Dihamilin Setan!?

Dihamilin Setan!?
All About Secret


__ADS_3

"Kamu ada saran?" Daren menatap Adzril yang tengah mengadahkan kepala dengan mata yang tertutup, namun kini menatap bertanya kembali pada sang Ayah yang menatap Adzril.


"Gak ada."


Daren dan Vino sama - sama saling menatap satu sama lain, hingga Adzril kini bingung akan interaksi keduanya yang terlihat tengah saling beradu argumen melalui telepati.


"Papah ada dua pilihan, dan kamu wajib memilih salah satunya!" Daren kini menatap kembali Adzril yang masih menatap bingung pada Ayahnya.


"Pilihan pertama, kita langsung kasih tau semua orang yang ada di rumah ini, siapa dan dari mana Gaby berasal, dan kedua, kita rahasiain ini dari semua orang, biarin kita lihat apa yang sebenarnya Gaby mau dari keluarga kita, atau memang ternyata Gaby benar - benar tidak mengetahui siapa papah sebenarnya, dan nggak ada niat apapun buat keluarga ini, cuma bener - bener mau minta pertanggung jawaban Nabil." Adzril hanya bisa menatap sang ayah dengan sedih kali ini, karena kedua pilihan ini, bagaimanapun hasilnya akan sama, jikalaupun Gaby tidak ada niatan untuk menghancurkan keluarga ini, tetap saja, keluarga Daren tidak akan baik - baik saja.


"Hasilnya akan tetap sama pah, hanya waktu saja yang membedakan." Adzril hanya bisa pasrah dan kembali mengadahkan wajahnya menatap langit ruangan ini dengan tatapan kosong.


"Kedua pilihan itu sama - sama menyakiti mamah dan Nabil." Lanjut Adzril dengan menghela nafas lelahnya.


"Saya setuju dengan Adzril, pak... dan nggak ada salahnya kita nggak ngerahasiain ini dari semua anggota keluarga Pak Daren." Ujar Vino dengan menatap Daren.


"Tapi bagaimana dengan Nabil, dia aja ngga ingat apa..."


"Dia udah inget semuanya, pah!" Daren dan Vino sama - sama menatap kaget akan pernyataan yang baru saja Adzril ucapkan.


"Kamu serius?" Tanya Daren memastikan dengan raut yang masih kaget.


"Ya... Adzril serius!" Tukas Adzril dengan yakin. "Dan hal ini cuma Adzril dan Nabil sendri yang tahu. Salah satu alasn kenapa Nabil menutupi ini dari papah sama Mamah, karen Nabil masih ingin tersenyum dan ketawa bareng papah tanpa dibayangi kesalahan fatal Nabil. Dan yang kedua, sama seperti yang saat ini sedang papah lakuin, Nabil lagi cari semua hal tentang Gaby, karena Nabil sendiri udah punya seseorang yang sangat Nabil cintai, dan itu bukan Veranda maupun Gaby."


"Sejak kapan?" Hanya itu kalimat yang hanya bisa ucapkan.


"Beberapa hari yang lalu, Adzril, Nabil, Veranda sama Gaby pergi jalan - jalan, trus Adzril ceritain sebuah hal yang Adzril harap bisa mancing ingatan Nabil biar kembali, dan ternyata hal itu berhasil. walaupun yang buat Nabil ingat bukan cerita dari Adzril, tapi ternyata semua cerita yang Adzril ceritain ke Nabil, mampu buat mancing ingatan Nabil untuk mengingat satu nama yang ternyata berpengaruh besar pada Nabil." Tutur Adzril yang kali ini entah Daren harus bersikap seperti apa.


"Papah udah berdamai dengan semua yang pernah Nabil lakuin, bahkan papah udah gak inget kapan terakhir kali bentak Nabil karena ulah ajaibnya. hemh..." Daren hanya tersenyum kecewa pada sikap dirinya dulu saat tak sama sekali memperdulikan Nabil disata Nabil benar - benar membutuhkan sosok yang bisa membawa Nabil dari lorong hitam.


"Iya, sikap ajaibnya... karna yang selalu papah lihat adalah semua kesalahan Adzril, dan selalu Adzril yang pertama kali papah salahin atas apapun yang terjadi entah itu pada Nabil maupun pada diri Adzril sendiri. Dan untungnya Adzril mengerti, semua yang papah lakuin ke Adzril adalah bentuk kasih sayang papah pada Adzril yang beda dengan bentuk kasih sayang papah pada Nabil. Apa papah inget, bagaimana papah benar - benar marah karena Adzril matahin tangan anak orang dan membuat masalah dengan kepala sekolah Nabil. Lalu papah bandingkan ketika papah mengetahui Nabil ternyata make narkoba? Disitulah papah sadar kalo ternyata bentuk papah mendidik Adzril ternyata berhasil, kan? Semua tempaan fisik yang papah beri buat Adzril, itu semua agar Adzril yang papah dan mamah tunjuk sebagai seorang kakak bisa lebih bertanggung jawab atas Nabil, Kan?" Tumpah sudah semua uneg - uneg yang selama ini Adzril simpan dalam hatinya saja, dan ternyata inilah yang membuat Adzril selalu keras kepla ketika berdebat dengan Daren, Adzril selalu mempunyai Jawab atas semua argumen yang Daren buat, dan memang seperti itulah yang Daren mau, ketika Adzril memang tidak bersalah, maka Adzril harus bisa membuktikan semuanya hingga Daren merasa puas akan jawaban Adzril.


"Bahkan ketika Nabil yang bersalah, Adzril harus siap menanggung semua tanggung jawab yang harusnya menjadi tanggung jawab Nabil untuk menghadapai papah, Adzril selalu siap, karena papah tahu, Adzril dan Nabil adalah satu detak jantung yang sama. Dengan papah menyakiti raga Adzril, itulah bentuk hukuman untuk Nabil, karena papah tahu, Nabil nggak pernah mau melihat Adzril terus di siksa sama papah, dan ujungnya Nabil berfikir ketika ingin melakukan sebuah kesalahan, karena Nabil tahu, kalo Adzril lah yang akan menghdapi amarah papah, meskipun sepenuhnya kesalahan Nabil."


Daren hanya bisa menatap sedih pada Adzril yang memang semua yang Adzril tumpahkan dari hati yang paling dalam ini semuanya benar, sesuai dengan apa yang Daren inginkan selam ini. Sedangkan Vino yang berada diantara Ayah dan Anak yang tengah saling berkeluh kesah ini hanya bisa menatap kagum pada Adzril yang ternyata sudah dipaksa bersikap Dewasa dari awal.


"Papah hanya bisa minta maaf sama kamu, kak! Nggak ada yang bisa papah ubah dari semua masa lalu pahit kakak..." Lirih Daren yang ternyata kini pertama kalinya Adzril lihat menangis dari sosok yang Adzril anggap paling kuat selama ini di dalam keluarganya.


"Satu hal yang harus papah tahu, Adzril nggak pernah sekalipun menyalahkan papah, karena memang seperti itulah bentuk papa menata keluarga ini." Tegas Adzril dengan menatap sang Ayah dan mengisyatratkan jika Adzril memang tidak pernam mempermasalahkan semuanya selama ini. Meski Adzril harus merasakan rasa sakit pada fisiknya, namun Adzril akan sangat tersiksa ketika dirinya melihat Nabil yang harus berada di posisinya.


"Aduh... udah kalian selesakan saja permasalahan internal kalian, anggap saja saya patung disini." Sarkas Vino dengan mengalihkan tatapannya kemanapun asal bukan menatap salah satu antara Adzril ataupun Daren.


"Ohiya gue jadi lupa, ternyata disini ada CCTV berjalan." Adzril yang tersadar akan kehadiran Vino kini mulai menyusut Airmatanya yang entah sejak kapan turun mengalir di kedua pipinya, begitupun Daren.


"Jadi bagaimana, Pak?" Tanya Vino kembali dengan menatap Daren yang ternyata belum mempunyai jawaban sama sekali, bahkan untuk pertama kalinya, kini Daren berharap Adzril mempunyai jawaban yang bisa Daren setujui.


"Papah serahin semuanya sama, Kakak! Apapun jawaban Adzril, akan papah ikutin semuanya." Tegas Daren dengan menatap yakin pada Adzril.


"Gini, Adzril akan kasih tau hal ini pada Nabil, dan seterusnya biar Nabil melakukan hal untuk keluar dari masalah ini sendiri, untuk urusan mamah, Adzril lebih percaya sama Papah, krena selain Nabil, hanya papah yang bisa tentang hal ini." Usul Adzril yang langsung Daren setujui, sesuai dengan apa janjinya sebelumnya.


"Mungkin papah akan bicarain ini sama mamah nanti, papah akan lihat dulu apa yang akan Nabil lakukan untuk keluar dari masalah ini." Balas Daren yang juga diangguki oleh Adzril.

__ADS_1


"Berarti tugas saya selesai sampai disini..."


"Gada! Enak aja, Loe!" Potong Adzril tegas, Vino pun kini menatap lemas pada Adzril.


"Gue ada tugas baru buat loe, bantu gue sama Nabil buat jaga cewek yang bernama Naomi! Kemarin gue liat Key udah mulai makin gila buat bener - bener hancurin hubungan Nabil sama Naomi." Ujar Adzril yang semakin membuat Vino semakin lemas. Pasanlnya, Vino sendiri tahu siapa Keynal, dan bagaimana keluarganya yang sangat memanjakan Key dan pasti akan melakukan apapun kemauan Key, contohnya memanipulasi hasil tes DNA antara Nabil dan Gaby, Vino tau hal itu, hanya saja Vino tidak mempunyai bukti kuat untuk mempermasalahkan hal ini, jadi dihadapan Daren dan Adzril, Vino hanya berpura - pura menarik kesimpulan yang masih diragukan, padahal Vino sendiri benar - benar tahu tentang hal ini.


"Pak Daren, apa Bapak nggak ada kenalan seorang yang bisa penjaga dari jarak jauh gitu, saya sepertinya merasa sedikit keberatan untuk tugas kali ini." Tanya Vino dengan wajah memlasnya menatap Daren yang kini sedikit tersenyum menatap Vino.


"Lho, kan yang kasih kamu tugas bukan saya kali ini? Coba kamu tanya sama Adzril, mau apa nggak dia pake jasa orang lain." Daren tak sama sekali memberikan solusi untuk Vino.


"Ya Tuhan... Dzril, ah! Males banget gue kalo harus berhadapan sama, Key! Dia itu sama gilanya kayak loe, tau gak?" Vino masih berusaha memelas pada Adzril.


"Gue bilang jagain lho, Vin! Kagak nyuruh loe buat berantem sama Key! Kalo puan ada satu momen yang harus ada kontak fisik sama Key, loe tenang aja Gue sama Nabil yang akan turun langsung buat hadepin Key!" Tutur Adzril dengan tegas. Vino yang mengetahui bagaimana keras kepalanya Adzril hanya bisa pasrah dan mengikuti semua kemauan Adzril.


"Gue bayar dua kali lipat dari biasanya..."


"Bukan masalah duit, nyet! Loe tau siapa Keynal nggak, sih?" Potong Vino dengan menatap Adzril dengan kesal.


"Karena gue nggak tahu siapa Key, makanya gue nyuruh loe yang tahu siapa Keynal!" Tegas Adzril yang sekaligus mengultimatum semua sanggahan Vino yang akhirnya benar - benar pasrah akan perintah Adzril.


"Pak Daren, saya boleh gak buat pukul anak Bapak yang satu ini?" Tanya Vino yang membuat Daren tertawa mendengar pertanyaan Vino yang tak masuk akal itu.


"Hahahaha... Silahkan, tapi kalo ternyata kamu yang babak belur, saya tidak bertanggung jawab." Ujar Daren disela tawanya yang mengetahui bagaimana brutalnya Adzril jika berantem dengan seseorang.


"Nggak jadi deh, dulu aja gelas yang nggak tahu apa - apa hampir mendarat mulus di kepala saya." Balas Vino mengurungkan niatnya, sedangkan Adzril hanya tersenyum miring menatap Vino, sedangka Daren tak berhenti tertawa melihat bagaimana interaksi antara Vino dan Adzril. Vino memang ahli dalam mencari identitas atau pun seluk beluk tentang seseorang, tapi jika soal bertarung, tentu saja Vino kalah jauh dibandingkan Adzril yang memang dari kecil di didik keras oleh sang Ayah.


"Yasudah, kalau begitu saya pamit, Pak." Vino berdiri dan mengulurkan tangannya pada Daren berniat untuk bersalaman dan berpamitan pada Daren. Darenpun menyambut tangan Vino dengan berdiri dari duduknya begitupun dengan Adzril yang mengikuti Vino dan langsung mengangkat tangannya untuk bersalamn dengan Vino, namun Vino hanya mengabaikan Adzril dan berlalu begitu saja.


"Oiya... saya pamit 'Tuan Muda Adzrilia Putra'." Pamit Vino dengan menatap tajam Adzril dan menekankan kata - kata diakhir kalimatnya. Adzril yang jahilpun kembali menatap tajam Vino dan langsung berlari dengan membawa vas bunga yang seperti akan langsung dilemparkan ke kepala Vino, sontak Vino pun langsung buru - buru membuka pintu dan lari keluar dengan langsung menutup pintunya dari luar.


Adzril dan Daren tertawa melihat bagaimana paniknya Vino ketika Adzril yang tiba - tiba berlari kearahnya.


"Kamu tahu siapa Vino sebenarnya?" Tanya Daren tiba - tiba disela tawanya, soantak Adzrilpun menghentikan tawanya dan menaruh kembal vas bunga di meja kerja Daren.


"Dia itu anak dari sebuah panti asuhan, papah yang lihat dia lebih cerdas dari anak lainnya tertarik untuk menanggung semua biaya sekolahnya yang terputus, hingga sampai dia kuliah papah kasih dia tugas buat jagain kalian, dan entah bagaimana kamu bisa suruh dia buat mata - matain Nabil disaat dia papah tugasin buat jaga kalian berdua." Tutur Daren yang sedikit membuat Adzril terkejut, pasalnya ia juga kenal Vino dari Nando ketika Nando memberitahu bagaimana liarnya Nabil tanpa pengawasan Adzril, dan saat itu, Nando mengenalkan Vino dan menyarankan Adzril untuk memakai jasa nya untuk memata - matai Nabil.


"Adzril kenal Vino dari salah satu temannya Nabil di SMA dulu, Pah. Dan Adzril nggak tertarik buat telusuri lebih dalam lagi tentang Vino, toh Nabil cuma minta ngawasin Nabil dari jauh, karena kata temannya Nabil yang bernama Nando, Vino ini pinter buat mata - matain orang dan cari identitas seseorang." Ujar Adzril dengan menaruh telunjuk didagunya dengan mengingat bagaimana dirinya pertama kali kenal dengan Vino.


"Tunggu! Jangan bilang di juga anak papah dari seling..."


"Papah tampar kamu yah ngomong sembarangan!" Potong Daren dengan menatap tajam Adzril yang kini hanya menampakan deretan gigi puthnya tanpa merasa bersalah sedikitpun dan langsung ngibrit dari ruangan itu menuju ruang tamu yang ternyata hanya tinggal Gaby sendiri disana.


"Lho, Bumil? Dua makhluk jin yang tadi pagi berantem gara - gara game, pada kemana?" Tanya Adzril yang tak Gaby sadari entah darimana datangnya.


"Lagi disuruh mamah buat ke mini market buat beli bahan bikin kue." Sahut Gaby dengan kembali fokus pada smartphone nya yang terlihat tengah memilih sebuah jam tangan lelaki.


"Bikin kue?" Gumam Adzril yang kini ikut fokus pada layar smartphone Gaby, sontak Gaby yang menyadari Adzril tepat di belakangnya sedikit gusar dengan posisi sedekat ini.


"Eh, bagus tuh, nih yang ini..." Usul Adzril dengan menunjuk sebuah jam couple.


"Ini, kak?" Tanya Gaby memastikan dengan memperbesar poto produk.

__ADS_1


"Iya, cocok banget buat loe, sama Nabil. tapi BTW, kalo Nabil inget semuany, dia nggak suka sama jam tangan dah, Gab. mending loe kalo mau kasih hadiah buat Nabil, jangan jam tangan deh. Nabil itu sukanya kalo dikasih baju, atau sweater gitu." Tutur Adzril yang membuat Gaby terlihat berfikir akan usul calon kakak iparnya.


"Serius, kak?" Tanya Gaby memastikan, karen jujur Gaby sendiri sekarang bingung untuk memberikan hadiah apa untuk ulang tahun Nabil.


"Serius, dulu aja, ada om gue ngasih jam bagus banget buat gue sama Nabil, tapi Nabil sendiri gk mau sama jam itu, akhirnya ya gitu, bukannya di pake, malah jadi kayak benda sejarah, d taro di lemari dan nggak sama sekali di sentuh. kadang sesekali gue pake." Ujar Adzril jujur dan kini duduk disamping Gaby dengan merapatkan tubuhnya tanpa beban apapun, berbeda dengan Gaby yang merasa kurang nyaman dengan situasi seperti ini.


"Emang, ada acara apaan sih, Nabil beli bahan buat kue, loe nyari hadiah.... ANJ.... Besok ultah gue sama dia ternyata." Pekik Adzril dengan menepuk keras jidatnya sendiri, bisa - bisanya dia lupa ulang tahunnya sendiri.


"Kak... mumpung cuma kita berdua nih, gue minta maaf banget, gue cuma bisa beli hadiah buat Nabil aja, kak. Tabungan gue yang sering ayah kirim udah mau abis, trus ayah juga belom ngasih lagi, gue gak tau kenapa, biasanya kalo mendekati bayaran SPP, ayah suka ngasih, tapi sekarang gak tau, Apa mungkin ayah tau kali yah kalo gue udah nggak sekolah?" Tutur Gaby yang membuat Adzril tiba - tiba merasa Iba pada gadis disampingnya ini, andai saja Gaby tidak terikat tali persaudaraan karena kesalahan Ayahnya, Adzril akan sangat bisa menyayangi Gaby seperti adiknya sendiri.


"Ya Tuhan... Gadis sebaik ini, apa pantas menanggung beban seberat ini, Gab... gue mohon, loe tunjukin jati diri loe yang sebenarnya, gue nggak bisa terus ngerasa Iba sama loe yang sebenarnya hanya sebuah benalu di keluarga ini." Benak Adzril dengan sangat lirih, Adzril sendiri kini merasa bimbang, Apakah benar, Gaby disini akan menjadi sebuah benalu.


"Gab, gue nggak pernah mengharapkan hadiah apapun dari orang lain ketika gue ulang tahun, atau apalah itu, cukup loe doain yang baik - baik aja, itu udah jadi hadiah yang nggak terkira harganya menurut gue, Gab! Begitupun Nabil, dia orang yang paling nggak bisa menerima sesuatu dari seseorang seperti loe, yang maksain banget buat gimanapun caranya bisa ngasih hadiah buat Nabil." Tutur Adzril yang sukses membat mata Gaby berkaca - kaca akan bagaimana sikap Adzril yang dari awal paling Care dan respack pada Gaby.


Tiba - tiba, smartphone milik Adzril yang terletak di meja depannya berbunyi dan menampakan Nama Nabil disana.


"Hallo, kenapa?" Sapa Adzril.


"Gue sama Ve, kayaknya agak lamaan nih, gue sekalian makan di luar bareng istri loe, boleh gak?"  Suara Nabil disebrang sana terdengar juga oleh Gaby yang dengan sengaja men-Loudspeeker  panggilannya bersama Nabil.


"Iyaudah, gapapa, nanti gue makan di rumah aja." Jawab Adzril tanpa memperotes sedikitpun yang padahal dalam hatinya ia sedikit khawatir, karena Nabil yang saat ini bersama Ve adalah diri Nabil yang dulu pernah memiliki perasaan sayang yang berlebih pada Veranda.


"Yaudah, tahnks, Kak!" Balas Nabil dengan langsung menutup telfonnya.


Sedangkan disisi lain, Nabil dan Ve yang kini telah berada di samping mobilnya bersama Ve, baru saja terlihat memutuskan sambungan telfonnya.


"Serius dah, Bil! Gue lagi males banget lho makan diluar." Veranda kembali merengek pada Nabil yang kini menatap Veranda dengan tatapan malas.


"Kita ngobrol di Mobil aja..." Nabil yang tanpa berkata apa - apa lagi langsung masuk kedalam mobilnya dan duduk dibalik kemudi. sedangkan Ve yang kali ini dengan pasrah mengikuti kemaun Nabil yang mengajaknya untuk makan diluar.


Setalah Ve duduk disamping Nabil dengan raut wajah kesalnya, Nabil menjalankan Mobilnya dengan kecepatan yang rendah.


"Kak Ve... loe sadar gak sih, ketika Gaby membahas dunianya tentang Knowhere, disitu gue jadi orang paling bingung, karena diantara kita, termasuk keluarga Gue, gue sendiri yang nggak tahu cerita Gaby tentang bagaimana dia bisa hamil sama Gue.


Ve yang tengah Asik menikmati jalanan yang sedikit padat, sontak langsung menatap Nabil ketika memanggilnya dengan panggilan 'Kak', dan yang Ve tahu, kenapa Nabil memanggilnya seperti itu, agar Nabil selalu sadar dan ingat, siapa Veranda dan harus bersikap seperti apa Nabil pada Veranda.


"Loe yakin, mau dengerin cerita itu sampe abis?" Tanya Veranda meyakinkan dan mencoba msedikit mengesampingkan kecurigaannya pada Nabil yang sudah ingat semuanya.


"Intinya aja..." Pinta Nabil dengan mendapat jawaban anggukan dari Ve.


Veranda pun menceritakan ulang apa yang pernah Gaby ceritakan padanya pada saat hari dimana Nabil kembali tersadar setelah tiga bulan lamanya terbaring koma bersama Keynal. Nabil sendiri hanya tersenyum dan mengerutkan dahinya saat Veranda menceritakan bagaimana Veranda, Kinal dan Naomi dalam cerita Gaby, namun Nabil hanya bisa diam tanpa bertanya, karena kini sedikit perkiraan Nabil tahu dimana Ending cerita ini. Kembali Nabil dibuat terkejut, saat Ve menceritakan pertemuan antara Guru yang bernama sama dengan mamahnya sendiri, dan disitu erna memergoki Adzril tengah mengkonsumsi obat - obatan terlarang, dan kerna itulah alasan mengapa Nabil dan Adzril tinggal terpisah dengan Erna. Hingga sampailah pada ujung cerita diman Nabil yang tiba - tiba menghilang saat setelah melakukan sesuatu yang 'katanya' bisa membuka gerbang jalan keluar dirinya dan Key.


"Loe sadar gak?" Tanya Nabil setelah Ve berhenti menceritakan bagaimana dirinya dalam cerita mimpi Gaby.


"Yang Gaby panggil Nabil di mimpi itu, itu tuh lebih ke sifat Adzril, sedangakan Gue yang sebenarnya, adalah dia yang Gaby panggil Adzril."


Veranda pun yang sebelumnya berfikir dan mengingat bagaimana sosok Nabil dalam cerita tadi, kini tersadar dan membenarkan pernyataan Nabil.


"Jadi sebenarnya yang Gaby suka itu Adzril menurut, loe?" Tanya Ve dengan ragu.


TBC

__ADS_1


__ADS_2