
"Bunda?"
Nabil yang terkejut atas kehadiran Salsa pun langsung menghampirinya yang juga ternyata bersama Sinka yang kini berjalan mendekat pada Erna.
"Kenapa kamu kaget bunda kesini?" Tanya Salsa dengan tatapan heran dengan reaksi Nabill yang terlihat... Entahlah Salsa tidak tahu apa yang Nabil fikirkan.
"Aduh... Nabil bukan apa - apa bunda, tapi.... Nabil malu harus ngenalin bunda lagi ke mamah dalam keadaan..."
"Nabil yakin deengan apa yang Nabil ucapkan?" tanya Salsa, dan seketika Nabil kembali teringat, bagaimana respon Salsa ketika diperkenalkan dengan papahnya tadi. "Eh, tapi kayaknya bliau ini juga tida mengenal Bunda."
"Maaf, Mbaknya siapa ya?" Tanya Erna yang sebenarnya merasa tak asing melihat wajah wanita yang Nabil sapa dengan panggilan Bunda, namun entahlah.
"Mah, ini Bunda dari Naomi, Bunda Salsabila Nadhifa..."
"Nadhifa Slasabila!"
Ralat Erna, Salsa dan Sinka secara bersamaan dengan sedikit membentak Nabil yang salah mengucapkan Nama bundanya Naomi. Nabil sendiri sontak kaget mendapat respon yang sama dari ketiganya.
"Eh... Ya ampun, bener ini kak Salsa?" Tanya Erna yang masih tak percaya dengan siapa yang ia lihat didepannya saat ini dengan mata yang berkaca - kaca, hingga meembuat Nabil semakin penasaran, bagaimana hubungan kedua orang tuanya dengan calon mertuanya(?) Dahulu.
"Apa? Mau apa, kau? Peluk!? Hahh? Nggak! Enak kau yah, udahnya aku dilupain, sekarang minta di peluk pula!" Ujar Salsa yang tentu saja hanya bercanda, Salsa langsung mendekati Erna dan memeluknya, menyampaikan kerindun masing - maing dari mereka, Nabil dan Sinka yang melihatnya sama - sama tersenyum, betapa manisnya persahabatan antara merka. Sedangkan Gaby dan Adzril memilih duduk di sfa yang memeng tersedia khusus di ruang VIP.
"Bagaimana kabar kakak? Aku gak nyangka banget bisa ketemu lagi sama kakak..."
"Aku sih udah nyangka yah, semenjak dahulu anakmu mengatakan nama papaphnya, tapi entah setan apa yang membuat anakmu tak berani dari dulu mempertemukan kita bertiga." Potong Slasa dengan menatap jahil pada Nabil. Salsa memang sampai saat ini tidak tahu alasan Nabil tak pernah membawa Naomi pada Keluarga Nabil, yang Slasa tahu Nabil terusir dari rumanya sendiri karena kasusnya dahulu.
"Dia anak yang nakal, kak... Pacarannya suka sembunyi - sembunyi gitu... Eh, yang ini maksudnya pacarnya Nabil?" Erna yang menyadari slasa tak sendirian pun kini penasaran dengan gadis yang sedari tadi tersenyum disamping Nabil yang kini terlihat menggerutu atas apa yang Erna ucapkan.
"Bukan, Ini Adiknya, namanya Sinka." Ujar Salsa yang langsung membuat Sinka mendekati Erna dan menyapa Erna dengan mencium tangannya. "Naomi lagi di ruang UGD. Oiya, aku lagi hukum suami kau buat tunggu Naomi disana. Berani - beeraninya dia bikin kau sakit seperti ini."
"Loh, memang Naomi sakit apa?" Tanya Erna penasaran, karena belum mengetahui penyakit Naomi, yang ia tahu Veranda tengah mendonorkan darahnya untuk Naomi.
"Biasalah, masalah anak muda... Sudah kau tidak usah memikirkan yang lain, fokus saja sama kesehatan kau." Ujar Salsa yang memang juga menghawatirkan kesehatan sahabat lamanya ini.
"Oiya, suami kakak..."
"Entahlah, jangan kau bahas dia, benci kali aku sama dia!" Potong Salsa yang kini membuat Erna sedikit penasaran apa yang terjadi pada sahabat sekaligus mantan seniornya dikampusnya dulu.
"Ayah sama Bunda udah cerai dari lama, tante." Bisik Sinka yang kebetulan sedari tadi duduk disamping Erna. Erna yang terkejut mendengar hal itupun kini merasa tak enak menatap Salsa.
"Maaf, Kak..."
"Sudah kubilang nggak usah bahas dia, kesal kali, lah aku..." Ujar Salsa yang terliihat sangat kesal. "Sudah semua sudah berlalu, Kau tidak perlu memikirkan aku, kubilang kau fokus kesehatan kau."
"Nabil, kamu tau, alasan papah kamu kenapa kamu nggak boleh pacaran dari dulu?" Tanya Erna yang mmelihat Nabil kini bergabung duduk dengan Gaby dan Adzril yang seedari tadi fokus menonton Video dari hpnya.
"Kan biar Nabil bisa fokus belajar dan dapet nilai bagus biar Nabil bisa nerusin usaha papah di perusahaan kita, kan?" Ujar Nabil yang ia tahu, itulah alasan Daren selalu melarang Nabil maupun Adzril untuk berpacarran dulu.
"Hey... Keras kali si Daren?" kageet Salsa atas penuturan Nabil. "Pantas Nabil gak Berani bawa Naomi kehadapan Kalian."
"Sebenrnya bukan itu... Kak Salsa pasti ingat Janji mas Daren dulu sebelum Kakak pindah keluar Negeri." Tutur Erna yang membuat Salsa tersenyum, yang sebenarnya Salsa tahu alasan Daren yang sebenarnya.
"Ya memang takdir mengijinkan kita buat berbesanan, nampaknya." Sahut Salsa setuju dan ini ikut bergabung Duduk diantara ketiga anak Erna. Hingga pintu kembali terbuka dari luar, dan menampakan Daren yang langsung menatap pada Nabil.
"Nabill, bisa kita bicara sebentar?" tanya Daren to the poin.
"Iya, Pah." Balas Nabil yang langsung mendekat pada Daren dan keduanya pun langsung keluar dari kamar.
"Tadi kata dokter Naomi udah nggak apa - apa, dan udah bisa dibawa ke kamar rawat biasa, sekarang kamu urus semua administrasi semuanya, yah." Ujar Daren yang membuat Nabil tersenyum, akhirnya ketakutannya sedari tadi kini muali perlahan menghilang.
"Terus sekarang Naomi sama kak Ve dimana?"
__ADS_1
"Masih di UGD, nanti bisa dipindahin kalo kamu udah urus semuannya." ujar Daren.
"Oh, yaudah pah, Nabil ke depan dulu." Pamit Nabil dengan meninggalkan Daren yang ternyata langsung kembali ke depan ruangan dimana Naomi dan Ve masih ada didalamnya. Namun ternyata Veranda keluar dari ruangan itu terlebih dahulu dengan wajah yang terlihat sangat lemas.
"Lho, Ve? Koq kamu udah keluar?" Tanya Daren yang baru saja ingin duduk, namun tak jadi ketika melihat salah satu calon menantunya keluar.
"Gapapa, Pah. Dokter juga udah ngebolehin keluar koq..." Balas Ve dengan mencoba tersenyum dan langsung mengedarkan pandangannya mencari orang - orang yang sebelumnnya berkumpul di kursi panjangn di depannya. " Yang lain pada kemana?"
"Di kamar mamah, kamu mau papah anter kesana?" tawar Daren yang sedikit khawatir melihat raut wajah Veranda yang mencoba tersenyum meskipun terlihat sangat tak bertenaga.
"Nggak usah, pah... Nanti aja barengan sama Naomi, sebentar lagi dokter keluar koq bawa Naomi buat dipindahin." Tolak Ve, Daren yang tak mau ambil pusing pun langsung membawa Ve untuk duduk di kursi panjang yang sebelumnya ia duduku juga.
Tak berselang lama, Nabil terlihat berjalan dengan seorang suster menghampiri Daren dan Veranda yang juga mnyadari dan melihat Nabil yang kinni sudah berada dihadapan keduanya.
"Loh, koq loe udah keluar kak? Naomi mana?" Tanya Nabil spontan, sedangkan suster yang sebelumnya bersama Nabil langsung masuk keluar UGD.
"Ya menurut loe, emang Naomi kemana?" Dengan raut wajah yang semakin lemas, Ve manjawab pertanyaan Nabil yang entah mengapa cukup membuatnya kesal.
"Pah, aku sama kak Ve Duluan aja yah ke tempat mamah." Ujar Nabil yang diangguki setuju Daren yang memang kini sangat menghawatirkan Ve.
"Nanti..."
"Bisik, Bawel!" Potong Nabil yang langsung sedikit menarik Ve yang memaksanya untuk berdiri.
"Eh, hatii - hati, Nabil! Kamu, nih!" Daren yang melihat Ve sedikit sempoyngan langsung menegur Nabil dengan sedikit tegas.
"Eh, maaf - maaf... Kak!" Ucap Nabil spontan, Veranda yang masih lemas pun hanya mengangguki dan kini berjalan didepan Nabil.
Tepet seetelah Nabil menghilang dari pandangan Daren, pintu UGD kembali terbuka dan dengan keluarnya Naomi yang belum juga membuka matanya dengan beberapa alat medis yang terpasang, dan dua orang perawat yang bertugas mendrong brankar yang Nomi tempati.
...****************...
Setelah beberapa saat, kini semua orang yang sebelumnya berkumpul ditempat Naomi yang kini sudah sadar dan sudah bisa kembali mengobrol dengan mereka yang ada disana, bahkan Erna sempat sangat terkejut saat menydari jika dirinya pernah bertemu Naomi sebelumnya dan membuat kesan kurang mengenakan di awal pertrmuan mereka, dan seketika itupun Erna langsung meminta maaf pada Naomi dan juga pada Salsa.
"Gitu yah pacaran jaman sekarang, tadi aja pas baru buka mata paling pertama ditanyain, giliran orangnya ada, malah didemin. Tiba - tba diundang kepernikahannya, nyesel pasti tuh" Julid Salsa tiba - tiba yang seolah mengobrol dengan Erna, namun tentu saja Era tahu kalimat itu bertujuan untuk menyindir putri kesayangannya sendiri yang kini berpura - pura menutup matanya.
"Udahlah, Kak! Biarin aja Naomi istirahat." Ujar Erna menengahi yang mengerti ucapan Salsa.
Memang sebelumnya ketika Naomi baru tersadar, Nama yang Naomi cari saat itu juga adalah Nabil, yang kebetulan saat itu, Nabil tengah keluar untuk mengajak Adzril dan Veranda mengisi perutnya, bahkan entah apa yang difikarkan Naomi, ketika Slasa meengatakan Nabil ada dan baik - baik saja, Naomi tak mempercayainya sebelum Naomi melihat dengan kedua matanya sendiri bagaimana keadaan Nabil, hingga Sinka terpaksa menyusul Nabil. Namun ketika Nabil tiba dengan Ve dan Adzril, Naomi malah mengacuhkan Nabil, bahakan awalnya langsung menepis tangan Nabil yang ingin menggenggam tangannya.
Hal itu sekaligus juga memperkuat perkataan Salsa pada daren sebelumya, bagaimana Naomi dan Nabil yang tak bisa lagi dipisahkan.
Hingga sebuah kalimat ajaib Nabil tiba - tiba keluar. "Ini kak Ve cuman donorin darah kan ke Naomi, bukan sifatnya juga yang suka sok - sokan tsundere kayak gini..." Tentu saja, Ve yang namanya dibawa - bawa, tak terima begitu saja hingga membuat Adzril yang tak tahu apa - apa menerima pukulan - pukulan dari Ve yang melupakan kekesalannya atas ucapan Nabil.
"Yaudah Bun, Nabil pamit pulang du...."
Nabil yang ingin juga sedikit menjahili Naomi, tak berani meneruskan kalimatnya saat merasakan tangannya yang menggenggam tangan Naomi, kini malah berbalik Naomi yang mencengkram cukup kuat, mengisyaratkan Naomi tak mengijinkan Nabil pergi kemanapun. Erna dan Salsa yang melihat hal itu pun langsung berinisiatif memberi keduanya waktu berdua untuk berbicara.
"Iyaudah... Iya iya... Aku nggak kemana - mana." Lanjut Nabil dengan mengusap lembut rambut Naomi dengan penuh kasih sayang.
"Gapapa kalo belum mau ngomong sama aku..."
"Gimana keadaan Nando?" Tanya Naomi yang kini membuka matanya dengan sendu menatap Nabil.
"Boleh gak kalo aku berharap mereka berdua mati?" Tanya Nabill yang kini membuat Naomi kembali memalingkan wajahnya.
"Kita fokus sama kesehatan kamu dulu, yah! Urusan itu nanti kita selesaikan sama - sama." Lanjut Nabil yang kembali mengusap lembut rambut Naomi. "Aku yakin, mereka berdua nggak bakal semudah itu buat pergi gitu aja."
Entah saat ini Naomi harus bersikap bagaimana, jujur, Naomi ingin sekali tenang menjalin hubungan serius dengan Nabil, namun Naomi sadar, hal itu tak akan bisa benar - benar terjadi selama masih adanya Keynal dan Nando di hidupnya, disamping itu juga Naomi sendiri sadar, Keynal dan Nando bukan orang asing dalam hidup Naomi, mereka mempunyai peran penting maasing - masing dalam hidup Naomi.
"Aku egois nggak sih, kalo mau kalian bertiga tetep selalu ada disamping aku? Selalu jadi tempat aku bersandar, jadi uluran tangan buat aku ketika aku jatuh, jadi telinga yang baik ketika aku ngeluh, jadi alasan aku selalu tersenyum. Aku memang cinta dan sayang sama kamu, Bil. Tapi aku juga mau mereka berdua selalu jadi sahabat, sekaligus jadi osok kakak buat jadi penengah ketika kita berdua sama - sama lelah." Tutur Naomi dengan lirih tanpa menatap Nabil yang cukup mersa sesak dalam hatinya saat Naomi meengatakan hal itu.
__ADS_1
"Kalo kamu fikir saat ini aku benci sama mereka berdua, kamu salah besar Mi, aku emang marah sama mereka, tapi untuk membencinya, aku harus berfikir beberapa kali. Karena aku sadar, siapa aku..." Nabil menjeda kalimatnya saat Naomi kini akhirnya mau kembali menatap Nabil.
"Aku, siswa usil yang gak tahu apa - apa, tiba - tiba masuk di kehidupan kalian bertiga, dan dengan lancnganya tanpa sadar, aku udah hancurin ikatan persahabatn kalian bertiga. Memikirkan hal ini, aku selalu ngerasa jadi orang paling bersalah. Tapi apa aku bisa menyalahkan hati aku sendiri yang udah berani jatuh cinta dan putusin buat berjuang buat kamu. Andai aku bisa milih, aku lebih memilih jatuh cinta sama Sinka, yang jelas - jelas dulu tulus cinta sama aku. Tapi sayang, ternyata takdir kita berdua berada di jalan yang sama."
Naomi yang mendengar setiap tutur kata yang keluar dari mulut Nabil hanya bisa diam mmatung, benar yang diakatan Nabil, bahkan tanpa sadarpun, sebenarnya dirinya lah yang paling bersalah, Keynal yang dahulu menyatakan perasaannya dengan tulus, Naomi malah menolaknya dengan alasan persahabatan mereka bertiga, padahal hal itu bukan lah alasan utama dirinya menolak Key, karena bagaimanapun, ketika Naomi memiliki hubungan dengan Keynal, Nando tidak bisa mencegah keduanya, karena salah satu dari kedua orang tuan Nando, terlahir dari rahim yang sama dengan Salsa. Hal itu tentu Nabil ketahui semua dari Salsa, dan karena kehadiran Nabil di kehidupan Naomi, Slasa sangat bahagia ketika mengetahu Naomi menjalin hubungan dengan seseorang, karena Slasa tahu, Naomi maupun Nando sama - sama memiliki perasaan yang sama, dulu. Dan hal itu tentu saja sangat salah.
"Aku nggak akan pernah benci mereka, sayang... Aku cuma marah karena dia udah beran celakain kamu." Tutup Nabil dengan mambantu Naomi yang terlihat sedikit kesusahan untuk sekeedar mengubah posisinya untuk duduk dan bersandar. Namun setelah Nabil berhasil membantunya, ternyata Naomi langsung menarik Nabil yang hendak kembali duduk di kursinya.
"Aku tahu, setelah ini... kita nggak akan baik - baik aja. Untuk itu, aku mau kamu janji, jangan pernah ninggalin aku lagi sendirian. Sekali kamu pergi dengan alasan apapun, ketika kamu kembali lagi nanti, jangan pernah lagi cari aku dikemudian hari." Tutur Naomi dengan isakannya dalam pelukan Nabil.
"Kemanapun aku pergi, kamu akan selalu tau aku ada dimana, sayang. Sejauh dan selama apapun aku pergi, kamu juga tahu, hanya kamu yang selalu jadi rumah tempat aku pulang, pada akhirnya."
...****************...
Di kamar tempat Veranda yang kini tertidur lelap diatas kasur yang sebelumnya Erna tempati, diteman Adzril dan Gaby yang kini tengah mengobrol di sofa yang ada disana.
"Gab, gue boleh tanya sesuatu?" Tanya Azdril yang sebelumnya keduanya mebicarakan hal yang ringan, tiba - tiba raut wajah Adzril berubah, terlihat lebih serius dan sedikit canggung untuk meneruskan kalimatnya.
"Apa, Kak? Koq tiba - tiba gugup gitu?" Gaby yang heran dengan perubahan raut wajah Adzril, dirinya juga kini merasa bingung dan was - was, hal apa yang ingin Adzril tanyakan.
"Sorry... Tentang loe sama Nabil, apa kalian benar - benar..." Adzril merasa bingung menyusun kalimat yang ada dalam kepalanya, yang padahal sebelumnya sudah tersusun rapih, namun tiba - tiba buyar ketika melihat reksi Gaby.
"Emmmm... Gimana ya gue ngomongnya?" Gaby yang sadar arah pembicaraan Adzril pun mengangguk mengerti.
"Enggak, kak... Nabil nggak pernah nyentuh aku sedikitpun. Saat itu, Nabil keadaannya mabuk berat, sampe gak sadar di buat posisi sedemikian rupa di satu tempat tidur yang sama dengan aku, dan ketika dia bangun, Nabil gak inget apa - apa dan denggan posisi aku yang udah nggak pake baju, begitupun Nabil." Akhirnya Adzril bisa bernafas dengan lega mendengar sendiri pengakuan dari Gaby.
"Memang, semalaman penuh aku peluk Nabil, aku aduin semuanya yang Keynal dan Nando lakuin sama aku. Yang entah kenapa seolah aku tahu, cuma Nabil yang bisa selamatin aku dari keadaan itu. Meski disamping itu juga aku tahu, Nabil nggak akan pernah denger semua ucapan aku malam itu." Lanjut Gaby yang kini suaranya semakin bergetar karena kembali merasa bersalah pada Nabil tentang apa yang Gaby lakakuan pada Nabil hingga membuat hubungan antara Nabil dan Naomi hancur, meski bukan keinginannya sendiri. Adzril yang melihat Gaby terisak pun langsung menghampirinya dan memeluk Gaby yang langsung semakin menangis ketika Adzril memeluknya.
"Sekarang kamu gak usah takut, ada kakak sama Nabil yang bakal terus jaga kamu. Bagaimanapun juga, sekarang kamu bagian dari keluarga Kakak." Tutur Adzril yang semakin membuat Gaby menangis, namun kini berganti dengan tangisan terharu atas setiap tutur kata yang keluar dari mulut Adzril.
"Oiya..." Gaby sedikit mendorng Adzril untuk melepaskan dekapannya. "Tentang apa yang aku ceritain, itu semua proses agar apa yang Dokter Kinal lakuin ke Ve bisa berpengaruh."
Adzril kini bingung apa yang Gaby ucapkan, memang apa yang mereka lakukan pada Ve.
"Malam sebelum hari dimana saat Nabil tersadar, Ve yang padahal bukan malam buat jadwal kalin nungguin Nabil, apa kakak tahu, kalo malam itu Ve ada di rumah sakit? Nah, dimalam itu, Ve dengan keadaan tidak sadar di bawa dokter kinal dan melakukan Hipnotis dengan mensugesti fikiran Ve agar selalu percaya dan bela aku setelah aku ceritain satu cerita yang Nggak masuk akal sehat manusia. Dan ternyata lihat? Sampai saat ini, Ve seelalu bela aku, aku nggak tahu, saat ini Ve masih dipengaruhi efek dari perbuatan dokter Kinal, atau mungkin Ve beneran peduli sama aku saat ini."
Adzril yang mendengar apa yang dilakukan mereka pada Ve, tentu saja tak terima dan sangat marah, belum lagi jika Adzril tahu, sebenarnya jika Nabil saat itu bukan koma.
"Kak..."
"Kakak nggak marah sama kamu, tapi saat ini kakak benci dan baersumpah akan balas semua perlakuan mereka. Terutama pada dokkter Kinal..."
"Yakin loe bisa? Apa loe gak fikirin, apa yang udah loe lakuin ke Key, itu nggak akan berujung dengan loe masuk penjara?"
Veranda yang ternyata sudah tersadar dari tidurnya, dan mendenggar semua obrolan Adzril dan Gaby langsung menyahuti dan teringat perkataan sebelumnya saat melihat bercak darah pada kaos Adzril, dan saat itu juga, Adzril mnjelaskan semua yang terjadi dirumah Gaby.
"Kalo mereka berani laporin hal ini, aku udah banyak bukti buat bisa jeblosin dokter Kinal dan Keynal serta Nando buat bisa juga mendekam di penjara." Sahut Gaby yang tetap saja tak bisa menjawab kekhawatiran Ve yang dihantui, bagaimana jika Adzril dipenjara dengan kurun waktu yang lama.
"Lagian ni cowok satu, begonya setengah mampus... Heran gue sama dia, apa - apa, diributin..."
"Ve, udah... Loe tenang aja, andaipun gue dipenjara, bokapnya Nabil..."
"Bokap loe juga!" Potong Ve yang kesal, mengapa harus disaat seperti ini, Adzril masih bisa bercanda dengannya.
"Iye, si Daren maksudnya, kagak bakal diem aja. Loe sendiri tau, gimana ambisinya tu orang, dan gue juga yakin, tu orang tua sekarang lagi sibuk susun rencana sama anak buahnya buat gimana caranya balas dendam." Tutur Adzril yang kini mendekati Ve yang terlihat mengubah posisinya menjadi duduk.
"Loe nggak usah takut, Ve... Andaikan gue beneran di tangkep, gue cuma dipenjara, bukan mati." Lanjut Adzril dengan mengelus lembut puncak pala Ve yang kini memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan perasaannya yang saat ini sanngat khawatir pada lelaki yang sampai saat ini sangat Ve cintai.
"Gue janji, gue akan selalu ada disampng loe, sampai ketika loe sendiri yang minta gue buat pergi."
Tiba - Tiba Ve memeluk Adzril sangat erat dengan isakan tangais yang ia tahan sekuat mungkin agar Adzril tak mendengarnya, meskipun Ve tau hal itu tak berguna, Adzril akan tetap mendengar.
__ADS_1
"Gue khawatir sama loe, loe ngerti nggak sih!?" Jerit Ve dengan suara yang sangat pelan tertahan.
TBC