
"Loe salah, Key! Loe yang gue benci, bukan Nabil! Gue udah tau semuanya!"
"Apa yang loe tau?" Key membalas pertanyaan gadis yang sedari tadi mendengar dan menyimak semua obrolan antara Key dan Nando.
"Tentang giamana Gaby bisa hamil, bukan sama Nabil..." Ujar Gadis itu yang kini berdiri dihadapan Key dengan tatapan sangat tajam. Namun Key masih menatap Gadis itu tak kalah menantangnya.
"Terus siapa disini yang bisa disalahin secara logika, sedangkan loe liat sendiri gimana in..."
Plak
Naomi tiba - tiba menampar Key dengan sangat keras hingga meninggalkan bekas merah dipipi Key, namun bukannya marah, Key malah tersenyum dan kembali menatap Gadis yang tak lain adalah Naomi.
"LOE, KEY! SATU SATUNYA ORANG YANG HARUS DISALAHIN ATAS KEHAMILAN GABY, YAITU ELO!" Teriak Nomi dihadapan Key, dengan kini airmata yang sedari tadi Naomi tahan, namun akhirnya lolos juga.
"Yang tidurin Gaby itu Nabil, Mi! Bukan Gue, gimana loe bisa berasumsi kalo gue yang hamilin Gaby? Bahkan Gaby sendiri yang bilang, itu anaknya Nabil." Ujar Key yang kini terheran menatap Naomi.
"Mereka mungkin nggak ada yang tau, tapi gue tau, Key! Semuanya, gimana Gaby bisa tiba - tiba sekamar dengan Nabil, gimana Gaby bisa sama - sama telanjang dengan Nabil, dan semua skenario loe dan Gaby tentang dunia mimipi yang semuanya its a fuckin bullshit! Gue tau semuanya, Key!" Jawab Naomi yang kembali berapi, dan mengacak rambutnya sendiri, bahkan dengan keras Naomi menepis lengan Key yang hendak menggenggamnya.
"Semuanya nggak bohong, Mi! Bahkan, bukti jelas udah keluar, hasil tes DNA mereka berdua cocok..."
"Itu yang belum gue tau, sejauh mana rencana gila kalian, dan gue berharap sebentar lagi gue akan tau semuanya." Potong Naomi yang berjalan mundur perlahan saat Key berdiri untuk berdiri dan memeluk Naomi, namun jangankan untuk dipeluk, bahkan sedikit saja Key menyentuhnya, rasanya sudah sangat tak Sudi bagi Naomi.
"Nggak ada yang harus loe cari tau, Mi! karena kenyataannya yang ada dalam rahim Gaby itu bayinya Nabil, andai semua yang gue bilang semuanya hanya kebohongan, bahkan loe nggak bisa mengubah takdir yang udah tertulis. Nggak ada lagi kesempatan buat loe bisa bersama - sama Nabil. Bahkan Nabil aja nggak inget siapa Loe, Mi!" Tutur Key yang semakin membuat Nomi terisak, namun masih berjalan Mundur dengan perlahan, Karena Key juga semakin mendekati Naomi, hingga tanpa sadar kini dibelakang Naomi terdapat sebuah poshon yang harus dengan terpaksa menahan langkah Naomi, hingga Key menahan Naomi dengan sebelah tangannya.
"Kenapa loe dulu relain gue sama Nabil, kalo harus begini akhirnya, Key?" Tanya Naomi yang masih terisak, Key tersenyum mendengar pertanyaan Naomi, dan dengan lancangnya tangan kirinya yang bebas kini terangkat dan mengusap lembut pipi Naomi yang kini sudah basah karena airmata yang sedaritadi tak berhenti.
Dengan sengaja Key mendekatkan wajahnya pada Naomi namun saat semakin mendekat, Naomi memalingkan mukasnya hingaa bibir Key mendekat pada telinga Naomi.
"Gue nggak pernah relain loe, buat siapapun, Mi!" Bisik Key dengan sedikit mengecup telinga Naomi dan kembali memundurkan wajahnya.
"Takdir tertulis, Tuhan ciptain makhluk sesempurna loe, cuma buat nemenin gue sampai kita sama - sama pergi ke dunia yang selanjutnya, Mi!" Tutur Key yang kini mundur selangkah kebelakang dan memasukan kedua lengannya kedalam saku celananya.
"Cukup, Key! gue nggak bisa benci lagi loe lebih dari ini. Cukup, udahin semua permainan yang loe sama Gaby, mulai, Key!" Pinta Naomi dengan tatapan yang sangat memohon.
"Karena itu, loe buka pintu hati loe buat Gue, Mi! Gue bener - bener sayang sam..."
"Ini udah bukan lagi perasaan sayang, Key! Ini udah jadi sebuah obsesi yang nggak bisa loe kendaliin, apa loe siap liat gue tertekan karena terpaksa mencintai loe, apa loe mau miliki gue karena gue terpaksa? Apa itu yang dinamakan cinta?" Tanya Naomi yang kembali menjawab dengan amarah dan perasaan kecewa menatap Key yang sudah ia anggap sebagai sosok kakak yang bisa selalu melindungi Naomi.
"Gue selalu nahan diri untuk lakuin hal ini, Mi... maafin gue." Ujar Key tiba - tiba mengambil sebuah saputangan dari dalam sakunya dan langsung membekam Naomi dan seketika itu juga Naomi berusaha berontak namun semakin lama, tenaganya perlahan menghilang bersamaan dengan kesadarannya juga yang menghilang.
"Maafin gue, Mi..." Gumam Key dengan menatap Naomi yang kini sudah tak sadar dalam pangkuan Key yang kini membawa Naomi menuju mobil yang sebelumnya Key kendarai.
***
Sedangkan ditempat lain, terlihat dilorong rumah sakit Adzril, Ve dan Gaby tengah sama - sama menunggu dengan tatapan khawtir pada sebuah pintu yangkini terbuka dari dalam dan menampakan seorang dokter.
"Adzril..." panggil dokter itu yang ternyata sangat mengenal Adzril.
"Gimana keadaan Nabil, Dok?" Tanya Adzril sepontan menghampir dokter itu, juga diikuti Ve dan Gaby.
"Nabil gapapa, kalian nggak usah khawatir, Nabil cuma pingsan biasa karena maksain otaknya berfikir lebih. Jadi saya saranin jangan terlalu maksain Nabil buat nginget semuanya, Ya... terlebih memaksa Nabil mengingat hal yang nggak pernah Nabil inginkan buat diingat, entah itu trauma, atau kejadian yang sangat menyakiti hati Nabil. Karena hal seperti itu akan sangat membuat Nabil merasakan sakit yang luar biasa pada otaknya. Memang, pada umumnya orang - orang yang mengalami amnesia bisa cepat sembuh saat ia bisa mengingat hal terburuk dalam hidupnya, tapi hal itu akan sangat menyakiti Nabil." Tutur Dokter itu yang sedikit membuat ketiganya bisa sedikit bernafas lega.
__ADS_1
"Oiya, Dok... Kalo saya liat di tivi atau dalam film - film gitu, bukannya orang amnesia bisa sembuh kalo dipukul kepalanya, Ya?" Tanya Adzril dengan konyolnya, sontak Ve dan Gaby menatap Adzril dengan tajam, namun sang Dokter hanya tersenyum menatap Adzril yang masih dengan wajah penasarannya.
"Tanggung, kamu tusuk aja langsung dadanya, kasian Nabil harus nahan rasa sakit dulu kalo kamu pukul kepalanya." Ujar Dokter itu yang membuat Adzril semakin penasaran.
"Begini Adzril, kepala itu salah satu oragan vital manusia, salah satunya Syaraf yang menghubungkan dari satu organ kepala kebagian organ penting lainnya, Kalo kamu pukul kepala Nabil, itu bisa membuat Nabil mengalami luka serius, contohnya mungkin langsung terkena stroke, bahkan bisa saja mengalami kemtian. Yang kamu lihat itu skenario film, Adzril! dan orang yang sembuh itu, dia nggak bener - bener amnesia, memang ada beberapa yang berhasil sembuh karena itu tanpa disengaja, tapi perbandingannya 1:1.000.000, kurang lebih." Tutur sang dokter yang meskipun tidak begitu Adzril fahami, namun Adzril menganggukinya seolah ia sangat mengerti apa yang dokter itu jelaskan pada Adzril.
"Faham?" Tanya sang Dokter.
"Eheee... nggak." Balas Adzril dengan cengiran bodohnya dan menggaruk kepala belakangnya.
Sontak, Ve dan Gaby sama sama menepuk jidatnya masing - masing, sedangkan sang dokter kini bingung harus menjelaskannya seperti apa agar Adzril mengerti.
"Intinya gini, Kamu jangan sekali - kali coba buat pukul kepala Nabil biar Nabil bisa sembuh, karena itu bisa membunuh Nabil." Tutur Dokter itu lagi dan Kini Adzril mungkin memahaminya.
"Nah dari tadi gitu kek, Dok... saya ngerti banget kalo dokter gitu bilangnya, pake segala bawa - bawa organ tunggal, saya nggak ngerti sa..."
"Udah cukup, maaf yah dok, orang ini emang otaknya agak setengah minus, sama kayak akhlaknya." Potong Ve dan langsung meninggalkan dokter itu untuk menemui Nabil yang ternyata sudah tersadar.
"Kak, Adzril, Kak Ve, gue kenapa bisa ada disini?" Tanya Nabil yang membuat Ve dan Adzril saling menatap satu sama lain dengan tatapan terkejutnya.
"Loe udah inget semuanya?" Tanya Adzril dan Ve bersamaan dengan raut wajah terkejutnya, sedangkan Gaby hanya bisa mematung menatap bagaimana reaksi Adzril dan Ve.
"Inget? inget apaan?" Tanya Nabil yang bingung menatap kakak kandung dan calon kakak iparnya.
"Gue siapa?" Tanya Adzril memastikan.
"Loe kan kembaran gue? Loe kenapa sih? Aneh banget." Tanya Nabil semakin bingung melihat kakaknya.
"Ini siapa?" lagi, Nabil mengerutkan keningnya melihat tingkah Nabil bertanya dengan menunjuk Ve.
"Loe udah inget semuanya? tentang diri loe dimasa lalu?" Tanya Adzril memastikan, Gaby yang mendengar pertanyaan itu semakin bungkam menatap sosok Nabil yang sedari tadi mengabaikannya, seolah diruangan itu hanya ada Nabil, Ve dan Adzril.
"Loe kenap sih? Gab, sayang... mereka salah minum obat apa gimana sih?" Tanya Nabil yang sukses membuat Gaby kini ikut bingung menatap Nabil.
"Malah ikut - ikutan heran, loe bertiga kenapa sih? gue cuma nanya dan pengen tau, perasaan tadi gue cuma lagi duduk - duduk biasa doang sama loe diatas batu, kenapa gue tiba - tiba bisa ada disin? loe malah nanya balik, ingat - inget ingat - inget, inget apaan, yang gue inget kita gagal nikah tahun ini gara gara pacar gue hamil duluan, dan gobloknya gue malah gak inget apa - apa ." Tutur Nabil dengan kesal menatap Adzril.
Raut wajah yang tadinya terlihat Kaget, kini berubah biasa aja ketika Nabil mengatakan secara langsung bahwa dirinya masih Nabil yang mengingat hanya sampai sebatas ketika Nabil sadar setelah koma.
"Lagian, apa loe siap, ketika ingatan gue kembali, itu berarti loe ketemu sama Nabil yang menyimpan perasaan sama Ve!?" Lanjut Nabil yang langsung membuat Adzril dan Ve bungkam saat itu juga.
Gaby yang kini bisa bernafas dengan lega, menghampiri Nabil dari sisi yang berlawanan dengan Ve dan Adzril.
"Tadi apa kamu bilang, aku ingin denger sekali lagi, Bil!" Ujar Gaby yang kini bergelayut manja pada tangan Nabil yang tidak dipasang alat medis apapun, karena dokter pun sudah memberitahu, jika Nabil memang hanya mengalmi pingsan biasa.
"Apaan lagi sih, Gab? Udah deh, gausah aneh aneh, masih pusing ini pala gue." Ujar Nabil dengn kesal, ditambah kepalanya yang sedikit kembali merasa pusing.
"Itu loh, yang pas kamu tanya apa mereka salah minum obat..." Ujar Gaby kembali yang kekeh ingin Nabil memanggilnya dengan panggilan 'sayang'. Nabil sedikit berfikir untuk mengingat apa yang Gaby maksud, hingga dirinya mengingat, sebelumnya meamnggil Gaby dengan tambahan kata 'sayang'.
"Ya udh sih, loe kan emang kesayangan gue, ngapain juga loe permasalahin." tanya Nabil yang sukses membuat pipi Gaby memerah karena perkataannya.
"Inget... belom nikah loe pada..." Celetuk Adzril tiba -tiba.
__ADS_1
"Anggap aja udah, toh udah jelas gue pasti akan nikah sama Gaby." Lanjut Nabil yang semakin Gaby mengeratkan pelukan pada lengan Nabil dan menyembunyikan raut wajah malu nya.
"Kecuali loe berdua, buru Dzril... ikutin lang..."
"Loe terusin tuh bacotan, gue gebuk dada loe sampe bunyi 'dug'!" Ancam Adzril dengan mata yang membulat sempurna menatap Nabil.
"Iya udah, oke - oke... sorry gue salah ngomong, sorry!" Ujar Nabil dengan menatap Ve.
"Udah udah, balik aja, yuk... loe juga nggak perlu dirawat kata dokter juga." Usul Ve yang merasakan kecanggungan antara Nabil dan Adzril.
"Yaudah yuk, udah sore juga, mamah juga udah nelpon terus nih dari tadi." Ujar Gaby menyetujui usul Ve dan mengajak Ve keluar terlebih dahulu bersamanya.
"Dzril, bantuin gue berdiri.." Rengek Nabil dengan mengulurkan tangannya.
"Yang sakit kepala loe, bukan kaki!" Gertu Adzril namun tetap membantu Nabil dengan menariknya perlahan dan merangkul pundaknya agar Nabil tidak terjatuh saat berjalan.
"Sorry, ya Kak! Gue kelewatan tadi bercandanya." Ujar Nabil dengan tulus, karena ia merasa memang ucapannya tidak pantas ia ucapkan pada kakaknya sendiri.
"Jangan gitu lagi yah, apalagi didepan, Ve. Ucapan loe tadi itu sama saja seolah gue nggak percaya sama, Ve. Mungkin gue akan ketawa tadi kalo Ve nggak ada di samping Gue, karena gue tau loe bercandanya emang suka aneh - aneh... Ve gadis yang baik, Bil... sorry, gue nggak bermaksud bilang gitu seolah - olah Gaby bukan gadis yang baik, gue yakin, Gaby juga gadis yang baik, cuma keadaan yang buat Ve dan Gaby berbeda dari persvektif sebagian orang." Tutur Adzril yang tidak bisa Nabil bantah lagi.
"Karena itu, gue minta maaf yang sedalam - dalamnya dari lubuk hati Gue..."
"Udah, gue ngak apa - apa, tapi loe harus minta maaf sama Ve, Ve emang kenal loe dengan baik, gimana cara loe bercanda, gimana ngeselinnya loe kalo nyeletuk, tapi Ve juga punya perasaan yang bisa tersinggung, nanti loe minta maaf yang bener ya, sama Ve." pinta Adzril yang langsung diangguki oleh Nabil.
Sesampainya diparkiran terlihat Gaby dan Ve tengah dihadang seseorang yang sepertinya Adzril kenal juga, saat tersadar siapa yang sedang menghada Gaby dan Ve, sontak adzrilpun menajam kan tatapanya.
"Bisa agak cepet gak jalannya?" Tanya Adzril yang membuat Nabil terheran, namun tanpa bantahan Nabil mengikuti langkah Adzril yang semakin cepat hinga kini keduanya telah dekat dengan Ve dan Gaby.
"Ngapain loe?" Tanya Adzril yang langsung mengeluarkan aura amarahnya yang sangat besar.
"Akhirnya gue ketemu juga sama loe berdua... gue mau bicara sama kalian, ada..."
"Apa? loe mau ngomong apa sama Gue? Blom cukup loe buat adek gue hampir mati? Belum cukup loe buat dia nggak bisa inget apa - apa?" Tanya Adzril yang kini sudah tepat berada didepan orang yang tak lain adalah Nando.
"Untuk itu, Dzril... Nabil, gue mau minta maaf sama loe, dari lubuk hati gue yang paling dalam, kalo sekarang loe mau bales semua perbuatan gue waktu itu, bahkan jika loe pengen gue mati sekarang, gue ikhlas bil, silahkan loe pukul gue, tapi hanya satu permintaan Gue, loe inget siapa Naomi, loe inget siapa yang pernah jadi alesan loe ketawa, dan siapa yang bawa loe lepas dari perasaan gadis yang juga kembaran loe sayangi, meskipun Naomi pernah bikin loe sakit hati karena ucapannya, itu karena Naomi salah faham, dan sekar..."
"Loe yang namanya Nando?" Potong Nabil dengan menatap Nando entah dengan ekspresi apa.
"Iya, Gue nando, orang yang pernah hampir bunuh loe karena gue nggak terima loe nyakitin cewek yang sama - sama gue, loe sama Keynal sanyang." ujar Nando.
"Satu - satunya yang bakal gue lakuin sama loe, gue cuma... gue mau bilang makasih, loe udah bantu gue hilangin kenangan yang cukup bikin gue malu dihadapan kembaran gue sendiri." ujar Nabil yang membuat Adzril menatap aneh padanya.
"Bukan hany..."
"Dan untuk gadis yang loe bilang siapa tadi? Naomi? Kalo emang loe sayang sama dia, seandainya dia pernah jadi sesuatu yang berharga buat gue, gue titip dia, tolong gantiin posisi gue, gimanapun ceritanya, gue udah punya Gaby yang nggak akan peranh gue lepasin sampe kapanpun, so... urusan kita selesai sampe sini, ya... gue nggak akan pernah lakuin apapun karena loe pernah hampir bikin gua mati, its oke. gue udah ikhlasin semuanya." Lanjut Nabil tanpa memberi Nando sedikitpun untuk berbicara.
"Tapi Naomi nggak akan bisa jatuh cinta lagi selain sama Loe, dan apa loe yakin kalo anak yang ada dalam..."
"Ya... 1000% gue sangat yakin dia anak Gue!" Potong Nabil yang langsung membawa Gaby masuk kedalam Mobil.
"Udah ya, urusan kita semua cukup sampe disini, jangan lagi loe ucapin kata yang bikin istri gue sakit hati." Ujar Nabil kembali sebelum benar - benar masuk kedalam Mobil.
__ADS_1
"Denger kan apa kata Nabil, tadi? Jagain gadis yang bernama Naomi, kalo Naomi bisa suka sama Nabil, loe juga harusnya bisa bikin hati Naomi luluh sama loe, Nabil belum sehat betul, tolong jangan lagi bebani fikiran Nabil." Ujar Ve dengan menarik Adzril yang masih belum terima atas keputusan Nabil yang membiarkan Nando begitu saja. Namun disatu sisi, Nabil benar juga, jika Nando yang mencairkan kecanggungan anatara Nabil dan Adzril.
Tbc