang memang kurang sedikit akur dengan sang Ayah dan langsung menatap Key, berniat untuk menanyakan keadaanya, namun...


"Dzril... gue nggak mau bunuh loe, sumpah gue..."


"Ucapan macam apa itu, Key! Jangan bilang loe Amnesia juga!" potong Adzril yang terkejut saat Key bilang ingin membunuhnya.


"Nggak, gue nggak amnesia! gue inget betul siapa loe, dan Ve... sumpah gue nggak ada perasaan apapun sama loe, Ve." Ujar Key yang semakin membuat adzril bingung.


"Ngadi - ngadi nianak..." Gumam Adzril semakin menatap Key dengan heran. namun berbeda dengan Ve yang kini terkejut dan menatap Gaby.


"Ve?" tanya Gaby yang kini juga menatap Ve dengan sedikit berbinar.


"Entahlah, gue pusing... sumpah, gue pusing Gab!" Ujar Ve dengan menutup wajah dengan kedua tangannya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2