
"Oiya, Gab... Tentang loe..." adzril yang tengah dalam dekapan Ve, kembali mengingat satu hal yang seharusnya ia tanyakan dari tadi. "Apa loe mau nuntut Nando buat jadi Ayah dari...."
"Aku bisa besarin anak aku sendiri, kak... Aku nggak akan pernah sudi buat tinggal satu atap yang sama dengan dia." Potong Gaby yang tahu kemana arah pembicaran Adzril. "Lagian, aku sendiri gak yakin, ini anak siapa kak... Soalnya, bukan sekali mereka lakuin itu ke aku."
Melihat Gaby yang tiba - tiba termenung setelah mengatakan kalimat terakhirnya, Adzril sontak merasa kini menyesal untuk membahas hal ini sekarang.
"Yaudah, ada baiknya ini nant kita bicarain lagi sama mamah papah, nanti." Balas Adzril yang mengerti perasaan Gaby yang saat ini berada didekatnya yang telah melepaskan pelukannya dengan Ve.
"Kak Ve... Aku boleh peluk, kakak?" Tanya Gaby yang entah mengapa kini menatap Ve dengan mata yang berkaca - kaca. Ve yang sedikit bingung pun merentangkan tangannya untuk menyambut Gaby yang kini langsung memeluk erat Ve.
"Udah, gak usah diinget lagi, gue yakin suatu saat akan ada orang yang tulus, datang buat jadi pelengkap kebahagiaan loe, Gab?" Tanya Ve yang masih menceerna apa yang terjadi pada Gaby.
"Aku minta maaf, gak bisa berbuat apa - apa, Aku terlalu takut buat ngebantah semua perintah dokter Kinal. Kesalahan terbesar aku yang sampai saat ini selalu hantuin aku, aku sendiri yang udah bodoh saranin dokter Kinal buat jadiin Kak Ve akses buat aku bisa masuk ditengah keluarga ini. Aku bener - bener nyesel, Kak... Aku minta maaf."
Ve yang mendengar setiap penuturan Gaby, entah mengapa dirinya merasa tak bisa marah sedikitpun pada Gaby, padahal harusnya Ve saat ini bisa untuk sekedar marah, bahakan membenci Gaby. Namun entahlah, apakah ini masih berkaitan dengan apa yang Dokter Kinal lakukan pada Ve, atau memang Ve benar - beenar menganggap Gaby bukanlah orang lain, hingga Ve tak bisa untuk marah bahkan membenci Gaby sedikitpun.
"Gab, gue gak tau... Entah kenapa gue ngerasa harusnya saat ini gue marah sama Loe. Entah ini karena gue masih dibawah sugesti fikiran gue yang di buat sama dokter Kinal seperti kata loe tadi, atau emang gue nggak bisa marah sama Loe. Tapi terlepas itu semua, gue nggak nyesel koq Gab, mereka buat gue percaya sama orang yang nggak salah. Yang penting mereka nggak bikin gue lupa sama cowok goblok ini, gue nggak akan pernah permasalahin ini." Gaby yang mendengar setiap tutur Kata yang keluar dari mulut Ve semakin tak bisa membendung lagi tangisannya. Rasanya, Gaby telah mendapatkan apa yang sedari dulu ia idamkan, namun tak pernah ia dapatkan, dan rasanya mustahil ia dapatkan, yaitu memiliki seorang saudara yag sangat menyayangi Gaby, dan begitupun Gaby yang juga sangat menyayanginya.
"Makasih... Makasih banget, aku nggak tau lagi apa yang bisa aku lakuin buat balas semua kebaikan Kak Ve." balas Gaby dengan semakin menangis haru.
Malam ini rasanya Gaby sangat lelah, terlalu banyak menangis membuatnya semakin tak bertenaga, ditambah perutnya yang semakin membesar, dan membuat sisi emosional Gaby sangat sensitif pada hal apapun.
"Oiya... Gue sebenarnya sampe sekarang sedikit ragu sama kandungan loe, Gab..."
Adzril yang sedari tadi memperhatikan bagaimana Ve pada Gaby, akhirnya mngeluarkan keresahannya yang selama ini ia tahan untuk ia tanyakan pada Gaby.
"Loe sebenarnya tahu hal ini gak sih? Cewek yang lagi hamil, pada umumnya bakal ngalamin fase dimana setidaknya sekali, minta hal yang aneh - aneh, atau disingkatnya ngidam, gitu..." Ve yang juga sebenarnya dari jauh hari memikirkan hal ini, sontak langsung menatap Gaby yang menuntut jawaban pada Gaby. Pasalnya Ve sendiri belum pernah melihat Gaby meminta satu hal aneh pada Nabil yang sebelumnya sangat menuruti Gaby, meski Ve tahu dari tatapn Nabil, tak ada sedikitpun perasaan cinta pada Gaby. Namun, sebisanya Nabil pasti akan menuruti kemauan Gaby, hingga hal yang seblumnya tak pernah ia duga sedikitpun, jika Nabil lebih memilih Gaby daripada Erna.
"Sebenarnya aku pernah koq ngalamin fase itu, sering malah, apa lagi pas aku pindah ke rumah kalian, tapi aku cukup sadar diri, Kak... Aku nggak mau ngebebanin Nabil, diterimanya aku dirumah kalian, bagi aku itu udah jadi hal yang sangat bahagia banget buat aku, Kak." tutur Gaby yang cukup membuat Adzril dan Ve sedikit terkejut, namun berakhir menatap iba pada Gaby yang kini menunduk, menahan airmatanya.
"Dan ngidam paling parah yang pernah buat aku sedih semalaman waktu itu..." Gaby sedikit ragu untuk mengatakan hal ini dan, namun tatapan Ve terus menuntut Gaby seolah harus mengatakan semuanya. "Tapi kalian janji, yah... Jangan bilang ini lagi ke siapapun, terutama ke mamah sama Nabil."
Adzril dan Ve semakin penasaran dan malah kini merasa gemas sendiri karena mendengar Gaby yang teralu bertele - tele.
"Aku pernah ingin banget tidur ditemenin Nabil sambil di peluk gitu semalaman penuh, ya layaknya gimana pasangan suami - istri pada umumnya."
Adzril dan Ve seketika itu pula langsung sedikit tercengan atas penuturan Gaby, memang hal yang wajar, karena saat itu, mereka semua belum mengetahui kenyataan jika Gaby ternyata masih memiliki hubungan darah dengan Daren.
"Loe beneran jatuh cinta sama Nabil ya, Gab?" Tanya Ve dengan spontan.
"Aku tahu ini salah, tapi gitu adanya, kak... Maafin aku." Lirih Gaby dnengen menatap Adzril dengan perasaan berssalah, karena Gaby tahu, ini memang bukan hal yang benar. "Tapi kalian tenang aja, aku nggak bakal seegila Keynal koq yang bakal lakuin apa aja buat dapetin Nabil."
"Kakak harap, loe nggak sakitin diri loe sendiri ya, Gab..." Pinta Adzril dengan menyimpan tangannya di kedua bahu Gaby, berharap Gaby tahu maksud denngan kalimat yang Adzril ucapkan.
"Nggak koq, Kak... Bulsh*t emang kalo aku bilang, aku ikhlas liat kak Nabil bahagia sama Naomi... tapi aku akan ngerasa sangat berdosa, kalo terus berharap kak Nabil suatu saat bisa jadi milik aku seutuhnya." Lirih Gaby dengan tersenyum getir menatap Adzril yang juga kini merasa serba salah.
"Walopun bukan milik loe seutuhnya, percaya gue sama Nabil selalu dibelakang loe, saat loe capek dan lelah, dan gue sama Nabil bakal ada di depan loe, saat loe takut buat ngelangkah kedepan, kita yang bakal jadi pelindung buat jaga loe bisa tetap berjalan kedepan, segede apapun rintangannya. We are always with you!"
...****************...
Sedangkan ditempat lain, Nando berjalan lunglai dengan bantuan dinding tembok menjadi penahan agar tubuhnya tidak ambruk begitu saja. Keadaanya pun terlihat sedikit jauh dari kata baik - baik saja, tetes demi tetes darah terus menerus jatuh dari lengannya kirinya, dan hal itu menjadi bukti, Nando baru saja mencabut paksa jarum infus yang sebelumnya terpasang.
Setelah Nando merasa telah sampai pada tujuannya, dengan melihat nomor yang tertera diatas pintu ruangan tersebut, tanpa menunggu apapun lagi, Nando langsung masuk kedalam ruangan itu dan langsung disuguhkan dengan pemandangan yang cukup naas.
Setibanya Nando di samping bansal satu - satunya yang ada diruangan itu, nando langsun menatap objek didepannya dengan tersenyum sinis dan penuh kemenangan.
"Gue selesai, Key!"
Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Nando, dan tanpa melakukan apa - apa lagi, Nando langsung pergi meninggalkan tubuh orang yang tak lain adalah Keynal yang sampai saat ini masih tak sadarkan diri.
Singkatnya, setelah mendapatkan beberapa info dari kawan - kawannya yang sampai saat ini masih setia menjadi bawahan Keynal, tibalah Nando di sebuah lorong rumah sakit. Dengan langkah cepat, tanpa menghiraukan rasa sakit yang semakin menyerang kepalanya, Nando kini berada tepat di pintu dengan nomor 102.
Sial baginya mungkin, sebelum sempat membukka pintunya, ternyata seseorang terlebih dahulu sudah membuka dari dalam dan membuat keduanya sama - sama terkejut dengan sama - sama melemparkan tatapan perang.
"Boleh gue masuk?" Tanya Nando dengan masih menatap tajam orang di depannya
"Kagak punya jam, loe? Dini hari kayak gini, udah abis waktu besuk. Mending loe cabut dari depan gue." Balas orang yang tak lain adalah Nabil.
"Siapa, Kak..." Sinka yang memang massih terbangun karena menemani Nabil mengobrol sedari tadi, penasaran karena melihat nabil yang sebelumnya pamit untuk mencari makanan ringan, malah terdiam didepan pintu.
"Masuk, Sin..." Titah Nabil yang langsung Sinka turuti, namun dengan menarik tangan Nabil karena Sinka tahu, saat ini bukan waktu yang tepat membiarkan Nando dan Nabil langsung bertatap muka tanpa ada Naomi yang selalu bisa menengahi keduanya.
__ADS_1
Namun tanpa diduga, tanpa rasa takut sedikitpun Nando memaksa masuk sebelum Sinka bena - benar menutup kembali pintunya, dan hal itu tentu saja membuat Nabil langsung tersulut emosinya dan langsung mencengkram kuat kerah baju Nando.
"Loe ngerti apa yang sebelumnya gue bilang nggak sih, tol*l?" Geram Nabil dengan semakin tajam menatap Nando.
"Nabil..." Panggil Naomi yang ternyata terbangun dari tidurnya. Nabil yang mengerti maksud Naomi, langsung melepaskan cengkramannya dan membiarkan Nando menghampiri Naomi.
"Lima menit." Ucap Nabil dengan nada penuh ancaman, dan mengikuti Nando yang kini duduk di kursi samping tempat tidur Naomi dengan Nabil yang berdiri dibelakangnya.
"Ada apa?" Tanya Naomi yang mengerti kekhawatiran Nabil, langsung berinisiatif untuk bertanya terlebih dahulu agar Nando bisa secepatnya pergi.
"Gimana keadaan kamu?" Tanya Nando yang kini berubah menjadi raut khawatir menatap Naomi.
"Seperti yang kamu liat... Langsung aja, kamu mau apa dateng kesini?" Tanya Naomi lagi yang menekankan bahwa saat ini naomi tak menginginkan keberadaan Nando disini, bukan karena benci, tapi karena orang yang saat ini berdiri dengan tatapan tajam terus menatp Nando. Sebenarnya Naomi tahu, Nabil tidak akan se-gegabah itu langsungmenyerang Nando, namun yang lebih Naomi khawatirkan kedatangan Adzril yang bisa kapan saja tiba - tiba masuk.
"Gue mau balik, gue kira disini ada Bunda, tadinya mau sekalian pamit sama bliau. Sorry, gue gak bisa jaga loe dengan baik. Orang yang nusuk loe, bukan anak buah Gue, dia tangan kanannya dokter Kinal, gue nggak tahu rencana apa yang sebenernya Dokter Kinal susun buat usik keluarga Nabil.
Satu hal yang gue tahu, ternyata ini semua yang terjadi, bukan cuma buat bikin hubungan loe sama Nabil ancur. Gue nggak tahu hal bessar apa yang ada dibalik semua rencana Dokter Kinal yang sebnarnya.
Terserah, loe semua mau percaya gue atau nggak, yang penting, kalian semua hati - hati." Tutur Nando dengan panjang lebar, dan setelah mengatakan hal itu, Nando langsung berdiri dan enghadap Nabil dengan merogoh salah satu kantong jaketnya.
"Sorry, gue baru bisa balikin ini sekarang." Ujar Nando dengan memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah pada Nabil yang kini terlihat bingung dengan apa yang ada ditangannya. "Jaga dia baik - baik... Bener kata loe, andai gue sama Naomi sama - sama punya perasaan salingcinta, semesta nggak akan pernah restuin kita."
"Apa nih?" Tanya Nabil yang masih bingung dengan benda ditangannya.
"Itu punya loe." Hanya itu yang nando katakan dan tanpa ucapan apapun lagi, Nando langsung meninggalkan ruangan itu.
"Eh, bangsat! Enak aja lo mau pergi gitu aja setelah apa yang udah lo lakuin sama Gaby..."
"Pintu rumah gue selalu terbuka buat nyambut calon anak Gue!" Potong Nando yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nabil. Apa yang Nabil fikir, ternyata berbanding balik dengan apa yang Nando fikir. Niatnya, Nabil berbicara seperti itu untuk memperingatkan Nando agar bersiap untuk kapanpun bisa di jemput polisi atas perlakuannya pada Gaby.
"Lu kira gue su..."
"Sayang... Udah!" Potong Naomi yang terpaksa bangun dan menahan lengan Nabil agar membiarkan Nando pergi dengan melepaskan cengkraman tangan Nabil yang sedari tadi menahan Nando.
Setelah terlepas, Nando pun pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan kalimat apapun.
Setelah melihat Nando benar - benar menghilang dari pandangannya, Nabil kembali tersadar dengan apa yang ada di genggamannya, hingga Nabil membuka kotak merah itu dan semakin membuatnya bingung dengan apa yang ada dalam kotak itu.
"NN, mungkin ini maksudnya inisial nama aku sama kamu, tapi aku lupa, dalam rangka apa aku beli cincin ini..."
"Kakak mau lamar kak Naomi dulu, itu Kak Nabil ajak aku koq pas beli cincin itu, terus Kak Nabil besoknya tiba - tiba curhat ke aku, setelah beli cincin itu, malah Kak Nabil bingung sendiri gimana caranya kakak lamar Kak Naomi, karena semua keluarga kakak kecuali kakak ipar kaka, tidak sama sekali menganggap keberadaan kakak dirumah, bahkan belum astupun dari kelurga kak Nabil tahu hubungan Kak Nabil sama Kak Naomi, akhirnya karena stres, kakak kembali lampiasinnya dengan mabok dirumah kak Keynal selama tiga hari berturut - turut. Dan ujungnya kak Nabil pasti tahu dimana, dan kenapa cincin itu berada di tangan kak Nando, Kak Nabil juga udah pasti bisa perkirain gimana caranya." tutur Sinka panjang Lebar. Naomi yang mendengar hal itupun seketika terkejut, mendengar bagaimana seriusnya perasan Nabil sejak dulu.
"Loe lagi nggak ngarang cerita kan, Sin?" Tanya Nabil memastikan, kerana Nabil sendiri masih belum mengingat tentang cincin ini.
"Terserah kalian sih mau percaya sama aku atau nggak, tapi berhubung ini udah pas jam 00.00... HAPPY BIRTH DAY CALON KAKAK IPARKU."
Nabil dan Naomi seketika itu juga kaget saat Sinka tiba - tiba berlari dengan berteriak, lalu memeluk Nabil yang sedikit oleng karena Sinka menubruknya cukup keras.
"Sssttt... Jangan berisik, dikata ini dirumah nenek apa, yak!?" Tegur Nabil dengan membalas pelukan Sinka yang sangat erat
"Aku sampe lupa tadi pagi pas ketemu kalian sama kak Ve, itu aku abis belanja buat bikin Kue." Ujar Nabil yang kini sudah terlepas dari pelukan Sinka yang tiba - tiba.
"Terus, tadi pas keluar sama Gaby yang keliatnnya lagi nangis sambil kamu CIUM KENINGNYA, itu mau kemana? Koq tiba - tiba kamu ada dirumah aku?" tanya Naomi yang sedikit menekankan kata 'Cium'.
"Kamu nggak mau peluk aku dulu, gitu? Masa kalah sama Sinka?" tanya Nabil yang belum mau menceritakan apa yang terjadi tadi siang hingga dirinya menemui dan menangis dalam pelukan Naomi.
"Kenapa nggak minta sama Gaby aja?" Ujar Naomi yang masih terlihat kesal pada Nabil.
"Kamu percaya, kalo aku bilang kalo Gaby itu adik aku?" Tanya Nabil yang sontak langsung membuat Naomi tak percaya, namun tak ada kebohongan dari tatapn Nabil sedikitpun.
"What!? Berarti kamu pernah tidurina adik kamu..."
"Buset... Sayang! Jahat banget mulutnya!" potong Nabil yang masih menyisakan wajah syok Naomi, begitupun Sinka.
"Sebut aku bego karena aku saat ini nggak perduli apa yang dulu aku liat kamu sama Gaby berada di satu selimut yang sama, tapi... Gaby adik kamu..."
"Yatuhan... Shinta Naomi!!! Bisa diem, gak?" lagi Nabil terpaksa menghentikan ucapan Naomi yang sebenarnya Nabil juga belum mengetahui kejadian sebenarnya saat dimana saat itu juga memutuskan hubungannya dengan Nabil.
"Aku emang belum bisa jelasin apa - apa... Karena seperti apa yang bilang Sinka tadi, aku lagi mabuk, nggak sadar apa yang terjadi, dan satu - satunya orang yang bisa..."
"Nggak... terserah kamu percaya ataupun nggak, tapi Nabil nggak pernah ngapa - ngapain aku, Mi."
__ADS_1
Nabil menghentikan ucapannya saat dengan tiba - tiba Gaby, Veranda dan tentu saja Adzril, masuk ke kamar Naomi.
"Nah... Kan, aku bilang juga..."
"Tapi kamu lagi nggak sadar..."
"Yaampunnnnnnn... Kan yang ngomomg orang yang saat itu sadar. Bukan aku, Shinta Naomi sayangku, cintaku..."
Entah harus bagaimana lagi Nabil menjelaskan pada Naomi, padahal yang Nabil saat ini inginkan hanyalah sebuah pelukan dan ucapan selamat atas bertambahnya umur Nabil, dari Naomi. Bahkan, Adzril Ve dan Gaby sendiri bingung harus menjelaskan bagaimana lagi pada Naomi yang memang ketiganya tidak mengetahui bagaimana sifat Naomi.
"Bisa aja itu alibi Gaby, biar kamu nggak merasa bersalah..." Lagi, satu kalimat yang semakin membuat Nabil frustasi.
"Bener gue pacarin Sinka aja..."
"Yudah sana... Pacarin aja Sinka kalo kamu capek hadepin aku yang kayak gini!" Akhirnya Naomi kini kembali berbaring dan kembali memunggungi Nabil.
Sinka yang melihat sifat kekanak - anakan Naomi yang mulai kambuh hanya bisa menjawabnya dengan tersenyum canggung saat Adzril dan Ve menatap Sinka, meski Ve, Adzril dan Gaby tak ada yang tahu jika Sinka pernah mengejar Nabil, karena sangat mencintai Nabil dulu.
"Perasaan kita bertiga kesini buat ngucapin selamat ultah buat Nabil, ya? Kenapa malah jadi drama begini sih?" Bisik Adzril pada Ve yang juga hanya bisa terdiam, ternyata Naomi lebih ribet dibandingkan Ve.
"Oiya..." Nabil yang menyadarinya pun langsung memeluk Adzril dan saling mengucapkan selamat ulang tahun.
Begitupun Ve dan Gaby yang juga melakukakn hal yang sama pada Nabil. Dan kini hanya tinggal ucapan dari Naomi yang masih Nabil tunggu.
"Bidadarinya Nabil..."
"Idih Najisss..." Spontan Ve yang mendengar panggilan Nabil pada Naomi yang menurutnya sangat menggelikan untuk Ve dengar. Karena pada dasarnya, Ve dan Adzril sendiri tidak pernah mempunyai nama panggilan masing - masing, paling hanya Adzril yang sering memanggil Ve dengan panggilan sayang, dan itupun hanya dalam keadaan tertentu saja.
"Loe diem dulu, kak... Masa depan gue ini yang lagi terancam." ujar Nabil dengan wajah memelasnya.
"Shinta Naomi... Kesayangannya Nabil, udah dulu dong, gak bagus banget masa cemburu sama calon adik iparnya sendiri..."
"Katanya mending sama Sinka... Yaudah kamu sama Sinka aja, yang nggak cemburuan, pengertian, lebih dewasa..."
"ehhhh... Jangan gitu, gak baik banding - bandingin diri sendiri sama orang lain, dibelakangnya..." Potong Nabil dengan candaannya yang tentu saja tidak akan mempan untuk meluluhkan Naomi saat ini.
"Yaudah deh gue keluar aja apa, ya?" tanya Nabil yang tentu saja hanya untuk memancing Naomi agar membalikan badannya dan kembali menatap Nabil. Namun, ternyata hal itu saat ini tak berlaku, Naomi tetap memunggungi Nabil.
"Kak..." Nabil memberi tanda pada Adzril untuk meminta waktu agar meninggalkannya berdua dengan Naomi. Adzril yang mengertipun langsung mengangguki dan mengajak Ve dan Gaby, juga Sinka untuk membiarkan Nabil menyelesaikan masalahnya dengan Naomi.
Setelah kepergian empat orang itu, Nabil langsung membawa kursi yang sebelumnya Naomi punggungi, agar Nabil bisa duduk tepat berada di hadapan Naomi.
"Mi... Hey, koq nangis?" Tanya Nabil yang kini malah sedikit panik melihat Naomi yang sedari tadi ternyata menangis tanpa suara.
"Sayang dengerin aku... Eh, hey... Mi..." Naomi yang hendak kembali memunggungi Nabil, langsung Nabil tahan, karena jika Naomi membalikan tubuhnya, tentu hal itu akan membahayakan luka bekas jahitannya yang masih sangat basah dan rentan.
"Jangan, nanti kena luka kamu..." cegah Nabil dengan menahan Naomi yang hanya memalingkan wajahnya.
"Aku tau hiks, sinka hiks... sinka lebih baik dari akuhhk... Kalo kamu capekhhh..."
"Ett...ssshhuttt... Udah jangan diterusin. Aku tadi cuma bercanda sayang, udah ya..." potong Nabil yang langsunh mencium punggung tangan Naomi yanv sedari tadi ia genggam.
"Kamu kenapa, sayang? Hmm?" tanya Nabil yang tahu, jika Naomi sedang seperti ini, maka tandanya Naomi tengah merasa ketakutan atau mengkhawatirkan sesuatu. Awapnya Nabil mengira Naomi hanya mengerjainya saja sebelum memberinya ucapan selamat ulang tahun pada Nabil.
"Keynal pergi... Tadi, Nando juga pergi... Dan sekarang, aku cuma punya kamu..."
"Aku nggak akan kemana - mana, Mi! Aku bakal terus disamping kamu... Oke, aku tahu, dan aku sadar, Aku minta maaf kalo aku pernah secara gak langsung ninggalin dan khianatin cinta kamu, dan lebih gilanya aku pernah buang kamu di depan mamah aku sendiri... Tapi nama kamu juga yang buat aku akhirnya bisa buat aku kembali pulang. Menjadi diri Nabil yang selalu kamu kenal, Mi."
"Kamu tau, hhhkk... Aku sakit saat kamu selalu jadiin bahan bercandaan dari perbandingan aku sama adik aku sendiri. Hhhhh... Aku tahu, Sinka lebih baik dari aku, dan kamu nggak akan hadapin masalah sebesar ini kalo kamu dulu lebih milih Sinka, tapi kenapa dulu kamu lebih milih dan perjuangin aku, daripada Sinka?" tutur Naomi dengan nafas yang masih tersengal akibat menahan tangisannya.
"Nggak ada perbedaan antara yang terbaik dan lebih baik, dari kamu sama Sinka, sayang." balas Nabil yang kini dengan mengelus lembut rambut Naomi dengan penuh kasih sayang.
"Lalu kenapa kamu pilih aku, kalo ternyata pandangan kamu, aku sama sinka itu sama?"
"Nggak ada alasan lain selain hati aku yang minta untuk aku perjuangin kamu." balas Nabil yang kini beranjak dari duduknya karena melihat Naomi yang kini juga menjadi posisi duduk dan meminta Nabil untuk duduk tepat disampingnya agar bisa menjadi tempat Naomi menyandarkan kepalanya tepat di bahu Nabil.
"Bukan berarti Sinka nggak pantas di perjuangin, Sinka juga pantas di perjuangin, di cintai, disayangi, dan juga diperhatiin, tapi itu bukan aku orang yang bisa beri semuanya buat Sinka, karena hati aku lebih memilih kamu." lanjut Nabil dengan semakin membuat Naomi semakin Nyaman berada dalam sandarannya.
"Makasih buat selalu berusaha agar kamu selalu ada disamping aku, dan maaf kalo aku egois yang selalu cemburu karena kedekatan kamu sama Sinka, tapi ternyata aku sendiri nggak bisa memilih salah satu diantara kamu, Nando dan Keynal. Karena udah sering aku bilang sama kamu, kalo kalian bertiga punya peran masing - masing dalam hidup aku. Aku nggak bisa kehilangan kalian bertiga di satu waktu yang bersamaan, dan sekarang hanya tinggal kamu sendiri disini." Tutur Naomi dengan suara yang kini lebih lembut dari sebelumnya.
"Aku cuma milik kamu, apapun keadaanya, Mi!" Ujar Nabil dengan sangat yakin. "Aku tahu, setelah ini akan lebih besar lagi rintangan buat menguji hubungan kita, dan aku pastiin, akan selalu berusaha selalu ada disamping kamu."
__ADS_1
Tbc