Dihamilin Setan!?

Dihamilin Setan!?
DEJAVU


__ADS_3

Sebuah mobil terlihat baru saja memasuki pekarangan sebuah rumah sangat mewah, ber-cat putih dengan gerbang tinggi menjulang layaknya sebuah istana, keluarlah seorang pemuda yang diikutu kedua orang tua sang pemuda dengan merangkul pemuda yang terlihat lelah jika dilihat dari raut wajahnya.


"Keren juga rumah gue" benak sang pemuda yang tak lain adalah Nabil, dengan menatap kagum pada bangunan yang disebut rumah didepannya ini.


"Kamu mau langsung ke kamar, atau mau disini dulu?" Tanya Erna dengan menatap Nabil yang terlihat bengong menatap seisi ruangan yang saat ini ia pijaki.


"Rumah segede ini, kenapa gue ngerasa sepi gini, ya?" Kembali, batin Nabil bersuara mengabaikan pertanyaan yang sebelumnya keluar dari mulut mamahnya.


"Oiya... bokap - nyokap loe kemana? Perasaan sepi amat dari tadi?" Kembali sebuah suara terlintas didalam kepala Nabil, dan tentu saja hal ini membuat sakit di kepala Nabil kembali hadir.


"Arghhh..." Erang Nabil dengan memgang kepalanya dengan sebelah tangannya. Sontak dengan sigap Ayah Nabil menahan tubuh Nabil agar tidak ambruk ke lantai.


"Kamu kenapa sayang? Ada yang sakit?" Tanya Erna dengan khawatir dengan membantu Nabil duduk di sofa yang ada di ruang tengah rumahnya.


"Nggak, Gapapa... cuma tadi Nabil kayak pernah denger sesuatu." Ujar Nabil dengan sedikit menahan sakit dikepalanya.


"Udah, Nabil jangan terlalu maksain buat ingat semuanya, pelan - pelan aja, mamah yakin koq, Nabil bisa inget lagi semuanya." Ujar Erna menenangkan putranya.


"Tapi, mah... sebenarnya Nabil ngerasa kasian sama, Gaby. Nabil takut jika memang Nabil yang udah rusak masa depan Gaby. Tapi Nabil juga takut kalo Gaby cuma mau manfaatin Nabil, mah." Tutur Nabil dengan pandangan kosongnya.


"Yaudah,Nabil tenang aja, ya... kita tunggu hasilnya besok, Mamah nggak bakal marah koq seandainya emang Nabil yang udah buat kesalahan. Iya kan, Pah?" Tutur Erna dengan dikahiri mrnatap tajam sang suami.


"Hmm..." Balas Ayah Nabil yang sampai saat ini pun masih belum bisa menerima jika Nabil harus menikah di usianya yang masih dibilang cukup muda.


"Pah, Nabil emang nggak inget apa -apa, nggak inget siapa yang udah besarin Nabil dengan penuh kasih sayang, tapi Nabil minta maaf kalo Nabil udah buat papah kecewa, bagaimanapun, kalo emang Nabil yang udah rusak masa depan Gaby, Nabil juga berarti otomatis udah kotorin nama keluarga kita. Untuk itu, Nabil minta maaf dan Nabil siap terima hukuman apapun dari papah." Tutur Nabil menatap sang Ayah dengan tulus.


"Papah pasti maafin Nabil. Karena papah yakin, itu bukan perbuatan kamu, papah kenal siapa Nabil anak papah yang satu ini." Ujar sang Ayah yang sama sekali belum membuat Nabil tenang. Pasalnya, walaupun dirinya sekarang tak mengingat apapun, namun hati kecilnya berkata dirinya tidak ingin sedikitpun membuat kedua orang tua didepannya saat ini merasa kecewa atas perlakuan Nabil.


"Udah, ya! Nabil nggak usah terlalu memikirkan hal lain, Nabil cuma harus fokus sama kesehatan Nabil." tutur Erna dengan terus mengelus lembut kepala putranya itu.


"Nabil boleh pamit ke kamar sekarang?" Tanya Nabil.


"Ayo, mamah antar Nabil ke kamar." Ujar Erna dengan membantu Nabil berdiri dan berjalan menuju lantai dua.


Sesampainya di depanpintu kamar yang bertuliskan 'Nabil Adzrilia Putra'. Erna langsung membuka pintu ruangan itu, Begitu melihat kedalam, Nabil langsung disuguhkan dengan ruangan cukup besar dengan dekorasi yang berbeda di setiap sisinya, terdapat dua tempat tidur, dua lemari cukup besar dan dua meja belajar lengkap dengan masing masing satu perangkat komputer diatasnya.


"Nabil sama Adzril masih satu kamar?" Tanya Nabil dengan bingung, pasalnya Nabil sendiri sadar, dirinya dan sang kakak bukan lagi anak kecil yang tak bisa tidur sendirian.


"Iya..." Ujar Erna menggantung.


"Dulu pas pertama kalian masuk SMP, Nabil sok ngide mau pisah kamar sama Adzril, tapi setiap malamnya pasti ada salah satu dari kalian yang nggak bisa tidur, Kalo Nabil yang nggak bisa tidur, Pasti Nabil nyamperin kamar Adzril dan tidur disana, begitupun sebaliknya, sampe baru satu bulan kalian pisah kamar, kalian minta renovasi kamar kalian biar jadi satu ruangan." Tutur Erna ketika keduanya telah sama - sama duduk di tempat tidur Nabil sendiri.


"Terus seblum Nabil sama Kakak pisah kamar, Nabil sama Kakak tidur dimana?" Tanya Nabil kembali yang benar - benar merasa asing dengan kejadian sebelumnya.


"Disamping ruangan ini, ada ruangan yang cukup besar, tapi nggak sebesar ruangan ini sekarang, Dari semenjak kalian lahir dan sampai kalian SMP, kalian tidur dikamar itu berdua, tapi sekarang Adzril minta ruangan itu buat dijadiin tempat kalian main, diasana ada komputer yang Kakak rakit sendiri buat editing, ada tempat buat melukis juga, dan di dalamnya lagi yang harusnya jadi toilet, kakak kamu ngubahnya buat jadi ruang Game. Kalo kalian lagi sama - sama libur dan nggak ada acara kemana - mana, kalian pasti ngabisin waktu di ruangan itu seharian" Tutur Erna dengan Nabil yang menjadi pendengar yang baik, dan Nabil berharap akan sedikit mengingat sesuatu dari masa lalunya. Namun nihil, tak ada stupun kejadian yang dia ingat, bahkan semuanya terasa asing bagi Nabil, seolah Mamahnya sendiri tengah menceritakan orang lain pada Nabil.


"Pantes Nabil ngerasa takut banget pas Kak Adzril bentak Nabil di rumah sakit kemarin, meskipun gak inget apa - apa, tapi entah kenapa, Nabil ngersa sangat takut lihat tatapan kakak. mungkin, hanya ingatan Nabil yang hilang, sedangkan semua perasaan emosional Nabil sama keluarga Nabil sendiri, itu sebenarnya ada, hanya saja Nabil nggak sadar." Ujar Nabil yang disetujui mamahnya.


"Mah... emang sedekat apa Nabil sama Kakak?" tanya Nabil dengan menatap Erna.


"Kalo kata Kakak kamu, 'Raga bisa pisahin kalian, tapi Jiwa kalian akan tetap bersatu, karena Adzril adalah sisi paling kuatnya Nabil, dan Nabil adalah sisi paling lemahnya Adzril."


"Raga bisa pisahin gue sama loe, tapi jiwa kita nggak akan pernah berpisah, karena loe adalah diri gue yang paling kuat, dan Gue adalah diri loe yang paling lemah!"

__ADS_1


Dengan bersamaan ketika Erna mengatakan hal itu, tiba - tiba terbesit sebuah kalimat yang entah dariamana datangnya. Namun sama seperti sebelumnya, ketika Nabil lebih memperdalam ingatannya, semua hitam, tak ada apa - apa lagi yang dia ingat, hingga menimbulkan sedikit rasa sakit di kepalanya.


"ARGGGHHH..." Erang Adzril yang tak bisa menahan pusing di kepalanya. dengan sigap Erna langsung menarik Nabil kedalam pelukannya yang seketika membuat Nabil merasa sangat Nyaman, meski sakit dikepalanya masih terasa.


"Udah, ya sayang! Besok lagi kita coba buat mengenang masa kecil kalian." Ujar Erna yang masih memeluk Nabil sampai Nabil sedikit lebih tenang lagi.


Cklek


Pintu ruangan terbuka dari luar dan menampakan sesosok manusia yang sangat mirip dengan Nabil, siapa lagi kalau bukan Adzril sendiri.


"Assalamualaikum..." Salam Adzril menghampiri keduanya dan langsung menyalami Erna dengan penuh hormat.


"Waalaikumsalam." Balas Erna dan Nabil bersamaan.


"Kakak nggak kuliah?" Tanya Erna menatap Adzril yang kini duduk disisi Nabil dan langsung merangkul kembarannya itu.


"Adzril kuliah pagi doang, dan tadi skip." Ujar Adril yang masih dengan posisi menjadikan bahunya sandaran untuk kembarannya itu.


"Apa gue satu kampus sama loe, Kak?" Tanya Nabil yang kini mengubah posisinya menatap langsung Nabil.


"Iya, cuma loe ngambil jurusan teknik mesin. dan gue ngambil jurusan Desain Grafis." Ujar Adzril yang hanya dijawab anggukan oleh Nabil.


"Berarti lukisan yang ada diruangan sebelah itu hasil karya loe semua?" Tanya Nabil dengan antusias.


"Enggak, gue nggak bisa ngelukis, gue ngambil jurusan Desain grafis digital, itu semua lukisan buatan loe sendiri." Ujar Adzril dengan tersenyum, namun Nabil malah terheran, jika dirinya bisa ngelukis, mengapa dirinya malah mengambil jurusan yang sangat jauh dari keahliannya.


"Gak usah ngadi - ngadi loe, Dzril!" Ujar Nabil dengan tertawa yang dikiranya Adzril sedang bercanda.


"Gue serius, elah! loe sendiri yang sering bilang gini, 'Gue udah jago ngelukis, ngapain gue harus pelajarin lagi apa yang udah gua kuasain sendiri, gue ngambil jurusan Teknik mesin biar nanti gue bisa bikin Mobil sendiri, terus nanti loe desain bentuknya, trus nanti kita bikin pabrik mobil sendiri deh.' Itu alasan loe kenapa ngambil jurusan teknik mesin." Tutur Adzril dengan sedikit tertawa saat pertama kali mendengar keinginan adiknya yang sedikit konyol ini, namun meskipun konyol, Adzril mengiyakan keinginan kembarannya ini.


"Gue mau liat kesana dong, Kak..." Pinta Nabil dengan menggantung diakhir kalimatnya. "Oiya, gue manggil loe Kak, emang kita beda berapa jam?"


"Gue sama loe, sebenernya duluan loe, Loe lebih dulu keluar selisih 10 menit sebelum gue. Dan kenapa loe manggil gue kakak? Itu karena perintah dari almarhum Nenek kita, bliau bilang kalo seorang kakak biasanya lebih mengalah sama adeknya, dan biarin adeknya keluar dengan selamat lebih dulu. Kurang lebih kayak gitu kata nenek, dulu.


Tutur Adzril dengan sebelum mengatakan hal itu lebih dahulu menarik tangan Nabil menuju ruangan pribadi mereka berdua, dan setelah sampai,betapa terkejutnya Nabil saat baru masuk langsung disuguhkan lukisan - lukisan indah menghiasi setiap dinding ruangan itu.


Tiba - tiba mata nabil tertuju pada satu lukisan berukuran besar, berwarna dasar hitam dengan beberapa garis lengkung putih yang menyerupai sesosok gadis yang terpampang tepat dihadapannya. Sontak Nabil menghampiri lukisan tersebut dan meraba dengan ujung jari -jari tangannya.


"Loe selalu banggain, dan bilang, bahwa itu adalah hasil karaya tangan terbaik menurut loe sendiri. Dan sampai saat ini, gue nggak tau, siapa cewek dibalik lukisan terbaik loe itu." Ujar Adzril dengan tiba - tiba, Nabil masih menatap lukisan tersebut, meski mendengarkan ucapan Adzril, Nabil masih fokus menatap lukisan yang katanya dirinya lah yang membuatnya.


"Kekecewaan, kebahgiaan, keraguan, semuanya tertuang disini kak... Ada kejadian apa saat gue buat lukisan ini?" tanya Nabil yang merasakan sesuatu yang ganjil saat memperhatikan dengan seksama lukisannya.


"Yang gue inget, ini lukisan terakhir tiga hari sebelum lo koma." ujar Adzril yang sukses membuat Nabil teringat satu hal yang sebenarnya ingin ia tanyakan dari kemarin.


"Oiya... Nando itu siapa, Kak?" tanya Nabil yang membuat Adzril mengerutkan keningnya.


"Sebenernya gue juga gak begitu kenal siapa Nando, tapi dia orang yang kayaknya benci banget sama loe berdua..." Ujar Adzril dengan kini duduk di sofa yang ada diruangan ini.


"Kenapa dia bisa benci gue?" Tanya Nabil yang semakin bingung dan berharap secepatnya ingatannya kembali, ada apa sama dirinya, dan apa yang sudah dia perbuat selama ini sampai ada seseorang yang begitu benci padanya samapai melakukan hal senekat itu untuk membunuhnya.


"Sebenernya Nando gebukin kalian bukan pas perpisahan, udah lama banget kalo masih zaman loe perpisahan, loe aja sekarang sama gue sama Key udah semester empat..."


"Terus Gaby?" Potong Nabil dengan terkejut saat tahu dirinya bukan lagi anak sekolahan.

__ADS_1


"Kata Gaby kemaren, dia katanya baru naik kelas dua SMA." ujar Adzril yang semakin membuat Nabil terkejut lagi.


"Gila, kalo emang itu anak gue, berengsek banget gue berarti, Kak..." Gumam Nabil dengan tertunduk menyesal atas apa yang pernah ia katakan pada Gaby.


"Kak emang loe nggak kenal sama sekali sama Gaby?" tanya Nabil berharap Adzril sedikit memberinya harapan.


"Jujur, gue bru ketemu sama Gaby pas hari dimana loe sadar pertama kalinya setelah koma panjang loe, dan kenapa gue dukung banget loe sama Gaby, karena bagi Gue, Gaby adalah malaikat penyelamat loe." Ujar Adzril yang membuat Nabil kembali menghela nafas lelahny.


"Sebenernya gue ngerasa pernah denger nama Gaby, tapi gue lupa siapa yang bilang itu, Bil... maafin gue. gue gak mau loe kecewa." Benak Adzril tanpa menatap kembarannya itu.


Sedangkan ditempat lain terlihat Gaby dan Ve tengah berjalan santai disekitaran komplek perumahan Gaby. Ucapan Veranda tentang yang akan menjaga Gaby ternyata bukan hanya omong kososng belaka, bahkan dirinya sudah meminta izin pada orangtuanya untuk sementara tinggal di rumah Gaby, hingga mungkin Gaby menikah dengan Nabil, atau jika itu tidak terjadi, setidaknya sampai Bayi yang ada dalam rahim Gaby saat ini terlahir.


"Ve, kalo seandainya aja, ternyata Nabil bukan ayah dari anak yang gue kandung, apa gue gugurin aja kali ya bayinya?" tanya Gaby yang langsung membuat Veranda seketika membulatkan matanya karena terkejut sekaligus marah atas apa yang Gaby ucapkan.


"Kalo emang loe mau nyerah, kenapa gak dari sekarang aja?" Tanya Ve dengan kesal.


"Karena kemarin - kemarin gue kira Nabil bakal langsung Inget Gue." Ujar Gaby dengan tertunduk.


"Gue ada disini bukan buat loe biar jadi pecundang lho, Gab!" Ujar Ve dengan tegas.


"Tap..."


"Gaby!" Belum sempat Gaby melanjutkan kalimatnya, sebuah suara yang tak begitu asing di telinga Veranda memanggil Gaby yang kini terlihat bingung menatap pria yang kini menghampirinya dengan sedikit berlari.


"Gab..."


"Stop! Diem disana!" Tegas Ve menahan orang itu agar tak lebih dekat lagi dengan dirinya dan Gaby.


"Loe siapa?" tanya Gaby yang masih dengan raut terkejutnya.


"Apa maksudnya loe siapa?" Tanya orang itu yang kini menatap bingung juga pada Gaby.


"Nando? Loe Nado, kan?" Kini Ve yang kembali bertanya. Namun Nando yang kini kembali dibuat bingung, siapa wanita ini yang mengenal namanya.


"Loe kenal dia, Ve?" tanya Gaby.


"Dia yang bikin Nabil sama Key koma." Ujar Ve masih menatap tajam pada Nando.


"Ohhh... iya gue inget, loe ternyata pacar si kembar bangsat itu, ya?" Ujar Nando dengan menyeringai.


"Loe bahkan lebih bangsat dari sikembar yang loe maksud!" Ujar Ve semakin menatap emosi pada lelaki yang kini masih menatap remeh pada Ve.


"Ya, mungkin loe bener, dibandingkan si kembar, gue lebih berengsek dari mereka, tapi nggak dengan temen..."


"Maaf yah sebelumnya, gue gak kenal siapa loe, dan gue gak perduli loe tau nama gue dari siapa, tapi sorry kita ada urusan lebih penting dari ladenin orang gak jelas kayak Loe." Ujar Gaby yang langsung menarik lengan Ve untuk kembali ke rumah Gaby. Gaby khawatir Nando melakukan hal buruk padanya dan Ve.


"Eh, loe cewek yang mirip bidadari, tapi kelakuan kayak iblis... gue tekenin sama loe, Bilang sama si kembar, jauh - jauh kalian dari penyakit." Ujar Nando yang sukses membuat Ve menghentikan langkahnya, namun sebelum menatap kembali Nando, Gaby kembali memaksa ve untuk menjauh dari Nando.


"Udah Ve, jangan didengerin. Gue takut dia ngelakuin hal aneh - aneh sama kita." Ujar Gaby dengan semakin cepat menarik Ve.


"Loe tenang aja, gue bisa jaga diri kalo cuma dia sendiri." Ujar Ve yang kini menyamakan langkah cepatnya dengan Gaby.


Setelah melihat keduanya telah menghilang dari Pandangan Nando, Nando hanya menatap kosong dengan menyeringai licik, entah apa yang ia fikirkan, namun ini mungkin bukan pertanda baik untuk kedepannya.

__ADS_1


"Segitunya banget Cinta loe sama dia."


TBC


__ADS_2