
Setelah cukup merasa kedinginan, Nabil dan Adzril kini telah sama - sama terbaring di tempat tidurnya masing - masing, Adzril yang merasa lelah, langsung terlelap tidur untuk menembus alam mimpinya, sedangakan Nabil masih saja merasa penasarang tentang bagaimana kehidupannya saat masuk masa perkuliahan. Hingga karena lelah berfikir sendiri, Nabil pun beranjak dari tempat tidurnya dan menghampiri kasur yang Adzril tempati, dan dengan watadosnya menggeser sedikit tubuh Adzril dan Nabil membaringkan tubuhnya tepat disamping Adzril yang kini terbangun karena kaget tiba - tiba ada yang mendorongnya.
"Ngapa sih Bil?" Tanya Adzril yang sedikit merasa kesal akan perlakuan Nabil yang tiba - tiba membagunkannya.
"Gue... kenapa gue nggak bisa inget giamana kehidupan gue pas masa kuliah ya, Dzril?" Tanya Nabil yang sukses membuat Adzril memaksa matanya untuk terbuka.
"Gak ada yang menarik yang perlu gue ceritain ke loe, Karena kita sibuk buat kejar cita - cita kita buat buktiin ke papah, dan karena kesibukan itu juga, Kita berdua sama sama berjarak, jarang banget berbagi kisah satusama lain, ditambah gimana perasaan loe sama Ve, yang ternyata gue baru tahu kalo loe udah move on dari Ve sebelum kita masuk kuliah. Tapi gobloknya loe nggak bilang apa - apa sama gue tentang Naomi. sampe gue sempet mau putus sama Ve gara - gara gue mau ilangin jarak antara kita." Ujar Nabil dengan melempar guling yang ia peluk sedari tadi karena tiba - tiba merasa kesal sendiri pada tingkah Nabil yang sangat menyebalkan itu.
"Loe sempet ribut hebat sama Ve?" Tanya Nabil yang penasaran.
"Iya, gue debat hebat sama dia, sampe dia minta break sama gue sampe sekitar dua bulan lebih hubungan gue sama Ve ngambang, gaktau harus gue akhirin atau gue berjuang lagi buat bisa sama Ve. Tapi, satu ketika Gue ketemu sama Nando dan sempet gue ngobrol sama dia, dan dia ceritain gimana loe yang lagi jatuh cinta sama satu cewek yang diperebutin tiga orang sekaligus, Loe, Key sama Nando. Tapi, Nando nggak sama sekali ngasih tau gue siapa gadis itu, dan gue yang bodo amat karena kesel banget sama loe, gue nggak nyari tahu lebih lagi tentang siapa yang lagi loe, Nando sama Key perebutin. Sampe gue denger kabar dari Nando kalo loe udah jadian sama gadis yang kalian perebutin." Tutur Adzril yang membuat Nabil hanya mengangguk percaya, namun hal itu tak sama sekali menjawab perasaan sedih Nabil.
"Hingga, Satu ketika gue kaget, temen gue di kelas desain ngasih tau gue, kalo ternyata loe sama Key sering keluar masuk Club, dan malah nggak jarang sampe teler karena mabok, dan yang paling parah ketika dengar loe sering gonta - ganti cewek tiap malem. Awalnya gue nggak percaya sama semua omongan dia, tapi pas gue nyuruh orang buat jagain loe, ternyata semua yang temen gue bilang, itu beneran, dan karena hal itu gue percaya sama Gaby kalo dia hamil sama loe." Tutur Adzril yang ternyata sedikit demi sedikit membuat Nabil teringat kenangan - kenangan itu.
"Loe tau, apa yang buat loe nangis tadi pas di kolam?" Tanya Adzril yang membuat Nabil kini bersemangat,karena hal inilah yang ia cari sedari tadi.
"Loe sama gue ribut gede, sampe nyokap nangis gara - gara kita, dan.."
"Anjjj... stop! Ya, gue inget sekarang..." Ujar Nabil memotong perkataan Adrzil, dan hal yang membuat Nabil sangat sulit mengingat kenangannya saat dimasa perkuliahan adalah...
"Orang yang gue suruh mata - matain loe, ternyata dia juga ngasih informasi semuanya ke papah, otomatis apa yang gue tahu tentangloe, Papah juga pasti tahu." ujar Adzril yang kini menatap Nabil dengan tatapan yang sangat terluka.
"Orang suruhan gue membenarkan semua tentang loe yang sering keluar masuk club, dan sering mabok, tapi nggak ngebenerin tentang loe yang suka mainin cewek... tapi..."
Flashback
"Dzril..."
Adzril yang tengah berada di kantin kampusnya seketika menatap seorang pemuda seumurannya.
"Ada info apa lagi, bre?" Tanya Adzril yang terlihat sangat stres karena tugas - tugas yang menumpuk, ditambah Veranda yang belum juga mau berkomunikasi dengan Adzril ditambah berita tentang Nabil yang sedikit menjadi liar semenjak bergaul dengan Key.
"Sorry banget, Dzril. kali ini infonya makin gak enak banget buat loe, loe tetep sabar dan kuat yah buat hadepin ini kedepannya..." Tutur Orang suruhan Nabil yang sering Nabil sapa dengan panggilan Vino.
"Gaenak nih perasaan gue, Vin..." Ujar Adril yang terlihat belum siap.
"Loe kalo mau hajar gue, gue siap Dzril, Sorry, kalo selama ini gue kerja bukan cuma buat loe, gue juga ngasih info yang gue kasih ke loe, gue juga kasih tau ke bokap loe, Dzril..." Ujar Vino yang membuat Adzril langsung menatap tajam pada Vino.
"Gak asik banget cara main loe, Vin." Ujar Adzril yang langsun memegang gelas dihadapannya.
"Kelakun kembaran loe udah diluar batas, Dzril... loe nggak bisa selesain ini sendiri." Ujar Vino yang menahan lengan Adzril yang ternyata siap kapan saja melemparkan gelas diahadapannya pada Vino.
Vino melempar kasar sebuah alat pendeteksi yang sering polisi gunakan untuk mengetes apakah seseorang itu mengkonsumsi nsarkoba atau tidak.
"Itu punya Nabil, kemarin gue suruh salah satu bartender cewek buat ngetes urin Nabil disaat Nabil lagi gak sadar, untungnya Nabil mau - mau aja di tes urin, dan ini photo dia pas lagi make tadi malem di club." Ujar Vino yang membuat Adzril menatap tak percaya pada Vino. Namun ketika melihat jelas Nabil dalam sebuah photo yang memperlihatkan Nabil tengah menempelkan sebuah alat di hidungnya.
Dengan wajah yang mulai memerah padam, Adzril meremas photo Nabil dan melemparkan alat tes tadi, dan seketika Adzril berdiri dengan kasar hingga membuat kursi yang sedari tadi ia duduki kini terjungkal kebelakang.
"Dzril!!!" Cegah Vino dangan menghalangi langkah Adzril, namun sepertinya itu keputusan yang salah, Adzril malah memukul Vino sangat keras hingga membuat Vino sedikit terpental kebelakang dan seketika itu juga membuat penghuni kantin yang lain langsung menatap kearah Adzril dan Vino, namun ketika melihat bagaimana ekspersi Adzril, tak ada satupun orang yang berani menatap bahkan menyapa Adzril, bahkan pintu masuk kantin yang sebelumnya padat, kini tiba - tiba kosong saat Adzril melewatinya dengan kepalan tangan yang sangat kuat dan tatapan tajam, karena cukup banyak darimereka yang tahu bagaimana latarbelakang Adzril ketika masa SMA.
"Guys, Ada yang tahu, atau lihat mahasisiwi bagian DKV yang bernama Jessica Veranda da dimana, Gak?" Tanya Vino dengan sedikit menahan sakit akibat pukulan keras adzril tadi yang tepat mengenai pelipisnya.
"Tadi gue lihat dia lagi di kantin lantai dua, Vin." Ujar seorang mahasiswi yang ternyata mengenal Vino juga Veranda.
"Thanks, ya Put." Ujar Vino dengan langsung berlari menuju tempat dimana Veranda berada, karena Vino tahu, satu - satunya orang yang mungkin bisa meredakan Adzril, hanya Ve.
Sesampainya Adzril di sekitar halaman gedung bagian teknik,Adzril langsung menghampiri kerumunan orang yang entah melakukan atau melihat apa, namun Adzril tak mempaerdulikan hal itu, malah menarik baju seorang mahasiswa dengan kasar dan membuat yang lainnya seketika menatap Adzril yang terlihat seperti monster menakutkan saat itu.
"Loe liat Nabil gak?" Tanya Adzril dengan nada mengintimidasi, hingga membuat orang itu takut pada Adzril.
"Ga...gak tau..."
__ADS_1
"ARRGGGHHHH.... GAK GUNA!" Erang Adzril dengan mendorong mahasiswa itu hingga terpental kebelakang.
"Gue liat tadi dia lagi di wc lantai dua sama Key." Ujar seorang mahasiswa yang langsung membuat Adzril berlalu begitu saja dari kerumunan itu.
Sedangkan Vino yang baru saja sampai ditempat, dimana Veranda Berada, dengan nafas yang belum teratur, langsung menghampiri Ve.
"Ve!" Sapa Vino tiba - tiba yang sedikit membuat Ve sedikit kaget.
"Apa?" tanya Ve dengan wajah kesal.
"Adzril ngamuk, mau bunuh orang..." Ujar Vino yang membuat Ve semakin kesal karena menyangka Vino hanya bercanda.
"Biarin aja, udah biasa dia ngehajar orang..."
"Masalahnya Nabil yang mau dia bunuh, Ve!" Potong Vino yang membuat Ve seketika tertawa. Namun tawa Ve langsung terhenti ketika Vino melemparkan hasil tes urin Nabil, seketika itu juga Ve terdiam, bingung harus merespon apa.
"Gue tau, loe lagi ribut sama Adzril, tapi gue yakin, rasa sayang loe terhadap Adzril, bisa tenangin amarah Adzril saat ini. Apa loe mau, liat Adzril nyesel seumur..."
Belum sempat Vino menyelesaikan ucapannya, Veranda sudah berlari terlebih dahulu.
Sedangkan ditempat Adzril saat ini...
"Keynal! Bangsat!!!" Teriak Adzril saat melihat Key berdiri didepan pintu kamar mandi seperti apa yang mahasiswa tadi beritahu pada Adzril.
"Anjing, bencana alam, masa gue mati hari ini sih..." Gumam Key yang sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
bugh
brak!!!
Tanpa persiapan yang matang, Keynal membiarkan wajahnya menerima pukulan keras dari tangan Adzril langsung, hingga saking kuatnya pukulan Adzril, pintu yang harusnya menahan Key, langsung terbuka karena tidak mampu menahan hantaman tubuh Key.
"Dimana Nabil?" Tanya Adzril dengan suara yang sangat berat, dengan wajah yang Key anggap sangat menyeramkan, dan baru kali ini Key melihat seorang Adzril marah begitu besar.
Melihat Key yang terkapar, Adzril mendobrak satu persatu bilik toilet, dan untungnya Adzril langsung menemukan Nabil yang tengah memejamkan matanya diatas toilet pintu nomor dua, dan Adzril seketika itu juga, airmata yang sedaritadi ia tahan, akhirnya lolos juga, melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana reaksi benda terlarang tengah mempengaruhi seluruh tubuh Nabil.
"BANGSAT!!!!" Teriak Adzril dengan tangisan pilunya, dan langsung menarik Nabil dan melemparkannya tepat disamping tubuh Key yang masih tak sadarkan diri.
"Awh... anjing, jatoh dari kasur kayaknya, gue..." Gumam Nabil tanpa sadar. "Eh, gue masih di toilet kampus ternyata."
"Weh, ngapain loe tidur disini?" Tanya Nabil saat mendapati Key terkapar.
"Ssssttt, gue lagi pura - pura pingsan, Kembaran loe lagi ngamuk." Bisik Key. yang seketika membuat Nabil menatap Adzril, dan saat itulah dimana pertama kalinya Nabil mendapati tatapan terluka dari saudara Kembarnya yang selama ini tak pernah ia lihat.
Adzril yang sudah tak tahan bagaimana keadaan Nabil saat ini tengah dipengaruhi efek barang terlarang, kini menarik Nabil dengan mencengkram kuat kerah bagian belakang baju Nabil dan menyeretnya seperti seekor kucing. Namun baru saja sampai di depan pintu keluar toilet yang ternyata sudah rusak, Veranda menghadang pergerakan Adzril.
"Loe, jangan ikut campur!" Tegas Adzril memperingatkan Ve. dan Kini Ve melihat kembali Adzril yang pertamakali ia kenal saat SMA dulu.
"Gak gitu cara perlakuin sodara loe sendiri." Ujar Ve dengan paksa melepaskan tangan Adzril dan membantu Nabil berdiri dan membantunya berjalan menuju parkiran.
"Jangan sampe ada pihak kampus yang tau. jalan loe biasa aja, bisa nggak?" tanya Ve dengan merangkulkan tangan Nabil ke pundaknya.
"lemes beb..." Lirih Nabil yang masih dibawah pengaruh Narkoba.
"Bil, bil... loe hidup normal aja nggak bisa buat gue jatuh cinta sama loe, gimana hidup loe yang kayak gini... jangan nyusahin kakak loe terus, bisa nggak sih, Loe? Loe tau kan gimana sayangnya kakak loe, sama Loe?" Tutur Ve yang hanya menjadi angin berlalu buat Nabil saat ini.
Sedangakan Adzril dibelakang Ve kini menyamakan langkahnya dan membantu Nabil berjalan.
"Loe nggak usah ikut gue kerumah ya, Ve! Ini urusan gue sama nyokap bokap gue." Ujar Adzril dengan berusaha menahan airmatanya.
"Gue nggak mau kenal sama seorang pembunuh, Dzril!" Ujar Ve yang sukses membuat Adzril tersentak, mungkin Adzril marah, namun fikiran Adzril takkan sampai kesana.
__ADS_1
"Gue nggak akan mungkin bunuh diri gue sendiri, Ve." Balas Adzril yang kini hanya bisa Ve jawab dengan anggukan.
Skip
Sesampainya dirumah, Adzril kembali menghempaskan tubuh Nabil yang langsung tergeletak dihadapan kedua orangtuanya, yang memang Daren sudah mengetahui hal ini akan terjadi, makanya dirinya memutuskan untuk tetap berada dirumah, hingga membuat Erna heran. Lain dengan Erna sendiri yang tak mengetahui apapun tentang hal apa yang telah salah satu putranya perbuat.
"Yaampun... Adzril! Apa - apaan Kamu!?" Sentak Erna saat tengah terkejut melihat tiba - tiba Adzril melemparkan adiknya begitu saja.
"Tanya dia, apa yang udah dia perbuat!" Jawab Adzril dengan tangisan yang sudah tak bisa lagi ia bendung. sedangkan daren hanya menatap Nabil yang masih kesusahan untuk sekedar mengubah posisinya agar bisa terduduk. hingga saat Erna hendak membantu Nabil, Daren menahannya dan menyuruh erna kembali duduk.
"Bangun..." Suara berat Daren terasa sangat dingin, tak ada lagi kehangatan yang Nabil dengar seperti yang selama ini selalu Nabil dengar sapaan sayang dari seorang Ayah.
Melihat Nabil yang diam saja, dengan kasar Adzril menarik dan memaksa Nabil untuk berdiri, namun setelah berdiri, Adzril malah memukul sangat keras bagian pelipis kiri Nabil, hingga saking kerasnya Nabil kembali tersungkur dan dengan sigap, Adzril menahan tubuh Nabil agar tak tumbang.
"Bunuh gue aja, Kak..." Lirih Nabil sedikit berbisik dengan darah sedikit keluar dari ujung bibir Nabil.
"Balikin Nabil, adek gue yang gue kenal!" Geram Adzril dengan Airmata yang masih terus menetes.
"Dia udah, mati!" Jawab Nabil dengan seolah menantang Adzril untuk melakukan hal yang lebih gila lagi dari ini. Dan Nabil yang tahu Adzril, pasti terpancing amarahnya, langsung tersenyum miring dan siap menghadapi pukulan selanjutnya dari Adzril, namun sebelum pukulan itu mendarat mulus diwajah Nabil, Erna tiba - tiba memaluk Adzril dari belakang dengan menangis.
"Cukup, Nak... kasih tahu mamah, apa yang udah terjadi, ada apa sama kalian?" Lirih Erna, dan saat itu juga, lemas sudah seluruh persendian Adzril rasanya dan membiarkan Erna memeluk Nabil yang kini ambruk kembali.
"Mah, biarin Adzril bunuh Nabil, Nabil cuma bisa jadi beban dikeluarga ini.." Lirih Nabil yang kini bisa untuk hanya sekadar terduduk dilantai dengan wajah yang sudah berantakan dengan luka lebam dimana - mana.
"Kenapa pah, kalian bilang sama mamah, ada apa ini sebenarnya?" Tanya Erna dengan pilu menatap Adzril yang kini luruh kelantai, terasa lemas semua persendiannya melihat betapa pilunya tangisan seorang wanita yang selama ini sangat ia sayangi dan hormati.
"Pah... maaf, Nabil udah salah masuk jurang..." tutur Nabil yang kini menatap Daren yang ternyata sedari tadi juga menangis dengan menatap kecewa pada Nabil.
"Kenapa, Bil! Apa sesakit itu loe liat gua sama Ve? Apa seberat itu loe Liat gue bahagia sama Ve! Kenapa?" Tanya Adzril yang kini terasa habis sudah tenaganya serta suaranya yang mulai serak.
"Bukan, gak ada hubunganya tentang perasaan gue, nggak ada hubungannya sama Ve, Ini semua murni kesalahan gue, gue yang terlalu penasaran, gue yang terlalu liar hidup tanpa pengawasan kalian." Tutur Nabil dengan menunduk.
"Apa yang udah kamu lakuin sayang, bilang sama mamah, apa yang buat kakak sama papah kamu marah?" Tanya Erna dengan masih memeluk Nabil. dan seketika itu pula, Nabil mengambil sebuh kotak dari dalam saku jaket bagian dalam, dan memberikannya pada Erna, dan betapa terkejutnya Erna saat melihat isi di dalam kotak itu.
"Asraghfirulloh... ini punya siapa Nabil?" Tanya Erna yang masih tak percaya jiki ini yang membuat Daren dan Adzril semarah ini pada Nabil.
"Darimana kamu dapet ini? Apa temenmu yang mengajari semua hal ini? HAH JAWAB!?" Tanya Daren Kali ini yang sudah sangat kecewa pada Nabil dan menarik paksa Erna dan melemparkan kotak itu tepat mengenai wajah Nabil yang masih tertunduk.
"Nggak pah, Nabil sendiri yang cari, Keynal sama sekali nggak pake barang Ini, nggak ada orang yang bisa Nabil salahin, karena Nabil sendiri yang cari barang itu." Ujar Nabil yang masih saja menunduk.
"KELUAR KAMU DARI RUMAH INI!" Akhirnya, inilah kalimat yang sangat Nabil tunggu, Nabil tahu, ini pasti akan terjadi, Daren yang sebelumnya terus menahan diri untuk tidak mengusir Nabil, dan berharap ada sedikit pembelaan dari Mulut Nabil, namun ternyata Daren salah, didikannya selama ini yag selalu mengingatkan kedua anak kembarnya untuk selalu bertanggung jawab atas apa yang sudah di perbuat, selalu Nabil terapkan dalam Dirinya.
"NGGAK! ADZRIL NGGAK SETUJU!" Bantah Adzril dengan menentang ucapan Daren.
"ADZRIL LEBIH SETUJ KALO NABIL MASUK REHABILITASI!" Teriak Adzril dengan sangat lantang hingga membuat Daren tak percaya menatapnya.
"Bener pah, Mamah lebih setuju kalo Nabil kita masukin tempat rehab." Ujar Erna menyetujui usul Adzril, sedangkan Daren hanya acuh dan muak melihat Nabil yang masih menunduk.
"Kau lihat, mereka orang - orang yang sangat menyayangimu, apa kau juga berfikir bagaimana Perasaan mereka saat kau menggunakan barang haram itu?" bentak Daren yang sukses membuat Nabil semakin menunduk.
Tanpa ada yang menyadari, tiba - tiba seseorang berlari dari arah pintu saat daren hendak menghampiri Nabil, yang orang itu Kira, Daren sakan melakukan hal yang sangat tidak diinginkan.
"Pah, cukup! Cukup!" Ujar Orang itu dengan memeluk Nabil dan menghalangi Daren yang ia fikir akan memukul Nabil.
"Veranda?" Tanya Daren dengan menatap Ve dan Adzril bergantian.
"Cukup, Pah... Nabil sudah mengakui semuanya, dan Nabil udah nerima semua konsekuesi atas apa yang dia perbuat, dia nggak ngelak, atau beralasan yang tidak - tidak kan." Ujar Ve yang masih melindungi Nabil yang masih menunduk.
"Mah, Dzril... ayo, kita ketempat rehabilitas, Kebetulan, Ve punya Om yang bekerja disana." Ajak Ve dengan membantu Nabil berdiri.
"Thanks..." Bisik Nabil dan hanya ve balas dengan tersenyum.
__ADS_1
***