
"Nggak, yang di cintai tetep gue, cuma di maunya Gue bersikap kayak Adzril... dan asal Loe tau, yang Gaby ceritain, itu semua memang pernah gue lakuin, persis..."
"Tunggu..."
Veranda yang menyadari akan satu hal, ternyata dugaannya benar, Nabil sudah mengingat semuanya kini tak bisa berkata - kata, hanya satu pertanyaan kini di otaknya, sejak kapan?
"Ya, gue Nabil yang pernah mencintai loe, Ve... Gue udah inget semuanya, Sorry kalo gue baru kasih tau loe sekarang, tapi loe tenang aja, perasaan gue ke loe sekarang, hanya bener - bener sebagai sosok seorang kakak, nggak lebih. Karena dalam hati Gue udah terisi satu nama yang sanagt gue cintai sampai sekarang." Tanpa bertanya apapun Lagi, Veranda hanya menatap Nabil dengan tatapan kosong tak percaya.
"Siapa?" Entah sadar atau tidak Ve mengucapkan kalimat ini, yeng jelas sebnarnya bukan ini yang harus Veranda tanyakan.
"Naomi, orang yang Gaby ceritakan udah meninggal, tapi sebenarnya Naomi itu ya, Gaby. Jadi Gaby menceritakan Naomi tapi versi bagai mana jika dirinya menggantikan Naomi dalam kehidupan Gue. Dan loe, mungkin gue bisa tarik garis kesimpulan, kalo loe tuh berperan menggatikan, Sinka, Adik Naomi yang juga pernah mencintai Gue, tapi gue sendiri mencintai kakak, Dia. dan akhirnya perasaan Gue sama Naomi harus terhalang gara - agara Naomi lebih mementingkan perasaan adiknya, dibandingkan perasaan dia pada Gue yang juga ternya memang suka sama Gue." Tutur Nabil yang sukses membuat Ve percaya akan Nabil yang kini sudah mengingat semuanya.
"Anjing... nasib baik emang lagi berpihak sama gue hari ini." Gumam Nabil yang kini membuat Ve terheran apa maksud perkataan Nabil, namun Ve menyadari pandangan Nabil yang terlihat fokus memandangi sebuah objek di depannya.
"Gue mau buktiin sama loe, kalo gue udah nggak amnesia." Ujar Nabil tiba - tiba dan membawa ,obilnya memasuki sebuah restoran dimana terparkirnya sebuah Mobil yang sangat Nabil kenali, dan Nabil sendiri menyimpan mobilnya tepat disamping Mobil tersebut.
"Ayo turun, tenang aja kalo loe males makan, kita kesini cuman buat ngeyakinin loe." Ajak Nabil yang lagi - lagi Veranda hanya bisa menuruti dan kini turun dari mobil, lalu berjalan mengekori Nabil.
sesampainya di pintu masuk, Nabil mengedarkan pandangannya hingga menemukan satu objek yang menjadi tujuannya.
"Meja pojok deket jendela, ini restoran paforit gue sama Naomi, dan disini juga gue nyatain perasaan gue sama dia." Ujar Nabil yang membuat Ve menatap ke arah yang Nabil katakan, dan disana ada dua gadis yang satu membelakanginya dan yang satu tepat menatap kearahnya dengan tatapan yang sangat tajam dan sarat akan kebencian yang sangat dalam, mungkin bukan dirinya yang gadis itu tatap.
"Ayo..." Nabil langsung menarik tangan Ve ke arah gadis yang semakin tajam dan amarah yang semakin besar ketika Nabil kini tepat di belakang gadis yang memunggunginya.
"Mau apa lagi? Mau kenalin cewek yang udah buat kakak gue hampir gila? hm?" Baru juga Nabil sampai, pertanyaan sangat tajam dan dingin dengan tatapan kebencian mendalam langsung menyambut Nabil dan Ve, sontak gadis yang sebelumnya membelakangi Nabil dan Ve kini ikut menatap Nabil dengan sedikit terkejut.
"Serem amat muka loe, Sin." Bukannya takut, Nabil malah mengejek Sinka seolah tidak pernah terjadi apa - apa antara mereka bertiga.
"Gue gabung, yah..." Tanpa menunggu persetujuan Naomi maupun Sinka, Nabil langsung duduk disamping Naomi dan Ve duduk disamping sinka yang menatap benci pada Veranda juga ternyata.
"Gue bukan calon istrinya Nabil, loe gausah natep gue kayak gitu." Ujar Ve yang membuat Sinka mengerutkan dahinya.
"Kamu nagapain ada disini?" Tanya Naomi dengan menatap Nabil yang sarat akan kerinduan yang sangat besar, namun Naomi sadar, hal itu tak bisa membuatnya bisa memeluk erat Nabil saat ini untuk mengobati kerinduannya itu.
"Loe inget, gue pernah minta izin sama loe buat ketemu kakak ipar gue?" tanya Nabil yang kini tersenyum menatap Naomi yang mengangguk, seklaigus menekan rasa sakit, karena disaat itulah, Naomi memantapkan dirinya untuk jadi milik Nabil seutuhnya, namun ternyata itu adalah keputusan yang salah.
"Ya, ini orangnya." Lanjut Nabil dan veranda pun mengulurkan tangannya kehadapan naomi untuk bersalaman.
"Hai, gue Veranda... Cinta pertamanya Nabil Putra." Ujar Ve yang sukses membuat Nabil menatap malas pada Ve, sedangkan Naomi tersenyum miring.
"Naomi... Gadis yang masih dan akan selalu bertahta dihatinya Nabil." Balas Naomi dengan tersenyum miring, dengan sangat PD nya, namun Nabil sendiri tidak bisa membantah ucapan Naomi, karena memang begitu kenyataannya.
"Gausah ngasal, loe tuh bukan cinta pertama Gue..."
"Ya, Karena cinta pertama loe itu Shani!"
DEGH....
Nabil tersentak saat mendengar kembali nama itu, Nama yang dahulu sebelum mengenal Sinka dan Naomi pernah bertahta dihati Nabil, dan itulah nama Gadis yang ada dalam lukisan Nabil.
"Shani?" Tanya Ve menoleh pada Sinka dengan terheran.
"Ya, sepupuku yang udah meninggal karena kecelakaan sehari setelah ada seseorang menyatakan perasaan cintanya, tapi dengan lancangnya si kecoa ini narik Shani dan ngaku - ngaku pacarnya Shani, orang gila emang." Ketus Sinka yang ternyata inilah yang Nabil Cari, inilah yang selama ini menjadi pertanyaan besar dalam kehidupannya.
"Jadi sebenernya loe tahu, siapa Gadis yang jadi cinta pertama Gue?" Tanya Nabil dengan menatap Sinka yang masih tersirat amarah dalam tatapannya saat menatap Nabil.
__ADS_1
"Aku tau, dan Kakak juga tahu hal itu." Jawab Sinka yang sukses membuat Nabil menatap Naomi yang kini menunduk.
"Kamu nggak pernah nanyain hal apapun tentang Shani, Bil. Dan aku nggak ada hak kalo tiba - tiba membahas Shani yang udah nggak ada sama, kamu!" Ujar Naomi tiba - tiba dan hal itu sukses menyadarkan Nabil, jika Nabil tak ada hak menuntut apapun pada Naomi dan sinka yang menyembunyikan hal ini, tidak, mereka bukan menyembunyikan, tapi memang Nabil tidak pernah membahas ataupun bertanya apapun tentang gadis bernama Shani pada Sinka, maupun Naomi.
"Dan bahkan mungkin kamu nggak pernah tau, siapa orang yang nyatain perasaannya pada Shani saat itu?" Tanya Sinka kembali yang dengan terpaksa Nabil memutar ingatannya mengingat lelaki yang saat itu menatap tajam pada Nabil karena menggagalkan acara romantisnya. Dan seketika itu juga kini sebuah fakta pahit harus Nabil telan bulat - bulat, ternyata baru tadi pagi dia bertemu dengan seseorang yang pernah Nabil permalukan dihadapan orang banyak.
"Anjing... kenapa bumi ini sempit banget..." Lirih Nabil dengan mengusap kasar wajahnya.
"Emang Kamu tau tau?" Tanya Sinka yang kini sedikit terkejut, jikalau Nabil mengenal lelaki itu.
"Gue gak tau namanya, tapi gue inget wajahnya, Ve, siapa tadi pagi yang ada urusan sama Adzril?" Tanya Nabil yang membuat Ve kini menatap Nabil.
"Vino?"
Sontak Naom dan Sinka sukses sama - sama menatap Ve dengan tatapan terkejut.
"Kalian kenal Vino?" Pekik Naomi dengan sangat terkejut.
"Nabil nggak mungkin kenal, tapi gue sama kembaran dia kenal baik sama Vino, soalnya kita bertiga sekampus." tutur Ve yang membuat Sinka dan Naomi hanya ber 'oh' ria, namun Nabil berfikir ulang, jika Vino yang pernah Nabil permalukan sebelumnya, untuk apa dia berteman baik dengan Adzril, hingga sebuah fikiran negatif hinggap di kepala Nabil.
"Ve, loe mikir gak... apa yang gue fikirin sekarang?" Tanya Nabil yang sukses membuat Ve mengerutkan dahinya menatap Nabil.
"Hidih... siapa elo? Rajin banget otak gue harus bisa sefikiran sama, loe!" Balas Ve yang membuat Nabil menyesal mengenal sosok veranda.
"Serah loe lah... peduli amat juga gue. Orang gue kesini cuma mau kangeng - kangenan sama..."
"M.A.N.T.A.N" Ejek ve dengan mengeja kata yang ia ucapakan.
"Makin gak asik gue liat - liat." Kesal Nabil dengan menatap malas pada Ve. sedangakan Naomi, kini hatinya semakin terombang - ambing, antara rindu, kecewa, sedih dan amarah, semuanya bercampur aduk disana ketika memikirkan bagaimana hubungan kedepannya tentang dirinya bersama Nabil.
Naomi yang mendengarpenuturan Ve hanya bisa menahan sesak dalam dadanya, hingga ketika Nabil menyadari jika Naomi tengah menahan dengan sekuat tenaga agar tangisannya tak pecah saat itu juga langsung membawa Naomi dalam pelukannya.
"Gue tau, kata maaf nggak bisa balikin semuanya seperti dulu sebelum loe ketemu sama benalu kayak gue. Tapi gue harap loe bisa lebih bahagia tanpa adanya Gue, Mi..." Bisik Nabil yang semakin membuat Naomi tak bisa lagi menahan tangisnya dan membalas pelukan Nabil sangat erat, menyampaikan betapa rindunya Naomi pada sesosok lelaki yang enggan singgah dari hati Naomi.
"Berapa kali aku bilang, dia buakn bayi kamu, Bil! Ini semua bukan salah kamu! Kamu ngerti gak sih!" Lirih Naomi dengan suar ytang tercekat berada anatara teriakan yang tertahan dangan nafas yang tak teratur karena tangisannya.
"Itu yang lagi aku cari, Mi! Bukti itu yang lagi aku cari! dan semoga, bukti itu memang beneran ada, dan bisa buat aku sama kamu bersatu lagi..."
"Veranda, Diem!" Tegas Nabil saat melihat Veranda ingin mengeluarkan sebuah kalimat.
"Ini masalah gue..." Lanjut Nabil yang membuat Ve menghela nafas kasar.
"Gue tau loe perduli sama Gaby... karen loe belum dengar cerita dari sisi Naomi, yang kalo loe dengar, loe pasti akan bingung, mana yang gue alamin sebenarnya."
Ve hanya acuh kini pada Nabil dan tak memperdulikan apapun yang Nabil ucapkan. karena Nabil sendiri yang bilang sebelumnya, bahwa ini adalah masalahnya, dan dengan begitu Ve tak memperdulikan lagi semua hal yang ia lihat didepannya.
"Bil, kalo kamu gak bisa sama kakak, aku harap kamu nggak memberikan harapan apapun buat kakak, cukup sekali kamu kecewain kakak, yang buat kaka merubah dunianya. Aku rindu sama kakaku yang dulu sebelum Kakak mengenal kamu. Kalo kamu bisa tulus sayang dan cinta sama kakak, kamu juga harus bisa ikhlas ngelepasin kakak, sama halnya dulu ketika aku ikhlas ngelepasin kamu buat kakak aku." Tutur Sinka yang sukses membuat Nabil sangat merasa sangat sesak hanya untuk sekedar menghela nafas, benar memang Nabil harus bisa melepaskan Naomi dan ikhlas melihat Naomi bahagia dengan orang lain, namun bagaimana dengan Naomi? apa Naomi siap melepaskan Nabil, apa Naomi bisa ikhlas melihat Nabil bahagia dengan orang lain? Jika saja Naomi tidak bisa, maka semakin berat juga Nabil untuk melepas Naomi.
"Gue tahu , Sin! dan gue juga berhap bisa nggelepasin kakak loe dengan ikhlas buat bahagia dengan orang lain. Tapi sekali lagi guee tekenin sama loe. Semua itu tuh, nggak gampang..."
"Kata siapa, gampang koq! Segampang loe ngerendahin kakak gue dihadapn nyokap dan calon istri loe!" Sinka yang tiba - tiba teringat dengan perlakuan Nabil saat pertama kali Naomi menemui Nabil dihadapan Erna dan Gaby. "Segampang loe pura - pura lupa dan ngerendahin Naomi, bahkan lebih rendah daripada calon istri loe yang seoran pelac..."
"Eh, jaga bacot loe, ya!" Veranda yang entah apa alasannya tiba - tiba merasa dirinya seperti sangat tidak terima ketika mendengar Sinka merendahkan Gaby yang sebenarnya belum lama ia kenal. "Gadis yang loe bilang pelacur itu, adalah seorang gadis malang yang nggak lebih beruntung hidupnya dibanding elo sama gue, gadis yang bilang pelacur itu nggak lebih dari seorang gadis SMA yang nasibnya dipaksa menjadi korban malang karena kelakun bangsat dari seorang laki - laki yang loe berdua sama - sama cintai."
Nabil yang tak mengira jika Ve tak akan bereaksi seemosi ini, kini semakin heran padanya, sebegitu berempatinya kah seorang Veranda pada Gaby, yang awalnya Vee sendiri menganggap Gaby seorang gadis gila yang tiba - tiba datang padanya, mengadukan semua perlakuan yang Nabil lakukan pad Gaby dengan sebuah cerita yang menurut veranda sangat konyol.
__ADS_1
"Veranda!"
"Aoa? Loe mau bela gadis yang terang - terangnya ngjatohin harga diri calon istri loe sendiri?" Veranda yang entah mengapa semakin terulut emosinya dengan menatap tajam Nabil saat ini.
"Nabil, Sinka! Dan, buat loe, gue minta maaf banget atas semua perkataan adek gue." Naomi yang merasa kini keadaan jauh kata dari baik - baik saja,langsung menegakan kemballi badannya dan menatap Ve yang kini juga menatap Naomi dengan sangat tajam.
"Ve, ayo balik!" Nabil langsung berdiri dan menarik tangan Ve dengan sedikit kasar, entah saat ini Nbail harus bersikap bagaimana pada calon kakak iparnya ini.
Veeranda sendiri yang terlihat masih ingin mengintimidasi Naomi dan Sinka tak bisa berkutik keti Nabil dengan sangat tajam menata Ve dan mengisyartkan lewat tatapan matanya agar Veranda tak mengeluarkan kembali suaranya dan mengikuti Nabil.
"Mi, gue sama kak ve balik duluan, kalian hati - hati pullangnya nanti." pamit Nabil setlah Ve berdiri dengan raut yang masih sangat emosi. Tanpa menunggu jawaban apapun dari Naomi, Nabil langsung menarik Veranda dengan sedikit langkah cepatnya.
...***...
Singkat cerita, Nabil dan veranda teelah sampai dipekarangan rumahnya, dengan mimik muka yang sama - sama dilannda amarah yang sama besarnya, bahkan hingga keduanya denga tiba - tiba duduk di sofa rruang tamu tanpa menghiraukan tatapann bertanya dari Adzzril dan Gaby yang sedari tadi bingung melihat keeduanya.
"Loe berdua kesambet apaan?" Tanya Adzri denga mimik muka dengan sangat herannya menatap Nabil dan Veranda bergantian.
Namun, nabil maupun Ve sepertinya tak ada yang ingin menjawab pertanyaan sederhana dari Adzril.
"Ve?" Gaby yang sama penasarannya pun kini mencoba bertanya walauppun hatinya ssedikit takut menatap raut yang terlihat sama - sama memendam emosi yang sangat luar biasa bear diantara keduanya
Namun sekali lagi, pertanyaan Gaby yanya bagaikan sebuah hembusan angin belaka.
"Jangan bilang, ini masih dari masalah gara - gara game gak guna tadi pagi, ya!" Lagi Adzril mencoba sedikit menccairkan suasana, Adzril tahu, ini bukan sekedar masalah permainan yang pagi tadi mereka berdua mainkan, Adzril merasakan aura keduanya yang sama - ama emosi.
"Gue tanya..." Akhirnya Vraanda mulai membuka suaranya dengan menatap Adzril dengan sangat tajam. "Gimana reaksi loe ketika Nabil gue hina, gue jatuhin harga dirinya, didepan loe secara langsung?"
"Siapa yang hina Nabil?" Bukannya menjawab, Adzril malah balik bertanya dan membuat Ve kini malas meenatap Adzril yang tak tahu apa - apa.
"Gue bilang dia nggak tahu apa - apa, Ve! Dia nggak tahu kalo sebelumnya gue emang amnesia beneran, dia nggak tahu..."
"Tunggu!" Potong Gaby saat tak sengaja mendengar kalimat yang sdikit membatnya berfikir keras. "Maksudnaya amnessia beeneran?"
Nabil dan Adzril pun kini sama - sama saling beradu tatap saling melemparkan isyarat, harus menjawab apa. Sedangkan Veranda hanya acuh namun dalam hatinya sedikit bersorak karena berhassil memancing Nabil untuk membongkar rahasianya didepan Gaby, jika Nabil sudah mengingat semuanya.
"Eh... gini, Gab..."
"Aku mau Nabil sendiri kak yang menjawab." Potong Gaby ketika Adzril mencoba menjelaskan pada Gaby.
"Emang apa yang loe fikirin dari kalimat gue seblumnya?" Tanya Nabil yang kini pasrah jika memang saat ini Gaby harus mengetahui tentang amnesia nya yang telah sembuh.
"Kenapa kamu sembunyiin ini dari aku? Apa aku se-enggak penting itu dihidup kamu, Bil?" Dengan tatapan sangat kecewa, Gaby kini menatap Nabil yang juga menatap balik Gaby dengan tatapan menatap kosong.
"Mau loe apa? Loe minta tanggung jawab? gue udah kabulin, loe minta buat sama - sama, sama gue, gue turutin, ini kan janji gue, apapun mau loe, gue turutin andai loe hamil? loe mau apa lagi sekarang dari gue? loe mau rumah? Oke gue turutin semuanya, besok kita beli rumah! Mau apa lagi? Mobil? hm?" Cecar Nabil yang tanpa sadar membuat Gaby sakit hati atas semua kalimat yang Nabil ucapkan padanya.
"Hanya satu Gab, yang nggak bisa gue turutin permintaan loe, Jatuh cinta sama loe, gue nggak bisa." Lanjut Nabil yang semakin membuat Gaby menangis dalam diamnya, Adzril dan Ve kini sama - sama bingung harus bereaksi seperti apa.
plak
"KELUAR KAMU DARI RUMAH INI!"
......................
TBC
__ADS_1