
Dari kejauhan, samar - samar terdengr bell pertanda jam terkahir pelajaran telah dibunyikan yangartinyakini siswa dan siswi sekolahan itu telah bebas dari jam pelajaran untuk hari itu. Adzril yang dari sebelumnya sudah ada di kantin luar, kini beranjak untuk mengambil tas dan motornya untuk pulang. Kebetulan, parkiran motornya berada di belakang sekolah yang jika dari posisi Adzril saat ini, dirinya tak akan melewati penjaga gerbang jika ingin mengambil motornya, namun meski begitu, Adzrill harus tetap melewati tembok penghalang yang menandakan area sekolahan dan kebun yang saat ini tengah Adzril lihat, tembok yang cukup tinggi untuk di panjat. Namun sepertipepatah JKT48 mengatakan "Mengembangkan senyuman,kan' membawa Keberuntungan". Adzrill yang sedari tadi tersenyum menatap kebun di sekelilingnya, melihat sebuah tangga yang cukup tinggi yang sepertinya biasa dipakai si pemilik kebun utuk mengambil buah durian di kebun yang kini Adzril pijaki.
Hap
Dengan sempurna, Adzril melompat dari atas tembok ke area parkiran yang saat itu cukup ramai. sehingga membuat orang - orang yang ada di sana menatap Adzril.
"Ngapa loe pada?" tanya Adzril yang sukses kembali mengalihkan perhatian orang - orang yang sebelumnya menatap Aneh pada Adzril.
"Yeee.... belom penah gue sambit kali yak matanya, padaan." Gertu Adzril karena tak ada yang menjawab satupun atas pertanyaan Adzril sebelumnya.
"Weh... cupu! Ujar Adzil kemudian menghampiri seorang siswa yang tengah mengambil motor nya.
"Loe, sekelas sama gue kan?" Lanjut Adzril dengan mentapa seorang siswa yang padahal penampilannya biasa saja, tidak terlalu cupu, namun entah karena alasan apa Adzril memanggilnya dengan sebutan itu.
"I... Iya." Balasnya gugup sekaligus takut.
"Ambilin tas gue, sono, gue tunggu di halte depan, cek bawah meja gue siapa tau ada barang yang harus gue bawa pulang juga." Ujar Adzril yang seprtinya tanpa ingin ada jawaban lain selain kata Iya, dari siswa itu.
"Loe anak kelas mana?" tanya Adzril pada siswa kelas lainnya yang terlihat sedikit absrud dari dirinya.
"11-4, ada apa rupanya?" tanyanya dengan logat khasnya.
"Ada udang dibalik bakwan, rupanya..." balas Adzril dengan nada khas mengejeknya. "Sekelas nya kau, sama Veranda?"
"Yang mana nyah, Veranda?" tanya siswa itu terheran, seolah mengenal Adzril dengan baik.
"Yang cantiknya, cem bidadari itu... Nggak kenal nyah kau? Nak 11-4." Ujar Adzri. sontak siswa itu menyimpan telunjuknya di dahinya. "Gak tau nya kau?"
"Ah, Kau! Jessica nyah itu, Iya memang namanya Veranda, tapi dikelas disapanya Jessie, bukannya Veranda!" balas siswa itu yang tersada siapa orang yang Adzril maksud.
"Apapun lah, itu serah kau... naik apa dia biasanya kalo plang?" tanya Adzril kembali, namun sebelum siswa yang ternyata sekelas dengan veranda itu menjawab, bocah yang sebelumnya Adzril mintain tolong mengambilkan tasnya, kini sudah kembali dihadan Adzril dengan membawakan tasnya.
"Thanks!" balas Adzril dengan menerima tas itu.
"Maa... maaf, Dzril! ini ada surat dari ketua kelas, katanya surat panggilan BP." dengan ragu, siswa kelas Adzril itu memberikan sebuah surap pada Adzril.
"****** lah, cuma sejam sejam pelajaran doang gue kluar, pakek dipanggil segala nyokap." gertu Adzril dengan merobek surat itu.
"Wih... beraninya kali, Kau?" Kagum siswa yang sekelas dengan veranda itu menatap Adzril.
"Apa yang loe takutin, dia makan Nasi, gue juga makan nasi, dia idup masi dengan nafas, samaannya gue juga. kecuali dia idup tapi udah nggak nafas, baru gue takut." ujar Adzril dengan mengambil kunci motornya dan dua lembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya.
"Buat loe nih!" Ujar Adzril dengan memberikan uang itu pada siswa yang mengambilkan tas nya.
"Ap... ng... nggak usah..."
"Loe ambil, atau gue bikin loe nggak bisa ngomong sekalian? biar kalo ada yang malak loe, loe nggak bisa ngadu siapa - siapa." ancam Adzril dengan memelototi wajah siswa itu. "Percuma loe sekelas sama gue, kalo loe dipalak sama orang cuma bisa nangis, senggaknya loe ngadu sama gue kalo loe nggak berani lawan dia!"
Sontak, siswa kelas Adzril yang dikathui bernama Andra itu tertunduk dengan keterkejutannya.
"Tapi loe tenang aja, orang yang bikin loe nggak jajajn seharian ini, nggak bakal bisa lagi malakin loe, malakin orang lain juga." ujar Adzril yang kini membuat anak itu menatap Adzril dengan lebih terkejut lagi. "Tangannya udah gue patahin."
"Udah, loe nggak usah takut, balik loe sonoh." Usir Adzril akihirnya yang langsung diangguki siswa itu.
"Balik juga nyah aku..." Ujar orany yang sebelumnya hanya diam mendengar ucapan - ucapan Adzril dan siswa sekelasnya. "Jessi biasanya sekarang lagi nunggu biss atau taksi di halte depan, kalo kau mau ketemu, mending cepet. keburu pulang dia, nanti."
"Thanks, bang!" Ujar ADzril yang hanya diabalas acungan jempol siswa kelas Veranda tadi karena sudah memakai helmnya. sedangkan Andra sendiri sudah hilang entah kemana.
"Ada gila - gilanya juga tuanak, gak bilang makasih gak ada apa." Gumam Adzril mengintari pandangannya mencari keberadaan Andra.
Setelah keluar dari gerbang sekolah, Adzril memfokuskan pandangan pada halte yang tak jauh darinya, dan ternyata dari beberapa siswa yang ada disana, memang verandalah salah satunya yang kini terduduk menunggu kedatangan Bis untuk mengantarkannya pulang.
"Veranda!" Sapa Adzril, sontak siswa yang kebanyakan dari sekolah Adzrilpun terkejut atas kedatangannya, namun Adzril hanya memfokuskan dirinya pada Veranda seorang.
"Ngapain?" tanya Veranda dengan terheran menatap Adzril.
"Nyari, loe!" Balas Adzril tanpa beban.
"Kenapa gue loe cariin?" tanya Veranda kembali.
"Karna loe belum pulang."
"Urusannya sama loe kalo gue belum pulang?"
"Alesannya, Gue khawatir."
"Kalo loe khawatir, Keuntungan buat gue apa?"
"Loe harus bahagia, karena gue khawatirin."
"Kenapa?" tanya Veranda yang terus memancing amarah Adzril, sedangkan siswa yang lain sudah mengambila ancang - ancang seandainya Adzril ngamuk nanti.
"Karna loe jatuh cinta sama gue." balas Adzril yang langsung membuat Veranda tertawa. "serius deh, Ve! Sekali lagi loe ngebacot, gue bantai ini anak - anak yang disini."
__ADS_1
Sontak Verenda terdiam dan menatap raut ketakutan dari sebagian siswa yang aa didekatnya, sedangkan yang lain sudah bersiap dengan sebagian ada yang mencari - cari alat untuk dipakai memukul/melempar Adzril, jika Adzril benar - benar ngamuk saat itu.
"Kalian tenang aja, Adzril ngamuk, gue putusin." ujar Veranda dengan santai, namun siswa yang disana, malah semakin tegang mendengar hal itu.
"Buruan, Ve! loe beneran pengen liat gue ngamuk disini apa?" tanya Adzril yang kini turun dari motornya, sebagian siswa kini sudah ada yang berlari dari halte, sebagian ada juga yang menunggu momen untuk menghajar Adzril.
"Ngapain sih, gue mau naik Bis, lagian udah biasa juga gue. udah loe pulang aja." ujar Veranda yang kini memegangi lengan Adzril yang sepertinya benar - benar ingin menghajar siswa laki - laki yang ada disana.
"Nggak deh Ve, mending loe pulang sama gue, tu anak mukanya sangean semua!" Balas Adzril yang sedari tadi memang mengincar siswa yang katanya selalu berbuat kurang ajar pada siswi yang menunggu bis di halte itu, sebenarnya sudah lama ia mencari bukti untuk menghajar siswa - siswa itu, namun selalu ada halangannya.
"Gue kan nggak!" Balas Veranda.
"Goblok, lu kira kalo cewek di paksa itu dianya lagi horney apa!" Kesal Nabil yang sedari tadi memandangi sapu yang ada di sebelah Ve, kini sudah melayang tepat mengenai wajah siswa laki - laki yang sedari tadi bersiap menghajar Adzril dengan tas yang berisi batunya.
"Tangan kosong kalo berani!" Tantang Adzrili yang kini menarik Veranda ke belakangnya.
"Apa, Loe?" balas siswa itu dengan sok beraninya.
"Loe, apa anjing?" balas Adzril semakin maju mendekati siswa itu.
"Adzril, udah! gue nggak di ganggu sama dia, udah kita pulang!" Ujar Ve dengaan menarik Adzril dari sana.
"Bener dia yang suka gangguin cewek - cewek sekolah kita yang di Bis?" tanya Adzril dengan sedikit pilan setelah menjauh dari siswa yang sebelumnya ingin Adzril tantang untuk bertarung.
"Bukan, dia cuma babunya kalo gak salah. yang seringnya, namanya Anton kalo gak salah." balas Veranda dengan melihat kembali memastika siswa yang Adzril maksud tidak ada disana.
"Baguslah, gue gak salah matahin tangan orang berarti." ujar Adzril dengan memberikan helm yang ia siapkan untuk Veranda.
"Loe udah hajar dia?" Tanya Veranda kaget saat memasngkan helm di kepalanya.
"Cuma gue patahin doang tangannya." balas Adzril dengan santainya.
"Goblok banget sih, loe! nggak jadi deh kita pacaran, bikin beban gue nambah aja!" Kesal veranda yang dengan kini sudah duduk manis dibelakang Azdril dan memeluknya dengan erat. Adzril langsung menjalankan motornya dengan santai.
"Siapa juga yang mau pacaran sama loe, sih? gue cuma nggak mau loe di gangguin aja sama boceh tolol kayak mereka." Ujar Adzril setelah menjauhi halte itu.
"Serius, loe nggak mau jadi pacar Gue?" tanya Veranda kembali memastikan.
"Liat nanti deh, gue takut ngebebanin loe. bukan seorang dua orang yang mau gue mati, siswa di sekolah kita Ve." Ujar Adzril yang memang jujur adanya.
"Gue bisa jaga diri juga, kali..."
"Gue yang nggak bisa jaga nafsu gue, Ve!" potong Adzril yang langsung membuat Ve bungkam.
"Ini bukan jalan kerumah gue!" Ujar Ve mengalihkan topik sekaligus meredamkan emosi Adzril.
"Hahhh... belom juga pacaran, ini loe udah mau bebanin gue! emang dasar cowok paling goblok, loe doang kayaknya!" Kesal Veranda dengan helaan Nafas pasrahnya.
***
Sesampainya di halaman sekolahan adik Adzril, yang tak lain adalah Nabill, Adzril turun dari motornya langsung membuka seragam atas sekolah Adzril dengan menyisakan kaos putih polos, dan langsung menuju kantor sekolahannya. dengan kasar membuka pintu kantor sekolahan Nabill.
Brak
"Santai aja, tolol..." Bisik Veranda, namun tak dihiraukan oleh Adzril dan langsung meunuju dimana Nabill dan seorang siswa yang tak ia kenal tengah duduk menghadap seorang guru, yang kini melotot kearah Adzril dan Ve.
"Apa - apaan, InI!" tanya guru yang tengah menasehati Nabill.
Brak
Kembali, Adzril menggebrak meja dan menatap tak kalah tajam pada Guru Nabill. "Siapa yang udah hajar kembaran Gue!"
"Kak..."
"Bacot, Diem!" gertak Adzril mentap Nabill yang kini wajahnya di penuhi luka lebam. "Loe, yang habisin Nabill?"
Sontak, siswa yang berada di sampin Nabill-pun menatap heran pada Adzril dan balas menatap geram pada Adzril.
"Justru dia yang menolong kembaranmu." Ujar sang Guru yang sedari tadi cukup ketakutan menatap Adzril.
"Gue yang ngomong! loe ngomong bikin orang jantungan, kalo ini guru mati gara - gara jantungn kan gak lucu juga" Potong Veranda yang sedari tadi juga kaget atas gebrakan Adzril. "Pak, maaf sebelumnya atas ketidak sopanan siswa SMA Garuda ini. tapi sebelumnya perkenalkan saya Veranda dan ini Adzril, saya kesini atas permintaan Nabill."
"Oh, kalian siswa SMA GARUDA, yang terkenal berandalan itu?" tanya seorang guru dari belakang mereka, sontak Adzril yang kembali tersulut emosinya itu hendak menghampiri guru itu namun terlebih dahulu di tahan oleh Veranda dan membuat sang guru menciutkan nyalinya dan perlahan berlalu dari sana.
"Biar enak, kita ngobrolnya sambil duduk di sana." Ujar gueru yang ternyata kepala sekolah Nabil, menunjuk kearah sofa panjang dengan satu meja sebagai sekat pemisahnya.
"Jadi, Nabill atau Keynal, Bisa kalian jelaskan ini bagai mana kronologisnya sampai kalian kenapa bisa babakbelur seperti ini?" tanya sang Kepsek dengan menatap Nabil dan siswa yang kondisnya tak beda jauh dangan Nabil, yang ternyata bernama Keynal.
"Nah, gue apa loe yang mau jelasin?" tanya Keynal pad Nabill.
"Sebenernya kita nggak tau masalahnya apa, pak... tiba - tiba Ando sama beberapa anak buahnya ngehajar kita habis - habisan pas lagi di kantin...."
"Koq loe nggak tau masalahnya? kan jelas ini karna Ando cemburu loe deketin Sinka..."
__ADS_1
"Gue nggak deketin Sinka, anjir! Sinka yang nempel terus sama gue, guenya mah ogah!"
Bukannya menjelaskan, Nabill dan Keynal malah meributkan hal yang tentunya bikin keduanya babakbelur.
"Jelaslah Sinka nempel sama loe, loenya..."
"Heh, sudah... yaampun kenapa jadi kalian yang ribut!" Lerai Kepsek karna semakin pusing dengan perdebatan Nabill dan Keynal.
"Tunjukin ke gue, mana yang namanya Nando!" Ujar Adzril dengan menatap berang pada Keynal.
"Maaf, siapa nama kamu?" tanya Sang Kepsek yang berniat menahan Adzril.
"Namanya Adzrilia Putra, pak." Ujar Nabill.
"Oke, maaf nak Azdril, tolong biar ini jadi masalah saya sebagai kepala sekolah, tolong nak Adzril jangan berbuat diatas kewajaran..."
"Pak, tanpa menghormati rasa hormat saya pada bapak yang dengan tulus menjaga adik saya di sekolah ini, maaf, ini sudah keterlaluan, saya sebagai kakak, tidak terima melihat adik saya dengan wajah babakbelur seperti ini, saya tidak akan mengotori nama sekolah bapak, asalkan bapak menunjukan siswa yang bernama Nando itu." Ujar Adzril dengan menatap kepala sekolah itu sangat tajam.
"Adzril, jangan bodoh, ini diluar batas kita, ini nggak sama dengan apa yang udah lo lakuin sama Anton yang notabennya satu sekolahan sama kita. kalo loe bikin rusuh disini, sama aja loe nantang sekolah ini buat perang sama sekolahan kita." ujar Veranda dengan tegas.
"Gue nggak bawa nama sekolah Ve, gue ribut sama dia, tanpa membawa nama bet sekolah gue!" ujar Adzril masih mencoba merdam emosinya
"Pak, tolong panggilkan siswa yang bernama Nando kesini, saya akan jamis keselamatannya." ujar Veranda dengan yakin.
"Maaf, saya tidak bisa yang ada..."
"Okeh, dengan ini bapak dengan jelas menyuruh saya menyelesaikannya dengan cara jalanan." Ujar Adzril dengan berdiri kasar.
"Baik, Baik Nak Adzril, saya akan panggilkan dia." ujar Kepala sekolah itu akhirnya langsung menghhampiri seorang sekuriti keamanan yang sebelumnya di panggilkan seorang guru, namun dari tadi hanya diam, seperti mengenal siapa sosok Adzril sebelumnya.
"Kamu tau siswa itu?" tanya kepsek itu pada sang sekuriti
"Dia siswa paling gila dari SMA Garuda, pak... sebaiknya kita turuti apa maunya dia." Bisik sang sekuriti yang tentunya hanya di dengar sang kepala sekolah dan dianggukinya.
"Sedang kami panggilkan, tolong nak Adzril sedikit bersabar." Ujar sang kepala sekolah dengan menatap was - was.
"Kalian pacara?" tanya Nabil tibba - tiba.
"Adzril dan Veranda hanya diam tak ada yang mau membalas.
"Bentar lagi kita nikah, di hamil sama..."
Plak
"Awhhh"
"bacot dijaga! boong, gue nggak hamil, dan gue sama kakak loe nggak pacaran." potong Veranda dengan menampar mulut Adzril yang seenaknya mengatakan hal yang merendahkan dirinya.
"Bangsat emang dia, loe mutilasi juga gue ikhlas." bisik Adzril pad Ve namun mampu di dengar orang - orang yang ada di sana, termasuk kepala sekolah yang sebelumnya kaget mendengar ucapan Adzril, begitupun Keybal yang juga awalnya terkejut.
"Permisi."
sontak, Mereka yang tengah duduk di sofa langsung menengok kerah pintu masuk dan mendapati sekurity tadi dengan membawa seorang siswa yang sepertinya bernama Nando. Adzril yang sedari tadi geram pun kini sudah mencapai puncaknya. namun Veranda kembali menahnnya dan membuatnya kembali duduk.
"Tenang, gue yang urusin. loe cukup tenang dan lihat!" perintah Veranda yang kini berdiri menghampiri Nando yang dengan wajah santainya berdiri menatap remeh pada veranda.
"Loe, yang namanya Nando?" tanya Veranda.
"Ya, gue! kenapa?" Jawab Nando dengan wajah tengilnya.
"Bisa loe duduk disana dan ceritain gimana loe habisin Nabil?" tanya Veranda dengan raut yang masih biasa saja.
"Oke gak maslah." ujar Nando dengan mendekati tempat duduk Keynal. namun sebelum bokongnya mendarat dangan Sempurna, Ve yang masih berdiri di samping Nando langsung mengankat lututnya hingga mengenai hidung Nando, saat masih terkejut atas perlakuan Veranda, Bugh Kembali Veranda memukul keras pipi kanan Nando yang dengan bebasnya terkena pukulan mentah Veranda.
Bugh
Kembali, Veranda dengan keras menendak perut Nando hingga langsung terduduk tepat di samping Keynal.
"Segitu cukup?" tanya Vernada dengan menatap Adzril. Bukannya kaget, adzril hanya tersenyum dan langsung berdiri.
"Oke cukup, pak... urusan saya disini sudah selesai, saya serahkan perbuatan Veranda ini pada tanggung jawab Nabill, jika bapak ingin menghuk Nabil, saya tidak akan mempermaslahkannya. Dek, gue balik! urusan gue udah selesai. Pertanggung jawabin apa yang udah loe perbuat. Veranda hanya mewakili loe, karena loe nggak akan berani lakuin ini tanpa gue!" Tutur Adzril yang hanya membuat Kepsek itu melengo terkejut atas perbuatan Veranda dan Adzril, sedangkan Nabill yang awalnya mengira jikan Adzril yang akan mengahajarnya, kini juga cukup terkejut. sedangkan Nando sendiri kini terkapar kesakitan.
"Nak, tidak seharusnya kalian lakukan itu di hadpan saya..." ujar sang Kepala sekolah yang kecewa atas kekerasan pada siswanya itu.
"Pak, jika Azdril yang melakukannya, maka bapak sama saja menyuruh Adzril untuk membunuh seseorang, baru tadi pagi, siswa di sekolah saya masuk rumah sakit karena tanggannya di patahin sama si kambing ini." ujar Veranda yang langsung menarik Nabil untuk ikut pulang bersamanya dan Adzril.
"Baiklah, Nando, untuk tindakanmu tadi siang terhadap Nabill dan Keynal bapak memberikanmu Skors selama dua minggu, dan Nabill, bapak harap besok orang tuamu bisa menemui bapak disini, Adzril saya mohon untuk berkenan mempertemukan saya dengan kedua orangtuamu. juga Keynal kamu juga, bapak harap besok kamu membawa kedua orang tuamu untuk menghadap bapak." Tutur sang Kepala sekolah yang juga ikut berdiri saat melihat Nabill dan Adzrill hendak pergi.
"Baik pak, karea bapak meminta ini dengan baik - baik, saya akan meminta kedua orang tua saya untuk kesini besok, dan adilnya bapak juga menghukum adik saya sama seperti bapak menghukum Nando." ujar Adzril yang saat ini sedikit sopan.
"Itu akan saya pertimbangkan besok setelah kedua orangtua kalian. terima kasih Adzril atas kehadirannya di sekolah ini. saya harap lainkali bukan kunjungan seperti ini jika Nak Adzril ingin berkunjung ke sekolah ini." Tutur sang KepalSekolah dengan menjabat tangan Adzril.
"Terimaksih juga bapak sudah menerima dengan baik kehadiran saya disini, sekali lagi saya tegaskan, saya kesini bukan atas nama sekolah saya, tapi saya mewakili orangtua saya atas pertanggungjawabn Adik saya, Nabill. dan mohon maaf juga atas tindakan saya, dan pacar saya yang nggak ada otaknya ini." Balas Adzril dengan membalas jabatan tangan kepala sekolah Nabill.
__ADS_1
"baiklah, saya dan Adik saya permisi, assalamualikum." tutp Adzrill yang dijwab anggukan dan salam dari kepala sekolah Nabil.
tbc