Dihamilin Setan!?

Dihamilin Setan!?
Paint Feeling


__ADS_3

Setelah kepergian Gaby sebelumnya, Nabil, Key dan Naomi masih betah berada di taman dengan membicarakan hal random, kadang kala, Keynal terus terusan membuat Naomi malu dan salting dihadapan Nabil, namun juga terkadang Nabil sendiri yang menggoda Naomi.


Diantara ketiganya, sudah menjadi rahasia umum tentang perasaan Naomi pada Nabil, dan juga bagaimana perasaan Keynal pada Naomi, namun Nabil tak banyak ambil pusing tentang hal itu semua, selagi semuanya tak membebani kehidupan Nabil sendiri, Nabil hanya akan mengikuti jalannya kisah cinta segitiga diantaran mereka, jujur dalam hati Nabil masih sedikit merasa ragu untuk membuka hati untuk Naomi, karena Nabil tahu siapa Naomi dan Keynal yang ia Kenal, bahkan Keynal sendiri yang bercerita bagaimana dirinya, Nando dan Naomi dahulu sebelum membuat perkara dengan Nabil.


Dimata Nabil, Naomi bukanlah gadis biasa saja, Gadis bertubuh langsing tidak terlalu tinggi dengan wajah orientalnya yang khas, menambah kesan menarik dari sudut pandang lelaki seperti Nabil, namun untuk maslah yang lebih dalam lagi lebih dari sekedar mengagumi, Nabil belum bisa mengambil resiko lebih besar lagi.


Namun, disamping semua itu, mungkin suatu saat nanti, jika memang Hati Nabil bisa terbuka untuk Naomi, Nabil akan mengesampingkan kalimat persahabatannya dengan Key, toh, Nabil tahu jika Naomi pernah menolak Keynal dan berkata jika Naomi hanya mengaggap Key sebagai kakaknya, dan mungkin itu akan berlaku untuk selamanya, Jadi Nabil merasa tak ada masalah jika dimasa depan, dirinya dan Naomi menjadi sepasang kekasih, atau bahkan mungkin ke jenjang yang lebih serius lagi.


"Eh, Mi?" Ucapan Nabil menggantung dengan menatap Naomi dan Key secara bergantian.


"Apa?" Tanya Naomi penasaran dengan masih menyembunyikan raut wajah kesal serat malu karena sebelumnya Nabil berpura - pura menjadi pasangan Pengantin bersama Naomi dengan Keyna yang menjadi penghulunya.


"Loe tuh cantik tau, gak? Eh, nggak deh, manis, cantik, baik, Gue setuju sih sama Key, jika ada kesempatan buat milki loe seutuhnya, gue nggak akan berfikir lagi buat ambil kesempatan itu, gue fikir, wajar aja sih Keynal segitunya jatuh cinta sama Loe, sampe dia beneran jadi gila gara -gara loe." Tutur Nabil yang semakin membuat Naomi semakin terbang jauh keangkasa, mungkin sebentar lagi akan sampai di langit lapisan ke tiga puluh tiga.


"Nal, boleh gak sih gue egois buat buka hati gue buat Naomi?" Tanya Nabil yang membuat Keynal bingung, ini Nabil sedang bercanda hanya menggoda Naomi, ataukah Nabil serius yang ingin mulai membuka hati untuk Naomi.


"Coba aja... Tapi sekali loe nyakitin naomi, kita musuhan ya, Bil." Jawab Key dengan menatap Nabil mengejek.


"Nggak adil tau gak loe, giliran gue yang rebut Naomi, loe biarin, tapi kalo Nando, kenapa loe larang banget? Kalian gak inget, kalian bertiga pernah tertawa karena satu alasan yang sama?" Tutur Nabil yang berakhir dengan membuat Keynal menatap malas pada Nabil. pasalnya Keynal selalu malas jika sudah membahas tentang dirinya dimasa lalu dengan.


"Loe selalu nyeletuk kalimat yang bikin gak asik lagi buat ngobrol, tau gak, Bil." Ujar Key dengan kini beranjak meninggalkan Naomi dan Nabil yang kini menatap Key yang semakin menjauh dari keduanya.


"Bener kata Keynal, Bil... Loe terlalu sering bahas masa lalu gue sama Key, gue sama dia lagi coba pelan - pelan buat berdmai, lain kali tolong jangan bahas masalah ini lagi, gue selalu ngerasa jadi orang paling jahat yang udah kecewain dua hati yang tulus banget sayang sama gue cuman buat elo, Bil. Gue tau, nggak mudah buat loe buka hati loe cuma buat gue yang masih dihantui masa lalu yang gue juga nggak tau entah sampai kapan. Gue nggak minta loe buat juga bisa sayang sama Gue lebih dari seorang teman, gue cuma minta,jangan bawa mas lalu gue Keynal sama Nando." Tutur Naomi dengan menatap Kecewa pada Nabil. Nabil sendiri kini merasa sedikit bersalah saat menatap Naomi dengan tatapan kecewanya pada Nabil.


"Yah, mi... jangan nangis dong... oke gue minta maaf, iya tau gue salah, salah banget malah, gue juga nggak punya lasan apa - apa buat ngebela kalo tadi hanya bercanda, karena gue sadar kalo itu berlebihan untuk sebuah kata bercanda, gue minta maaf, Ya..." Tutur Nabil dengan membawa Naomi kedalam pelukannya, namun Naomi tak membalas pelukan Nabil, dirinya tentu masih Kecewa pada sikap Nabil sebelumnya.


"Nah kan... Nangis kan... bego sih bacot loe." Ujar Key tiba - tiba dengan membawa tiga botol air mineral yang ternyata ia pergi bukan karena marah pad Nabil, melainkan dirinya merasa haus yang sedari tadi Berdebat tanpa henti dengan Gaby, ditambah obrolan panjang mereka yang tanpa mereka sadari, hari sudah mulai agak gelap.


"Nih minum, Udah gausah dimasukin ke hati, gausah nangis, udah." Lanjut Key dengan membuka kan tutp botol minuman dan menyerahkannya pad Naomi, dengan lembut Key menghapus air mata yang turun di Pipi Naomi.


"Gue mau pulang aja, Key." Ujar Naomi dengan Berdiri.


"Tanggug jawab loe, anterin sono, sini mobil loe gue yang Bawa." Ujar Key dengan mengambil Kunci mobil milik Nabil.


"Iye udah gue anterin." Ujar Nabil pasrah dengan mengejar Naomi yang berjalan cepat menuju tempat mobilnya dan Nabil sendiri terparkir.

__ADS_1


"Sini gue aja yang nyetir." Cegah Nabil saat melihat Naomi membuka pintu samping kemudi.


"Nggak usah, gue sendiri aja, Bil." tolak Naomi yang ternyata Nabil bukanlah orang yang dengan mudah untuk ditolak. pasalnya kini Naomi dituntun perlahan menuju kursi samping penumpang.


"Mi, sekali lagi gue minta maaf, maaf gue terlalu ikut campur dalam urusan kalian bertiga... jujur, itu semua karena...." sebelum menyelesaikan ucapannya, Nabil sedikit ragu untuk meneruskannya.


"Karena apa, Bil?" Tanya Naomi yang juga kini penasaran apa yang sebenarnya ingin Nabil ucapkan.


"Karen ucapan permintaan gue tadi pada Key, itu bukan hanya sekedar lelucon." Lanjut Nabil yang kini membuat Naomi mengerutkan keningnya. Namun sedetik kemudian Naomi membulatkan matanya, apakan permintaan Nabil yang dimaksud adalah kalimat...


***


"Adzrilia Nabil Putra...:" Suara seorang wanita membuat Nabil yang tengah fokus pada kanvas dan kuas diahadapannya, kini menatap pada sesosok gadis cantik yang perlahan mendekati Nabil yang kembali fokus pada lukisannya.


"Loh, Adzril nya mana, Bil?" Tanya gadis itu yang tak lain adalah Ve, atau lebih lengkapnya Jessica Veranda.


"Lagi main Game dari tadi, suruh keluar sono Ve, belom makan dia dari tadi pagi." Ujar Nabil yang tanpa mengalihkan pandangannya. Namun Ve saat ini terlalu fokus pada Lukisan Nabil yang hanya membuat lengkungan garis luar dengan latarbelakang hitam, namun Ve menebak jika itu adalah pola lukisan seorang Gadis yang Nabil gambarkan tengah bersedih, bingung, marah, dan kecewa disaat yang bersamaan. Namun Ve belum mengetahui mengapa Gadis dalam lukisan Nabil terlihat seperti itu.


"Ve..." panggil Nabil saat tak mendapati respon apapun hingga dirinya kini mengalihkan tatapannya pada Ve.


"Gue nggapapa, loe yang kenapa?" Jawab Nabil yang kini bingung melihat sikap Ve.


"Loe nggak pantes ngejar dia, Bil. Dia terlalu munafik buat loe yang sesempurna ini." Ujar Ve tiba - tiba yang semakin membuat Nabil bingung, dan kini dengan santainya Ve meninggalkan Nabil menuju ruangan dimana Adzril berada dengan raut yang semakin bingung dengan tingkah Ve.


"Kagak jelas tuanak..." Gumam Nabil yang kembali fokus pada lukisannya yang sedikit lagi akan selesai.


"Loe nggak pantes ngejar dia, Bil. Dia terlalu munafik buat loe yang sesempurna ini" Kembali Nabil teringat kat - kata Ve sebelumnya, dan kini dirinya sadar, ternyata Ve sudah mengetahui siapa yang ada dalam lukisan itu.


Saat itu juga Nabil berfikir, ternyata Veranda yang ia kenal lebih peka dari apa yang ia fikirkan, dan dengan begitu berarti selama ini Ve menyadari jika Nabil, saudara Kembar pacarnya itu, menyimpan perasaan padanya. Ya, dari semenjak pertama Nabil bertemu dengan Veranda di sekolahnya karena bermasalah dengan Nando, Nabil sedikit tertarik pada Ve, namun karena Nabil tahu jika Adzril lebih mengenal Ve lebih dulu, juga mungkin lebih dulu jatuh cinta pada Ve, oleh karena itu, Nabil memilih mundur, dan menyimpan rapat - rapat perasaanya pada calon kakak iparnya itu kelak.


"Gue harap, cukup loe yang tau tentang ini, Ve... gue nggak mau jadi perusak kebahagiaan bagian lain dari diri gue." Lirih Nabil dalam hati dengan menatap lukisan yang akan ia nobatkan sebagai Lukisan terbaik versi dirinya sendiri, juga sebagai pengingat siapa dan harus seperti apa dirinya pada Veranda.


"Nah... akhirnya keluar juga loe dari dalem goa itu... marahin Ve, bandel emang dia, disuruh makan aja susah banget." Ujar Nabil dengan mengejek Nabil yang kini wajahnya di tekuk seperti menahan rasa kesal yang entah pada siapa.


"Dia kenapa sih emang bil?" Tanya Ve dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Tau... Kayaknya masih masalah yang semalem deh, ribut dia sama papah." Ujar Nabil yang langsung mendapat tatapan tajam dari Adzril, namun bukan Nabil namanya jika tidak iseng pada kembarannya itu.


"Astaga..." Geram veranda ketika mengetahui ini ketiga kalinya dalam seminggu ini Nabil kembali bermasalah dengan papahnya sendiri.


"Udah... udah... buru turun, gue temenin makannya." Ujar Ve dengan menarik adzril yang terlihat hendak duduk kembali di depan kursi depan komputernya.


"Ahhh... males banget gue, pasti ada papah dibawah." Rengek Nabil dengan di tarik Ve seperti anak kecil yang masih asik bermain ayunan namun disuruh pulang oleh ibunya.


"Kagak ada, orang papah udah berangkat dari tadi pagi juga, katanya ada rapat di semarang." Ujar Nabil ngasal, namun terlihat serius dimata Adzril, yang akhirnya meski masih ragu, Adril tetap mengikuti Ve dari belakangnya.


"Loe jangan terlalu egois ngapa sih, Dzril... sekali - kali gitu kalo papah loe ngasih tau yang bener, jangan langsung loe ambil kesimpulan negative terus bikin loe kesel sendiri sama papah." Ujar Ve yang sebenarnya merasa lelah menghadapi Azdril yang lebih keras kepala daripada Nabil, hingga setiap ayahnya menasehati Adzril, Adzril selalu merasa benar sendiri.


"Loe diem aja deh Ve kalo gak tau masalahnya..."


"Ya makanya loe cerita sama gue, kalo ada masalh tuh, berbagi sama Gue, masa loe terus yang bantuin semua masalah Gue, sedangkan gue seolah olah tutup mata - tutup telinga setiap loe ada masalah." Potong Ve dengan sedikit keras dengan menatap tajam pada Adzril yang ternyata perdebatan keduanya tanpa mereka sadari, Erna melihat dan mendengarnya.


"Gue itu pacar Loe, begitupun loe, loe juga pacar gue, Dzril, bukan Bodyguard ataupun penasihat Gue." Lanjut Ve dengan kini menatap Adzril dengan pasrah.


"Hehhh... udah - udah, Baru juga Ve dateng udah kamu kasih muka kusut aja..." Lerai Erna dengan menghampiri keduanya dan langsung sedikit menarik Ve kearah sofa dan membiarkan Adzril berjalan menuju ruang makan. Saat menyadari ternyata papahnya tengah duduk membaca koran di depan meja makan, sontak Nabil sedikit ragu untuk melanjutkan langkahnya, namun Daren hanya menatap sebentar Adzril dan tanpa sepatah kata apapun, Daren hanya mengacuhkan Adzril yang kini sudah duduk di kursi makan yang bersebrangan.


Keadaan hening, hanya suara sendok yang beradu dengan piring yang menemani suasana sarapan yang terlalu kesiangan itu. Daren mungkin sedikit berfikir dua kali untuk bertanya atau sekedar membuka obrolan dengan Adzril, karena tak ingin merusak nafsu makan salah satu anak kesayangannya itu. Meskipun sedikit keras kepala, namun rasa sayang Daren pada Nabil ataupun Adzril, itu sama saja, tak ada bedanya sedikitpun, mungkin bedanya hanya interaksi dengan Adzril lebih sering kearah berdebat, sedangkan Nabil lebih sering mengikuti kemauan sang ayah tanpa berfikir panjang.


"Duduk dulu..." Ucap Daren tiba - tiba saat melihatAdzril ingin beranjak karena merasa cukup terisi perutnya. Dan tanpa bantahan, Adzril kembali duduk namun enggan menatap Ayahnya yang kini menyimpan koran dan melepas kaca mata bacanya.


Hela nafas terdengar saat Daren melihat Adzril enggan menatapnya.


"Dengerin papah, Adzril... papah nggak ngelarang kamu buat menjalin hubungan serius dengan Ve, papah nggak mau ngelarang kamu yang punya niat baik buat bertunangan dengan Ve, dan papah nggak ngelarang hubungan kamu sama Ve, Papah bahagia denger kamu sudah berfikir sedewasa ini, tapi, menjalin hubungan serius itu bukan perkara yang mudah, perjalanan kalian masih sama - sama panjang, kalian masih ada di fase waktu buat ngejar cita - cita kalian. bukannya Adzril sama Nabil bercita - cita mau bikin pabrik mobil berdua?" Tutur Daren yang membuat Adzril semakin tertunduk.


Permasalahan sebenarnya antara Adzril dan ayahnya sendiri hanya karena Adzril yang tiba - tiba bicara pada Daren untuk meminta izin ingin bertunangan dengan Ve, namun salahnya, Adzril meminta hal itu disaat sang Ayah tengah merasa Lelah dan dirundungi banyak masalh dikantornya, sehingga membuat Daren mengeluarkan kata - kata yang sedikit merendahkan keinginan Adzril, seperti bertanya 'kamu belum punya apa - apa untuk menghidupi dan menanggun semua kebutuhan Ve. apa kamu fikir, cinta dan kepercayaan bisa buat kalian kenyang?'. Itulah kalimat yang membuat Adzril merasa sakit hati pada Ayahnya.


"Papah nggak mau kamu menanggung malu sendiri dihadapan keluarga Veranda, Adzril. Coba kamu bayangin, bagaimana perasaan kamu, ketika ucapan papah semalam, diucapkan papahnya Veranda. Bukan cuma Adzril yang sakit hati, tapi papah juga pasti akan sangat sakit hati melihat salah satu putra kesayangan papah direndahkan orang lain, tapi disisi lain, papah juga akan membenarkan ucapan itu." Tutur Daren yang semakin membuat Adzril semakin merasa dadanya semakin sesak, dan matanya yang memanas mungkin bila Adzril mengedipkan matanya, Airmata yang sedari tadi Adzril tahan, akan lolos begitu saja.


"Maafin adzril, Pah. Tapi Adzril punya alasan kuat dibalik ini semua. Adzril nggak mau hubungan Adzril dan Nabil merenggang cuma karena seorang wanita yang sama - sama kita Kagumi melebihi dari sesosok sahabat." Tutur Adzril yang kini menatap pasarah pada Ayahnya. Dan ayahnya pun menatap terkejut pada kalimat yang keluar dari mulut Adzril sendiri, namun sedetik kemudian Daren hanya bisa menghela nafas lelahnya.


Tbc....

__ADS_1


__ADS_2